sumber : http://www.kompas.com/kompas-cetak/0712/01/Jabar/29670.htm

Pers Sunda Bertahan Atas Nama Cinta 
 
  
  
  
  
  
Oleh Yenti Aprianti   
Katjida mangkarunjakeunana ka dulur-dulur urang anu geus MOPOHOKEUN kana basana 
sorangan, basa Sunda (Werdaja). Kalimat ini tercetak dalam majalah Sunda Warga 
terbitan 20 April 1954 pada rubrik Kasusastraan asuhan A Tisnawedaja. Pada 
rubrik tersebut dibahas mengenai dasar pengajaran bahasa Sunda berupa latihan 
soal berbahasa Sunda. 
Rupanya bahasa Sunda menjadi suatu hal yang penting sehingga perlu diajarkan 
melalui media massa. Kecintaan pada kesundaan-lah yang menjadi modal bagi para 
penerbit media massa cetak berbahasa Sunda. Hal ini juga yang dinyatakan 
Pemimpin Redaksi Majalah Bulanan Cupumanik Hawe Setiawan. Hawe mengatakan, 
majalah tersebut didirikan tahun 2003 dengan misi memelihara bahasa Sunda, 
terutama dalam bentuk tulisan. 
Saat masa perencanaan, tim Cupumanik menilai akan ada banyak target pembaca 
karena terdapat jutaan orang yang masih berbahasa Sunda. "Tapi, kami realistis. 
Biasanya media massa berbahasa Sunda hanya memiliki oplah sekitar 3.000 
eksemplar," tuturnya. Itu sebabnya, Hawe pun mengatakan tak bisa menghitung 
kapan break even point pada bisnis medianya terjadi. 
Pada banyak terbitan berbahasa Sunda, bisnis bukan hal yang utama. Dari segi 
iklan saja, Cupumanik baru punya dua pengiklan untuk ikut menutupi biaya 
operasional. "Masih belum memungkinkan bagi kami untuk menjalankan bisnis media 
dengan manajemen seperti media massa besar. Hingga kini kami juga belum punya 
pegawai bagian periklanan," kata Hawe, yang menduga hal serupa juga terjadi 
pada media berbahasa Sunda lainnya. 
Meski bisnis tak cemerlang, kualitas tetap dijaga. Itu sebabnya, majalah 
seharga Rp 6.000 per eksemplar tersebut sudah diedarkan di Jawa Barat, Riau, 
Bali, dan Padang. Majalah ini juga menjadi langganan Library of Congress 
(Amerika Serikat), Kedutaan Besar Australia untuk didokumentasikan Monash 
University, dan Koninklijk Instituut Voor Taalland-en Volkenkunde (Leiden). 
Kecintaan itu rupanya sampai juga pada pembaca. Pembaca dari Cirebon datang ke 
redaksi membawa banyak telur asin, pembaca dari Sukabumi memberikan oleh-oleh 
ikan lele dan mangga. Orang Bandung yang tinggal di AS sempat juga mengunjungi 
kantor mereka. Ikatan batin tersebut memberikan optimisme bagi Hawe dan 
kawan-kawan bahwa medianya bisa terus langgeng meskipun rata-rata usia media 
massa berbahasa Sunda hanya bertahan dua tahun. 
"Mangle" 50 tahun   
Mangle merupakan media cetak berbahasa Sunda yang bertahan 50 tahun. 
Diterbitkan di Bogor untuk pertama kalinya tahun 1957, Mangle masih terus 
diproduksi hingga tahun ini. Wakil Pemimpin Redaksi Mangle Karno Kartadibrata 
mengatakan, awalnya Mangle merupakan majalah bulanan. Sejak 1960-an, majalah 
tersebut menjadi majalah mingguan. 
Mangle berisi hiburan berupa fiksi dan humor, feature, opini, dan lain-lain. 
Pelanggannya sebagian besar adalah guru dan pegawai negeri sipil. Kini, Mangle 
sudah didistribusikan di Jabar, Surabaya, dan sempat memiliki pelanggan di 
Aceh. 
Karno mengatakan, hingga kini Mangle masih memosisikan diri sebagai majalah 
berbahasa Sunda yang memberi aspirasi lokal bagi pembangunan Jabar. 
Ima (26), guru Bahasa Sunda di SMP Pasundan XII Bandung, sudah berlangganan 
majalah-majalah berbahasa Sunda sejak 1995. "Kebetulan terbawa hobi orangtua 
yang gemar membaca majalah Sunda," ujarnya. Ia mengaku mendapat manfaat banyak, 
antara lain menemukan diksi baru bahasa Sunda untuk diajarkan kepada muridnya. 
Sejarawan Nina Herlina Lubis yang menulis Perkembangan Surat Kabar dan Majalah 
di Jawa Barat mengatakan, media cetak berbahasa Sunda sudah diterbitkan sejak 
1911. Media cetak tertua adalah Tjahaja Pasoendan yang terbit di Cianjur, 
dengan pelindung Bupati Cianjur saat itu, RAA Wiranatakusumah. Majalah ini 
bertahan hingga tujuh tahun. Hingga masa menjelang kemerdekaan, berbagai 
terbitan berupa majalah dan surat kabar muncul di hampir seluruh tempat di 
Jabar. Media cetak itu antara lain Simpaj, Padjadjaran, Kaboedajaan Oerang, dan 
Kiang Santang. Semuanya diterbitkan di Bandung. 
Di lokasi lain, seperti Sukabumi, ada surat kabar Soerapati. Sementara 
Tasikmalaya memiliki Sipatahoenan, Parahiangan, Lemah Tjai, Timbangan, dan 
Balaka. Ada juga koran Populair (Purwakarta), Al Moe'min (Cianjur), Galoeh 
(Cianjur), Hatong (Garut), Katja (Cirebon), dan Mitra (Bogor). 
Pada masa setelah kemerdekaan, media massa berbahasa Sunda terus tumbuh. Media 
cetak itu antara lain Sinar Majalengka, Padjadjaran, Sunda Panghegar, Tjandra, 
Siliwangi, Kalawarta Kudjang, Langensari, Kiwari, Sangkuriang, Baranangsiang, 
Tjampaka, Giwangkara, Gondewa, dan Galura. Kini, ada juga terbitan-terbitan 
baru, salah satunya Balebat dari Bogor. Mungkin cinta pada Sunda memang susah 
dipadamkan. 

       
---------------------------------
 Support the World Aids Awareness campaign this month with Yahoo! for Good

Kirim email ke