Pararunten ah teu kabujeng di Sundakeun.
Paguyuban Lawang Kuring Melestarikan Budaya Dalam Kebinekaan
Denpasar (Bali Post) -
Keragaman budaya yang ada di Indonesia merupakan kehendak Tuhan. Itu membuat
Indonesia memiliki nilai lebih. Munculnya gejala atau upaya penyeragaman budaya
itu akan mengancam Bhineka Tunggal Ika. Hal itu diungkapkan Koordinator
Paguyuban Lawang Kuring Bandung, Sarbani saat masimakrama ke Gedung Pers Bali
K. Nadha, Selasa (11/12) kemarin.
Kedatangan 30 orang dari Paguyuban Lawang Kuring Bandung ini terkait visi
paguyuban untuk melestarikan budaya dalam kebinekaan yang merupakan warisan
leluhur. Ia menambahkan, pentingnya menciptakan hubungan yang harmonis dalam
kebinekaan merupakan persembahan ke hadapan Sang Pencipta sebagai lambang
perwujudan bakti atas segala karunia yang dilimpahkan bagi kehidupan pada alam
semesta.
''Perwujudan rasa bakti kepada yang maha kuasa itu kita wujudkan melalui ritual
ngerajah yang tentunya diekspresikan dalam karya budaya seperti tata ruang,
tata gerak, tata waktu, tata suara yang ditata seistimewa mungkin yang tidak
terlepas dari keindahan,'' tambahnya. Melalui ritual ini, diharapkan mampu
meningkatkan pemahaman nilai spiritual masyarakat dalam melestarikan budaya
secara universal. Setelah masimakrama, rombongan menggelar ritual yang dalam
bahasa Sunda-nya disebut ngerajah atau ritual sebagai wujud terima kasih kepada
Tuhan atas anugerahnya kepada manusia, dipimpin kanduruan Kertakusuma. Ritual
diawali mendengarkan alunan kecapi yang dikolaborasikan dengan seruling dan
kidung dalam bahasa Sunda, yang berisikan puji-pujian kepada Tuhan.
Ritual ini mempergunakan berbagai sarana sarat makna, di antaranya kelapa atau
pedaringan yang dalam bahasa Sunda simbol diri kita sendiri agar bisa berguna
seluruhnya seperti buah kelapa. Pohon anjungan simbol perjuangan untuk cinta
tanah air termasuk warisan leluhur. Kopi pahit manis dan teh pahit manis
sebagai perwujudan sikap atau kondisi hidup pahit atau manis harus sama-sama
dipikul untuk kemajuan bersama. Ada juga bunga sebagai pemberi semangat hidup
untuk berkarya. Ngerajah diakhiri pemberian tirta atau tabur air kepada peserta
yang bermakna ruatan dan wujud syukur. (kmb)
hatur nuhun,
gl
------------
________________________________________________________
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
http://id.yahoo.com/