lain rek ngungkit-ngungkit polemik ieu mah ngan aya nu matak narik ati
kuring. eta cutatan ti mang udjo di pada pamungkas "Mungkin bangsa yang
dihargai (dunia) adalah yang memelihara budaya, bukan yang menciptakannya".
asa kasindiran.....

d
-- 
~karék cénah~

http://www.kompas.co.id/

Indonesia-Malaysia
*Jangan Ambil Angklung Kami, Pakcik… *

Diplomasi kebudayaan dalam arti yang sesungguhnya terjadi pada Minggu
(11/11) malam di Kuala Lumpur Convention Centre. Dan itu dilakukan dengan
cerdik oleh seorang wanita yang bukan diplomat, tapi oleh seniman yang
sehari- hari adalah instruktur (musik) angklung.

Lewat pergelaran angklung interaktif pada salah satu sesi "Malam Budaya
Indonesia" di ibu kota negeri jiran tersebut, Ika Widyaningsih dari Saung
Angklung Mang Udjo mengajari para undangan dari Malaysia tentang bagaimana
seharusnya bermain angklung. Padahal, di Malaysia, seni tradisi ini sudah
diklaim sebagai musik nasional kerajaan dengan label music bamboo malay dan
(konon) tengah diupayakan untuk mendapat pengakuan UNESCO.

Di antara tamu kehormatan yang hadir adalah Menteri Kebudayaan Kesenian dan
Warisan Nasional Kerajaan Malaysia Dato' Sri Rais Yatim. Menteri Kebudayaan
dan Pariwisata RI Jero Wacik, Dirjen Nilai Budaya Seni dan Film Mukhlis
PaEni, serta Halim Kalla dari Kadin Indonesia Komite Malaysia ikut duduk
mendampingi Dato' Sri Rais Yatim dalam satu meja.

Sebelum "permainan" dimulai, pemain-pemain angklung dari Saung Angklung Mang
Udjo membagikan suvenir berupa sebuah angklung kepada setiap penonton. Dari
atas panggung, Ika dengan fasih menuntun mereka bagaimana cara memegang dan
membunyikan angklung yang benar. Dato' Sri Rais Yatim bersama istri juga
mengikuti peragaan Ika, yang kemudian disusul instruksi tentang bagaimana
posisi dan cara menggerakkan angklung agar menghasilkan nada-nada dasar
musik yang diinginkan.

Sebagian besar undangan terlihat hanyut mengikuti instruksi Ika. Mereka
seperti menikmati permainan baru dari alat musik bambu yang sederhana,
tetapi sungguh menakjubkan karena ternyata mampu menghasilkan nada-nada
musik yang inspiratif dan menawan.

Awalnya, beberapa lagu dimainkan dengan tertatih-tatih. Sekitar 200 undangan
semula kikuk memegang dan menggoyang-goyangkan alat musik bambu tersebut.
Beberapa di antaranya bahkan tampak frustrasi, lalu meletakkan angklungnya
di meja, sebelum akhirnya ikut kembali "bergabung" sambil
menggeleng-gelengkan kepala.

Di sinilah kepiawaian Ika Widyaningsih sebagai instruktur. Berkat
pengalamannya selama bertahun-tahun sebagai instruktur, Ika mampu
membangkitkan minat para "pembelajar" angklung untuk mengikuti setiap
gerakan jari tangannya guna menemukan nada yang pas, sesuai irama lagu yang
dimainkan.

"We are the best. Semoga dengan angklung persahabatan Indonesia-Malaysia
tetap jaya," kata Ika memuji, setelah lagu Falling in Love dalam iringan
musik angklung yang dimainkan secara interaktif itu mengumandang, dan
diakhiri aplaus meriah.

*Bermakna ganda*

Misi kesenian yang diusung lewat program "Jembatan Budaya
Indonesia-Malaysia" pada Minggu malam lalu sesungguhnya memiliki makna
ganda. Di satu sisi, "Malam Budaya Indonesia" itu sebagai ungkapan
persahabatan di antara kedua negara sebagai bangsa serumpun. Di sisi
lain—diakui atau tidak—misi kesenian Indonesia kali ini juga untuk
mengingatkan Malaysia pada etika dan nilai persahabatan yang hakiki.

Tindakan Malaysia dalam beberapa waktu terakhir terhadap bangsa Indonesia
sempat menyulut sentimen negatif di Tanah Air. Hal itu terjadi lantaran
sikap dan/atau langkah yang mereka tempuh dirasakan telah menyinggung harga
diri dan martabat bangsa Indonesia.

Khusus di bidang kebudayaan, kegalauan itu dipicu klaim sepihak Malaysia
atas produk-produk budaya Indonesia. Dalam kasus pematenan batik oleh
Malaysia, misalnya, meski hanya menyangkut motifnya, citra yang kemudian
mendunia akhirnya bisa memunculkan anggapan bahwa batik secara keseluruhan
adalah milik Malaysia.

Begitu pun klaim Malaysia terhadap angklung, yang mereka pasarkan lewat
dunia perpelancongannya sebagai music bamboo malay. Bukan tidak mungkin
klaim ini akan meminggirkan posisi angklung di pergaulan antarbangsa
lantaran Indonesia bisa dianggap sebagai pengekor.

"Padahal, dari sejarah dan penelitian yang kami lakukan, angklung
benar-benar musik tradisi asli Indonesia," kata Satria Yanuar Akbar,
Direktur Operasi Saung Angklung Mang Udjo.

Angklung merupakan alat musik yang berasal dari Jawa Barat. Angklung gubrag
di Jasinga, Bogor, adalah salah satu yang masih hidup sejak lebih dari 400
tahun lampau. Kemunculannya berawal dari ritus padi. Angklung diciptakan dan
dimainkan untuk memikat Dewi Sri turun ke Bumi agar tanaman padi rakyat
tumbuh subur.

Dalam perkembangannya, angklung berkembang dan menyebar ke seantero Jawa,
lalu ke Kalimantan dan Sumatera. Pada 1908 tercatat sebuah misi kebudayaan
dari Indonesia ke Thailand, antara lain ditandai penyerahan angklung, lalu
permainan musik bambu ini pun sempat menyebar di sana.

Bahkan, sejak 1966, Mang Udjo—tokoh angklung yang mengembangkan teknik
permainan berdasarkan laras-laras pelog, salendro, dan madenda—mulai
mengajarkan bagaimana bermain angklung kepada banyak orang dari berbagai
komunitas. Termasuk mereka yang berasal dari Malaysia.

Kini, setelah Malaysia menyatakan angklung sebagai musik nasional kerajaan,
keinginan dari pemerintah negeri jiran itu untuk mendatangkan instruktur
dari Saung Angklung Mang Udjo terus berdatangan. Dengan iming-iming gaji
besar, mereka ingin agar dibentuk komunitas music bamboo malay di sana, lalu
minta juga diajarkan bagaimana cara bermain angklung.

"Ika sebagai murid senior Mang Udjo beberapa kali ditawari pindah ke
Malaysia. Namun, hingga sejauh ini kami hanya memberikan jawaban diplomatis:
belum ada waktu. Kami sebetulnya juga ingin menyebarkan angklung ke seluruh
dunia. Tapi, pada saat bersamaan apa tindakan pemerintah untuk memagari agar
angklung tetap jadi milik kita?" kata Satria.

Atau, boleh jadi pandangan Mang Udjo (alm) terhadap masa depan angklung
beberapa tahun lampau benar-benar akan jadi kenyataan. Bahwa, "Mungkin
bangsa yang dihargai (dunia) adalah yang memelihara budaya, bukan yang
menciptakannya". Jika itu yang terjadi, masih pantaskah kita bersikukuh
untuk berkata kepada Malaysia: "Jangan ambil angklung kami, Pakcik…." (ken)

Kirim email ke