Meni samenel kitu gening seratan teh juragan. Kumaha parantos kenging suvenir 
kanggo urang Jepang teh?
 


----- Original Message ----
From: solihin st <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, January 24, 2008 7:04:36 PM
Subject: Re: [Urang Sunda] Deui-deui Bujangga Manik


ehm......
 

Aschev Schuraschev <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:
Lamun ningali lalakon Bujangga Manik, rada mirupa lalampahan Neelkanth, pandita 
Hindu anu ngumbara ngurilingan India dina ahir abad ka 18 pikeun ngajalankeun 
agemanana saperti anu digambarkeun dina film imax Mystic India. Ngan bedana, 
ari lalampahan Bujangga Manik dina awal taun 1500-an mah dicatet (jiga buku 
harian mun kiwari mah) anu kacida mangfaatna dina waktu 500 taun saenggeusna 
sabab ngandung data sajarah anu munel pisan hususna ngeunaan ngaran-ngaran 
patempatan di pulo Jawa sarta gambaran sabagian kaayaan mangsa harita.
 
Tina naskah eta oge bisa kanyahoan yen:
- Di Pakuan Pajajaran aya leuwih ti hiji karaton;
- Di karaton, aya imah, paviliun, tempat ninun, aya rohangan anu dipisah ku 
hordeng;
- Putri Sunda sapopoena produktif ninun;
- Hubungan dagang jeung nagara sejen geus ngarupakeun hal biasa;
- Awal taun 1500-an geus rea barang impor kayaning ebun Cina, parfum, barus 
jeung sajabana;
- Prabu Siliwangi jeung Banyak Catra dijadikeun standar ukuran pikeun meunteun 
kakasepan lalaki (dicaritakeun cenah Bujangga manik teh leuwih kasep manan 
Silihwangi jeung Banyakcatra)
 
Di handap ieu aya sapalih info ngeunaan Bujangga Manik (kenging ti 
http://id.wikipedia .org/wiki/ Naskah_Bujangga_ Manik):
 
Naskah Bujangga Manik merupakan suatu naskah Sunda kuna yang dibuat pada 
sekitar akhir abad ka-15 atau awal abad ke-16, yang menceritakan perjalanan 
Bujangga Manik, seorang pangeran dari Pakuan Pajajaran, ibu kota Kerajaan 
Sunda, yang mengembara ke tanah Jawa dan Bali, yang lokasinya sebelah timur 
tanah Sunda, untuk mengamalkan ajaran agamanya, Hindu.[1]
Isi dari naskah kuno ini ditulis dalam bentuk puisi Sunda kuna berupa lirik 
yang terdiri dari 8 baris. Bujangga Manik menceritakan bahwa perjalanan ini 
dilakukan sebanyak dua kali.
Naskah Bujangga Manik diukir diatas daun lontar. Saat ini disimpan di 
Perpustakaan Bodleian, Oxford, Inggris sejak tahun 1627.
Ringkasan
Nama penulis naskah ini, pangerang Jaya Pakuan, muncul pada baris ke 14. Nama 
alias dari penulis, yaitu Bujangga Manik, dapat ditemukan mulai baris ke 456. 
Dalam baris 15-20 diceritakan bahwa dia akan meninggalkan ibunya untuk pergi ke 
arah timur. Dia sangat teliti dalam menceritakan keberangkatannya. Dari 
kebiasaannya kita tahu bahwa dia mengenakan ikat kepala ("saceundung kaen" 
dalam baris 36).
 
Kemudian dia memulai perjalanan pertamanya yang dia lukiskan secara terperinci. 
Waktu Bujangga Manik mendaki daerah Puncak, dia menghabiskan waktu, seperti 
seorang pelancong jaman modern, dia duduk, mengpasi badannya dan menikmati 
pemandangan, khususnya Gunung Gede) yang, pada baris ke 59 sampai 64, dia sebut 
sebagai titik tertinggi dari kota Pakuan (ibukota kerajaan Sunda).
 
Dari Puncak Pass dia melanjutkan perjalanan sampai menyeberangi sungai Cipamali 
(kali Brebes) untuk masuk ke daerah Jawa. Di daerah Jawa dia mengembara ke 
berbagai desa Majapahit serta hutan Demak. Sesampai di Pemalang, Bujangga Manik 
merindukan ibunya (baris 89) dan memutuskan untuk pulang. Namun pada kesempatan 
ini, dia lebih suka untuk lewat laut dan menaiki kapal yang datang dari Malaka. 
Kesultanan Malaka mulai pertengahan abad ke 15 sampai ditaklukkan oleh Portugis 
menguasai perdagangan pada perairan ini.
 
Keberangkatan kapal dari pelabuhan dilukiskan seperti upacara pesta (baris 
96-120): bedil ditembakkan, alat musik dimainkan, beberapa lagu dinyanyikan 
dengan keras oleh awak kapal; gambaran terperinci mengenai bahan yang digunakan 
untuk membuat kapal diceritakan: berbagia jenis bambu dan rotan, tiang dari 
kayu laka, juru mudi yang berasal dari India juga disebutkan; Bujangga Manik 
benar-benar terpesona karena awak kapal berasal dari berbagai tempat atau 
bangsa.
 
Perjalanan dari Pamalang ke Sunda Kalapa, pelabuhan kerajaan Sunda, ditempuh 
dalam setengah bulan. (baris 121), yang memberi kesan bahwa kapal yang 
ditumpangi tersebut berhenti di berbagai tempat diantara Pamalang dan Kalapa. 
Dari perjalanan tersebut, Bujangga Manik membuat nama alias lainnya yaitu Ameng 
Layaran.
 
Dari Sunda Kalapa, Bujangga Manik melewati Pabeyaan dan meneruskan perjalanan 
ke istana kerajaan di Pakuan, di bagian selatan kota Bogor sekarang (Noorduyn 
1982:419). Bujangga Manik memasuki Pakancilan (baris 145), terus masuk ke 
paviliun yang dihias cantik dan duduk disana. Dia melihat ibunya sedang 
menenun, teknik menenunnya dijelaskan dalam baris (160-164). Ibunya terkejut 
dan bahagia melihat anaknya pulang kembali. Dia segera meninggalkan 
pekerjaannya dan memasuki rumah dengan melewati beberapa lapis gorden, dan naik 
naik ke tempat tidurnya. Ibu Bujangga Manik menyiapkan sambutan buat anaknya, 
menghidangkan sebaki bahan untuk mengunyah sirih, menyisir rambutnya, dan 
mengenakan baju mahal. Dia kemudian turun dari kamar tidurnya, keluar dari 
rumah, pergi ke paviliun dan menyambut anaknya. Bujangga Manik menerima 
perlengkapan mengunyah sirih yang ditawarkan ibunya.
 
Pada bagian berikutnya, diceritakan mengenai putri Ajung Larang Sakean Kilat 
Bancana. Jompong Larang, pesuruh putri Ajung Larang meninggalkan istananya, 
menyeberangi sungai Cipakancilan dan datang ke istana Bujangga Manik. Di istana 
tersebut dia bertemu seoang asing yang sedang mengunyah sirih yang ternyata 
adalah Bujangga Manik. Jompong Larang terpesona dengan ketampanan Bujangga 
Manik (baris 267-273).
 
Sekembalinya ke istana majikannya, Jompong Larang menemui putri Ajung Larang 
yang kebetulan sedang sibuk menenun. Uraian mengenai cara menenunnya 
diterangkan dalam baris (279-282). Putri, yang mengenakan gaun serta 
disampingnya ada kotak Cina impor(284-290) , melihat Jompong Larang yang 
terburu-buru, menaiki tangga dan kemudian duduk di sampingnya.
 
Putri menanyakan pesan apa yang dibawanya; Jompong Larang mengatakan bahwa dia 
melihat pria yang sangat tampan, “sepadan” bagi putri Ajung Larang. Dia 
menceritakan bahwa Ameng Layaran lebih tampan daripada Banyak Catra atau Silih 
Wangi, atau “sepupunya putri” (321), atau siapapun itu. Lebih dari itu, pria 
itu pintar membuat sajak dalam daun lontar serta bisa bahasa Jawa. (baris 327). 
Putri Ajung Larang langsung dihinggapi rasa cinta. Dia kemudian menghentikan 
pekerjaan menenunnyadan dan memasuki rumah. Di sana dia sibuk menyiapkan hadiah 
bagi pria muda tersebut, yang terdiri dari berbagai perlengkapan mengunyah 
sirih, menggunakan bahan-bahan yang indah, dengan sangat hati-hati. Putri juga 
menambahkan koleksi parfum yang sangat mahal, “seluruh parfum tersebut berasal 
dari luar negeri”, juga baju dan sebuah keris yang indah.
 
Ibu Bujangga Manik mendesak anaknya untuk menerima hadiah dari putrid Ajung 
Larang kemudian menggambarkan kecantikan putri yang luar biasa serta 
pujian-pujian lainnya. Ibunya juga mengatakan bahwa putri berkeinginan untuk 
meyerahkan dirinya kepada Bujangga Manik serta mengucapkan kata-kata yang tidak 
pernah disampaikan putrid Ajung Larang: “Saya akan menyerahkan diri saya, Saya 
akan menyambar seperti elang, menerkam seperti harimau, meminta diterima 
sebagai kekasih (530-534). Ameng Layaran terkejut mendengar ucapan-ucapan 
ibunya yang antusias dan menyebutnya sebagai kata-kata terlarang (carek 
larangan) dan bertekad untuk menolak hadiah tersebut dengan kata-kata yang 
panjang juga (baris 548-650). Dia meminta ibunya bersama Jompong Larang untuk 
mengembalikan hadiah tersebut kepada putri serta menghibur putri. Dia lebih 
suka untuk hidup sendiri dan menjaga ajaran yang dia terima selama 
perjalanannya ke Jawa, di pesantren di lereng gunung Merbabu (yang dia
 sebut dalam naskah ini sebagai gunung Damalung dan Pamrihan). Untuk itulah 
Bujangga Manik terpaksa harus meninggalkan ibunya. (baris 649-650).
 
Bujangga Manik mengambil tasnya yang berisi buku besar (apus ageung) dan 
Siksaguru, juga tongkat rotan serta pecut. Dia kemudian mengatakan bahwa dia 
akan pergi lagi ke timur, ke ujung timur pulau Jawa untuk mencari tempat nanti 
dia dikuburkan, untuk mencari laut untuk hanyut, suatu tempat dimana dia akan 
mati, suatu tempat untuk merebahkan tubuhnya” (663-666). Dengan kata-kata yang 
dramatis ini dia meninggalkan istana dan memulai pengembaraan panjangnya, dan 
tidak pernah kembali lagi. Dia meneruskan perjalanannya ke timur, menuliskan 
banyak sekali nama tempat yang sebagian masih digunakan sampai sekarang.
 
 
Salam,
Aschev




Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. 




Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.



      
____________________________________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals?  
Find them fast with Yahoo! Search.  
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping

Kirim email ke