wargi sadaya, ti milis sabelah ieu aya cariosan nikreuh saputaran 
kota Bandung, ti dago dugi ka tegalega, mugi mangpaat.

salam baktos
wardi

-------------

Tersenyum,walau hati menangis


Sepiring grilled norwegian salmon dengan saos kental dan sejumput 
sayuran segar nya , ditemani secangkir capucino hangat, duduk di 
halaman terbuka yg berada di tepi bukit dengan pemandangan lepas ke 
arah bawah, sambil memandang panorama kota Bandung yg bagaikan 
lembah besar bertepikan pegunungan bandung selatan, 

rasanya serasa tak berada di Indonesia, saat berada di sebuah kafe 
di daerah pebukitan dago Bandung utara, 
menghadiri jamuan dari seorang teman. Suasana kafe penuh dg para 
pengunjung yg berdandan rapih, suasana interior nya pun
sungguh unik.

Lihat price list di buku menu, apa yg terhidang sore itu, rasanya 
cukup untuk makan seminggu, jaman kuliah dulu...
kalau tak dibayari teman, tak tega rasanya, mengeluarkan uang hanya 
untuk sekedar makan sore..

Di daerah Dago atas, ada banyak tempat seperti itu, dengan nama2 yg 
membuat kita tak berasa ada di Indonesia, 
lihat mobil2 pengunjungnya pun, kebanyakan adalah mobil2 orang 
Jakarta yg seperti kebingungan menghabiskan uang nya

Saat keluar dari tempat tersebut, menyusuri jalanan sempit yg cukup 
padat sampailah saya ke terminal dago, 
dimana mulai tercium lagi aroma nasi goreng pete dan teriakan kenek 
angkot, 
barulah terasa berada di Indonesia lagi, memang kenikmatan hanya 
sekejap saja...

Di sore yg agak gerimis itu saya terus pulang lewat tengah kota, 
saat sampai di sekitar alun2 dimana jalan agak macet , 
karena banyak orang menyerbu Bandung saat liburan akhir tahun. Toko2 
pun serasa ramai dengan lampu warna warni, 
umbul2 discount sale yg lambaian nya bagaikan memanggil orang2 untuk 
membeli barang2 yg bisa jadi tak dibutuhkan nya.

Karena kemacetan mobil pun sempat terhenti sejenak, tiba2 tampak 
dari pinggir jalan saya lihat ada gerobak besar lewat, dengan 
seorang lelaki dewasa 
dg topi kumal nya menarik gerobak, di belakang ada seorang wanita yg 
mendorong nya, tiba2 dari atas nya tampak menyembul anak2 kecil, 
yg bagaikan riang gembira melihat keramaian tengah kota, nampaknya 
mereka satu keluarga. Ayahnya menarik di depan, ibunya mendorong 
dari belakang dan 3 orang anak kecil naik di atas gerobak. 

Saya lihat anak yg paling besar sekitar usia 10 tahun,begitu gembira 
meniup terompet yg tampak lusuh, 
mungkin terompet bekas yg ditemukan di jalan. 
thhhrrooweet...thhrrroweettthh...suara nya pun sumbang, bisa jadi 
karena 
terompet bekas itu sudah kebasahanan, tapi ia tetap gembira meniup 
nya., rasanya itulah suara terompet tahun baru yg sangat indah bagi 
saya...

di dinding gerobak itu, saya perhatikan ada tulisan yg walau agak 
kotor tapi masih terbaca
" aku berusaha untuk tersenyum , walau hati menangis", wuiihhh, kok 
bisa2 nya tunawisma seperti mereka buat tulisan spt itu, 
apa mungkin dia dulunya penyair atau seniman ?

Nahdia gadis kecil saya yg turut memperhatikan, bertanya ; pak 
dimana mereka tidurnya ?
hmmm, mungkin di dalam gerobak itu, jawab saya, 
terus kalau ayah dan ibunya tidur dimana ?
hmm, wah nggak tahu yah, rasanya saya kehabisan imajinasi untuk 
menjelaskan bagaimana mereka menempuh kehidupan sehari hari ?

saya memang berusaha mengajarkan pada anak2 untuk peduli pada orang2 
yg tak beruntung seperti itu, karena rasa empati, kepedulian pada 
sesama memang harus ditanamkan sejak kecil. Dimana sebagian kita 
dibesarkan dalam asuhan pola kapitalisme yg mengajarkan 
individualisme, konsumerisme dan hedonisme ( asuhan acara TV yg 
diserap sejak kecil sampai dewasa ),  sehingga kita tak begitu 
peduli pada penderitaan sesama, dan cenderung individualis, EGP ? 
emang gue pikiran , kata seorang teman.

tett....tettt, suara klakson menyadarkan lamunan saya, ternyata 
kendaraan sudah mulai bergerak sedikit demi sedikit di tengah 
kemacetan ini. Mobil pun bergerak, tapi sayang gerobak itu sudah 
bergerak cepat, berbelok masuk sebuah jalan kecil, padalah saya 
ingin melihat nya lebih detail, mengambil foto atau sekedar ngobrol 
dg sang ayah yg menarik gerobak dan mengajar gadis kecil saya untuk 
sekedar memberi sedekah pada mereka.

Sambil berkendara saya terus melamun tentang keluarga gerobak tsb, 
harga sepiring ikan salmon dan capucino tadi rasanya cukup untuk 
makan mereka sekeluarga selama beberapa sehari, saya tertegun sampai 
menelan ludah, rasanya hendak melompat kembali ikan salmon dalam 
perut ini. Membayangkan betapa sebenarnya dengan menahan tidak makan 
ikan salmon dan capucino sekali saja yg tak membuat saya mati 
kelaparan, sebenarnya bisa membahagiakan sekeluarga orang miskin yg 
entah kapan makan nya...

saya teringat lagi dengan tulisan puitis nya, yg rasanya tak percaya 
ada pada sebuah gerobak tuna wisma, entah lah apa ia memang pernah 
kuliah filsafat dulunya atau sekedar seniman. Tapi saya jadi kagum, 
betapa di tengah penderitaan seperti itu, ia masih bisa berpikir 
jernih, berusaha untuk tersenyum, "positif thinking" bahasa ilmiah 
nya. Dimana biasanya pada kondisi hidup susah, orang biasa nya 
tambah mengeluh dan putus asa.

( kalau anda tak percaya, cobalah sekali2 berjalan di pusat kota 
Bandung, seputaran alun2, tegalega , alun2, sampai ke sekitar 
stasiun kereta api, dimana banyak terdapat gubuk2 liar gelandangan 
di tengah gemerlap kota, mungkin bisa ketemu lagi dg keluarga 
gerobak tsb )

Jadi teringat dg Victor Frankl, psikolog yahudi yg pernah ditawan 
Nazi jerman pada PD II, dimana keluarga nya habis terbunuh dan ia 
tinggal seorang diri di penjara tsb, tanpa harta, tubuh kurus, badan 
sakit, bahkan sempat tanpa sehelai pakaian pun. Saat kondisi yg 
sangat nestapa seperti itu, yg bagaikan titik nadir terendah dalam 
kehidupan seorang manusia, ia justru menemukan bahwa saat kita tak 
memiliki apapun, sebenarnya manusia masih memiliki hal yg paling 
berharga dalam hidup nya, eksistensi diri ,makna hidup dan 
pengharapan, makna keberadaan hidup seorang manusia dalam kehidupan 
ini. 
Tak pernah sia sia Tuhan menciptakan manusia, dengan lika liku 
perjalanan hidup nya.
Dari sanalah akhirnya Victor Frankl mengembangkan teori psikologi 
eksistensi dan logotherapi dan menulis buku yg terkenal, "Man search 
for meaning" ,

Entahlah apakah tunawisma tersebut pernah membaca buku tsb atau 
tidak, tapi saya melihat analogi nya hampir sama dg kondisi Victor 
Frankl saat di kamp konsentrasi tsb. Sang keluarga tunawisma, tak 
memiliki apa2 kecuali apa yg ada pada gerobak tsb. Namun ia tetap 
berpikir positif berusaha untuk tersenyum, walau ia menyadari 
kondisi hidupnya sebenarnya sangat pedih. Sang ayah tetap menarik 
gerobak dg semangat, sang istri mendorong dari belakang tanpa lelah 
pula, anak2 nya tetap bisa riang bermain di atas gerobak itu, walau 
dengan terompet bekas sekalipun..

Guru kimia saya dulu pernah cerita, unsur karbon kalau mengalami 
tekanan yg sangat besar, bisa menghasilkan dua kondisi proses, 
hancur seperti arang atau malah kuat seperti intan ( intan dan arang 
prinsipnya berasal dari unsur yg sama, Carbon,  walau struktur 
kimianya berbeda )

Belajar dari kisah keluarga tuna wisma tersebut, kita bisa belajar 
banyak, bagaimana saat mengalami tekanan hidup yg berat, manusia 
bisa hancur seperti arang atau malah menjadi mulia seperti intan. 
Mudah2 an keluarga tunawisma tersebut yg berusaha untuk tersenyum di 
tengah kepedihan hati, sedang berusaha untuk menjadi bagaikan intan 
yg berharga.

Dari kejauhan terdengar sayup sayup adzan magrib dari menara mesjid 
Agung yang suaranya bersaing dengan suara hingar bingar musik dari 
pertokoan di sekitarnya, namun kebanyakan orang masih sibuk hilir 
mudik berbelanja. Suara adzan itu pun saya kira sampai pula pada 
keluarga tunawisma tadi, bukan nya tak mau mendengar dan pergi ke 
mesjid, tapi sampai ke dekat mesjid saja, mungkin ia telah di usir 
oleh satpam mesjid. Kalau mau sholat pun, ia merasa tak pantas 
karena tak ada lagi pakaian nya yg bersih.

Bisa jadi pakaian nya memang kotor, tapi jiwa nya bersih, namun 
belum sampai sajalah panggilan hidayah pada diri nya. Mungkin ia 
hanya 2 kali setahun mendatangi mesjid saat pembagian zakat fitrah 
dan pembagian daging qurban, setelah itu mereka bagaikan terlupakan 
lagi. Padahal nabi Muhammad mengajarkan kita untuk peduli pada 
orang2 miskin, menyantuni sesama manusia yg ditimpa nestapa. 

Selepas adzan magrib, tetap saja orang hilir mudik berbelanja, 
begitu pula para pengemis,  tunawisma, orang cacat, pengemis yg 
banyak terdampar di tengah hiruk pikuk tengah kota, terbawa kembali 
pada kesibukan nya masing2,  gerobak tuna wisma itu pun terus melaju 
entah ke mana..

selengkapnya ;
http://hdmessa.wordpress.com/2008/01/03/tersenyum-walau-hati-
menangis/







Kirim email ke