Tilu minggu ieu, kuring wareg jeung tepi ka bosen ku acara "warta nu gering" 
dina TV. Dina TV beja nu gering ieu, rata-rata jadi warta nu pangheulana 
jeung durasina panglilana, da aya make wawancara  ka dokter, ka nu 
ngalongok, terus gambarna diputer sabaraha-balikan (diulang-ulang). Sigana 
urang Indonesia kapangaruhan kabeh, simpati kanu gering ngaburudul, ti si 
Nini tukang Surabi tatangga kuring, tepi ka para gegeden nagara. Hebat, 
pangaruh media (baca TV). Ngan tangtu we aya nu "curiga", naha ieu teh teu 
kaleuleuwihi?

Tina Tempointeraktif dinten ieu:

Pemberitaan Soeharto dinilai Kebablasan
Rabu, 23 Januari 2008 | 13:27 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemberitaan terhadap mantan Presiden Soeharto 
selama tiga minggu terakhir dinilai kebablasan atau melampaui batas 
kewajaran suatu pemberitaan.

"Seluruh energi media ke Soeharto," kata Ketua Aliansi Jurnalis Indonesia 
Heru Hendratmoko dalam diskusi Potret Soeharto Dalam Bingkai Media di Gedung 
Dewan Pers, Rabu (23/1).

Meskipun demikian, Heru mengatakan, tidak ada masalah dalam pemberitaan 
Soeharto dari sisi nilai berita, misalnya magnitude atau keluasan berita dan 
kedekatan informasinya dengan masyarakat. "Apalagi kasus hukumnya belum 
selesai, misalnya dugaan pelanggaran Hak Asasi Manusia dan korupsi," 
ujarnya.

Heru menduga terjadi konspirasi atau design dalam pemberitaan Soeharto untuk 
membangun pencitraan baru terhadapnya. "Terjadi rebranding tentang 
Soeharto." katanya. Hal itu tercermin dalam tayangan televisi yang 
menampilkan saat Soeharto terbaring di tempat tidur saat akan dibawa ke 
ruang pemeriksaan. "Ini sangat mempengaruhi simpati publik," katanya.

Heru menambahkan, Rumah Sakit Pusat Pertamina tempat Soeharto dirawat seolah 
menjadi panggung politik dan media massa menjadi sound systemnya yang pada 
akhirnya ada gerakan dari tokoh publik untuk meminta masyarakat memaafkan 
Soeharto. "Semacam ada gerakan impunitas untuk Soeharto," ujarnya.

Senada dengan Heru, pemerhati media massa Arya Gunawan juga menduga ada 
konspirasi tersebut. Contohnya, kata dia, penikmat berita yang berusia 
remaja cenderung jatuh kasihan dan memaafkan Soeharto. "Anak saya sendiri 
mengatakan, itu (Soeharto) sudah tua dan sakit, lalu mengapa tidak 
dimaafkan," ujarnya.

Dia mengatakan, hal itu terjadi karena ada kesenjangan informasi, 
pengetahuan dan sejarah Soeharto. Untuk mengantisipasi adanya konspirasi, 
kata Arya, dapat dilakukan dengan cara melacak apakah terjadi kartel 
informasi soal Soeharto dan apakah terjadi intervensi dalam rapat redaksi di 
media massa oleh para pemilik modal. "Ini bisa menggiring orang untuk 
melakukan pemaafan berjamaah," ujarnya.

Sementara itu, wartawan senior Atmakusumah Astraatmadja menilai tidak ada 
konspirasi dalam pemberitaan Soeharto. "Para wartawan terbawa arus, bukan 
pada konspirasi," katanya.

Pasalnya, kata dia, tidak semua orang yang mengetahui berita Soeharto jadi 
simpati, bahkan tak jarang jadi bosan. Arus itu, jelas Atma, karena tidak 
ada panduan dalam rapat redaksi untuk memutuskan mana yang harus 
diprioritaskan untuk diberitakan. Rini Kustiani | Sutarto 

Kirim email ke