Sakedik potongan sajarah Sumedang kenging nyutat tina buka "Sejarah Kota-kota
Lama di Jawa Barat karya ibu Nina H. Lubis, kaca 75-76:
Geusan Ulun sengaja pergi ke Cirebon untuk berguru kepada Panembahan Girilaya
di bidang agama Islam bahkan terus memperdalam agamanya ke Demak. Dalam hal ini
Cirebon merasa diakui superioritasnya meski hanya di bidang agama. Cirebon pun
mengakui Geusan Ulun sebagai penguasa Sumedanglarang. Situasi ini menjadi
ruksak setelah Geusan Ulun melakukan tindakan tercela. Sepulang berguru dari
Demak, ia singgah di Cirebon dan tinggal di Keraton Pakungwati. Di sana ia
saling jatuh cinta dengan Ratu Harisbaya yang muda dan cantik, isteri
Panembahan Ratu, Sultan Cirebon yang sudah tua. Wanita itu dilarikannya ke
Sumedang sehingga Sultan Cirebon marah. Akibatnya terjadi pertikaian
bersenjata. Untuk menjaga segala kemungkinanserangan dari Cirebon, Geusan Ulun
memindahkan ibukota dari Kutamaya ke Dayeuh Luhur yang terletak di bukit.
Panembahan Ratu meminta saran kepada Sultan Mataram yang telah memberikan Ratu
Harisbaya, keturunan Pajang-Madura itu kepadanya sebagai
hadiah. Atas saran Sultan Mataram, Ratu Harisbaya diceraikan dan Geusan Ulun
harus menebus talaknya dengan memberikan daerah Majalengka kepada Sultan
Cirebon.
Akibat perbuatan Geusan Ulun itu, banyak rakyat yang meninggalkan Sumedang
sehingga Kerajaan Sumedanglarang menjadi lemah. Pada tahun 1610 Geusan Ulun
wafat dan digantikan oleh puteranya yaitu Aria Suradiwangsa I. Menurut salah
satu sumber, Ratu Harisbaya katika dilarikan oleh Geusan Ulun, sebenarnya
sedang hamil dua bulan. Jadi kalau cerita ini benar, maka Aria Suradiwangsa ini
bukan anak kandung Geusan Ulun melainkan putera Panembahan Ratu, Sultan
Cirebon. Setelah Geusan Ulun wafat, nagari-nagari bawahan Sumedanglarang
dahulu, yaitu Karawang, Ciasem, Pamanukan, dan Indramayu melepaskan diri dari
Sumedanglarang, sehingga wilayah Sumedanglarang yang dikuasai Aria
Suariadiwangsa menjadi lebih kecil, meliputi: Sumedang, Parakanmuncang
(sekarang Cicalengka), Bandung, dan Sukapura (sekarang Tasikmalaya). Pada masa
ini, ibukota pemerintahan dipindahkan dari Dayeuh Luhur ke Tegalkalong.
Sementara itu, dari perkawinan Geusan Ulun dengan Nyai Mas Gedeng Waru.
Lahirlah Rangga Gede. Ketika Aria Suriadiwangsa menggantikan ayahnya, menurut
salah satu sumber, Rangga Gede juga diangkat menjadi bupati Sumedang dan
berkedudukan di Canukur. Jadi menurut sumber ini Sumedang agaknya dibagi dua.
Setelah Rangga Gempol I wafat, ibukota kemudian disatukan lagi oleh Pangeran
Rangga Gede dan dipindahkan ke Kampung Parumasan, Kecamatan Conggeang Kabupaten
Sumedang sekarang ini.
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing. Make Yahoo your home page.
http://www.yahoo.com/r/hs