Yaya, Peneliti Temulawak di Korea
Tjahja Gunawan Diredja
Di
sekitar laboratorium tempat Dr Yaya Rukayadi (43) berkutat dengan
kesibukannya sebagai peneliti senior sekaligus pengajar di Yonsei
University, Seoul, Korea Selatan, terdapat sejumlah tanaman obat
Indonesia, khususnya temulawak. Tanaman tersebut sengaja dikirim dari
Tanah Air ke Negeri Ginseng itu untuk diteliti.
Dari
pertanyaan mengapa tanaman obat di Indonesia diteliti di Korea, Yaya
Rukayadi mengawali ceritanya. Ia ingin agar temulawak bisa dijadikan
"merek" Indonesia, sama seperti ginseng yang sudah menjadi merek atau
setidaknya membuat orang ingat Korea.
"Kalau
orang ngomong ginseng, pasti asosiasinya Korea. Padahal, negara yang
memproduksi ginseng terbesar di dunia adalah Kanada dan China. Orang
Korea juga mengimpor bahan dasar ginseng dari Kanada dan China," ungkap
Yaya Rukayadi dalam percakapan dengan Kompas awal Agustus 2007 di
Yonsei University, Seoul.
Obsesi Yaya menjadikan temulawak sebagai ikon tanaman obat dari Indonesia sama
seperti ginseng yang sudah menjadi ikon Korea.
Di
Indonesia, untuk tanaman obat temulawak (Curcuma xanthorrhiza),
jangankan kultivasi yang benar, pemetaan temulawak pun data resminya
belum ada. Oleh sebab itu, Yaya bekerja sama dengan Pusat Penelitian
Biopharmaca di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Departemen Pertanian
untuk mem- buat riset dasar tentang temulawak.
Tak punya musuh
Temulawak
adalah tanaman yang hampir tak memiliki musuh (hama). Tanaman ini
menghasilkan antijamur, ia tak akan terkena jamur karena temulawak
sendiri menghasilkan jamur.
Tanaman
temulawak di Indonesia hanya ada di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat
(NTB), dan Maluku Selatan. Menurut Yaya, temulawak bisa tumbuh di
Sumatera, tetapi tidak bisa sebaik kalau ditanam di Pulau Jawa. Untuk
lebih memopulerkan dan memperkenalkan tanaman temulawak ke forum
internasional, Yaya bekerja sama dengan IPB untuk mendeklarasikan
Kongres Internasional Temulawak pertama pada Maret 2008 di Bogor, Jawa
Barat.
Presiden
Susilo bambang Yudhoyono, tutur Yaya, mengundang dia ke Istana Presiden
di Jakarta untuk mempresentasikan secara rinci soal temulawak tersebut.
"Kebetulan akhir Oktober nanti saya menjadi salah satu pembicara pada
simposium internasional tentang farmasi di Institut Teknologi Bandung
(ITB). Di forum itu, saya diundang sekaligus berbicara bersama 11 ahli
farmasi dunia," ujar Yaya.
Meski
"terpakai" di Indonesia, Yaya memilih tinggal di Korea. Agaknya
motivasi dia untuk tetap "bertahan" tinggal, mengabdikan diri, serta
mendalami ilmunya di Korea sama dengan umumnya warga Indonesia yang
memilih tinggal di luar negeri. Mereka mampu berprestasi, tetapi kurang
dihargai di negeri sendiri.
Warga kehormatan
Di
negara lain, mereka bisa lebih bebas mendalami ilmu, berprestasi,
sehingga bisa mendapatkan penghargaan yang layak. Bahkan, Yaya yang
tinggal di Seoul sejak tahun 2000 itu tak hanya menjadi peneliti senior
dan pengajar pada perguruan tinggi swasta Yonsei University, tetapi
juga menjadi salah satu warga kehormatan di Kota Seoul.
Karena
itu, ketika Presiden Yudhoyono bertemu dengannya di Korea dan
menawarkan kembali ke Tanah Air dan mengabdikan ilmunya di Indonesia,
Yaya merasa bimbang. Ia tak segera menerima tawaran tersebut.
"Kembali
ke Indonesia, saya pikir bukan satu-satunya jalan terbaik. Kalau pulang
ke Indonesia, apakah saya bisa mengembangkan ide-ide saya secara bebas?
Jangan-jangan kalau saya pulang ke Indonesia, malah saya menjadi
birokrat, bukan peneliti lagi. Saya tidak ingin pulang ke Indonesia,
lalu duduk di belakang meja, kemudian tunjuk sana tunjuk sini. Nah,
masalah itu yang sedang saya pikirkan," tutur Yaya.
Di
Korea, dia merasa bebas melakukan apa pun yang ingin dikerjakan. Di
Negeri Ginseng, seorang ilmuwan tidak disibukkan dengan urusan
birokrasi seperti halnya di Indonesia. Kegiatan lain Yaya di samping
menjadi ilmuwan adalah sebagai tamu pada program siaran seksi Indonesia
di Radio KBS Seoul.
Padahal,
cita-cita Yaya sebenarnya ingin menjadi seorang guru. Oleh karena itu,
dia bersikeras kepada orangtuanya agar bisa belajar di sekolah
pendidikan guru di Kota Sumedang. Namun, orangtuanya ingin supaya Yaya
belajar di sekolah menengah atas (SMA). Kebetulan, di Situraja, tempat
tinggalnya dulu, ketika itu baru berdiri SMA.
Setelah
lulus SMA tahun 1983, dia mengikuti beberapa kali ujian masuk perguruan
tinggi melalui sistem Proyek Perintis (PP) I sampai PP IV. Selain
diterima pada Jurusan Farmasi ITB, Yaya juga lolos seleksi di IPB. Ia
pun diterima di Jurusan Biologi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan
(IKIP) Bandung, atau sekarang Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Yaya
kemudian memutuskan mengambil Jurusan Farmasi ITB. Namun, rupanya
cita-cita untuk menjadi guru tetap membayangi sehingga kuliah di ITB
hanya dijalaninya setahun. Ia lalu memutuskan pindah ke IKIP Jurusan
Biologi hingga sarjana, kemudian menyelesaikan program S-2 dan S-3 di
IPB.
Pada
waktu melakukan penelitian program doktor, dia pernah dikirim dan lolos
seleksi masuk University of California di Berkeley, Amerika Serikat
(AS), tahun 1996 untuk mempelajari tentang biokontrol pada penyakit
kedelai.
Setiap
tahun, kata Yaya, University of California hanya menerima 20 mahasiswa
melalui seleksi yang ketat. Dari jumlah mahasiswa itu, 10 di antaranya
merupakan warga AS, sedangkan sisanya dari luar AS.
"Ketika
itu saya satu-satunya mahasiswa dari Asia," ucap Yaya, yang juga sempat
melakukan penelitian biokontrol untuk penyakit kedelai di University of
Edinburgh, Skotlandia, tahun 1998.
Akan
tetapi, dari hasil riset soal kedelai di AS itulah Yaya Rukayadi
kemudian memperkenalkan salah satu rumus kimia YR 32—menyangkut
penyakit kedelai—kepanjangan dari Yaya Rukayadi, sedangkan angka 32
adalah umur dia saat melakukan penelitian tersebut.
Setelah
meraih S-3, Yaya tertarik pada temulawak sebab sepengetahuannya tanaman
itu hanya ada di Indonesia. Ia lalu memusatkan perhatiannya pada
temulawak.
Keinginannya
untuk meneliti lebih jauh manfaat temulawak semakin terbuka lebar saat
dia diajak Prof Jae Kwan-hwang, pengajar pada Yonsei University, untuk
bergabung sebagai peneliti sekaligus pengajar pada perguruan tinggi
tersebut.
Dari
hasil penelitian pada temulawak, dia antara lain menemukan fungsi
temulawak sebagai antiketombe. Temulawak juga bisa dimanfaatkan sebagai
pasta gigi. Menurut Yaya, temulawak pun sangat mungkin dapat digunakan
untuk mengatasi penyakit kanker. Meski untuk itu, masih diperlukan
penelitian lebih lanjut.
Meski
cukup sibuk, Yaya tetap menyempatkan diri menulis hasil penelitiannya
tentang temulawak untuk jurnal-jurnal ilmiah internasional. Alasannya,
agar temulawak menjadi perhatian lebih banyak peneliti di dunia.
***
Nama: Dr Yaya Rukayadi
Lahir : Sumedang, 17 Agustus 1964
Keluarga: Dia anak bungsu dari enam bersaudara
Hobi:
Fotografi, jalan-jalan, dan menulis. Salah satu hobinya adalah menulis
cerita pendek (carita pondok-carpon) pada Majalah "Sunda Mangle".
Pendidikan:
- Lulus SMA, 1983
- Kuliah pada Jurusan Farmasi ITB, 1983-1984
- Sarjana Biologi IKIP Bandung, 1984-1990
- Program Master (S-2) di IPB Bogor, 1992-1995
- Program Doktor (S-3) di IPB, 1995-1998
Kegiatan Lain :
- Menjadi pembawa acara pada Radio Korea International (RKI)
- Korean Broadcasting System (KBS), 2002
Penghargaan:
- Sebagai Warga Kehormatan Kota Seoul, 2007, dia antara lain bisa bepergian ke
mana saja di kota itu secara gratis
________________________________________________________
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/