Lamun kitu mah bah pahlawan ceuk hiji golongan can tangtu pahlawan jang golongan nu lain? DI nagara urang nu sakieu bhineka na pastina aya nu silih "senggol". Harita waktu TIB di kukuhkeun pahwalan nasional sigana wae aya tujuan lain ti pamarentah (baca : Suharto) pikeun menangkeun hate golongan didinya...sigana mah... Ngan wallahualam..da ayeunamah gening sagala kabuka jeung kritisme oge kaluar timana2...aya saena aya awona....... Nu matak memang berat jadi presiden di Indonesia mah..komo lamun situasi kebebasan siga ayuena..da beda warna beda pamikiran jeung beda adat. Primordialisme masih kadang leuwih luhur batan nasionalisme...meureun eta nu baheula di udag ku Sukarno "character building" tea...
Ayeuna di Malaysia (baca:Malingsia ceuk golongan urang mah) oge muncul kebebasan2 ti golongan/ras China+ India..Ngan tetep pamarentahna keukeuh ngalindungi ras malay na da cenah bisi kajadian deui kerusuhan siga di taun 70-an tea...Komo di urang nu golongan/ suku na siga kieu...bisa2 tepecah2 jadi tiap golongan...ceuk bhasa keren na mah tokoh pribumi tea lah atau putra daerah .....padahal mah lamun enya tokoh pribumi nya sigana urang Yunan nu aya hak jadi orang pribumi di tatar sunda... ....................... On 11/10/07, Waluya <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Poe ieu, 10 November sok disebut Hari Pahlawan, cenah keur ngingetkeun > urang, kana jasa-jasa aranjeunna. Tapi saha atuh nu disebut pahlawan teh? > geuning teu unggal urang Indonesia sarua dina nempo jalma nu disebut > Pahlawan teh. Dihandap ieu aya artikel kumaha urang Batak teu narima Imam > Bonjol disebut Pahlawan, sabab cenah pasukan anjeunna nalangsarakeun urang > > Batak. Jadi mirip jeung di tatar Sunda, Pangeran Kornel keur urang > Sumedang, > diangga "Pahlawan", tapi henteu keur urang Majalengka > (Kadipaten/jatiwangi) > sabab anjeunna nu numpes pemberontakan Bagusrangin di Jatiwangi. > > Nyanggakeun artikelna sareng wilujeng Hari Pahlawan: > > Imam Bonjol, Dikenang Sekaligus Digugat > > Oleh Suryadi > Kompas - 10 November 2007 > > Selama 62 tahun Indonesia merdeka, nama Tuanku Imam Bonjol hadir di ruang > publik bangsa: sebagai nama jalan, nama stadion, nama universitas, bahkan > di > lembaran Rp 5.000 keluaran Bank Indonesia 6 November 2001. > > Tuanku Imam Bonjol (TIB) (1722-1864), yang diangkat sebagai pahlawan > nasional berdasarkam SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973, 6 November > 1973, adalah pemimpin utama Perang Paderi di Sumatera Barat (1803-1837) > yang > gigih melawan Belanda. > > Namun, baru-baru ini muncul petisi, menggugat gelar kepahlawanannya. TIB > dituduh melanggar HAM karena pasukan Paderi menginvasi Tanah Batak > (1816-1833) yang menewaskan "jutaan" orang di daerah itu > (http://www.petitiononline. com/bonjol/petition.html). > Kekejaman Paderi disorot dengan diterbitkannya buku MO Parlindungan, > Pongkinangolngolan Sinamabela Gelar Tuanku Rao: Teror Agama Islam Mazhab > Hambali di Tanah Batak, 1816-1833 (2006) (Edisi pertama terbit 1964, yang > telah dikritisi Hamka, 1974), kemudian menyusul karya Basyral Hamidy > Harahap, Greget Tuanku Rao (2007). > > Kedua penulisnya, kebetulan dari Tanah Batak, menceritakan penderitaan > nenek > moyangnya dan orang Batak umumnya selama serangan tentara Paderi 1816-1833 > > di daerah Mandailing, Bakkara, dan sekitarnya (Tempo, Oktober 2007). > > Mitos kepahlawanan > > Munculnya koreksi terhadap wacana sejarah Indonesia belakangan ini > mencuatkan kritisisme terhadap konsep pahlawan nasional. Kaum intelektual > dan akademis, khususnya sejarawan, adalah pihak yang paling bertanggung > jawab jika evaluasi wacana historis itu hanya mengakibatkan munculnya > friksi > di tingkat dasar yang berpotensi memecah belah bangsa ini. > > Ujung pena kaum akademis harus tajam, tetapi teks-teks hasil torehannya > seyogianya tidak mengandung "hawa panas". Itu sebabnya dalam tradisi > akademis, kata-kata bernuansa subyektif dalam teks ilmiah harus > disingkirkan > si penulis. > > Setiap generasi berhak menafsirkan sejarah (bangsa)-nya sendiri. Namun, > generasi baru bangsa ini-yang hidup dalam imaji globalisme-harus > menyadari, > negara-bangsa apa pun di dunia memerlukan mitos-mitos pengukuhan. Mitos > pengukuhan itu tidak buruk. Ia adalah unsur penting yang di-ada-kan > sebagai > "perekat" bangsa. Sosok pahlawan nasional, seperti Pangeran Diponegoro, > Sultan Hasanuddin, Sisingamangaraja XII, juga TIB, dan lainnya adalah > bagian > dari mitos pengukuhan bangsa Indonesia. > > Jeffrey Hadler dalam "An History of Violence and Secular State in > Indonesia: > Tuanku Imam Bondjol and Uses of History" (akan terbit dalam Journal of > Asian > Studies, 2008) menunjukkan, kepahlawanan TIB telah dibentuk sejak awal > kemerdekaan hingga zaman Orde Baru, setidaknya terkait tiga kepentingan. > Pertama, menciptakan mitos tokoh hero yang gigih melawan Belanda sebagai > bagian wacana historis pemersatu bangsa. > Kedua, mengeliminasi wacana radikalisme Islam dalam upaya menciptakan > negara-bangsa yang toleran terhadap keragaman agama dan budaya. > Ketiga, "merangkul" kembali etnis Minang ke haribaan Indonesia yang telah > mendapat stigma negatif dalam pandangan pusat akibat peristiwa PRRI. > Kita tak yakin, sudah adakah biji zarah keindonesiaan di zaman perjuangan > TIB dan tokoh lokal lain yang hidup sezaman dengannya, yang kini dikenal > sebagai pahlawan nasional. > > Kita juga tahu pada zaman itu perbudakan adalah bagian sistem sosial dan > beberapa kerajaan tradisional Nusantara melakukan ekspansi teritorial > dengan > menyerang beberapa kerajaan tetangga. Para pemimpin lokal berperang > melawan > Belanda karena didorong semangat kedaerahan, bahkan mungkin > dilatarbelakangi > keinginan untuk mempertahankan hegemoni sebagai penguasa yang mendapat > saingan akibat kedatangan bangsa Barat. Namun, mereka akhirnya menjadi > pahlawan nasional karena bangsa memerlukan mitos pemersatu. > Bukan manusia sempurna > > Tak dapat dimungkiri, Perang Paderi meninggalkan kenangan heroik sekaligus > > traumatis dalam memori bangsa. Selama sekitar 20 tahun pertama perang itu > (1803-1821) praktis yang berbunuhan adalah sesama orang Minangkabau dan > Mandailing atau Batak umumnya. > > Campur tangan Belanda dalam perang itu ditandai dengan penyerangan > Simawang > dan Sulit Air oleh pasukan Kapten Goffinet dan Kapten Dienema awal April > 1821 atas perintah Residen James du Puy di Padang. Kompeni melibatkan diri > > dalam perang itu karena "diundang" kaum Adat. > Pada 21 Februari 1821 mereka resmi menyerahkan wilayah darek (pedalaman > Minangkabau) kepada Kompeni dalam perjanjian yang diteken di Padang, > sebagai > kompensasi kepada Belanda yang bersedia membantu melawan kaum Paderi. Ikut > > "mengundang" sisa keluarga Dinasti Pagaruyung di bawah pimpinan Sultan > Muningsyah yang selamat dari pembunuhan oleh pasukan Paderi yang dipimpin > Tuanku Pasaman di Koto Tangah, dekat Batu Sangkar, pada 1815 (bukan 1803 > seperti disebut Parlindungan, 2007:136-41). > > Namun, sejak awal 1833 perang berubah menjadi perang antara kaum Adat dan > kaum Agama melawan Belanda. Memorie Tuanku Imam Bonjol (MTIB)- > transliterasinya oleh Sjafnir Aboe Nain (Padang: PPIM, 2004), sebuah > sumber > pribumi yang penting tentang Perang Paderi yang cenderung diabaikan > sejarawan selama ini-mencatat, bagaimana kedua pihak bahu-membahu melawan > Belanda. > > Pihak-pihak yang semula bertentangan akhirnya bersatu melawan Belanda. Di > ujung penyesalan muncul kesadaran, mengundang Belanda dalam konflik justru > > menyengsarakan masyarakat Minangkabau sendiri. > > Dalam MTIB, terefleksi rasa penyesalan TIB atas tindakan kaum Paderi atas > sesama orang Minang dan Mandailing. TIB sadar, perjuangannya sudah > melenceng > dari ajaran agama. "Adapun hukum Kitabullah banyaklah yang terlampau dek > oleh kita. Bagaimana pikiran kita?" (Adapun banyak hukum Kitabullah yang > sudah terlangkahi oleh kita. Bagaimana pikiran kalian?), tulis TIB dalam > MTIB (hal 39). > > Penyesalan dan perjuangan heroik TIB bersama pengikutnya melawan Belanda > yang mengepung Bonjol dari segala jurusan selama sekitar enam bulan (16 > Maret-17 Agustus 1837)-seperti rinci dilaporkan De Salis dalam Het einde > Padri Oorlog: Het beleg en de vermeestering van Bondjol 1834-1837: Een > bronnenpublicatie [Akhir Perang Paderi: Pengepungan dan Perampasan Bonjol > 1834-1837; Sebuah Publikasi Sumber] (2004): 59-183-mungkin dapat dijadikan > > pertimbangan untuk memberi maaf bagi kesalahan dan kekhilafan yang telah > diperbuat TIB. > > Kini bangsa inilah yang harus menentukan, apakah TIB akan tetap > ditempatkan > atau diturunkan dari "tandu kepahlawanan nasional" yang telah "diarak" > oleh > generasi terdahulu bangsa ini dalam kolektif memori mereka. > > Suryadi Dosen dan Peneliti pada Opleiding Talen en Culturen van > Zuidoost-Aziƫ en Oceaniƫ, Universiteit Leiden, Belanda > > > -- best regards, Rony

