dimuat di Khazanah PR 22 desember 2007.
Intina carita ieu, peran jeung kepeloporan prof. Syafei Sumardja, US oge
pribumi munggaran nu jadi dosen guru gambar.
salian ti ngawulang di bale pendidikan guru gambar (nu terus jadi fakultas
senirupa dan desain itb) Prof. Sumardja kantos janten ketua Lembaga Basa
jeung Sastra Sunda, asana taun 60an.
60 Tahun Pendidikan Seni Rupa Bandung

Tahun 2007 ini pendidikan seni rupa Bandung yang berpusat di ITB genap
berusia 60 tahun, dihitung dari masa perintisan yang dimulai pada 1947.
Perintisan sekolah seni rupa Bandung itu usai Perjanjian Linggajati yang
menghasilkan Republik Indonesia berbentuk Serikat (RIS), dan Jawa Barat
"diserahkan" kepada Belanda yang kemudian membentuk Negara Pasundan dengan
ibu kotanya Bandung. Saat itu masih banyak orang Belanda di Bandung,
terutama mereka yang pernah ditawan pada masa pendudukan Jepang.

Bermula dari sekolah yang mencetak calon guru gambar dengan nama
Universitaire Leergang voor de Opleiding van Tekenleraren yang selanjutnya
menjadi Balai Pendidikan Universiter Guru Gambar. Seluruh dosennya orang
Belanda. Simon Admiral dan Ries Mulder bergabung pada 1948, mengajar seni
lukis dan apresiasi seni. Tiga tahun kemudian, 1950, Sjafei Soemardja
bergabung menjadi tenaga pengajar setelah belajar kesenirupaan di Belanda
dan mendapat sertifikat guru gambar. Nama Soemardja kemudian diabadikan
menjadi nama galeri di Fakultas Seni Rupa dan Desain itu.

Pada masa kemerdekaan, Technische Hogeschol, nama ITB pada masa Belanda atau
Dogyo Kaigaku pada masa pendudukan Jepang, digabung ke dalam Universitas
Indonesia yang baru didirikan dan menjadi Fakultas Ilmu Teknik Universitas
Indonesia. Balai Pendidikan Guru Gambar digabung ke fakultas itu.

Pendidikan seni rupa di Bandung sejak awal dikenal dengan gaya yang
mengusung seni rupa Barat modern (misalnya gaya ekspresionisme, abstrak, dan
kubisme) yang kemudian berkembang menjadi salah satu kubu atau mazhab dalam
khazanah seni rupa Indonesia. Hal itu sebenarnya tampak wajar mengingat
karakter Kota Bandung sendiri yang membarat. Guru-guru pertamanya orang
Belanda, dan guru pribumi pertama Soemardja, Angkama Setjadipradja, Achmad
Sadali, Mochtar Apin, Srihadi Sudarsono, Sudjoko, But Muchtar juga mendapat
pendidikan Eropa Barat dan Amerika.

Dalam buku Pengantar Seni Rupa (2001) Sudjoko menceritakan secara ringkas
kondisi Bandung pada awal kemerdekaan. Orang Bandung, misalnya, sangat tahu
mana Belanda penjajah dan Belanda kawan. Belanda kawan dipandang sebagai
agen kemajuan bagi orang Bandung. Salah seorang dari mereka adalah Ries
Mulder, tentu saja karena perannya dalam mengembangkan pendidikan seni rupa
modern khususnya di Bandung. Dialah terutama yang mentransformasikan ilmu
seni rupa Barat kepada orang Indonesia. Mulder juga memiliki hubungan
pertemanan yang luas dengan pribumi, selain dengan mahasiswanya yang tidak
hanya di kampus, tetapi juga dengan seniman Bandung yang bukan eksponen
Balai Pendidikan itu.

Di Bandung waktu itu terdapat dua tipe seniman, lulusan ITB (akademis) dan
bukan. Tapi keduanya memiliki napas yang sama karena sama-sama sering
bertemu dan berguru kepada Ries Mulder yang selain guru juga teman bagi
semua seniman Bandung. Meskipun mengajari mahasiswanya seni rupa klasik dan
modern Barat, Mulder sangat menghargai lukisan karya seniman Bandung
termasuk yang di luar kampus, terutama yang bertema alam Indonesia yang
cerah di banding alam Belanda yang suram.

Berbeda dengan kondisi di kota lain seperti Jakarta dan Yogyakarta, di
Bandung tidak pernah ada perkumpulan seniman yang memusuhi seni rupa Barat,
bahkan ketika politik condong ke Uni Soviet dengan paham seni rupa bernama
realisme sosial sebagaimana kemudian ikut dipropagandakan oleh Sudjojono,
Hendra, dan seniman Yogya lainnya yang memusuhi Barat sebagai imperialis dan
kapitalis.

Sekitar tahun 1956, Balai Pendidikan Guru Gambar bergabung dengan arsitektur
menjadi Bagian Arsitektur dan Seni Rupa. Adapun seni rupa terbagi ke dalam
dua bidang studi yaitu pendidikan seni rupa dan seni lukis. Pada 1959,
Fakultas Ilmu Pengetahuan Teknik UI di Bandung berdiri sendiri menjadi
Institut Teknologi Bandung yang diresmikan oleh Presiden Soekarno. Prasasti
peresmian yang monumental itu sekarang terletak di tengah kampus ITB, di
depan Plasa Widya Nusantara. Pada saat itu Bagian Seni Rupa terbagi menjadi
Pendidikan Seni Rupa, Seni Lukis, dan Seni Interior. Seni Interior ini
merupakan "oleh-oleh" Achmad Sadali sepulang belajar dari Amerika.

Pada 1960, Ries Mulder pulang ke negerinya ketika hubungan Indonesia-Belanda
memburuk terkait masalah Irian Barat --waktu itu Indonesia menggelar operasi
pembebasan Irian Barat dengan akibat lain pengusiran orang Belanda dari
Indonesia termasuk yang tinggal di Bandung. Meskipun begitu, transformasi
seni rupa Barat -sebagaimana ilmu teknik-- terus berlangsung karena
dosen-dosen muda Seni Rupa melanjutkan pendidikan ke Eropa dan Amerika.

Pengembangan terus berlangsung dan bidang studi terus bertambah. Pada 1963
dibuka bidang studi Seni Keramik, setahun berikutnya Seni Grafis dan Seni
Patung. Di Seni Patung, selain But Muchtar dan Gregorius Sidharta terdapat
dosen berdarah Jerman, Rita Weijman Widagdo yang menjadi warga Indonesia
untuk turut mengembangkan pendidikan Seni Patung di Bandung.

Pada 1964, Pendidikan Seni Rupa berubah menjadi Komunikasi Seni Rupa, sedang
pada 1965 Seni Interior berubah menjadi Arsitektur Interior setelah Widagdo,
lulusan Stuttgart Jerman bergabung. Tahun 1973, Seni Rupa bersama Teknik
Sipil, Arsitektur, Planologi Teknik Penyehatan (kemudian menjadi Teknik
Lingkungan) dan Geodesi digabung ke dalam Fakultas Teknik Sipil dan
Perencanaan. Seni Rupa menjadi departemen yang terdiri atas bidang studi
Seni Lukis, Seni Keramik, Seni Patung, Seni Grafis, Desain Interior, Desain
Produk, Desain Grafis dan Desain Tekstil. Pada 1984, Departemen Seni Rupa
ditingkatkan menjadi Fakultas Seni Rupa dan Desain.

Pendidikan Seni Rupa Murni (fine art) masih tetap terpusat di ITB dan UPI
untuk pendidikan, sedangkan Desain yang merupakan seni terapan (applied art)
menyebar di berbagai perguruan tinggi swasta Bandung seperti di Itenas,
STISI, STDI, Unpas, Unikom, Widyatama, dan Maranatha.

Pendidikan Seni Rupa Bandung menggunakan prinsip bahwa seniman adalah
pewaris kebudayaan dunia. Definisi kebudayaan Indonesia bersifat terbuka,
mereka bukan hanya pewaris kebudayaan tradisional di nusantara tetapi juga
kebudayaan dunia lainnya.

Museum pribadi

Bandung yang dalam kancah seni rupa Indonesia memiliki tempat sendiri yang
khas, sayang sekali belum memiliki museum seni rupa yang memamerkan karya
seniman Bandung untuk khalayak luas. Bandung yang pernah menjadi tuan rumah
Konferensi Asia Afrika, yang dengan itu seharusnya menjadi kota kelas dunia
tampaknya masih kekurangan ikon kebudayaannya, yaitu kehadiran museum seni
rupa --khususnya seni rupa mazhab Bandung.

Untunglah beberapa seniman senior Bandung hideng. Melihat pemerintah kota
masih kerepotan dengan urusan dasar kota seperti sampah, kemacetan lalu
lintas, dan penghijauan, sementara pemprov Jabar baru sanggup membuat
GaleriKita di kompleks Kantor Dinas Pariwisata Jabar Jalan R.E. Martadinata
(Riau), mereka mendirikan museum pribadi masing-masing yang terbuka untuk
umum. Sunaryo mendirikan Selasar Sunaryo di Bukit Pakar Timur Dago, Barli
membangun Museum Barli di Jln. Ir. Sutami Setrasari, Popo Iskandar
mendirikan Galeri Seni Popo Iskandar di Jln. Setiabudhi Ledeng, Heyi Ma`mun
membuat kafe Warung Indung di Riau 66 yang berhiaskan lukisan karyanya, lalu
seniman dari generasi '70-an, Nyoman Nuarta mendirikan NuArt Sculpture Park
di Setrasari.***

Jamaludin Wiartakusumah
Dosen Desain Itenas
Alumnus S-1 & S-2 Seni Rupa ITB.

-- 
geocities.com/mangjamal
mangjamal.multiply.com

Kirim email ke