Yang ini sepakat: Kaciri Media teh ngan hayang nahankeun anu komersial hungkul..pandangan na eces..jangka pondok....
Yang ini mari kita tidak nonton sinetron.....da abdi jeung pak H Surtiwa ge konsumen Media (tv) naon oge kulantaran konsumen Media leuwih resep lalajo Infotainment. ..Sinetron. ..jeung Kontest dangdut/Pop. ... Yang ini ga gitu dech..... Soal SFS anu gagah berani jeung meunang..sigana padiuli ge henteu...Nya kumaha atuh..... (sewaktu lagi booming masalah ieu sababaraha media khususna TV nayangkeun berita ieu) ket: yang di cetakl tebal tulisan pak H Surtiwa salam, helmi matari suryanegara ----- Original Message ---- From: H Surtiwa <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Wednesday, March 26, 2008 7:37:39 AM Subject: Re: [Urang Sunda] Si Ibu Wanian: Media TV Silent!!!! Kaciri Media teh ngan hayang nahankeun anu komersial hungkul..pandangan na eces..jangka pondok....naon oge kulantaran konsumen Media leuwih resep lalajo Infotainment. ..Sinetron. ..jeung Kontest dangdut/Pop. ...Soal SFS anu gagah berani jeung meunang..sigana padiuli ge henteu...Nya kumaha atuh..... On 3/25/08, Tessar Wardhana <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: Berita nu keur hot2na ieu teh ngan anehna teh Media TV asa JARAREMPE, nya? bilih kuring nu tara nonton kitu? Mun emang leres media TV teh jempe berarti mafia2 luhur geus mangaruhan media ieu meureun, nya? matak prihatin... Nuhun referensina Baktos Tessar --- mh <[EMAIL PROTECTED] sunda.or. id> wrote: > Menteri Kesehatan yang Berani > Sabtu, 8 Maret 2008 | 02:01 WIB > > Kartono Mohamad > > Pada tahun 1905, armada Jepang mengalahkan armada > Rusia di perairan > Sakhalin. Kemenangan ini berpengaruh besar terhadap > kebangkitan bangsa > Asia yang selama berabad-abad ditindas bangsa Eropa > dan Amerika > Serikat. > > Tahun 1908, sekelompok dokter Indonesia lulusan > STOVIA membentuk > perkumpulan Boedi Oetomo yang kemudian menjadi > gerakan politik > menghadapi Belanda. Tahun itu kemudian dikenal > sebagai awal > kebangkitan bangsa Indonesia. > > Tahun 2005 Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari > mulai membangkang > terhadap aturan WHO yang dianggap tidak adil bagi > bangsa berkembang > dalam soal penyerahan seed virus H5N1 strain > Indonesia. Pada tahun > 2008 perjuangan itu berakhir dengan kemenangan. > Hegemoni AS dalam soal > pervirusan terhadap negara-negara berkembang yang > menjadi "pemilik > virus", yang dilakukan melalui WHO selama 50 tahun, > dapat dikalahkan > Siti Fadilah Supari. > > Percaya diri > > Kesamaan dalam tahun-tahun itu mungkin hanya > kebetulan, tetapi dampak > dari kemenangan itu hampir sama. Timbul rasa percaya > diri, bangsa Asia > dapat mengalahkan kekuatan negara adidaya meski > sebatas soal virus. > > Kemenangan menteri kesehatan Indonesia itu disambut > gembira oleh > seluruh bangsa Indonesia, dan mungkin juga oleh > bangsa-bangsa di > negara berkembang. Terbukti dengan usulan perombakan > prosedur sharing > virus yang diajukan Indonesia disetujui sebagian > besar anggota WHO, > sementara usul AS hanya didukung AS sendiri. > > Desas-desus kemudian berkembang. Pemerintah AS > mengirim menterinya ke > Indonesia untuk membujuk agar Menkes RI membatalkan > usulannya di WHO, > terutama mengenai penyerahan virus ke lembaga > penelitian virus milik > AS. Namun, menteri kita tetap pada sikapnya. "Anda > memang menguasai > teknologinya, tetapi kami yang memiliki virusnya dan > rakyat kami yang > menjadi korban. Silakan tempelkan teknologi itu di > jidat Anda, apakah > ia dapat menghasilkan sesuatu tanpa virus dari > Indonesia," demikian > kisah Siti Fadilah saat peluncuran bukunya. > > Membangkitkan semangat > > Seabad setelah bangsa Asia bangkit melawan > kapitalisme bangsa-bangsa > Eropa dan Amerika, Menkes kita berani membangkitkan > semangat serupa > dengan perlawanannya terhadap hegemoni kapitalis > terbesar di dunia. > Dan menang. Sikap AS yang mau memonopoli penelitian > virus dan > pembuatan vaksinnya, dengan mengambil bibit virus > dari negara > berkembang, tetapi kemudian menjual vaksin itu > kembali ke negara > berkembang dengan harga mahal, memang keterlaluan. > > Negara itu ingin memperoleh bibit virus secara > gratis, lalu mengeruk > keuntungan besar dari negara tempat virus itu > berasal. Ia ingin > mengeruk keuntungan dari penderitaan rakyat di > negara berkembang. > Maka, masuk akal pertanyaan Siti Fadilah tentang > kemungkinan virus itu > dijadikan senjata biologi. Mungkin yang dimaksud > Menkes bukan senjata > biologi yang digunakan dalam perang konvensional, > melainkan > dimanfaatkan dalam situasi damai, kemudian menjual > vaksin atau obatnya > ke negara-negara itu. Bagian kecurigaan inilah yang > kemudian menjadi > isu politik antarnegara, berujung pada penarikan > buku Fadilah edisi > bahasa Inggris. > > Rokok > > Bagaimanapun juga, keberanian Menkes RI telah > menghasilkan sesuatu > yang baik bagi rakyat Indonesia dan negara > berkembang lainnya. Yang > kini kita harapkan adalah keberanian itu ia > pertahankan secara > konsisten, termasuk menghadapi kapitalis dalam > negeri atau kapitalis > luar negeri yang beroperasi di Indonesia, yang > mengeruk keuntungan > besar dengan mengorbankan kesehatan rakyat > Indonesia. Antara lain > menghadapi perilaku pembuat bahan adiktif yang > membuat rakyat > mengalami ketergantungan sehingga menghamburkan > uangnya lebih untuk > memenuhi ketergantungan itu ketimbang untuk membeli > makanan bergizi > bagi anaknya, atau membayar uang sekolah anaknya. > Contoh industri > bahan adiktif semacam itu adalah pabrik rokok. > > Seperti penjajah dulu dan juga kapitalis AS, > industri rokok pandai > menyebarkan mitos yang membuat rakyat (dan > pemerintah) ragu untuk > bertindak. Di zaman perjuangan kemerdekaan dulu > disebarkan mitos, > bangsa Indonesia belum siap merdeka. Sikap AS dalam > soal virus flu > burung (dan mungkin juga hal-hal lain) juga serupa. > Menyebarkan mitos > bahwa negara berkembang tidak akan sanggup > mengembangkan vaksin karena > tidak memiliki teknologinya. > > Di dalam negeri, industri rokok pun menyebarkan > mitos, kalau pemasaran > dan penjualan rokok diatur, negara akan kehilangan > sejumlah besar > penghasilan, banyak buruh akan menganggur dan petani > tembakau akan > kehilangan nafkah. > > Padahal, di negara yang melakukan pengaturan > penjualan rokok, termasuk > AS yang menyerap keuntungan besar dari penjualan > rokok di Indonesia, > tidak ada industri rokok yang bangkrut. Bahkan, > industri rokok AS > merambah seluruh dunia, terutama Indonesia. > > Pengaturan diperlukan untuk meminimalkan dampak > buruk asap tembakau > bagi kesehatan rakyat. Mitos bahwa negara > mendapatkan pendapatan besar > dari rokok juga perlu dibuktikan karena cukai rokok > di Indonesia > adalah yang terendah di Asia (kecuali barangkali > Kampuchea). > > Kapitalis dalam negeri > > Namun, mitos-mitos itu sudah menyerap di pikiran > elite politik di > negara ini dan untuk melepaskannya diperlukan > keberanian. Di sinilah > diharapkan keberanian Siti Fadilah Supari sebagai > Menteri Kesehatan > untuk melawan kapitalis dalam negeri yang telah > mengorbankan kesehatan > rakyat Indonesia untuk keuntungan mereka. Kalau > menghadapi > menteri-menteri AS ia berani, seharusnya ia lebih > berani menghadapi > sesama menteri Indonesia yang sudah termakan mitos > yang ditanamkan > kapitalis dalam negeri. > > Alangkah gagahnya jika ia berani berkata kepada > menteri-menteri yang > lain, "Saya menteri kesehatan, bertanggung jawab > terhadap kesehatan > rakyat. Saya mengatur pemasaran dan penjualan rokok > demi melindungi > kesehatan rakyat Indonesia". Barulah ia benar-benar > pejuang konsisten > untuk kepentingan rakyatnya. > > Kartono Mohamad Tobacco Control Support Center; > Ikatan Ahli Kesehatan > Masyarakat Indonesia > > === message truncated === ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _ Never miss a thing. Make Yahoo your home page. http://www.yahoo. com/r/hs ____________________________________________________________________________________ Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ

