Pekara tukang Culik, wartosna beda-beda unggal koran. Warta "Culik" dina 
Kompas diteundeun di kaca hareup, tapi wartana, biasa wae, teu tadah-tuduh 
kaditu-kadieu, ieu beda jeung Tribun Jabar nu sa grup keneh jeung Kompas, 
nu nyebutkeun kamungkinan aya "MOTIF SEJEN", sigana sumberna tina Detikcom. 
Pikiran Rakyat poe Minggu malah teu ngawartakeun. Tapi nu paling bolostrong 
mah Pos Kota, wartana  siga kieu:

Nyulik Raisah Siap Jihad
http://www.poskota.co.id/news_baca.asp?id=37441&ik=2

Sabtu 25 Agustus 2007, Jam: 10:46:00

JAKARTA (Pos Kota) - Satu jaringan organisasi Islam terlarang diduga kuat 
berada di balik sindikat penculikan Raisah. Hal ini terungkap dalam buku 
harian tersangka Firnando Azisco. Pelajar kelas 3 SMA 35 yang rajin 
beribadah dan pintar mengaji ini mengidolakan salah seorang tokoh agama yang 
diseganinya bernama YA.

Catatan buku harian tersebut ditemukan oleh Ny. Zuzi Zalmed, 38, ibu kandung 
Firnando Azisco. Ditemui di rumahnya Jalan Petamburan II Rt 11/03, Tanah 
Abang, Jakarta Pusat, Ny. Zuzi mengaku, awalnya ia mengira sang anak 
diringkus petugas karena terkait jaringan terorisme. Namun, ia tidak 
menyangka kalau sang anak terlibat dalam kasus penculikan yang 
menggemparkan. .

Ungkapan itu terlontar dari mulut ibu empat anak ini, mengingat tingkah laku 
sang anak berubah semenjak ikut organisasi kerohanian di sekolahnya di SMA 
35, Jalan Karet Tengsin, Tanah Abang, Jakpus. "Sejak itu Edo (panggilan 
akrab Firnando) jarang pulang dengan alasan belajar di rumah teman," ungkap 
Zuzi, Jumat petang.

Didampingi Jimmi Darlen, 38, suaminya, Zuzi mengaku baru mengetahui anaknya 
terlibat kasus penculikan dari wartawan dan belum mendapat konfirmasi dari 
polisi. " Dalam buku harian itu anak saya menulis bahwa ia siap jihat dan 
mati di jalan Allah adalah cita-citanya. " kata Ny. Zuzi.

Lantaran perubahan perilaku anaknya itu, Zuzi mulai melarang sang anak 
mengikuti kegiatan ekstrakulikuler mengaji di sekolahnya, tapi Firnando 
menolak. "Perilaku Edo makin bertambah aneh sejak berkenalan dengan 
seseorang yang disebutnya bernama YA seorang seniornya di organisasi Rohis 
pada bulan Juni 2007," kata Zuzi.

Sang anak terlihat sangat mengidolakan sosok YA, yang dianggapnya sebagai 
kakaknya. Dari pengakuan Zuzi, sang anak pernah bercerita tentang YA yang 
dikatakan Firnando berasal dari tanah Sunda dan akan membiayainya kuliah di 
kemudian hari.

Namun untuk mewujudkan semua itu, Firnando diharuskan YA mencari uang 
sebanyak Rp 10 juta untuk membuka toko buku agama. "Edo pun bercerita bahwa 
ia pernah menginap beberapa hari di rumah YA, yang dikatakannya berada di 
daerah Pondok Gede dan Cikunir, Bekasi," lanjut Zuzi.

Curiga dengan identitas sosok misterius yang disebutkan sang anak, maka Zuzi 
memeriksa beberapa buku catatan harian Edo, dan menemukan sebuah catatan 
anaknya tentang jihad. Dikatakan Zuzi, sejak ayah kandungnya meninggal 
dunia, saat ia berumur 12 tahun sampai umur 15 tahun, Firnando tinggal 
bersama pamannya, Azelindo, di Rawamangun, Jaktim. Sejak kenal dengan YA 
itulah Firnando selalu berbicara tentang jihat.

Kabid Humas Polri Irjen Pol Sisno Adiwinoto mengatakan, pemeriksaan Polda 
Metro Jaya yang menangani kasus ini belum mengarah kepada adanya organisasi 
Islam terlarang di balik penculikan itu. " Sampai saat ini, dari hasil 
penyidikan, motif dari penculikan yang dilakukan Yogi Cs adalah uang 
tebusan, belum mengarah ke hal lain, " katanya.

"Untuk motif lain, nanti tergantung hasil pengembangan penyidikan yang saat 
ini masih dilakukan," kata Sisno yang dihubungi semalam. Sedangkan arah 
dugaan pelaku berasal dari kelompok atau jaringan tertentu, menurut Sisno 
perlu pengembangan selanjutnya.

KOMENTAR ULAMA
Sementara itu, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menegaskan, 
mengecam pelaku penculikan karena tidak dibenarkan dalam agama.

"Apapaun motifnya harus dikecam sekeras-kerasnya, apalagi tindakan itu 
dikaitkan dalam agama," cetus wakil ketua umum Majelis lama Indonesia itu, 
Jumat (24/8) malam.

Betapapun niat mencari uang, dia menegaskan, janganlah dilakukan 
penyendaraan terhadap seseorang, apalagi anak kecil, yang tentu akan 
mewariskan dampat psikologis sangat berat

"Saya minta yg melakukannya berempati kalau anak atau adik mereka 
diperlakukan seperti itu, apakah tidak merasakan kepedihan. Yakinlah Allah 
SWT Maha cepat membalasnya, di dunia dan akhirat," ujarnya.

WARGA GEMPAR
Sementara itu berita penangkapan terhadap Yanuarisman membuat gempar werga, 
Bahkan orangtua pelajar SMA ini dibuat sok dan sama sekali tidak percaya 
dengan kelakuan anaknya yang diluar batas kemanusiaan dan nalar seorang 
pelajar. "Saya sampai detik ini tidak percaya kalau anak saya melakukan 
penculikan, itu pasti karena pengaruh temannya," kata Ny. Nurmiyati, ibu 
tersangka , didampingi suaminya. Pelaku yang merupakan anak dari 4 
bersaudara tersebut dikenal pendiam dan tidak banyak tingka laku yang 
merepotkan keluarganya.

ISTRI MUDA TERLIBAT
Tersangka Yogi Permana, 28, dikenal sebagai sosok lelaki yang pendiam. Tapi 
siapa sangka, guru mengaji di SMA 35 ini punya pengaruh dan mampu merekrut 
tiga murid ngaji di sekolah tersebut untuk berkomplot menculik Raisah Ali 
Said, 5, kemudian minta uang tebusan Rp 1 milyar.

Begitu juga dengan Ny. Sarita Angraini, 26, Istri muda Yogi Permana. Wanita 
muda ini juga menjadi guru ngaji Raisah dan dikenal pribadi yang santun 
dalam keluarga Ali Said. Yang mengejutkan, pasangan ini menjadi dalang kasus 
penculikan siswi TK Al-Ihsan tersebut.

Dalam aksinya, suami istri itu tidak sendiri. Mereka dibantu tersangka, 
Anggana Harjakusuma, 29, Budi Haryanto, 16, Januarisman, 16, dan Firnando 
Aizsco, 17. Ketiga tersangka terakhir ini adalah siswa SMA 35 yang direkrut 
Yogi Permana menculik Raisah.

Kawanan penculik anak Ketua II Hipimi Ali Said ini berhasil ditangkap 
Reserse Kejahatan Keras Polda Metro Jaya, Jumat (24/8) pagi di daerah 
Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Sedangkan Ny. Sarita Angraini dibekuk di 
Tasikmalaya, Jumat (24/8) petang.

Dalam wawancara khusus dengan Pos Kota, Yogi Permana menjelaskan, niat untuk 
menculik itu sudah direncanakan. Pasalnya, pria yang hobi memelihara jenggot 
dan disebut-sebut dekat dengan salah satu organisasi Islam yang terlarang 
itu punya utang Rp 150 juta. " Usaha toko buku saya bangkrut. Saya punya 
utang dengan teman bisnis. Untuk membayar utang ini, saya menculik Raisah 
kemudian minta tebusan Rp 1 milyar, " kata tersangka ini berdalih.

Untuk memuluskan niat jahatnya itu, Yogi minta bantuan Ny. Sarita, istri 
mudanya yang mengajar Raisah mengaji. Dari sang istri inilah Yogi mendapat 
gambaran kalau Ali Said keluarga kaya. "Saya jadikan target Raisah karena 
saya tahu persis keluarganya orang berada," aku Yogi terus terang.

MURID NGAJI DIREKRUT
Seminggu sebelum penculikan, Yogi menemui tersangka Januarisman, Budi 
Haryanto, dan Firnando Azisco. Tiga siswa SMA 35 ini dikenal dekat Yogi dan 
mereka juga berstatus murid ngaji Yogi. Murid ngaji ini direkrut menculik 
Raisah. Selain itu, Yogi juga mengajak Anggana Harjakusuma, alumni SMA 35. 
Pria ini diajak karena memiliki kendaraan yang dipersiapkan untuk 
operasional.

" Kalau aksi ini berhasil, saya akan memberi imbalan buat anak-anak ini 
masing-masing sebesar Rp 50 juta," kata Yogi.

Waktu penculikan ditetapkan pada 15 Agustus 2007. Saat itu, Raisah ditemani 
Linda, 20, berboncengan motor pulang sekolah di kawasan Jatiwaringin, Pondok 
Gede. Di depan TK tersebut, mobil yang ditumpangi pelaku menghadang Raisah. 
Murid TK dipaksa masuk ke mobil.

" Selama di tangan kami, Raisah ditemani istri saya dan pelaku lainnya. Kami 
membawa Raisah jalan-jalan ke Bandung dan Sumedang, " tambah Yogi.

Yogi menuturkan, saat berada di Sumedang, Raisah sempat diinapkan di Hotel 
Citra Sumedang. Keesokan harinya, Raisah kembali dibawa ke Jakarta. Selama 
tujuh hari berada di Jakarta, Raisah tidak pernah menginap di hotel atau 
rumah, tapi tetap berada di mobil sedan Timor. Jika mau mandi, Raisah 
diantar ke kamar mandi umum seperti di pom bensin.

Selama Raisah dalam kendali mereka, kata Yogi, dirinya bersama 
rekan-rekannya tidak pernah pulang. Sambil membawa Raisya jalan, pada 16 
Agustus, Yogi menghubungi Ali Said melalui HP. " Kepada Ali Said saya 
jelaskan kalau anaknya kami culik. Saya minta uang tebusan Rp 700 juta, " 
ujar tersangka.

Keesokan harinya, Yogi kembali menghubungi Ali Said lewat HP. Setiap kali 
menghubungi Al said, Yogi mengaku tidak pernah memunculkan nomor 
handphonenya. Dalam pembicaraan kedua itu, lagi-lagi Yogi meminta uang 
tebusan. Kali ini uang tebusan naik menjadi Rp 1 milyar. Uang tebusan bisa 
diantar di kawasan Monas.

Selama berada dalam tangan penculik, Raisah seringkali menangis minta pulang 
karena rindu dengan Ayah dan Ibunya. Jika terlambat makan, korban selalu 
menangis. "Raisah paling suka dibeliin rendang dan ayam goreng," kata Yogi, 
sambil menambahkan, selama Raisah di tangan mereka tidak pernah disakiti. 
Bahkan, baju ganti Raisah mereka beli.

"Kami tidak punya niat jahat sedikit pun untuk membunuh Raisah. Kami cuma 
butuh uangnya," tutur Yogi.

Ketika ditanya begitu mudahnya ia merekrut tiga murid ngajinya menculik 
Raisah , tersangka mengatakan, ia mengajak tiga murid ngaji di Rohis SMA 35 
itu karena sudah kenal lama. "Mereka itu murid ngaji saya. Saya siap 
menerima hukuman yang dijatuhkan pengadilan, " jelas Yogi.

" Tersangka benar mengajar mengaji di SMA 35, " kata Kapolda Metro Jaya 
Irjen Pol Drs Adang Firman.

Kirim email ke