Loba nu "kagum" ka Presiden Iran  Ahmadinejad da eta ku kawanina, wani 
"ngalawan" nagara-nagara adikuasa, siga Amerika. Ngan hanjakal pisan, dina 
ngurus masalah ekonomi lolowodeh pisan tepi ka inflasi 19,1%!. Sagala barang 
nararaek di Iran. Tangtu dina hal ieu teu bisa nyalah-nyalahkeun wae 
Amerika, da bisa wae salah urus di jero nagara . Ceuk Rafsanjani, pamarentah 
(Amadinejad) kudu nempo DATA STATISTIK. Sigana data statistik tara dipake, 
tepi ka aya nu ngomong kitu. Kawijaksanaan ukur didasarkeun ceuk "RARASAAN" 
.....

Keur pieunteungeun di nagara urang, nyanggakeun wartosna tina Kompas, dinten 
ieu (24-12-2007):

Kinerja Ahmadinejad Buruk

Inflasi Mencapai 19,1 Persen pada November 2007

Teheran, Minggu - Kinerja ekonomi Presiden Mahmoud Ahmadinejad terus menjadi 
sasaran kritikan dari berbagai pihak. Tingkat inflasi pada November tahun 
ini telah mencapai 19,1 persen. Suntikan dana yang besar ke masyarakat tanpa 
disertai suplai barang-barang dan jasa-jasa menjadi salah satu penyebab 
inflasi.

Kritikan terbaru atas kinerja ekonomi pemerintahan Ahmadinejad itu 
disampaikan Mohsen Rezaie, Minggu (23/12). Dia adalah mantan Komandan Garda 
Revolusi Iran yang kini menjabat sekretaris badan arbitrase tertinggi, yang 
juga memberikan saran-saran kepada pemimpin tertinggi Ayatollah Ali 
Khamenei.

Kritikan terbuka atas buruknya kinerja ekonomi Iran saat ini sebelumnya 
sudah diungkapkan mantan-mantan presiden Iran, Mohammad Khatami dan Akbar 
Hashemi Rafsanjani, Wali Kota Teheran Mohammad Baqer Qalibaf, dan mantan 
juru runding nuklir Hassan Rowhani.

"Disiplin keuangan birokrasi pemerintah juga lemah. Karena itu, sumber dari 
inflasi adalah pemerintahan sendiri. Pemerintah harus memperbaiki perilaku 
ekonominya. Itu adalah langkah sangat penting untuk mengontrol inflasi," 
ungkapnya.

Rezaie, yang memimpin Garda Revolusi dari 1980-1988 ketika Iran terlibat 
perang dengan Irak, selama ini jarang berkomentar mengenai kebijakan 
pemerintah. Statusnya sebagai mantan komandan terlama dalam sejarah Garda 
Revolusi Iran membuat dia mempunyai pengaruh yang cukup kuat.
Kelompok reformis dan konservatif semakin intensif mengkritik Ahmadinejad. 
Mereka membalas tindakan Presiden Iran. Pada wawancara yang disiarkan 
televisi 14 Desember lalu, Presiden Ahmadinejad menyalahkan para lawan 
politiknya dan faktor-faktor dari luar atas tingginya harga-harga.
Rezaie menggambarkan penjelasan Ahmadinejad itu sebagai "benar sampai 
tingkatan tertentu, tetapi tidak transparan".
Tokoh konservatif lainnya, Wakil Ketua Parlemen Mohammad Reza Bahonar, juga 
mengkritik Presiden yang pada masa lalu telah menyindir kabinetnya agar 
mampu menyamai kecepatannya, yaitu 160 kilometer per jam.

"Seseorang yang mengemudi dengan secepat itu harus lebih hati-hati dengan 
kinerjanya. Jika dia tidak melihat adanya rintangan di jalan, kecelakaan 
akan terjadi lebih buruk lagi," papar Bahonar seperti dikutip harian 
Sarmayeh.

Para lawan politiknya menuding Ahmadinejad menumpuk inflasi dengan 
mengucurkan uang banyak ke proyek-proyek infrastruktur. Presiden Iran itu 
juga banyak memberikan pinjaman yang sangat murah hati untuk warga miskin.

Tingkat inflasi yang menurut data Bank Sentral telah mencapai 19,1 persen 
pada November lalu jauh lebih tinggi dari saat Ahmadinejad mulai memerintah 
pada 2005, yaitu 12 persen.

Naik 50 persen

Dibandingkan tahun lalu, hampir semua harga-harga di Iran telah naik 40-50 
persen pada tahun ini. Kenaikan harga-harga itu justru terjadi antara lain 
pada komoditas ayam, buah-buahan, dan tomat yang banyak dikonsumsi rakyat 
miskin.

"Segalanya terus naik setiap hari. Justru bagian dari masyarakat yang tidak 
beruntung yang paling terpukul," ungkap Zari, seorang pensiunan guru yang 
tinggal di kawasan berpenghasilan rendah di Teheran timur.

Jumat (21/12), Rafsanjani bersuara keras dalam khotbah yang disiarkan 
langsung oleh radio pemerintah. "Jadikan masalah (inflasi) ini sangat 
serius. Ini harus ditangani dengan menggunakan keahlian ekonomi dan bukan 
dengan slogan-slogan dan permainan politik," tegasnya sambil mendesak 
pemerintah untuk menggunakan statistik yang benar dan melihat kenyataan.

"Ahmadinejad bisa mengatakan apa pun yang dia suka, tetapi hidup semakin 
tidak menyenangkan," kata pensiunan polisi Mohammad Abbassi (68). Ia 
terpaksa menjadi tukang kebun untuk mencukupi kebutuhan hidup.

"Sebulan lalu saya membeli telur seharga 800 riyal (Rp 900). Hari ini saya 
harus membayar 1.300 riyal. Kenaikan harga juga terjadi pada komoditas 
daging dan minyak. Anda tidak akan mendapatkan daging dengan harga kurang 
dari 70.000 riyal per kilo, padahal tiga bulan lalu harganya 55.000 riyal," 
kata Abbassi. (AFP/OKI) 

Kirim email ke