Punten teu di-sunda-keun.
MGT
Ulil Abshar-Abdalla <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un...
Saya husnuz-zan, bahwa Kiai Ilyas Ruhiyat adalah "min
ahlil jannah". Semoga pembawaan Kiai Ilyas yang
lembut, akomodatif, toleran, dan mengayomi semua pihak
ini bisa menjadi teladan bagi kita semua, baik di
dalam atau di luar NU, terutama di saat-saat ketika
toleransi sebagai ide dan praktek dikutuk dan dimusuhi
seperti sekarang ini.
Meski tak dikenal sebagai kiai yang banyak menulis,
melontarkan pendapat di media, atau sering
menyampaikan "prefarat" dalam seminar-seminar dan
konferensi, Kiai Ilyas adalah sebuah "mazhab", jika
saya boleh agak sedikit "takalluf" dan "superlatif"
(mubalaghah). Gaya kekiaian Kiai Ilyas adalah salah
satu di antara corak kekiaian yang berkembang dalam
tubuh NU.
Pesantren Cipasung yang diasuh oleh Kiai Ilyas,
menurut saya, adalah merupakan contoh pelaksanaan dari
prinsip yang dikenal dan dihayati dalam NU,
"al-muhafazah 'ala al-qadim al-shalih wa al-akhdhu bi
'l-jadid al-aslah", memelihara yang lama yang baik,
menyerap yang baru yang lebih baik.
Saya mengenal pesantren Cipasung pertama kali awal
80an sebagai salah satu pesantren yang bekerjasama
dengan LP3ES (kemudian dilanjutkan oleh P3M) untuk
pengembangan masyarakat (bahasa yang dipakai saat itu
adalah "community development"), bersama-sama dengan
pesantren lain seperti Maslakul Huda asuhan Kiai Sahal
Mahfudz, Pesantren Tebuireng asuhan (saat itu) alm.
Kiai Yusuf Hasyim, Pesantren Pabelan asuhan Kiai Hamam
Ja'far, dan pesantren Asy-Syafi'iyah.
Ide "pengembangan masyarakat" saat itu bermula dari
gagasan kalangan "intelektual kota" yang sedang asyik
dengan kritik atas teori pembangunan untuk menjadikan
pesantren sebagai eksperimen untuk model pembangunan
alternatif yang "bottom up", bukan "up-to-bottom" gaya
Suharto.
Tidak semua pesantren menerima gagasan ini dan
dijadikan sebagai proyek percontohan untuk "kritik
pembangunanisme" ini. Sebagian kiai mencurigai proyek
ini sebagai "proyek Yahudi" yang berbahaya. Bersama
sejumlah kiai lain, Kiai Ilyas menerima inisiatif ini
dengan tangan terbuka, tanpa kecurigaan yang
berlebihan. Proyek rintisan LP3ES tidak semua
berhasil. Yang paling tahan lama hanyalah percontohan
yang ada di tiga pesantren: Kajen, Tebuireng dan
Cipasung. Sekarang, yang tersisa hanya dua: Kajen dan
Cipasung.
Keberhasilan ini tak lepas dari dukungan moral dan
intelektual dari kiai-kiai semacam Kiai Sahal dan Kiai
Ilyas itu. Dari proyek inilah lahir sejumlah
"santri-aktivis" yang menjembatani pesantren sebagai
lemabaga "tafaqquh fil al-din" (istilah yang sering
dipakai oleh Kiai Sahal) dan masyarakat.
Dari Cipasung lahir santri-aktivis yang sudah saya
kenal sejak lama, Kang Tatang. Dari Kajen, lahir
orang-orang seperti alm. Pak Masykur Maskub. Dari
Tebuireng, lahir orang seperti Nas Sodri Nashori (yang
sekarang masih aktif di P3M) dan Mas Mufid A. Busyairi
(sekarang anggota DPR dari PKB). Dari Assyafiiyyah,
Jatiwaringin, lahir orang-orang seperti Mansour Fakih
(yang memperkenalkan dengan gigih gagasan
"pendidikan-sebagai-penyadaran" a la Paulo Freire) dan
Budhy Munawar Rachman.
Saya adalah santri yang sedang tumbuh dan bergairah
berkenalan dengan ide-ide baru pada periode itu.
Lahirnya pusat-pusat pengembangan pesantren pada awal
80an itu memberikan saya kesempatan untuk berkenalan
dengan gagasan-gagasan "sekuler" yang datang dari
kota. Pak Masykur Maskub, yang saat itu menjadi guru
di madrasah Mathali'ul Falah, Kajen, sambil mengelola
pusat pengembangan masyarakat di pesantrennya Kiai
Sahal, memperkenalkan kepada saya sejumlah buku dan
jurnal Prisma terbitan LP3ES.
Dari LP3ES pula lahir majalah "Pesan" (singkatan dari
"Pesantren") yang banyak memuat contoh-contoh sukses
proyek pengembangan masyarakat melalaui pesantren.
Majalah yang antara lain dikelola oleh Mas Hadimulyo
(sekarang aktif di PPP) ini saya baca dengan penuh
minat saat saya masih menjadi santri di Kajen dulu.
Pada suatu pagi yang cerah, matahari berbinar-binar di
ufuk timur (ini bukan hiperbola, tetapi penggambaran
harafiah), saya membaca majalah Pesan dan menemukan
puisi-puisi Acep Zamzam Noor, putera dari Kiai Ilyas
yang saat itu masih kuliah di ITB.
Pada edisi yang saya baca itu, antologi puisi Kang
Acep, "Tamparlah Mukaku", sedang diresensi. Sejumlah
puisi Kang Acep juga dimuat di sana. Sebagai santri
pedusunan, terus terang saya tak paham semua yang
ditulis Kang Acep. Saya hanya terpana berhadapan
dengan susunan kalimat yang aneh dalam puisi itu.
Hingga sekarang, saya termasuk penggemar puisi-puisi
Kang Acep, terutama puisi-puisi yang ia gubah saat
melancong ke Itali (beberapa dimuat di jurnal Kalam).
Saya juga menyukai sejumlah lukisan Kang Acep.
Beberapa di antaranya saya lihat di ruang tamu
kediaman Kiai Ilyas di Cipasung (saya lihat saat saya
ikut menjadi "romli" [rombongan liar] pada Muktamar NU
ke-29 di Cipasung, Desember 1994). Beberapa lukisannya
yang lain saya lihat di rumah Sitok Srengenge di
Depok.
Suasana pesantren selepas Muktamar NU ke-27 yang
ingar-bingar saat itu, hingga muktamar yang ke-29 di
Cipasung, adalah suasana penuh antusiasme menyambut
ide-ide baru. Pada periode itulah saya tumbuh sebagai
seorang santri "ndeso" di sudut desa Kajen, Pati. Pada
saat itulah, saya mulai berkenalan dengan ide-ide Gus
Dur, Cak Nur, Dawam Rahardjo, Djohan Effendi, Sutjipto
Wirosardjono, Jalaluddin Rakhmat, Masdar, Aswab
Mahasin, MM Billah, Nasihin Hasan, Hadimulyo, Mansour
Fakih.
Nama-nama itu saya kenal entah lewat majalah Prisma,
Pesan, atau Pesantren (diterbitkan oleh P3M beberapa
saat setelah muktamar di Situbondo), atau majalah
Tempo. Pada saat itu, terbit sebuah majalah yang sudah
dilupakan banyak orang saat ini, yakni majalah Nuansa.
Majalah yang sangat baik ini terbit hanya satu edisi,
dan dalam edisi yang hanya satu-satunya itulah diulas
dengan cukup kritis ide negara Islam yang saat itu
masih cukup kuat berkembang di kalangan aktivis masjid
kampus (antara lain Masjid Salman, Bandung). Pada
edisi itulah saya membaca kritik atas konsep negara
Islam-nya Maududi yang ditulis oleh Pak Djohan Effend
(saya lupa persisnya: kalau tidak Pak Djohan ya Mas
Dawam Rahardjo).
Dengan kata lain, saya mengenang Kiai Ilyas sebagai
salah satu kiai yang menjadi bagian penting dari
periode "keterbukaan" dan antusiasme menerima ide-ide
baru itu.
Saat ini, bandul pesantren sudah berubah. Tampaknya
saat ini kecenderungan yang lebih menonjol di beberapa
pesantren adalah keengganan, atau bahkan kecurigaan,
pada gagasan baru. Sebagaimana setiap buah memiliki
musimnya masing-masing, begitu pula periode
keterbukaan itu juga memiliki musimnya sendiri. Musim
itu, kini, tampaknya sedang berlalu, digantikan oleh
musim yang lain.
Saya kangen pada musim keterbukaan itu...
Allahumma ighfir li Kiai Ilyas war hamhu wa 'afihi
wa'fu 'anhu.
Allahumma ij'al manqubatahu ma'tsaratan min ma'atsiri
Nahdlatil Ulama'.
Ulil Abshar-Abdalla
Department of
Near Eastern Languages and Civilizations
Harvard University
__________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
Maman Gantra
Jalan Salemba Tengah 51,
Jakarta 10440.
0812-940-5441
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.