Sok atuh anu arinohong ...... geura kalaluarkeun sihung-sihung anjeun teh
........ Lain aranjeun teh satria piningit anu kapilih .....!?
Geura pikirkeun urusan jangka panjang nagara ....... tong loba mikir urusan
jang ka imah wae .......
----- Pesan Asli ----
Dari: rinrin jamrianti <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Terkirim: Minggu, 28 Oktober, 2007 11:12:31
Topik: [kota-sumedang] Lagu Rasa Sayange bukan yg terakhir.... masih bersambung
:(
Belum reda rame-rame tentang lagu "Rasa Sayange".... ternyata masih
bersambung.. .. entah akan sampai kapan tentang paten ini akan semakin
'mem-paten-i' Indonesia... .
Bukan saatnya untuk hanya menjadi penonton saja.... mebiarkan semuanya
menjadi 'bad story' buat anak cucu kita :(
------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
sumber : GATRA
Tokyo, 26 Oktober 2007 10:12
Konsulat Jenderal (Konjen) RI di Osaka melayangkan surat protes kepada
Direktur Malaysian Tourism Office di Osaka, menyusul penggunaan kembali lagu
daerah Indonesia dalam acara Asia Festival 2007 yang berlangsung di Osaka
pada pertengahan Oktober lalu.
Konsul Jenderal RI Pitono Purnomo mengemukakan hal itu di Tokyo, Kamis
(25/10), ketika dikonfirmasi mengenai aksi `pembajakan` tersebut.
"Kami sudah mengirimkan surat protes kepada pihak Malaysia namun belum ada
respon sama sekali dari mereka," kata Pitono, sebagaimana dilansir dari *
Antara*.
Pihak konsulat juga sudah melakukan koordinasi dengan pejabat Departemen
Luar Negeri RI di Jakarta serta petinggi Departemen Kebudayaan dan
Pariwisata, termasuk Kuasa Usaha *Ad-Interim* Kedutaan Besar Republik
Indonesia Kuala Lumpur, Malaysia.
"Surat protes ini penting sebagai peringatan keras terhadap Malaysia agar
tidak lagi sembarangan menggunakan lagu-lagu Indonesia. Kejadian ini nanti
bisa diartikan negatif, misalnya seperti menantang Indonesia," ujarnya.
Oleh sebab itu, katanya, pihak konsulat buru-buru mengirimkan surat
peringatan agar Malaysia bisa menahan diri agar hubungan kedua bangsa
menjadi semakin memburuk. Terlebih kedua negara merupakan tetangga yang
dekat.
Lebih jauh ia menjelaskan bahwa sebetulnya Indonesia tidak mempermasalahkan
penggunaan lagu-lagu Indonesia oleh Negara lain, asalkan secara jujur
memberikan penjelasan yang lengkap bahwa lagu tersebut berasal dari
Indonesia.
"Kita sebetulnya bangga juga kalau lagu kita diperkenalkan oleh pihak lain,
tetapi bukan begitu caranya," kata Pitono lagi.
Ia menegaskan bahwa kesengajaan mengubah sebagian lirik dan aransemen lagu
oleh pihak Malaysia dapat mengakibatkan penonton beranggapan bahwa
keseluruhan penampilan baik musik dan tariannya adalah tari dan musik dari
Malaysia.
*Antara* menyebutkan, penggunaan lagu Indonesia itu diketahui saat
berlangsungnya acara Asia Festival 2007 yang diikuti oleh Negara-negara
ASEAN, termasuk Indonesia dan Malaysia pada 12-14 Oktober lalu.
Salah seorang staf Konjen Osaka ketika itu tengah menyaksikan penampilan tim
kesenian Malaysia "Cinta Sayang" pada 14 Oktober lalu. Salah satu tarian
yang ditampilkan Malaysia menggunakan iringan musik yang berasal dari
Sumatera Barat (Sumbar), yaitu *Indang Sungai Garinggiang* .
Sebelum dan sesudahnya, pihak Malaysian Tourism Office di Osaka yang
mengelola penampilan tim kesenian tersebut sama sekali tidak memberi
penjelasan bahwa lagu yang dipakai sebagai musik pengiring tarian itu adalah
lagu yang berasal dari Indonesia.
Untuk memastikan, pihak Konjen RI Osaka menghubungi berbagai pihak di
Jakarta dan juga tokoh-tokoh masyarakat asal Sumatera Barat dan diperoleh
kepastian bahwa pencipta lagu "Indang Sungai Garinggiang" adalah Tiar Ramon,
seniman musik dan penyanyi asal Sumbar pada tahun 1981.
"Memang sang penciptanya sudah meninggal, tetapi semua data-data yang kita
miliki sudah cukup kuat untuk bisa memperingatkan Malaysia," kata seorang
warga Minang yang tinggal di Osaka.
Menurut keterangannya, lagu itu diciptakan atas permintaan Pemda Sumbar
untuk digunakan sebagai musik pengiring "Tari Indang". Lagu itu
diperkenalkan pertama kali dipertunjukkan secara nasional pada upacara
pembukaan MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur?an) tingkat nasional di Padang pada
tahun 1983.
Berdasarkan semua data itulah Konsul Jenderal Osaka Pitono Purnomo menyurati
Azhari Haron, Direktur Malaysian Tourism Office di Osaka, pada 19 Oktober
2007 untuk memberikan penjelasan yang selengkapnya atas penggunaan lagu itu.
Tembusan surat juga dilayangkan ke pihak penyelenggara festival FM Cocolo
untuk dapat mengerti persoalannya dengan memberikan penjelasan yang lengkap.
Sebelumnya lagu daerah asal Maluku *Rasa Sayange* juga dibajak oleh negara
tetangga itu yang semakin menyulut sentimen bangsa Indonesia, menyusul
serangkaian perlakukan buruk dan meremehkan warganegara Indonesia yang
bermukim di Malaysia. *[**EL, Ant**]*
[Non-text portions of this message have been removed].
________________________________________________________
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
http://id.yahoo.com/