Rieke Diah Pitaloka
Politik, Seni, dan Dewi Sartika

LIMA tahun berperan sebagai Oneng yang o`on dalam "Bajaj Bajuri"
membuat Rieke lebih dikenal sebagai komedian. Padahal, komedian hanya
salah satu predikat perempuan bernama lengkap Rieke Diah Pitaloka
Intan Permatasari ini. Predikat lainnya, pesinetron, artis, presenter,
aktivis kemanusiaan, pemain teater, serta penulis buku dan naskah
teater. Bersama rekannya, Rieke kini sedang melakukan riset tentang
Dewi Sartika, tokoh perempuan Jawa Barat.

Rieke mulai dikenal publik lewat ucapan "meong"-nya dalam iklan
kondom. Untuk dunia teater, Rieke bermain dalam "Cipoa" garapan Putu
Wijaya. Sedangkan di film layar lebar, Rieke bermain dalam "Berbagi
Suami" garapan Nia Dinata. Ia juga bermain dalam film antologi karya
empat sutradara perempuan berjudul "Lotus Requiem".

Seusai menyelesaikan pendidikan S-1 di Jurusan Sastra Belanda
Universitas Indonesia dan S-1 Filsafat di STF Driyakara, Jakarta,
Rieke melanjutkan pendidikan S-2 di Fakultas Filsafat Universitas
Indonesia (UI). Tesisnya yang berjudul "Banalitas Kejahatan: Aku yang
tak Mengenal Diriku, Telaah Hannah Arendt Perihal Kekerasan Negara"
diterbitkan dalam bentuk buku dengan judul Kekerasan Negara Menular ke
Masyarakat diterbitkan oleh Galang Press.

Bagaimana pandangan dan pemikiran Rieke tentang perempuan, suhu
politik saat ini, seni peran, dan obsesi-obsesinya terhadap perempuan
Sunda? Berikut petikan wawancara yang disampaikan Rieke kepada
wartawan "PR" Eriyanti Nurmala Dewi beberapa saat sebelum pementasan
"Perempuan Menuntut Malam" di Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat.

Sekarang Anda menulis naskah teater juga, ceritanya tentang apa?
Berapa lama ditulis?

Iya, "Perempuan Menuntut Malam" ini naskah teater saya yang pertama.
Ceritanya bertutur tentang tiga perempuan yang menemukan kegelisahan
yang sama atas situasi perempuan di Indonesia saat ini. Kegelisahan
itu dituangkan dalam naskah monolog tiga perempuan yang mewakili
perempuan politisi anggota parlemen berjudul "Pagi yang Penuh"
dimainkan saya sendiri, kisah seorang ibu rumah tangga berjudul
"Sepiring Nasi Goreng" yang dimainkan Niniek L. Karim, dan monolog
tentang PSK yang dimainkan Ria Irawan. Ketiganya ditulis hanya satu
bulan. Sedangkan "Tarian Sang Empu", dimainkan Maryam Supraba karya
Ibu Tati Krisnawati.

Bagaimana pengalaman pertama menulis naskah seperti ini?

Susah. Saya biasanya kan memainkan naskah orang. Tidak bertindak di
produksi. Hanya bermain sebagai pemain. Di sini saya menulis naskah,
memainkan peran, dan mengerjakan produksinya juga. Tetapi saya dapat
merasakan bahwa sebagai penulis itu harus ada keikhlasan ketika apa
yang diinterpretasikan dalam tulisan, ditanggapi orang lain dengan
cara berbeda. Kita harus terbuka untuk dikiritik. Sebab, ketika naskah
itu dijadikan sebagai sebuah produksi seni, kita pengarang tidak
berhak lagi ikut campur. Naskah itu menjadi otonom. Hal itu yang
orang-orang kadang-kadang tidak terima sehingga ada
ketegangan-ketegangan karena satu sama lain berbeda konsep. Tetapi
mudah-mudahan menjadi pembelajaran bagi kita bahwa ada wilayah-wilayah
yang menggabungkan dunia seni dan aktivis. Ada etikanya masing-masing.
Di mana wilayah produksi, di mana wilayah seorang sutradara, di mana
wilayah seorang pemain. Semuanya dituntut konsentrasi dengan tugasnya
masing-masing.

Jadi, Anda menulis dan memainkan sendiri peran yang Anda buat? Apa menariknya?

Saya percaya, justru di situ bedanya teater, sinetron, dan film. Saya
sudah berada di ketiga-tiganya. Tetapi teater selalu memiliki
kebaruan, selalu ada yang baru. Meskipun naskahnya sama, dimainkan
orang yang sama, pentas pada hari pertama dengan pentas hari kedua,
beda, tidak mungkin seratus persen sama. Jadi, semuanya selalu baru.
Itu bener-bener tantangan. Saya seneng teater karena kita bisa melihat
ekspresi hasilnya langsung dan kita selalu menjadi manusia yang baru.
Spontanitasnya tuh bener-bener ditantang. Saya belajar banyak dari Mas
Putu (Putu Wijaya-red.). Dia bilang, latihan berbulan-bulan hasil
benernya itu ketika di panggung. Jadi, ketika kita di panggung itu,
tidak boleh disebut o... tadi salah ini, salah itu. Sebab, justru
itulah acting yang sebenarnya.

Efektif lewat mana sih menyampaikan ide, gagasan, dan pesan. Apakah
lewat ranah seni, partai politik, atau akademik?

Semuanya itu juga seni. Berpolitik juga ada seninya. Kalau berpolitik
tanpa seni, garing banget. Begitu pula dalam memainkan peran. Kalau
kita sebagai pemain tidak pernah bersentuhan dengan strata sosial
orang-orang yang kita mainkan perannya, tidak riset, tidak ngobrol,
kita tidak akan pernah mendapatkan ekspresi dan peran yang
sesungguhnya. Riset-riset itu nantinya melahirkan teori-teori. Tetapi
teori saja tidak cukup. Pada praktiknya, semua seni itu fleksibel,
tidak kaku, tidak menggurui. Pertanyaannya sekarang, mengapa para
politisi kita seperti sedang main ketoprak? Itu karena seni memang
media yang efektif dan efisien untuk berbicara kepada publik. Saya
pikir setiap sisi dalam kehidupan itu ada benang merahnya. Tidak bisa
kita pisah-pisahkan antara seni dan politik. Contoh yang paling
gampang, ketika kebijakan-kebijakan politik yang tidak berpihak kepada
masyarakat, lalu masyarakat miskin, apresiasi terhadap seni pun jadi
minim. Artinya semua itu ada kaitannya. Tetapi apa pun gerakannya,
apakah itu aktivis, seni, politik, ataupun akademik, yang diperlukan
adalah bagaimana mendorong pejabat publik dan aparatur negara untuk
membuat kebijakan-kebijakan politik yang berpihak kepada masyarakat.

Anda mengatakan, pentas-pentas tentang perempuan sulit mendapat
support. Bagaimana support pemerintah sendiri yang punya departemen
kementerian perempuan?

Bukan hanya pentas teater perempuan, pentas teater apa pun seharusnya
mendapat subsidi dari pemerintah. Tetapi kan tidak. Ini memang
mengherankan. Konsep yang dimiliki pejabat publik untuk seni, bukan
untuk membangun wacana. Bukan untuk enlightment publik. Tetapi lebih
dipandang seni itu adalah komoditas dagang. Lihat saja "Visit
Indonesia 2008". Semua bangunan fisik dibagusin, tetapi di sisi lain,
di samping-samping bangunan itu ada orang yang tidak bisa makan. Apa
begini yang disebut visit Indonesia? Seni itu sendiri tidak dilirik.
Coba lihat negara tetangga, seni-seni tradisi itu kan dilindungi
negara. Artinya, seni tidak hanya dilihat dari kacamata seni itu
sendiri, tetapi bagaimana seni itu bermanfaat untuk kemanusiaan. Tidak
hanya menguntungkan atau tidak dari segi bisnis atau perusahaan.

**

RIEKE juga dikenal sebagai aktivis perempuan. Ia mendirikan Yayasan
Pitaloka yang bergerak di bidang sastra dan sosial kemasyarakatan.
Berbagai kegiatannya mengarah pada kegiatan-kegiatan kemanusiaan,
keadilan, dan kesetaraan gender. Rieke juga aktif dalam kegiatan
politik, bahkan pernah menduduki jabatan Wakil Sekretaris Jenderal DPP
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pimpinan Muhaimin Iskandar. Rieke
kemudian mengundurkan diri dari partai berbasis massa Islam tersebut
dan merapat ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pimpinan
Megawati Soekarnoputri.

Ngomong-ngomong soal kesempatan dan peluang, apakah ada suatu momen
khusus yang menjadikan Anda bisa seperti sekarang?

Banyak. Tetapi yang pasti, ibu saya selalu mengajarkan, kamu jangan
hanya hidup untuk diri sendiri. Kalau ingin bahagia, konsep
kebahagiaan itu harus membahagiakan orang lain juga. Tidak bisa kita
senang-senang, tertawa, tetapi tetangga rumah kita sendiri tidak bisa
makan. Itu egois. Kalau momen di dunia seni, intinya saya pernah ada
di persimpangan jalan ketika saya merasa bahwa ini bukan dunia saya
karena saya sangat mencintai dunia akademis. Saya sangat ingin menjadi
dosen. Tetapi kemudian paman saya bilang, tidak semua orang diberi
kelebihan dan kesempatan seperti yang saya miliki. Dari situ saya
yakin, ini jalan saya.

Termasuk keterlibatan Anda dalam partai politik?

Ya, karena dengan sistem perpolitikan di Indonesia seperti sekarang,
yang menentukan kebijakan untuk publik adalah orang-orang yang duduk
di legislatif, yudikatif, dan eksekutif. Jadi, mau tidak mau harus
masuk partai politik. Memang ada DPD, tetapi perannya hanya memberikan
pertimbangan, tidak memberi keputusan. Artinya, kalaupun kita tidak
masuk di parlemen, kita punya teman di fraksi yang bisa kita dorong.
Selain itu, setelah sekian tahun pergerakan saya sebagai aktivis,
ternyata gerakan moral saja tidak cukup. Sudah saatnya ada action.
Action politik itu, ya lewat partai politik. Namun ketika saya masuk
ke parpol, saya tidak mau karena ada ajakan dan undangan. Tetapi harus
ada konsesi-konsesi dan pertimbangan.

Anda kan asal Jawa Barat, tetapi rasanya belum ada tuh atensinya untuk
tanah kelahiran? Apakah ada rencana atau obsesi untuk tatar Sunda ini?

Saat ini, teman saya dari Yayasan Pitaloka sedang ke Belanda untuk
cari data-data tentang Dewi Sartika. Saya pernah membaca buku Manusia
Sunda karya Kang Ajip Rosidi. Di situ saya salut luar biasa. Gila, ada
perempuan seperti itu, di zaman kolonial seperti itu, dan orang Sunda!
Bayangkan, perempuan Sunda! Tetapi sumber-sumber seperti ini baru saya
peroleh sepotong-sepotong, makanya harus terus dicari. Kalau saya bisa
menemukan dan menggalinya akan sangat berguna sekali dan memberi
kekuatan bagi perempuan-perempuan Sunda agar bisa sekuat dia. Zaman
dulu saja, Dewi Sartika sudah masuk komite perbaikan nasib pribumi.
Apa yang dia perjuangkan sudah keluar dari konteks sekadar urusan
perempuan. Dia sudah berbicara tentang keadilan untuk semua rakyat apa
pun jenis kelaminnya. Untuk masalah-masalah perempuan, Dewi Sartika
juga meminta persamaan upah buruh, keren enggak tuh! Bayangkan, di
zaman seperti itu ada perempuan Sunda yang sudah memikirkan hal-hal
seperti itu. Gila nggak! Saya bukan membandingkan Dewi Sartika dengan
R.A. Kartini. Kartini juga hebat. Tetapi saya sering merasa iri,
pemikiran Dewi Sartika itu juga luar biasa. Dia melawan feodalisme.

Dia tidak terjebak pada poligami yang lumrah dilakukan perempuan pada
waktu itu. Dia bukan hanya memilih untuk tidak menjadi bagian dari
poligami, tetapi juga memilih bagaimana menyuarakan hal itu sebagai
satu hal yang harus dihapuskan dari masyarakat. Bahkan keluarganya
juga dibuang karena tidak mau bekerja sama dengan Belanda. Berbeda
dengan Kartini yang justru bekerja sama dengan Belanda, Dewi Sartika
survive. Bikin sekolah juga atas biaya sendiri bukan karena bantuan
kiri kanan. Meninggalnya pun pada saat pengungsian Jepang. Pokoknya,
amazing banget! Dialah figur yang saya kagumi. Doakan saja, setelah
pementasan ini saya akan mulai riset tentang Dewi Sartika. Apakah ini
untuk urang Sunda? Entahlah, yang pasti untuk kekaguman saya pada Dewi
Sartika.***

citation: http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&id=16956

Kirim email ke