Enya atuh dakumaha babasaan na oge siga kieu. Cobi beuteung keur lapar, aya anu nawaran dahar, pokna teh " Nuhun, sawios tos cekap). Gengsi mah umum..pek perhiasan sanes emas disipuh ku emas...gold plated...Sieun wae disebut teu make emas. Orang bule mah lolobana make perhiasan imitasi tina plastik, almunium jrrd. Sanes gensi wae..anu aya dimasyarakat urang teh..tapi eta saing2an...Aya dihiji komplek BTN..saurang Ibu anu nyalukan barudakna make mikropon Karaoke " Aman, Todi..hayu dahar heula !". Kunaon, Karaoke na kakara meuli jeung anu leuwih penting tatanggana can boga..!
Tapi si Ibu tiasa cialat lamun cicing di Kampung suku Baawi asli...tah urang Batawi mah teu ngarasa kasaing..tapi ngarubah jadi kasepetan alis nebeng Karaoke ungal poe...kadangan teu nyaho waktu..... janten abdi kirang sapagodos sareng anu nyerat artikel..yen masyarakat kedah diwurukkan kagunaan barang anu dibeuli..jrrd. maranehna teh ngeus nyaho...euweuh guna na ! Tapi demi gengsi di beuli wae...tega nganjuk oge ! janten kedah dipilari kunaon masyarakat urang teh "kapaksa" konsumtif demi gengsi ! haus pangakuan ? naon sababna ? hayang dihormat ? Naha kulantaran sipat masyarakat anu sok "ngoa" kanu teu boga ?. Ayeuna mah Nokia Communicator 9500 (2nd hand) tos seueur supir sareng babu anu nagngo ! Pok na SMS na mantep siga ngetik ! --- Yuliadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Hidup kang Irpan!!! > Tambahan deui (meureun) epes meer, belikan > > kompormodeon > -----Original Message----- > From: irpan rispandi [mailto:[EMAIL PROTECTED] > Sent: Monday, November 19, 2007 4:20 PM > To: [email protected] > Subject: Re: [Urang Sunda] Mewaspadai Wabah > "Gelombang Cinta" > > Kuringmah menggarisbawahi "masyarakat aleman". > S a t u j u ! > > jalma anu hirup di indonesia mah Gengsian, komo > urang Sunda mah. > Gengsian pisan! > > malah anggota kusnet oge, lamun daraekeun jujur mah, > pasti loba anu > gengsian teh... > > ngan biasana keuna ka paribasa "mana ada maling > ngaku" he..he..he.. > > > On 11/19/07, tenni supardi < [EMAIL PROTECTED] > <mailto:[EMAIL PROTECTED]> > wrote: > kenging ti milis tatangga, mugi-mugi mangpaat... > > Mewaspadai Wabah "Gelombang Cinta" > > SETELAH masa booming bisnis ikan lohan berlalu, kini > masyarakat > menghadapi kesibukan baru, yakni wabah gelombang > cinta! Jenis tanaman > hias itu seolah menjadi sihir baru yang mampu > menggerakkan hati > orang-orang yang sebelumnya bahkan tidak punya > ketertarikan sama sekali > terhadap tanam-tanaman. > > Kini banyak orang rela menginvestasikan jutaan > rupiah untuk berbisnis > tanaman hias jenis anthurium. Bahkan ada bupati yang > mencanangkan > wilayahnya sebagai "Kabupaten Anthurium". > > Maraknya bisnis tanaman hias dengan maskot > "gelombang cinta" merupakan > fenomena sosial yang perlu mendapat perhatian. > Bagaimana pun fenomena > itu perlu disikapi secara kritis agar masyarakat > lapis bawah tidak > menjadi korban permainan orang-orang yang hanya > memikirkan keuntungan > dirinya. > > Masyarakat perlu diberikan pencerahan bahwa bisnis > tanaman anthurium > adalah kegiatan yang tidak masuk akal (irasional) > dan berpotensi menjadi > wabah yang dapat menggerus ekonomi mereka dalam > jumlah jutaan rupiah. > Masyarakat lapis menengah bawah sedang disiapkan > menjadi korban > sembelihan kalangan penjudi kelas kakap. > > Melalui artikel ini penulis akan menjelaskan > beberapa hal yang terkait > dengan fenomena bisnis tanaman anthurium. Diharapkan > agar tulisan ini > dapat memberikan pencerahan dan menumbuhkan sikap > kritis masyarakat > terhadap fenomena yang dalam istilah sebuah surat > kabar nasional disebut > sebagai dunia dongeng. > > Masyarakat Aleman > Merebaknya bisnis tanaman hias anthurium dengan > berbagai variannya tidak > lepas dari karakter masyarakat Indonesia yang aleman > (kolokan), > masyarakat yang suka disanjung dan dipuji, > masyarakat yang lebih > mengutamakan "wuah" dari pada akal sehat. > > Karena sifat alemannya itu banyak orang yang > sebenarnya tidak mampu, > bahkan untuk makan sehari-hari saja pas-pasan, namun > tetap > menyelenggarakan hajatan besar untuk perkimpoian > atau pun khitanan. > Karena sifat aleman itu maka banyak warga kalau > membeli barang tidak > didasarkan atas nilai kegunaan, tetapi lebih untuk > pencitraan. > > Dalam hal pembelian HP (hand phone) misalnya, > masyarakat kita sangat > senang mengikuti trend tanpa mempedulikan > efektivitas dan efisiensi. > Maka kepemilikan HP masyarakat Indonesia tergolong > mewah, bahkan mungkin > orang-orang Eropa yang pasca sejahtera pun HP-nya > kalah mewah dengan > milik masyarakat kita. > > Kondisi masyarakat yang aleman itu dipahami betul > oleh para pelaku > bisnis. Oleh sebab itu inovasi produk untuk pasar > Indonesia sangat cepat > dan hampir pasti setiap hasil inovasi laku keras > karena kita selalu > bangga memiliki model baru. > > Alam kejiwaan sosial yang demikian ditangkap oleh > pelaku bisnis sebagai > peluang besar yang harus dimanfaatkan. Pebisnis yang > bergerak dalam > produk manufaktur tentu akan menyuplai barang-barang > konsumsi > masyarakat. > > Sedangkan spekulan akan bermain di ceruk yang mereka > anggap potensial > untuk mendatangkan keuntungan. Uji coba bisnis ikan > Lohan yang sempat > menembus harga ratusan juta rupiah rupanya memberi > inspirasi kepada para > spekulan untuk bermain dalam jenis barang yang lain. > > > Tanaman hias anthurium tampaknya menjadi pilihan > tepat bagi kaum > spekulan untuk memainkan alam kejiwaan sosial > masyarakat Indonesia yang > aleman tadi menjadi sumber keuangan mereka. > Perhitungan mereka ternyata > tepat, masyarakat berhasil dimainkan alam > kejiwaannya sehingga tidak > lagi rasional dalam melihat kenyataan. > > Masyarakat seolah telah tersihir bahwa bisnis > anthurium pasti memberi > citra yang bagus dan keuntungan finansial sangat > tinggi! Akibatnya > banyak pendatang baru dengan relasi terbatas, > pengetahuan pas-pasan, > rela menjual aset lain untuk diinvestasikan di > bisnis 'gelombang cinta" > dengan harapan memperoleh sesuatu yang serba "wah", > yaitu duit banyak > dan citra bagus! > > Siapa Kaum Spekulan? > Jika dicermati secara seksama tren bisnis yang > sifatnya spekulatif itu > muncul sejak dihapusnya Sumbangan Dana Sosial > Berhadiah (SDSB) dan > sejenisnya oleh pemerintah. > > Kalau melihat waktu kemunculannya yang demikian itu > patut diduga bahwa > pentholan (tokoh utama) yang bermain di balik bisnis > spekulatif itu > adalah para mantan bandar era SDSB. Indikasi lain > mengenai dugaan itu > adalah pola kerjanya yang sistematis, dan sangat > terorganisasi. > > Sama seperti waktu pengembangan bisnis ikan Lohan, > untuk bisnis > anthurium ini pun pola kerjanya sama, yakni lewat > mekanisme pameran dan > muncul para dolob yang membeli barang dengan harga > tinggi, kemudian ada > rekayasa pencitraan melalui media massa sehingga > masyarakat terpengaruh. > > > Untuk menggerakkan keterlibatan masyarakat maka > muncul dolob-dolob yang > berfungsi sebagai pembeli perantara di lapangan. > Para dolob itulah yang > berperan memainkan harga sehingga masyarakat percaya > bahwa pasar tanaman > hias anthurium itu memang terbuka luas. Masyarakat > tidak sadar bahwa > dirinya sedang dijebak masuk dalam model bisnis > spekulatif. > > Praktik bisnis tanaman hias anthurium menggunakan > pola yang dikembangkan > dalam model Multi Level Marketing ( MLM) yang mulai > dikenal di Indonesia > sejak awal 1990-an. > > Tanpa disadari dalam bisnis tanaman anthurium dengan > segala variannya > itu ada hirarkhi up line dan down line, peristis > (pioneer), === message truncated === ____________________________________________________________________________________ Get easy, one-click access to your favorites. Make Yahoo! your homepage. http://www.yahoo.com/r/hs

