KH. Abbas Djamil Buntet (1879 ¡V 1946) 

Memimpin Pesantren Buntet
 Dengan bermodal ilmu pengetahuan yang diperoleh dari
berbagai pesantren di Jawa, kemudian dipermatang lagi
dengan keilmuan yang dipelajari dari Mekah, serta
upayanaya mengikuti perkembangan pemikiran Islam yang
terjadi di Timur Tengah pada umumnya, maka mulailah
Kiai Abbas memegang tampuk pimpinan Pesantren Buntet
Waruisan dari nenek moyangnya itu dengan penuh
kesungguhan. Dengan modal keilmuan yang memadai itu
membuat daya tarik pesantren Buntet semakin tinggi.

Sebagai seorang Kiai muda yang energik ia mengajarkan
berbagai khazanah kitab kuning, namun tidak lupa
memperkaya dengan ilmu keislaman modern yang mulai
berkembang saat itu. Maka kitab-karya ulama Mesir
seperti tafsir Tontowi Jauhari yang banyak mengupas
masalah ilmu pengetahuan itu mulai diperkenalkan pada
para santri. Demikian juga tafsir Fahrurrozi yang
bernuansa filosofis itu juga diajarkan. Dengan adanya
pengetahuan yang luas itu pengajaran ushul fikih
mencapai kemajuan yang sangat pesat, sehingga
pemikiran fikih para alumni Buntet sejak dulu sudah
sangat maju. Sebagaimana umumnya pesantren fikih
memang merupakan kajian yang sangat diprioritaskan,
sebab ilmu ini menyangkut kehidupan sehari-hari
masyarakat. 

Dengan sikapnya itu maka nama Kiai Abbas dikenal
keseluruh Jawa, sebagai seorang ulama yang alim dan
berpemikiran progresif.Namun demikian ia tetap rendah
hati pada para santrinya, misalnya ketika ditanya
sesuai yang tidak menguasasi, atau ada santri yang
minta diajari kitab yang belum pernah dikajianya
ulang, maka Kiai Abbas terus terang mengatakan pada
santrinya bahwa ia belum menguasasi kitab tersebut,
sehingga perlu waktu untuk menelaahnya kembali. 

Walaupun namanya sudah terkenal diseantero pulau jawa,
baik karena kesaktiannya maupun karena kealimannya,
tetapi Kiai Abbas tetap hidup sederhana. Di langgar
yang beratapkan genteng itu, ada dua kamar dan ruang
terbuka cukup lebar dengan hamparan tikar yang terbuat
dari pandan. Di ruang terbuka inilah kiai Abbas
menerima tamu tak henti-hentinya. Setiap usai shalat
Dhuhur atau Ashar, sebuah langgar yang berada di
pesantren Buntet, Cirebon itu selalu didesaki para
tamu. Mereka berdatangan hampir dari seluruh pelosok
daerah. Ada yang datang dari daerah sekitar Jawa
Barat, Jawa Tengah bahkan juga ada yang dari Jawa
Timur. Mereka bukan santri yang hendak menimba ilmu
agama, melainkan inilah masyarakat yang hendak belajar
ilmu kesaktian pada sang guru. 

Melawan Penjajah Belanda 
Walaupun saat itu, Kiai Abbas sudah berumur sekitar 60
tahun, tetapi tubuhnya tetap gagah dan perkasa.
Rambutnya yang lurus dan sebagian sudah memutih,
selalu di tutupi peci putih yang dilengkapi serban ¡V
seperti lazimnya para kiai. Dalam tradisi pesantren,
selain dikenal dengan tradisi ilmu kitab kuning, juga
dikenal dengan tradisi ilmu kanuragan atau ilmu bela
diri, yang keduanya wajib dipelajari. Apalagi dalam
menjalankan misi dakwah dan berjuang melawan penjahat
dan penjajah. Kehadiran ilmu kanuragan menjadi sebuah
keharusan. Oleh karena itu ketika usianya mulai senja,
sementara perjuangan kemerdekaan saat itu sedang
menuju puncaknya, makaa pengajaran ilmu kanuragan
dirasa lebih mendesak untuk mencapai kemerdekaan.

Maka dengan berat hati terpaksa ia tinggalkan
kegiatannya mengajar kitab-kitab kuning pada ribuan
santrinya. Sebab yang menangani soal itu sudah
diserahkan sepenuhnya pada kedua adik kandungnya, KH.
Anas dan KH. Akyas. Sementara Kiai Abbas sendiri,
setelah memasuki masa senjanya, lebih banyak
memusatkan perhatian pada kegiatan dakwah di
Masyarakat dan mengajar ilmu-ilmu kesaktian atau ilmu
beladiri, sebagai bekal masyarakat untuk melawan
penjajah.Tampaknya ia mewarisi darah perjuangan dari
kakeknya yaitu Mbah Qoyyim, yang rela meninggalkan
istana Cirebon karena menolak kehadiran Belanda. Dan
kini darah perjuangan tersebut sudah merasuk ke
cucu-cucunya. Karena itu Kiai Abbas mulai merintas
perlawanan, dengan mengajarkan berbagai ilmu kesaktian
padsa masyarakat.

Tentu saja yang berguru pada Kiai Abbas bukan orang
sembarangan, atau pesilat pemula, melainkan para
pendekar yang ingin meningkatkan ilmunya. Maka begitu
kedatangan tamu ia sudah bisa mengukur seberapa tinggi
kesaktian mereka, karena itu Kiai Abbas menerima tamu
tertentu langsung dibawa masuk ke kamar pribadinya.
Dalam mkamar mereka langsung dicoba kemampuannya
dengan melakukan duel, sehingga membuat suasana gaduh.
Baru setelah diuji kemampuannya sang kiai mengijazahi
berbagai amalan yang diperlukan, sehingga kesaktian
dan kekebalan mereka bertambah.

Dengan gerakan itu maka pusantren Buntet dijadikan
sebagai markas pergerakan kaum Republik untuk melawan
penjajahan. Mulai saat itu Pesantren Buntet saat itu
menjadi basis perjuangan umat Islam melawan penjajah
yang tergabung dalam barisan Hizbullah. Sebagaimana
Sabilillah, Hizbullah juga merupakan kekuatan yang
tanggung dan disegani musuh, kekuata itu diperoleh
berkat latihan-latihan berat yang diperoleh dalam
pendidikan PETA (Pembela Tanah Air) di Cibarusa semasa
penjaajahan Jepang. Organisasi perjuangan umat Islam
ini didirikan untuk melakukan perlawanan terhadap
penjajah. Anggotanya terdiri atas kaum tua militan.
Organisasi ini di Pesantren Buntet, diketuai Abbas dan
adiknya KH. Anas, serta dibantu oleh ulama lain
seperti KH. Murtadlo, KH. Soleh dan KH. Mujahid.

Karena itu muncul tokoh Hizbullah di zaman pergerakan
Nasional yang berasal dari Cirebon seperti KH. Hasyim
Anwar dan KH. Abdullah Abbas putera Kiai Abbas. Ketika
melakukan perang gerilya, tentara Hizbullah memusatkan
pertahahannya di daerah Legok, kecamatan Cidahu,
kabupaten Kuningan, dengan front di perbukitan
Cimaneungteung yang terletak didaeah Waled Selatan
membentang ke Bukit Cihirup Kecapantan Cipancur,
Kuningan. Daerah tesebut terus dipertahankan sampai
terjadinya Perundingan Renville yang kemudian
Pemerintah RI beserta semua tentaranya hizrah ke
Yogyakarta. 

Selain mendirikan Hisbullah, pada saat itu di Buntet
Pesantren juga dikenal adanya organisasi yang bernama
Asybal. Inilah organisasi anak-anak yang berusia di
bwah 17 tahun. Organisasi ini sengaja dibentuk oleh
para sesepuh Buntet Pesantren sebagai pasukan
pengintai atau mata-mata guna mengetahui gerakan musuh
sekaligus juga sebagai penghubung dari daerah
pertahanan sampai ke daerah front terdepan. Semasa
perang kemerdekaan itu, banyak warga Buntet Pesantren
yang gugur dalam pertempuran. Diantaranya adalah KH.
Mujahid, kiai Akib, Mawardi, Abdul Jalil, Nawawi dan
lain-lain.

Basis kekuatan laskar yang dibangun oleh Kiai Abbas
itu kemudian menjadi pilar penting bagi tercetusnya
revolusi November di surabaya tahun 1946. Peristiwa
itu terbukti setelah Kiai Hasyim Asyari mengeluarkan
resolusi jihad pada 22 Oktober 1946, Bung Tomo segera
datang berkonsultasi pada KH. Hasyim Asy¡¦ari guna
minta restu dimulainya perlawanan terhadap tentara
Inggris. Tetapi kiai Hasyim menyarankan agar
perlawanan rakyat itu jangan dimulai terlebih dahulu
¡V sebelum KH. Abbas, sebagai Laskar andalannya datang
ke Surabaya. Memang setelah itu laskar dari pesantren
Buntet, di bawah pimpinan KH. Abbas beserta adiknya
KH. Anas, mempunyai peran besar dalam perjuangan
menentang tentara Inggris yang kemudian dikenal dengan
peristiwa 10 november 1945 itu. Atas restu Hadratus
Syaikh KH. Hasyim Asy¡¦ari, ia terlibat langsung dalam
pertempuran Surabaya tersebut. Selanjutnya kiai Abbas
juga mengirimkan para pemuda yang tergabung dalam
tentara Hizbullah ke berbagai daerah pertahanan untuk
melawan penjajah yang hendak menguasai kembali
rtepublik ini, seperti ke Jakarta, Bekasi, Cianjur dan
lain-lain. 

Dialah santri yang mempunyai beberapa kelebihan, baik
dalam bidang ilmu bela diri maupun ilmu kedigdayaan.
Dan tidak jarang, KH. Abbas diminta bantuan khusus
yang berkaitan dengan keahliannya itu.Hubungan Kiai
Hasyim dengan Kiai Abbas memang sudah lama terjalin,
terlihat ketika pertama kali Kiai Hasyim Asy¡¦ari
mendirikan pesantrean Tebuireng, Kiai sakti dari
Cirebon itu banyak memberikan perlindungan, terutama
saat diganggu oleh para penjahat setempat, yang merasa
terusik oleh kehadiran pesantren Tebuireng. Sekitar
tahun 1900, KH. Abbas datang dari Buntet bersama kakak
kandungnya, KH.Soleh Zamzam, Benda Kerep, KH.Abdullah
Pengurangan dan Kiai Syamsuri Wanatar. Berkat
kehadiran mereka itu para penjahat yang dibeking oleh
Belanda, penguasa pabrik gula Cukir itu tidak lagi
mengganggu pesantren tebuireng, kapok tidak berani
mengganggu lagi. Tradisi pessantren antara kanuragan,
moralitas dan kitab kuning saling menopang, tanpa
salah satunya yantg lain tidak berjalan, karena itu
semua merupakan tradisi dalam totalitasnya

Berjuang Hingga Akhir Hayat 
Walaupun revolusi November dimenangkan oleh laskar
pesantren dengan penuh gemilang, tetapi hal itu tidak
membuat mereka terlena, sebab Belanda dengan
kelicikannya akan selalu mencari celah menikam
Republik ini. Karena itu Kiai Abbas selalu mengikuti
perkembangan politik, baik di lapanagan maupun di meja
perundingan. Sementara laskar masih terus disiagakan.
Berbagai latihan terus digelar, terutama bagi kalangan
muda yang baru masuk kelaskaran. Berbagai daerah juga
dibuka simpul kelaskaran yang siap menghadapi
kembalinya penjajahan. 
Di tengah gigihnya perlawanan rakyat terhadap
penjajah, misi diplomasi juga dijalankan, semuanya itu
tidak terlepas dari perhatian para ulama. Karena itu
bepata kecewanya para pejuang, termasuk para ulama
yang memimpin perang itu, ketika sikap para diplomat
kita sangat lemah, banyak mengalah pada keinginan
Belanda dalam Perjanjian Linggar Jati tahun 1946 itu.
Mendengar hail perjanjian itu Kiai Abbas sangat
terpukul, merasa perjuangannya dikhianati, akhirnya
jatuh sakit, yang kemudian mengakibatkan Kiai yang
sangat disegani sebagai pemimpin gerilya itu wafat
pada hari Ahad pada waktu subuh, 1 Rabiul Awal 1365
atau 1946 Masehi, kemudian dikuburkan di pemakaman
Buntet Pesantren. 

Hingga saat ini karakter perjuangan masih terus
ditradisikan di Pesantren Buntet, pada masa represi
Orde Baru pesantren ini dengan gigihnya mempertahankan
independensinya dari tekanan rezim itu. Tetapi
semuanya dijalankan dengan penuh keluwesan, sehingga
orde baru juga tidak menghadapinya dengan frontal.
Akibatnya pada masa ramainya gerakan reformasi pikiran
dan pandangan Kiai Abdullah Abbas sangat diperhatikan
oleh semua para penggerak reformasi, baik dari
kalanagan NU maupun komunitas lainnya. Itulah Peran
sosial keagamaan pesantren Buntet yang dirintis Mbah
Qoyyim dilanjutkan oleh Kiai Abbas, kemudian
diteruskan lagi oleh Kiai Abdullah Abbas menjadikan
Buntet sebagai Pesantren perjuangan. (NU online/Abdul
Munim DZ) 
KIAI ABBAS PEMIMPIN PERANG 10 NOVEMBER 1945    DI
SURABAYA
(Fakta Sejarah Versi Santri)


  Pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka
setelah penjajah Jepang tidak berdaya. Pada tanggal 29
September 1945 tentara sekutu (Inggris) yang bertugas
sebagaiu Polisi  Keamanan mendarat di berbagai kota
besar  di Jawa dan Sumatra, di antaranya adalah di
kota Surabaya. Mereka bermaksud untuk melucuti
persenjataan tentara Jepang. Ternyata, Belanda
membonceng tentara Inggris dan melakukan
tindakan-tindakan anarkis.
   
  Tentu rakyat Indonesia yang telah merdeka tidak
ingin kedaulatannya dikoyak-koyak kembali oleh
Belanda. Maka meletuslah perang dahsyat yang terkenal
dengan ¡§Perang 10 November¡¨. Namun rakyat Surabaya
tidak dapat berbuat banyak, bahkan telah mundur ke
luar kota Surabaya. Selain itu, mereka juga menunggu
kiai dari Cirebon. Karena menurut khadratussyekh KH.
Hasyim Asy¡¦ari  perlawanan akan dimualai nanti kalau
sudah datang ulama dari Cirebon. Dan ulama yang
dimaksud adalah KH. Abbas. Fakta sejarah tersebut,
diakui oleh santri sebagai bukti bahwa Kiai Abbas
adalah pemimpin pertempuran 10 November 1945 di
Surabaya.
   
   Salah satu bukti sejarah yang memperkuat indikasi
bahwa Kiai Abbas adalah Pemimpin Pertempuran 10
November di Surabaya adalah penuturan Abdul Wachid,
satu-satunya pengawal Kiai Abbas yang memberikan
kesaksian secara tertulis melalui H. Samsu pada tahun
1998.
   
  Pada hari itu, kalau tidak salah, tanggal 6 November
1945 saya dengan tiga orang yaitu Usman, Abdullah dan
Sya,rani mendapat tugas dari Detasemen Hizbullah
Resimen XII/SGD untuk mengawal Kiai Abbas ke front
Surabaya.
  Pada jam 06.30 rombongan kami, dengan diiringi
pasukan Hizbullah Resimen XII Divisi I Syarif Hidayat
meninggalkan Markas Detasemen menuju stasiun Prujakan
Cirebon. Rombongan kami, selain tiga pengawal serta
Kiai Abbas, juga ikut Kiai H. Achmad Tamin dari Losari
sebagai pendamping Kiai Abbas. Selanjutnya kami naik
Kereta Api Express.
   
  Pada waktu itu, Kiai Abbas mengenakan jas buka
abu-abu, kain sarung plekat bersorban dan beralas kaki
trumpah (sandal japit kulit). Kiai Abbas menyerahkan
sebuah sebuah kantong pada saya. Setelah saya
raba-raba, ternyata isinya bakyak. Saya sempat heran
bahkan tertawa sendiri, untuk apa bakyak ini? Bukankah
Kiai sudah memakai trumpah? Atau senjata perang? Masa
senjata kok bakyak?
   
  Pada sekitar jam 17.00, kereta api yang kami
tumpangi telah masuk di stasiun Rembang Jawa Tengah.
Ternyata sudah banyak orang yang menunggu. Lalu kami
diantar ke Pondok Pesantren Kiai Bisri di Rembang.
  Pada malam harinya, ba¡¦da salat isya, para ulama
yang jumlahnya diperkirakan lebih dari 15 orang,
mengadakan musyawarah untuk menentukan komando /
pemimpinan pertempuran di Surabaya. Hasil musyawarah
memutuskan bahwa komado pertempuran dipercayakan
kepada Kiai Abbas.
   
  Ba¡¦da salat subuh, pondok pesantren Rembang sudah
ramai. Para santri sudah siap berangkat ke Surabaya,
dan banyak pula yang berseragam Hizbuillah. Di halam
masjid sudah ada dua mobil sedan kuna yang
berkapasitas empat orang penumpang. Bapak Kiai Abbas
memanggil saya dan rekan-rekan pengawal dari Cirebon.
Beliau meminta bingkisan (bakyak) yang dititipkannya
pada saya. Beliau juga menyuruh kepada kami, pengawal
dari Cirebon, untuk tidak ke mana-mana sampai beliau
kembali dari Surabaya.
   
  Setelah itu, Kiai Abbas naik salah satu mobil dengan
Kiai Bisri di jok belakang sementara H. Achmad Tamin
duduk di depan dengan sopir. Sedang sedan yang satunya
lagi berpenumpang empat orang kiai yanag saya sendiri
tidak tahu namanya. Dengan diiringi pekik takbir
¡§ALLAHUAKBAR!!!¡¨, dan pekik MERDEKA !!! yang saling
bersahutan, rombongan kiai itu perlahan-lahan bergerak
meninggalkan pondok pesantren Rembang.
   
  Sudah hampir sepekan kami berada di Pondok pesantren
Rembang. Tiada kabar berita apa-apa.ini membuat kami
gelisah. Ingin rasanya menyusul ke Surabaya kalau saja
tidak ada pesan dari Kiai untuk tidak boleh ke
mana-mana.

  Baru pada tanggal 13 November 1945, ada beberapa
laskar Hizbullah (santri pokdok pesantren Rembang)
yang dating. Kedatangannya disambut oleh santri-santri
termasuk kami dan langsung dibrondong
pertanyaan-pertanyaan tentang situasi peperangan Kota
Surabaya.
  Menurut cerita santri Rembang  yang baru datang
tersebut, begitu rombongan para kiai dating, langsung
disambut dengan gemuruh takbir dan pekik merdeka. Lalu
para kiai tersebut masuk ke masjid dan melakukan salat
sunnah.kemudian Kiai dari Cirebon (Kiai Abbas-red)
memerintahkan kepada pendamping beliau (Kiai H. Achmad
Tamin-red) untuk berdoa di tepi kolam masjid. Dan
kepada Kiai Bisri dari Rewmbang beliau (Kiai
Abbas-red) memohon agar memerintahkan para laskar /
pemuda-pemuda yang akan berjuang untuk mengambil air
wudlu dan meminum air yang telah diberi doa. Segera
saja para laskar / pem,uda-pemuda itu berebutan,
bahkan ada yang meras kurang dengan hanya berwudlu
dana menerjunkan diri masuk ke dalam kolam.

  Kemudian, bagaikan lebah keluar dari sarangnya,
pemuda-pemuda dari segala lapisan Badan Perjuangan
AREK-AREK SUROBOYO menyerbu Belanda dengan diringi
takbir dan pekik merdeka  yang bergemuruh di seluruh
penjuru kota Surabaya yang didisambut dengan rentetan
tembakan gencar dari serdadu Belanda. Korban dari
kedua belah pihak pun tak terelakkan berjatuhan,
terutama dari pihak kita yang hanya bersenjata bamboo
runcing, pentungan atau golok seadanya yang disongsong
dengan semburan peluru dari berbagai senjata otomatis
modern. Sungguh tragis dan mengerikan.

  ¡§Kami dengan para kiai berda di tempoat yang agak
tinggi, jadi jelas sekali dapat melihat keadaan di
bawah sana¡¨, jelas santri Rembang yanag ternyata
pengawal Kiai Bisri Rembang. Saat itu, lanjut cerita
santri Rembang, Kiai Cirebon (Kiai Abbas-Red)
mengenakan alas kaki bakyak berdiri tegak di halaman
masjid. Kemudian beliau membaca doa dengan
menengadahkan kedua tangannya ke langit.kiranya doa
beliau terkabulkan. Saya melihat dengan mata kepala
sendiri keajaiban yang luiar biasa. Beribu-ribu alu
(penumbuk padi) dan lesung (tempat padi saat ditumbuk)
dari rumah-rumah  rakyat berhamburan terbang menerjang
serdadu ¡Vserdadu Belanda. Suaranya bergemuruh
bagaikan air bah  sehingga Belanda kewalahan dan
merekapun mundur ke kapal induk mereka.

  Tidaka lama kemudian, pihak sekutu mengirim pesawat
Bomber Hercules. Akan tetapi pesawat itu tiba-tiba
meledak di udara sebelem bereaksi. Kemudian beberapa
pesawat sekutu berturut-turut datang lagi yang
maksudnya akan akan menjatuhkan bom-bom untuk
menghancurkan Kota Surabaya, namun beberapa pesawat
itupun mengalami nasib yang sama, meledak di udara
sebelum bereaksi. ¡§disitulah kehebatan Kiai Cirebon
(Kiai Abbas-Red) yanagdapat saya saksikan sendiri¡¨,
tandas santri Rembang meyakinkan para santri.

  Keesokan harinya, lanjut cerita santri Rembang,
pihak musuhpun datang lagi berbondong-bondong berupa
kompi tang-tang / mobil baja dan truk-truk  menyerang
kubu-kubu pertahanan tentara / laskar kita yang
didiringi oleh dentuman kanon dan mortir serta
rentetan tembakan tembakan 12,7 dari pesawat udara
yang cukup banyak jumlahnya sehingga tentara dan
laskar kita banyak yang gugur dan terpaksa mundur di
pinggir kota Surabaya.
  Menjelang malam hari tiba, pertempuran baru agak
mereda. Hanya beberapa tembakan kecil saja yang masih
terdengar di sana sini.

  Kemudian kami diperintah pulang oleh Pak Kiai (Kiai
Bisri-red) untuk menyampaikan berita keadaan di front
Surabaya kepada kelaurga dan warga Pondok Pesantren
bahwa pak kiai dan para alim ulama lainnya dalam
keadaan selamat sehat wal afiat. Dan dianjurkan kepada
semua wargapondok dan masyarakat Rembang untuk berdoa
memohon kepada Allah SWT atas perlindungan,
keselamatan dan kemenangan bagi para pejuang kita
yanag dalam pertempuran melawan dan mengusir penjajah
Belanda dari bumi Indonesia.

  Tiga hari kemudian, menjelang pagi, Kiai Abbas
dengan pendampingnyaKiai H. Achmad Tamin dan Kiai
Bisri Rembang serta beberapa kiai lainnya datang. Kami
tidak banyak memperoleh informasi dari beliau-beliau
tentang kejadian Surabaya. Setelah subuh, kami para
pengawal dari Cirebon diperintahkan berkemas-kemas
untuk pulang kembali ke Cirebon.

  Dengan menumpang Kereta Api Express jam 06.00, kami
bertolak meninggalkan Rembang dan tiba di Cirebon
dengan selamat pada jam 17.30. sepanjang perjalanan
dari Rembang ke Cirebon, tidak banyak yang kami
bicarakan, karena Kiai Abbas dalam kelelahan dan
kantuk yang amat sangat  karena selama di Surabaya
beliau kurang istirahat dan kurang tidur





       
____________________________________________________________________________________
Sick sense of humor? Visit Yahoo! TV's 
Comedy with an Edge to see what's on, when. 
http://tv.yahoo.com/collections/222

Kirim email ke