Akhir-akhir ieu warta soal TKW nu ditandasa ku juraganana di Arab Saudi, loba nu ngawartakeun kulantaran dituduh TUKANG SIHIR ku dununganana. Tapi warta ieu henteu jelas "sihir" nu model kumaha nu dilakukeun ku para TKW di Arab Saudi teh. Nu jelas kulanataran di tuduh jadi tukang sihir aya sababaraha urang TKW tepi ka palastrana disiksa dununganana, aya nu tatu parna tepi ka dirawat di Rumah Sakit, aya oge nu dipariksa pulisi terus dihukum saperti warta dina detikcom poe kamari.
Nu jadi patarasosan, naha di Arab Saudi tuduhan salaku tukang sihir, mangrupakeun hukum positif? Umpama bener, sakuduna pamarentah mere penerangan ka calon TKW, kudu ati-ati dina tindak-tanduk, bisi dituduh tukang sihir. Ngan nyaeta kulantaran "cara nyihir" teh beda-beda unggal etnik, gumantung kana budayana, rada hese oge, ari nu disebut "tukang teluh" model Arab teh siga kumaha nya? 21/09/2007 19:10 WIB Digampar 7 Polisi Arab Saudi, 2 TKI Tewas Ari Saputra - detikcom Jakarta - Tujuh polisi Arab Saudi tega menyiksa para tenaga kerja Indonesia (TKI), Tarwiyah (31), Susmiyati (26), Tari (27), dan Ruminih (24). Akibatnya, Tarwiyah dan Susmiyati tewas setelah mendapat perawatan dokter. Sementara Tari dan Ruminih harus mendekam di penjara selama lima bulan dengan ratusan hukuman cambuk mendera. Kejadian itu terjadi 31 Agustus 2007 silam. Namun, berita ini baru sampai di pihak keluarga seminggu lalu. Itu pun setelah Karimah, teman satu sel Tari dan Ruminih, tiba di tanah air dan menceritakan semuanya. "Saya ketemu Tari dan Ruminih di sel tahanan Malaz, Riyadh. Kondisinya sangat kasihan. Tari masih agak lumayan. Tapi Ruminih hingga saat ini penuh bekas penyiksaan," kenang Karimah yang menceritakan kesaksiannya di Kantor Migrant Care, Jl Pulo Asem, Jakarta, Jumat (21/9/2007). Dalam pertemuan sesama tahanan itu, Karimah mendapat kucuran kisah sedih. Keempat pembantu itu, dalam kesaksian Karimah, dituduh akan menyihir anak majikan Muhammad Abdullah Al Ghaffur dan Al Mazeed. Kemudian dua majikan itu melaporkan kepada polisi setempat. Nah, ditangan polisi itulah, keempatnya disiksa. Tarwiyah dan Susmiyati dicambuk. Lalu, giliran Tari dan Ruminih yang kena siksa. "Itu hanya gara-gara dituduh melakukan sihir. Buktinya berupa serbuk tembok (debu), mereka disiksa," kenang Karimah sambil meneteskan airmatanya. Namun, pihak KBRI yang menangani persoalan TKI kurang proaktif. Bahkan, menurut Koordinator Migrant Care Anis Hidayah, pihak KBRI berusaha menutup-nutupi peristiwa itu. "Setelah kami mendengar kabar, kami langsung kontak pihak KBRI di Riyadh. Mereka katakan, Tari dan Ruminih dalam lindungan lembaga perlindungan saksi. Nyatanya, keduanya ditahan, disel dan disiksa," papar Anis di tempat serupa. Kini keempat keluarga itu masih meminta kejelasan nasib keempat pembantu itu. Suami Tarwiyah, Hamid meminta jenazah istrinya diantar ke kampung di Ngawi Jawa Timur. Begitu pun dengan suami Tari, Deden Eka Sunandar yang berharap istrinya dapat berkumpul didesanya, di Cimalaya, Karawang. "Sudah ratusan TKI disiksa dan mati. Ini yang kesekian kalinya. Pemerintah harusnya merespons," ucap Anis sedikit geram. (Ari/asy)

