Pak Niukmat adalah orang Kwadran II yang berhasil dan cerdas......

On 3/31/08, Mohammad Arief <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Dari www.pembelajar.com
>
> FINANCIAL ENGINEERING TUKANG OJEK
>
> Kali ini saya sekadar ingin berbagi cerita mengenai
> keterkejutan saya soal bagaimana seorang tukang ojek
> melakukan rekayasa keuangan (financial engineering).
> Sebagai catatan awal, saya tidak ingin memberikan
> penilaian (judgment) moral apa pun atas orang yang
> saya ceritakan berikut ini. Cerita ini saya sodorkan
> sekadar untuk berbagi bahwa mereka yang secara umum
> dipandang dengan sebelah mata sekalipun ternyata
> memiliki kecerdasan keuangan sekelas dengan mereka
> yang namanya menghiasi halaman-halaman koran ekonomi.
>
> Sekitar November tahun silam saya memesan tukang ojek
> langganan, Pak Nikmat namanya, via telepon. Saya harus
> berangkat ke studio kerja (yang masih berada di
> kompleks yang sama dengan tempat tinggal saya) dengan
> ojek, tidak dengan sepeda seperti biasanya, karena
> harus membawa buku dalam jumlah yang cukup banyak.
>
> Kurang dari lima menit setelah ditelepon Pak Nikmat
> datang, kali ini dengan sepeda motor baru merek Jepang
> buatan dalam negeri. &#8220;Wah, baru nih Pak,
> motornya&#8230;,&#8221; saya membuka pembicaraan.
>
> &#8220;Ah, cuma barang gadean, Pak&#8230;,&#8221; dia
> menjawab dengan mimik biasanya, malu-malu.
>
> &#8220;Lho, barang baru ada yang gadein?&#8221; saya
> sampaikan rasa penasaran saya.
>
> &#8220;Orangnya memang seneng begitu, Pak.&#8221;
>
> &#8220;Maksudnya?&#8221;
>
> &#8220;Kredit motor, terus digadein&#8230;&#8221;
>
> Saya penasaran. Jadi setelah nangkring di sadel bagian
> belakang motornya saya terus mencoba mengorek apa yang
> dimaksud dengan &#8220;orangnya senang begitu&#8230;
> kredit motor terus digadein&#8221;.
>
> Dalam perjalanan ojek yang tidak terlalu lama itu saya
> berhasil mengorek sejumlah informasi dari Pak Nikmat,
> informasi yang membuat saya geleng kepala, mengagumi
> cara kerja orang yang disebutnya sebagai temannya itu.
>
> &#8220;Orangnya nembak dua tingkat Pak&#8230;,&#8221;
> katanya memulai cerita. Menurut dia, teman itu, sebut
> saja Udin Peang, mengambil kredit sepeda motor dengan
> &#8220;modal&#8221; uang muka Rp500.000. Setelah motor
> didapat, dia tidak langsung menggunakan motor itu,
> tetapi menggadaikannya pada Pak Nikmat seharga tiga
> juta rupiah. Uniknya, uang gadai ini nilainya tetap,
> tapi periodenya fleksibel. Sang empunya motor boleh
> mengambil motornya kapan saja dengan uang tiga juta
> rupiah. Loh, kok tanpa bunga? &#8220;Kan saya sudah
> pakai motor ini. Kalau dianggurin memang rugi, tapi
> kalau buat ngojek ya enggak, Pak&#8230;&#8221;
>
> Itu tembakan tingkat satu.
>
> Tembakan tingkat duanya adalah, dari uang gadai tiga
> juta itu dia mengambil yang satu juta rupiah untuk
> membeli dua sepeda motor lainnya. Anda tahu apa yang
> dilakukannya kemudian? Dua sepeda motor baru itu
> &#8220;dikaryakan&#8221; pada adik dan sepupunya
> dengan setoran harian. Menurut perhitungan Pak Nikmat,
> setoran dari dua sepeda motor ini cukup untuk membayar
> cicilan tiga sepeda motor sekaligus setiap bulan.
>
> &#8220;Dia sendiri ngapain sekarang?&#8221;
>
> &#8220;Dia nggak ngojek lagi, Pak&#8230; Katanya sih
> mau jualan bakso. Bakso sama bumbu jadi dia ambil dari
> Cileduk pakai modal yang dua juta itu&#8230;&#8221;
>
> Saya tidak bisa bertanya lebih lanjut karena saya
> sudah sampai ke tempat kerja saya. Tetapi saya dibuat
> termangu-mangu untuk waktu yang lama. Bahkan
> seringkali, terutama ketika menulis artikel keuangan,
> saya selalu teringat pada cerita Pak Nikmat. Ada rasa
> penasaran ingin berkenalan dengan sang
> financial-engineer tersebut. Tetapi, saya menunda
> keinginan itu karena pelajarannya sudah bisa
> dirumuskan: (1) Ternyata modal kecil bukan masalah,
> (2) Jangan sepelekan kecerdasan finansial &#8220;orang
> kecil&#8221;, (3) Kecerdasan finansial hanya akan
> efektif kalau disertai dengan keberanian dan aksi.
>
> Bayangkan, dengan modal lima ratus ribu rupiah ada
> tiga sepeda motor yang produktif, ada tiga pengojek
> mendapat kesempatan kerja, dan ada satu warung bakso
> (entah berapa pun skalanya) dengan minimal satu tenaga
> kerja. Ck&#8230;ck&#8230;ck&#8230;[her]
>
> * Her Suharyanto, editor ekonomi.
>
> Get the name you always wanted with the new y7mail email address.
> www.yahoo7.com.au/y7mail
>
> 
>

Kirim email ke