mang jamal, janten target na taun iraha tah kota urang berbudaya na teh? 
sigana pami mj janten walkot nya? he2....
   
  dmar

mj <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
              
  Wadul si kuring dimuat Kompas Jabar poe ieu, 1 november. Toong di kompas.com 
edisi cetak jawa barat
  Tadina pikeun kado HUT bandung duka nu ka sabaraha. Heuheu.
  
  Forum
Menuju Bandung Kota Budaya 
  Oleh JAMALUDIN WIARTAKUSUMAH 
  Kota-kota dunia melahirkan sejumlah orang dalam bidangnya yang turut memberi 
sumbangan besar bagi kemajuan kota, negara, dan dunia. Sebagai upaya 
memperindah kota dan untuk mengabadikan mereka yang pernah berjasa dalam 
bidangnya, biasanya dibuatkan patung di taman atau plaza kota. 
  Sebut misalnya di Copenhagen, Denmark, selain patung raja di depan istana, di 
tepi trotoar Radhus Pladsen (alun-alun balaikota) Copenhagen terdapat patung 
Hans Christian Andersen, tokoh cerita anak-anak yang karyanya telah 
diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia. 
  Di Helsinki, selain patung Tsar Rusia Alexander II yang berdiri megah di 
depan gedung senat-sebagai bukti sejarah bahwa Rusia pernah menguasai 
Finlandia-di Taman Esplanade terdapat patung penyair dan sastrawan besar 
Finlandia, JL Runeberg. Di kota kecil Toolo terdapat Monumen Sibelius yang 
didedikasikan untuk Jean Sibelius (1865-1957), komposer terbesar Nordik 
kebanggaan Finlandia. 
  Taman Kota Bandung tampaknya belum banyak memiliki koleksi patung figur tokoh 
terkenal yang diangkat dari berbagai khazanah budaya, seperti legenda, cerita 
rakyat, dan sejarah. Yang sudah ada adalah dari dunia olahraga, seperti patung 
pemain Persib yang belum cukup mewakili kebanggaan warga Kota Bandung, bukan 
karena prestasi Persib yang belakangan turun, melainkan hanya mewakili sepak 
bola. 
  Patung figur tokoh di Bandung masih dapat dihitung dengan jari, di antaranya 
patung setengah badan Ir H Djuanda di Taman Hutan Raya Ir H Djuanda, Dago 
Pakar, yang mewakili dunia teknokrat perintis, dan R Dewi Sartika, perintis 
pendidikan kaum perempuan di Taman Balaikota Bandung. Adapun patung Jenderal 
Sudirman di depan Sesko AD merupakan figur militer yang menjadi bapak TNI, sama 
halnya dengan patung Husein Sastranegara, salah seorang perintis TNI AU. Patung 
tentara pelajar di Viaduk tentu untuk mengenang para pelajar pejuang di zaman 
revolusi. Sangkuriang-Si Kabayan 
  Salah satu yang mungkin dapat ditambahkan bagi Kota Bandung adalah patung 
figur yang menjadi ikon dalam legenda, sastra, dan intelektualitas yang 
memperkaya budaya dan sejarah Jawa Barat dan nasional. Dari cerita legenda 
Bandung, barangkali figur yang layak dibuat patung adalah tokoh dalam legenda 
Tangkubanparahu, seperti Sangkuriang dan Dayang Sumbi. 
  Dari dunia cerita rakyat barangkali figur Si Kabayan. Dari seni Sunda, dapat 
berupa penari jaipong atau tari merak. Daeng Sutigna, sebagai tokoh pembaru 
angklung tampaknya layak dibuat monumen, selain Mang Koko sebagai maestro musik 
kecapi. Sementara patung Mang Udjo ditempatkan di Saung Angklung Udjo, 
Padasuka. Tokoh Mang Lengser akan menjadi sosok menarik yang mewakili upacara 
adat Sunda. 
  Untuk menentukan wajah dan sosok tokoh dari dunia cerita rakyat atau legenda, 
barangkali dapat diambil dari pendapat umum mengenai gambaran seseorang sesuai 
karakternya. Sangkuriang, misalnya, tentu adalah sosok pemuda yang gagah 
perkasa dan ganteng dengan anatomi orang Sunda, bukan tokoh komik seperti 
Superman. Demikian juga tokoh Si Kabayan, tentu karakternya sesuai dengan 
antropometri lokal dan imajinasi kolektif orang Sunda terhadap dirinya. 
  Dari dunia akademis atau intelektual, dapat diambil sosok Prof Dr Husein 
Djayadiningrat, yang tidak hanya mewakili orang Jawa Barat, tetapi juga 
Indonesia karena pribumi pertama yang meraih gelar doktor dengan desertasinya 
mengenai sejarah Banten. Penghulu Haji Hasan Mustapa dapat mewakili dunia 
pemikiran atau filsafat Sunda. Dari dunia sastra, figur yang tepat mungkin 
adalah sosok Moehamad Moesa- Hoofdpanghulu Limbangan yang menciptakan karya 
monumental Wawacan Panji Wulung pada 1862 dan diterbitkan pertama kali pada 
1871 oleh Landsdrukkerij (Mikihiro Moriyama: 2005). 
  Dari dunia perjuangan kemerdekaan, Otto Iskandardinata sangat layak dibuat 
patung. Jarang sekali yang mengetahui bahwa selain perjuangannya di Bandung dan 
Jakarta di sekitar tahun 1945, ia juga adalah orang pertama yang "menemukan" 
kata proklamasi untuk naskah yang dibacakan Bung Karno menggantikan kata 
maklumat yang semula ditulis Bung Karno dan yang monumental, pekik merdeka! 
  Lokasi penempatan patung-patung tersebut yang paling tepat adalah di kawasan 
Taman Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, dengan posisi berjajar dalam jarak 
tertentu memanjang di tepi taman ke arah selatan, yaitu ke arah Gasibu. Dengan 
demikian, monumen dengan desain modern yang gagah tetapi tampak steril dan 
"sekuler" itu akan terasa akrab dengan masyarakat sekitar sekaligus mendekatkan 
khazanah budaya yang dimiliki masyarakat Sunda kepada generasi muda. Kota 
perintis perjuangan 
  Kota Philadelphia, Amerika Serikat, mendapat julukan "the city where America 
begins" karena kota itu menjadi tempat ditandatanganinya Konstitusi Amerika 
Serikat pada 1787. Dalam arti luas, dari kota itulah negara Amerika mulai 
didirikan. Julukan itu tidak untuk gagah-gagahan, tetapi semata untuk memupuk 
kecintaan warga yang akan melahirkan kepedulian tinggi dan juga untuk 
meningkatkan arus turis ke kota itu. 
  Selain sebagai kota yang dibangun pada masa kolonial dan menyisakan berbagai 
bangunan kolonial, dalam konteks sejarah kemerdekaan Indonesia, Kota Bandung 
juga tampaknya layak mendapat julukan seperti Philadelphia. 
  Perintisan perjuangan kemerdekaan yang memusat pada sosok Bung Karno berawal 
di Kota Bandung. Ya, Bandung-awal mula Indonesia-karena di Kota Bandunglah Bung 
Karno merintis pergerakan kemerdekaan Indonesia, dibantu dan didukung 
teman-teman seperjuangan yang orang Bandung, seperti Gatot Mangkoepraja. 
  Tempat atau lokasi bersejarah harus mendapat perlakuan khusus dan dapat 
menjadi objek wisata sejarah. Tentu dengan pemugaran seperlunya dan dirawat 
serta dibuatkan paket wisata sejarah. Kampus THS (sekarang ITB), rumah di Jalan 
Dewi Sartika bekas tempat tinggal Ibu Inggit Garnasih, yang juga menjadi 
kediaman Kusno (panggilan Ibu Inggit kepada Bung Karno), Gedung Landraad 
(sekarang Gedung Indonesia Menggugat), dan penjara Banceuy dan Sukamiskin 
adalah tempat-tempat di Bandung yang menjadi saksi perjuangan Bung Karno. 
  Juga yang tak kalah penting adalah karya Bung Karno, seperti dua rumah kembar 
di perempatan Jalan Gatot Subroto dan Jalan Malabar. Kebanggaan itu semoga 
melahirkan rasa cinta warga Kota Bandung. Dengan demikian, warga akan turut 
serta dalam segala upaya meningkatkan kualitas kota sehingga dapat sejajar 
dengan kota kelas dunia. 
  Hal yang tidak kalah penting adalah menambah area hijau berupa taman. Lahan 
di bagian barat Gasibu potensial untuk itu, tidak perlu untuk gedung konvensi. 
Saya kira warga Bandung lebih membutuhkan taman terbuka hijau dibandingkan 
dengan gedung konvensi. 
  JAMALUDIN WIARTAKUSUMAH Dosen Desain Itenas 
  

  

                         

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke