ehm......
Aschev Schuraschev <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Lamun ningali lalakon Bujangga Manik, rada mirupa lalampahan Neelkanth,
pandita Hindu anu ngumbara ngurilingan India dina ahir abad ka 18 pikeun
ngajalankeun agemanana saperti anu digambarkeun dina film imax Mystic India.
Ngan bedana, ari lalampahan Bujangga Manik dina awal taun 1500-an mah dicatet
(jiga buku harian mun kiwari mah) anu kacida mangfaatna dina waktu 500 taun
saenggeusna sabab ngandung data sajarah anu munel pisan hususna ngeunaan
ngaran-ngaran patempatan di pulo Jawa sarta gambaran sabagian kaayaan mangsa
harita.
Tina naskah eta oge bisa kanyahoan yen:
- Di Pakuan Pajajaran aya leuwih ti hiji karaton;
- Di karaton, aya imah, paviliun, tempat ninun, aya rohangan anu dipisah ku
hordeng;
- Putri Sunda sapopoena produktif ninun;
- Hubungan dagang jeung nagara sejen geus ngarupakeun hal biasa;
- Awal taun 1500-an geus rea barang impor kayaning ebun Cina, parfum, barus
jeung sajabana;
- Prabu Siliwangi jeung Banyak Catra dijadikeun standar ukuran pikeun
meunteun kakasepan lalaki (dicaritakeun cenah Bujangga manik teh leuwih kasep
manan Silihwangi jeung Banyakcatra)
Di handap ieu aya sapalih info ngeunaan Bujangga Manik (kenging ti
http://id.wikipedia.org/wiki/Naskah_Bujangga_Manik):
Naskah Bujangga Manik merupakan suatu naskah Sunda kuna yang dibuat pada
sekitar akhir abad ka-15 atau awal abad ke-16, yang menceritakan perjalanan
Bujangga Manik, seorang pangeran dari Pakuan Pajajaran, ibu kota Kerajaan
Sunda, yang mengembara ke tanah Jawa dan Bali, yang lokasinya sebelah timur
tanah Sunda, untuk mengamalkan ajaran agamanya, Hindu.[1]
Isi dari naskah kuno ini ditulis dalam bentuk puisi Sunda kuna berupa lirik
yang terdiri dari 8 baris. Bujangga Manik menceritakan bahwa perjalanan ini
dilakukan sebanyak dua kali.
Naskah Bujangga Manik diukir diatas daun lontar. Saat ini disimpan di
Perpustakaan Bodleian, Oxford, Inggris sejak tahun 1627.
Ringkasan Nama penulis naskah ini, pangerang Jaya Pakuan, muncul pada baris
ke 14. Nama alias dari penulis, yaitu Bujangga Manik, dapat ditemukan mulai
baris ke 456. Dalam baris 15-20 diceritakan bahwa dia akan meninggalkan ibunya
untuk pergi ke arah timur. Dia sangat teliti dalam menceritakan
keberangkatannya. Dari kebiasaannya kita tahu bahwa dia mengenakan ikat kepala
("saceundung kaen" dalam baris 36).
Kemudian dia memulai perjalanan pertamanya yang dia lukiskan secara
terperinci. Waktu Bujangga Manik mendaki daerah Puncak, dia menghabiskan waktu,
seperti seorang pelancong jaman modern, dia duduk, mengpasi badannya dan
menikmati pemandangan, khususnya Gunung Gede) yang, pada baris ke 59 sampai 64,
dia sebut sebagai titik tertinggi dari kota Pakuan (ibukota kerajaan Sunda).
Dari Puncak Pass dia melanjutkan perjalanan sampai menyeberangi sungai
Cipamali (kali Brebes) untuk masuk ke daerah Jawa. Di daerah Jawa dia
mengembara ke berbagai desa Majapahit serta hutan Demak. Sesampai di Pemalang,
Bujangga Manik merindukan ibunya (baris 89) dan memutuskan untuk pulang. Namun
pada kesempatan ini, dia lebih suka untuk lewat laut dan menaiki kapal yang
datang dari Malaka. Kesultanan Malaka mulai pertengahan abad ke 15 sampai
ditaklukkan oleh Portugis menguasai perdagangan pada perairan ini.
Keberangkatan kapal dari pelabuhan dilukiskan seperti upacara pesta (baris
96-120): bedil ditembakkan, alat musik dimainkan, beberapa lagu dinyanyikan
dengan keras oleh awak kapal; gambaran terperinci mengenai bahan yang digunakan
untuk membuat kapal diceritakan: berbagia jenis bambu dan rotan, tiang dari
kayu laka, juru mudi yang berasal dari India juga disebutkan; Bujangga Manik
benar-benar terpesona karena awak kapal berasal dari berbagai tempat atau
bangsa.
Perjalanan dari Pamalang ke Sunda Kalapa, pelabuhan kerajaan Sunda, ditempuh
dalam setengah bulan. (baris 121), yang memberi kesan bahwa kapal yang
ditumpangi tersebut berhenti di berbagai tempat diantara Pamalang dan Kalapa.
Dari perjalanan tersebut, Bujangga Manik membuat nama alias lainnya yaitu Ameng
Layaran.
Dari Sunda Kalapa, Bujangga Manik melewati Pabeyaan dan meneruskan perjalanan
ke istana kerajaan di Pakuan, di bagian selatan kota Bogor sekarang (Noorduyn
1982:419). Bujangga Manik memasuki Pakancilan (baris 145), terus masuk ke
paviliun yang dihias cantik dan duduk disana. Dia melihat ibunya sedang
menenun, teknik menenunnya dijelaskan dalam baris (160-164). Ibunya terkejut
dan bahagia melihat anaknya pulang kembali. Dia segera meninggalkan
pekerjaannya dan memasuki rumah dengan melewati beberapa lapis gorden, dan naik
naik ke tempat tidurnya. Ibu Bujangga Manik menyiapkan sambutan buat anaknya,
menghidangkan sebaki bahan untuk mengunyah sirih, menyisir rambutnya, dan
mengenakan baju mahal. Dia kemudian turun dari kamar tidurnya, keluar dari
rumah, pergi ke paviliun dan menyambut anaknya. Bujangga Manik menerima
perlengkapan mengunyah sirih yang ditawarkan ibunya.
Pada bagian berikutnya, diceritakan mengenai putri Ajung Larang Sakean Kilat
Bancana. Jompong Larang, pesuruh putri Ajung Larang meninggalkan istananya,
menyeberangi sungai Cipakancilan dan datang ke istana Bujangga Manik. Di istana
tersebut dia bertemu seoang asing yang sedang mengunyah sirih yang ternyata
adalah Bujangga Manik. Jompong Larang terpesona dengan ketampanan Bujangga
Manik (baris 267-273).
Sekembalinya ke istana majikannya, Jompong Larang menemui putri Ajung Larang
yang kebetulan sedang sibuk menenun. Uraian mengenai cara menenunnya
diterangkan dalam baris (279-282). Putri, yang mengenakan gaun serta
disampingnya ada kotak Cina impor(284-290), melihat Jompong Larang yang
terburu-buru, menaiki tangga dan kemudian duduk di sampingnya.
Putri menanyakan pesan apa yang dibawanya; Jompong Larang mengatakan bahwa
dia melihat pria yang sangat tampan, sepadan bagi putri Ajung Larang. Dia
menceritakan bahwa Ameng Layaran lebih tampan daripada Banyak Catra atau Silih
Wangi, atau sepupunya putri (321), atau siapapun itu. Lebih dari itu, pria
itu pintar membuat sajak dalam daun lontar serta bisa bahasa Jawa. (baris 327).
Putri Ajung Larang langsung dihinggapi rasa cinta. Dia kemudian menghentikan
pekerjaan menenunnyadan dan memasuki rumah. Di sana dia sibuk menyiapkan hadiah
bagi pria muda tersebut, yang terdiri dari berbagai perlengkapan mengunyah
sirih, menggunakan bahan-bahan yang indah, dengan sangat hati-hati. Putri juga
menambahkan koleksi parfum yang sangat mahal, seluruh parfum tersebut berasal
dari luar negeri, juga baju dan sebuah keris yang indah.
Ibu Bujangga Manik mendesak anaknya untuk menerima hadiah dari putrid Ajung
Larang kemudian menggambarkan kecantikan putri yang luar biasa serta
pujian-pujian lainnya. Ibunya juga mengatakan bahwa putri berkeinginan untuk
meyerahkan dirinya kepada Bujangga Manik serta mengucapkan kata-kata yang tidak
pernah disampaikan putrid Ajung Larang: Saya akan menyerahkan diri saya, Saya
akan menyambar seperti elang, menerkam seperti harimau, meminta diterima
sebagai kekasih (530-534). Ameng Layaran terkejut mendengar ucapan-ucapan
ibunya yang antusias dan menyebutnya sebagai kata-kata terlarang (carek
larangan) dan bertekad untuk menolak hadiah tersebut dengan kata-kata yang
panjang juga (baris 548-650). Dia meminta ibunya bersama Jompong Larang untuk
mengembalikan hadiah tersebut kepada putri serta menghibur putri. Dia lebih
suka untuk hidup sendiri dan menjaga ajaran yang dia terima selama
perjalanannya ke Jawa, di pesantren di lereng gunung Merbabu (yang dia sebut
dalam naskah
ini sebagai gunung Damalung dan Pamrihan). Untuk itulah Bujangga Manik
terpaksa harus meninggalkan ibunya. (baris 649-650).
Bujangga Manik mengambil tasnya yang berisi buku besar (apus ageung) dan
Siksaguru, juga tongkat rotan serta pecut. Dia kemudian mengatakan bahwa dia
akan pergi lagi ke timur, ke ujung timur pulau Jawa untuk mencari tempat nanti
dia dikuburkan, untuk mencari laut untuk hanyut, suatu tempat dimana dia akan
mati, suatu tempat untuk merebahkan tubuhnya (663-666). Dengan kata-kata yang
dramatis ini dia meninggalkan istana dan memulai pengembaraan panjangnya, dan
tidak pernah kembali lagi. Dia meneruskan perjalanannya ke timur, menuliskan
banyak sekali nama tempat yang sebagian masih digunakan sampai sekarang.
Salam,
Aschev
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it
now.
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.