Kolom ti Koran Republika. Cenah di Kota Shreveport jeung kota Alexandria, Louisiana AS aya "perda" ngalarang barudak rumaja make calana morosot. Si nu nulis kolom ieu ngabandingkeun kaayaan diurang nu sok loba nu protes soal aturan nu ngatur-ngatur pakean nu dipake, padahal di Amerika ge nu dedengkotna demokrasi teu kitu.
Nya tangtu we beda, sabab aturanana adil, rek lalaki atawa awewe, lamun make calana morosot tepi ka calana jero katempo, bakal didenda sabab dianggap teu sopan. Ari Pa SBY mah ngan teu resep kana bujal awewe wungkul, duka kana bujal lalaki mah da teu disebut-sebut. Teu adil pan? nya pantes we aktivis awewe demo oge. Untungna turunan India di urang saeutik, da lamun loba mah beuki rame tah demona teh .... Tah nu dipopohokeun kunu nulis kolom ieu, perkara kaadilan gender, diurang nu diatur pakean teh ngan kaum Hawa wungkul, kudu kitu, kudu kieu, ari lalaki make mah make calana kolor/pondok di jalan ge teu dinanaon ..... Artikelna nyanggakeun: Celana Melorot Oleh : Asro Kamal Rokan http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=305781&kat_id=19 Ini berita dari Amerika Serikat, negara yang dikenal sangat liberal. Kota Alexandria dan Shreveport dua kota di negara bagian Louisiana, AS Membuat peraturan baru: melarang remaja putra dan putri mengenakan di bawah pinggang yang memperlihatkan (maaf) celana Dalam mereka. Peraturan itu, tulis Kantor Berita AFP Prancis pekan lalu, diterima Secara bulat. Larangan ini lahir setelah warga memprotes gaya Berpakaian para remaja, yang berjalan dengan celana melorot di bawah Pinggang itu. Gaya tersebut, menurut Konselor Kota Alexandria, Louis Marshall, tidak sopan. Louis Marshall, yang hidup dalam tradisi demokrasi, beruntung. Pelarangan itu sama sekali tidak menuai protes. Tidak ada aktivis yang Menyatakan peraturan tersebut melanggar hak asasi manusia, Antipluralisme, dan konservatif. Bayangkan jika di Indonesia, negara yang baru saja menghirup udara Demokrasi. Louis Marshall akan dikecam dan dianggap telah membunuh Kebebasan individu untuk berkreasi. Keputusan pelarangan tersebut Bahkan akan diejek sebagai 'campur tangan pemerintah terhadap hak Pribadi warga negara'. Ini yang terjadi di Indonesia. Pada Desember 2004, seratus hari Pemerintahannya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan Kegusarannya atas tayangan televisi. Melalui Menko Kesra Alwi Shihab Ketika itu, Presiden yang kuat memegang norma agama dan sosial itu Meminta media televisi untuk tidak mempertontonkan pusar perempuan. "Itu sangat mengganggu," kata Presiden saat itu. Pernyataan SBY itu baru sebatas permintaan, belum menjadi keputusan. Namun, tidak terlalu lama berbagai reaksi dari kalangan aktivis Perempuan bermunculan dalam diskusi-diskusi dan tulisan di media Massa. Mereka antara lain menyatakan, SBY telah melanggar prinsip Demokrasi, terhadap hak asasi, dan kebebasan individu berekspresi. Mereka menentang keras pernyataan SBY itu. Menurut mereka, apabila Negara dibiarkan mengatur hak pribadi warga negara, di antaranya soal Pusar tadi, maka demokrasi dan kebebasan individu untuk berkreasi, pun Mati. Itu pulalah yang menjadi alasan mereka menentang Rancangan Undang-undang Antipornografi dan Pornoaksi. Apabila disahkan, maka RUAPP tersebut akan mengatur tubuh perempuan demi kepentingan politik Konservatif. Alexandria dan Shreveport, dua kota di negara bagian Louisiana, AS, Telah memberlakukan keputusan, yang melarang remaja putra dan putri Mengenakan celana melorot. Keputusan itu disambut baik warga, yang Sejak lahir telah menghirup udara demokrasi. Tidak ada yang protes dan Menyebutnya sebagai antikebebasan berekspresi, antipluralis, Konservatif, dan pertanda matinya demokrasi. Demokrasi, sistem yang memiliki berbagai kelemahan, sesungguhnya tidak Mati hanya karena pelarangan celana yang melorot dan pelarangan Memperlihatkan pusar. Pandangan yang berlebihan terhadap demokrasilah Apalagi membenturkannya dengan nilai-nilai di masyarakat, nilai-nilai Agama, dan menyebutnya sebagai konservatif yang memungkinkan sistem Itu kehilangan esensinya. Di Alexandria dan Shreveport, remaja-remaja tidak lagi mengenakan Celana melorot. Mereka tidak merasa menjadi konservatif apalagi Antidemokrasi. Di Indonesia, para remaja bebas membiarkan (maaf) Celana dalamnya menyembul. Inilah yang disebut para aktivis sebagai Kebebasan berekspresi. Dan, para aktivis itu sangat takut demokrasi Mati hanya karena remaja menutup pusarnya.

