Koreksi sakedik, sanes Tarumanegara tapi Tarumanagara.

Sent from my BlackBerry® wireless device from XL GPRS network

-----Original Message-----
From: "Aldo Desatura" <[EMAIL PROTECTED]>

Date: Tue, 1 Apr 2008 13:30:35 
Cc:"BAOT" <[EMAIL PROTECTED]>, <[email protected]>
Subject: [Urang Sunda] Tahukah Anda Islam Masuk Ke Nusantara saat Rasulullah 
SAW Masih Hidup?


Tahukah Anda: Islam Masuk 
ke Nusantara Saat Rasulullah SAW Masih Hidup 
 Islam masuk ke Nusantara dibawa para pedagang dari Gujarat, India, di abad ke 
14 Masehi. Teori masuknya Islam ke Nusantara dari Gujarat ini disebut juga 
sebagai Teori Gujarat. Demikian menurut buku-buku sejarah yang sampai sekarang 
masih menjadi buku pegangan bagi para pelajar kita, dari tingkat sekolah dasar 
hingga lanjutan atas, bahkan di beberapa perguruan tinggi.

Namun, tahukah Anda bahwa Teori Gujarat ini berasal dari seorang orientalis 
asal Belanda yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk menghancurkan Islam? 

Orientalis ini bernama Snouck Hurgronje, yang demi mencapai tujuannya, ia 
mempelajari bahasa Arab dengan sangat giat, mengaku sebagai seorang Muslim, dan 
bahkan mengawini seorang Muslimah, anak seorang tokoh di zamannya.

Menurut sejumlah pakar sejarah dan juga arkeolog, jauh sebelum Nabi Muhammad 
SAW menerima wahyu, telah terjadi kontak dagang antara para pedagang Cina, 
Nusantara, dan Arab. Jalur perdagangan selatan ini sudah ramai saat itu.

Mengutip buku Gerilya Salib di Serambi Makkah (Rizki Ridyasmara, Pustaka 
Alkautsar, 2006) yang banyak memaparkan bukti-bukti sejarah soal masuknya Islam 
di Nusantara, Peter Bellwood, Reader in Archaeology di Australia National 
University, telah melakukan banyak penelitian arkeologis di Polynesia dan Asia 
Tenggara.

Bellwood menemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa sebelum abad kelima 
masehi, yang berarti Nabi Muhammad SAW belum lahir, beberapa jalur perdagangan 
utama telah berkembang menghubungkan kepulauan Nusantara dengan Cina. Temuan 
beberapa tembikar Cina serta benda-benda perunggu dari zaman Dinasti Han dan 
zaman-zaman sesudahnya di selatan Sumatera dan di Jawa Timur membuktikan hal 
ini.

Dalam catatan kakinya Bellwood menulis, “Museum Nasional di Jakarta memiliki 
beberapa bejana keramik dari beberapa situs di Sumatera Utara. Selain itu, 
banyak barang perunggu Cina, yang beberapa di antaranya mungkin bertarikh akhir 
masa Dinasti Zhou (sebelum 221 SM), berada dalam koleksi pribadi di London. 
Benda-benda ini dilaporkan berasal dari kuburan di Lumajang, Jawa Timur, yang 
sudah sering dijarah…” Bellwood dengan ini hendak menyatakan bahwa sebelum 
tahun 221 SM, para pedagang pribumi diketahui telah melakukan hubungan dagang 
dengan para pedagang dari Cina.

Masih menurutnya, perdagangan pada zaman itu di Nusantara dilakukan antar 
sesama pedagang, tanpa ikut campurnya kerajaan, jika yang dimaksudkan kerajaan 
adalah pemerintahan dengan raja dan memiliki wilayah yang luas. Sebab kerajaan 
Budha Sriwijaya yang berpusat di selatan Sumatera baru didirikan pada tahun 607 
Masehi (Wolters 1967; Hall 1967, 1985). Tapi bisa saja terjadi, 
“kerajaan-kerajaan kecil” yang tersebar di beberapa pesisir pantai sudah 
berdiri, walau yang terakhir ini tidak dijumpai catatannya.

Di Jawa, masa sebelum masehi juga tidak ada catatan tertulisnya. Pangeran Aji 
Saka sendiri baru “diketahui” memulai sistem penulisan huruf Jawi kuno 
berdasarkan pada tipologi huruf Hindustan pada masa antara 0 sampai 100 Masehi. 
Dalam periode ini di Kalimantan telah berdiri Kerajaan Hindu Kutai dan Kerajaan 
Langasuka di Kedah, Malaya. Tarumanegara di Jawa Barat baru berdiri tahun 
400-an Masehi. Di Sumatera, agama Budha baru menyebar pada tahun 425 Masehi dan 
mencapai kejayaan pada masa Kerajaan Sriwijaya. 
   
 Temuan G. R Tibbets
Adanya jalur perdagangan utama dari Nusantara—terutama Sumatera dan Jawa—dengan 
Cina juga diakui oleh sejarahwan G. R. Tibbetts. Bahkan Tibbetts-lah orang yang 
dengan tekun meneliti hubungan perniagaan yang terjadi antara para pedagang 
dari Jazirah Arab dengan para pedagang dari wilayah Asia Tenggara pada zaman 
pra Islam. Tibbetts menemukan bukti-bukti adanya kontak dagang antara negeri 
Arab dengan Nusantara saat itu.

“Keadaan ini terjadi karena kepulauan Nusantara telah menjadi tempat 
persinggahan kapal-kapal pedagang Arab yang berlayar ke negeri Cina sejak abad 
kelima Masehi, ” tulis Tibbets. Jadi peta perdagangan saat itu terutama di 
selatan adalah Arab-Nusantara-China.

Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa menjelang seperempat 
tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M—hanya berbeda 15 tahun setelah Rasulullah 
menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah 
berdakwah terang-terangan kepada bangsa Arab—di sebuah pesisir pantai Sumatera 
sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam 
kekuasaan wilayah Kerajaan Budha Sriwijaya.

Di perkampungan-perkampungan ini, orang-orang Arab bermukim dan telah melakukan 
asimilasi dengan penduduk pribumi dengan jalan menikahi perempuan-perempuan 
lokal secara damai. Mereka sudah beranak–pinak di sana. Dari 
perkampungan-perkampungan ini mulai didirikan tempat-tempat pengajian al-Qur’an 
dan pengajaran tentang Islam sebagai cikal bakal madrasah dan pesantren, 
umumnya juga merupakan tempat beribadah (masjid).

Temuan ini diperkuat Prof. Dr. HAMKA yang menyebut bahwa seorang pencatat 
sejarah Tiongkok yang mengembara pada tahun 674 M telah menemukan satu kelompok 
bangsa Arab yang membuat kampung dan berdiam di pesisir Barat Sumatera. Ini 
sebabnya, HAMKA menulis bahwa penemuan tersebut telah mengubah pandangan orang 
tentang sejarah masuknya agama Islam di Tanah Air. HAMKA juga menambahkan bahwa 
temuan ini telah diyakini kebenarannya oleh para pencatat sejarah dunia Islam 
di Princetown University di Amerika. 
   
 Pembalseman Firaun Ramses II Pakai Kapur Barus Dari Nusantara
Dari berbagai literatur, diyakini bahwa kampung Islam di daerah pesisir Barat 
Pulau Sumatera itu bernama Barus atau yang juga disebut Fansur. Kampung kecil 
ini merupakan sebuah kampung kuno yang berada di antara kota Singkil dan 
Sibolga, sekitar 414 kilometer selatan Medan. Di zaman Sriwijaya, kota Barus 
masuk dalam wilayahnya. Namun ketika Sriwijaya mengalami kemunduran dan 
digantikan oleh Kerajaan Aceh Darussalam, Barus pun masuk dalam wilayah Aceh.

Amat mungkin Barus merupakan kota tertua di Indonesia mengingat dari seluruh 
kota di Nusantara, hanya Barus yang namanya sudah disebut-sebut sejak awal 
Masehi oleh literatur-literatur Arab, India, Tamil, Yunani, Syiria, Armenia, 
China, dan sebagainya.

Sebuah peta kuno yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus, salah seorang Gubernur 
Kerajaan Yunani yang berpusat di Aleksandria Mesir, pada abad ke-2 Masehi, juga 
telah menyebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga 
bernama Barousai (Barus) yang dikenal menghasilkan wewangian dari kapur barus.

Bahkan dikisahkan pula bahwa kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari kota 
itu telah dibawa ke Mesir untuk dipergunakan bagi pembalseman mayat pada zaman 
kekuasaan Firaun sejak Ramses II atau sekitar 5. 000 tahun sebelum Masehi!

Berdasakan buku Nuchbatuddar karya Addimasqi, Barus juga dikenal sebagai daerah 
awal masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad ke-7 Masehi. Sebuah makam 
kuno di kompleks pemakaman Mahligai, Barus, di batu nisannya tertulis Syekh 
Rukunuddin wafat tahun 672 Masehi. Ini memperkuat dugaan bahwa komunitas Muslim 
di Barus sudah ada pada era itu.

Sebuah Tim Arkeolog yang berasal dari Ecole Francaise D’extreme-Orient (EFEO) 
Perancis yang bekerjasama dengan peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi 
Nasional (PPAN) di Lobu Tua-Barus, telah menemukan bahwa pada sekitar abad 9-12 
Masehi, Barus telah menjadi sebuah perkampungan multi-etnis dari berbagai suku 
bangsa seperti Arab, Aceh, India, China, Tamil, Jawa, Batak, Minangkabau, 
Bugis, Bengkulu, dan sebagainya.

Tim tersebut menemukan banyak benda-benda berkualitas tinggi yang usianya sudah 
ratusan tahun dan ini menandakan dahulu kala kehidupan di Barus itu sangatlah 
makmur.

Di Barus dan sekitarnya, banyak pedagang Islam yang terdiri dari orang Arab, 
Aceh, dan sebagainya hidup dengan berkecukupan. Mereka memiliki kedudukan baik 
dan pengaruh cukup besar di dalam masyarakat maupun pemerintah (Kerajaan Budha 
Sriwijaya). Bahkan kemudian ada juga yang ikut berkuasa di sejumlah bandar. 
Mereka banyak yang bersahabat, juga berkeluarga dengan raja, adipati, atau 
pembesar-pembesar Sriwijaya lainnya. Mereka sering pula menjadi penasehat raja, 
adipati, atau penguasa setempat. Makin lama makin banyak pula penduduk setempat 
yang memeluk Islam. Bahkan ada pula raja, adipati, atau penguasa setempat yang 
akhirnya masuk Islam. Tentunya dengan jalan damai (Rz/eramuslim) 
 
   
 Sejarahwan T. W. Arnold dalam karyanya “The Preaching of Islam” (1968) juga 
menguatkan temuan bahwa agama Islam telah dibawa oleh mubaligh-mubaligh Islam 
asal jazirah Arab ke Nusantara sejak awal abad ke-7 M.

Setelah abad ke-7 M, Islam mulai berkembang di kawasan ini, misal, menurut 
laporan sejarah negeri Tiongkok bahwa pada tahun 977 M, seorang duta Islam 
bernama Pu Ali (Abu Ali) diketahui telah mengunjungi negeri Tiongkok mewakili 
sebuah negeri di Nusantara (F. Hirth dan W. W. Rockhill (terj), Chau Ju Kua, 
His Work On Chinese and Arab Trade in XII Centuries, St.Petersburg: Paragon 
Book, 1966, hal. 159).

Bukti lainnya, di daerah Leran, Gresik, Jawa Timur, sebuah batu nisan kepunyaan 
seorang Muslimah bernama Fatimah binti Maimun bertanggal tahun 1082 telah 
ditemukan. Penemuan ini membuktikan bahwa Islam telah merambah Jawa Timur di 
abad ke-11 M (S. Q. Fatini, Islam Comes to Malaysia, Singapura: M. S. R.I., 
1963, hal. 39).

Dari bukti-bukti di atas, dapat dipastikan bahwa Islam telah masuk ke Nusantara 
pada masa Rasulullah masih hidup. Secara ringkas dapat dipaparkan sebagai 
berikut: Rasululah menerima wahyu pertama di tahun 610 M, dua setengah tahun 
kemudian menerima wahyu kedua (kuartal pertama tahun 613 M), lalu tiga tahun 
lamanya berdakwah secara diam-diam—periode Arqam bin Abil Arqam (sampai sekitar 
kuartal pertama tahun 616 M), setelah itu baru melakukan dakwah secara terbuka 
dari Makkah ke seluruh Jazirah Arab.

Menurut literatur kuno Tiongkok, sekitar tahun 625 M telah ada sebuah 
perkampungan Arab Islam di pesisir Sumatera (Barus). Jadi hanya 9 tahun sejak 
Rasulullah SAW memproklamirkan dakwah Islam secara terbuka, di pesisir Sumatera 
sudah terdapat sebuah perkampungan Islam.

Selaras dengan zamannya, saat itu umat Islam belum memiliki mushaf Al-Qur’an, 
karena mushaf Al-Qur’an baru selesai dibukukan pada zaman Khalif Utsman bin 
Affan pada tahun 30 H atau 651 M. Naskah Qur’an pertama kali hanya dibuat tujuh 
buah yang kemudian oleh Khalif Utsman dikirim ke pusat-pusat kekuasaan kaum 
Muslimin yang dipandang penting yakni (1) Makkah, (2) Damaskus, (3) San’a di 
Yaman, (4) Bahrain, (5) Basrah, (6) Kuffah, dan (7) yang terakhir dipegang 
sendiri oleh Khalif Utsman.

Naskah Qur’an yang tujuh itu dibubuhi cap kekhalifahan dan menjadi dasar bagi 
semua pihak yang berkeinginan menulis ulang. Naskah-naskah tua dari zaman 
Khalifah Utsman bin Affan itu masih bisa dijumpai dan tersimpan pada berbagai 
museum dunia. Sebuah di antaranya tersimpan pada Museum di Tashkent, Asia 
Tengah.

Mengingat bekas-bekas darah pada lembaran-lembaran naskah tua itu maka 
pihak-pihak kepurbakalaan memastikan bahwa naskah Qur’an itu merupakan 
al-Mushaf yang tengah dibaca Khalif Utsman sewaktu mendadak kaum perusuh di 
Ibukota menyerbu gedung kediamannya dan membunuh sang Khalifah.

Perjanjian Versailes (Versailes Treaty), yaitu perjanjian damai yang diikat 
pihak Sekutu dengan Jerman pada akhir Perang Dunia I, di dalam pasal 246 
mencantumkan sebuah ketentuan mengenai naskah tua peninggalan Khalifah Ustman 
bin Affan itu yang berbunyi: (246) Di dalam tempo enam bulan sesudah Perjanjian 
sekarang ini memperoleh kekuatannya, pihak Jerman menyerahkan kepada Yang Mulia 
Raja Hejaz naskah asli Al-Qur’an dari masa Khalif Utsman, yang diangkut dari 
Madinah oleh pembesar-pembesar Turki, dan menurut keterangan, telah dihadiahkan 
kepada bekas Kaisar William II (Joesoef Sou’yb, Sejarah Khulafaur Rasyidin, 
Bulan Bintang, cet. 1, 1979, hal. 390-391).

Sebab itu, cara berdoa dan beribadah lainnya pada saat itu diyakini berdasarkan 
ingatan para pedagang Arab Islam yang juga termasuk para al-Huffadz atau 
penghapal al-Qur’an.

Menengok catatan sejarah, pada seperempat abad ke-7 M, kerajaan Budha Sriwijaya 
tengah berkuasa atas Sumatera. Untuk bisa mendirikan sebuah perkampungan yang 
berbeda dari agama resmi kerajaan—perkampungan Arab Islam—tentu membutuhkan 
waktu bertahun-tahun sebelum diizinkan penguasa atau raja. Harus bersosialisasi 
dengan baik dulu kepada penguasa, hingga akrab dan dipercaya oleh kalangan 
kerajaan maupun rakyat sekitar, menambah populasi Muslim di wilayah yang sama 
yang berarti para pedagang Arab ini melakukan pembauran dengan jalan menikahi 
perempuan-perempuan pribumi dan memiliki anak, setelah semua syarat itu 
terpenuhi baru mereka—para pedagang Arab Islam ini—bisa mendirikan sebuah 
kampung di mana nilai-nilai Islam bisa hidup di bawah kekuasaan kerajaan Budha 
Sriwijaya.

Perjalanan dari Sumatera sampai ke Makkah pada abad itu, dengan mempergunakan 
kapal laut dan transit dulu di Tanjung Comorin, India, konon memakan waktu dua 
setengah sampai hampir tiga tahun. Jika tahun 625 dikurangi 2, 5 tahun, maka 
yang didapat adalah tahun 622 Masehi lebih enam bulan. Untuk melengkapi semua 
syarat mendirikan sebuah perkampungan Islam seperti yang telah disinggung di 
atas, setidaknya memerlukan waktu selama 5 hingga 10 tahun.

Jika ini yang terjadi, maka sesungguhnya para pedagang Arab yang mula-mula 
membawa Islam masuk ke Nusantara adalah orang-orang Arab Islam generasi pertama 
para shahabat Rasulullah, segenerasi dengan Ali bin Abi Thalib r. A..

Kenyataan inilah yang membuat sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara sangat yakin 
bahwa Islam masuk ke Nusantara pada saat Rasulullah masih hidup di Makkah dan 
Madinah. Bahkan Mansyur Suryanegara lebih berani lagi dengan menegaskan bahwa 
sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul, saat masih memimpin kabilah dagang 
kepunyaan Khadijah ke Syam dan dikenal sebagai seorang pemuda Arab yang berasal 
dari keluarga bangsawan Quraisy yang jujur, rendah hati, amanah, kuat, dan 
cerdas, di sinilah ia bertemu dengan para pedagang dari Nusantara yang juga 
telah menjangkau negeri Syam untuk berniaga.

“Sebab itu, ketika Muhammad diangkat menjadi Rasul dan mendakwahkan Islam, maka 
para pedagang di Nusantara sudah mengenal beliau dengan baik dan dengan cepat 
dan tangan terbuka menerima dakwah beliau itu,” ujar Mansyur yakin.

Dalam literatur kuno asal Tiongkok tersebut, orang-orang Arab disebut sebagai 
orang-orang Ta Shih, sedang Amirul Mukminin disebut sebagai Tan mi mo ni’. 
Disebutkan bahwa duta Tan mi mo ni’, utusan Khalifah, telah hadir di Nusantara 
pada tahun 651 Masehi atau 31 Hijriah dan menceritakan bahwa mereka telah 
mendirikan Daulah Islamiyah dengan telah tiga kali berganti kepemimpinan. 
Dengan demikian, duta Muslim itu datang ke Nusantara di perkampungan Islam di 
pesisir pantai Sumatera pada saat kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan 
(644-656 M). Hanya berselang duapuluh tahun setelah Rasulullah SAW wafat (632 
M).

Catatan-catatan kuno itu juga memaparkan bahwa para peziarah Budha dari Cina 
sering menumpang kapal-kapal ekspedisi milik orang-orang Arab sejak menjelang 
abad ke-7 Masehi untuk mengunjungi India dengan singgah di Malaka yang menjadi 
wilayah kerajaan Budha Sriwijaya. 
   
 Gujarat Sekadar Tempat Singgah
Jelas, Islam di Nusantara termasuk generasi Islam pertama. Inilah yang oleh 
banyak sejarawan dikenal sebagai Teori Makkah. Jadi Islam di Nusantara ini 
sebenarnya bukan berasal dari para pedagang India (Gujarat) atau yang dikenal 
sebagai Teori Gujarat yang berasal dari Snouck Hurgronje, karena para pedagang 
yang datang dari India, mereka ini sebenarnya berasal dari Jazirah Arab, lalu 
dalam perjalanan melayari lautan menuju Sumatera (Kutaraja atau Banda Aceh 
sekarang ini) mereka singgah dulu di India yang daratannya merupakan sebuah 
tanjung besar (Tanjung Comorin) yang menjorok ke tengah Samudera Hindia dan 
nyaris tepat berada di tengah antara Jazirah Arab dengan Sumatera.

Bukalah atlas Asia Selatan, kita akan bisa memahami mengapa para pedagang dari 
Jazirah Arab menjadikan India sebagai tempat transit yang sangat strategis 
sebelum meneruskan perjalanan ke Sumatera maupun yang meneruskan ekspedisi ke 
Kanton di Cina. Setelah singgah di India beberapa lama, pedagang Arab ini terus 
berlayar ke Banda Aceh, Barus, terus menyusuri pesisir Barat Sumatera, atau 
juga ada yang ke Malaka dan terus ke berbagai pusat-pusat perdagangan di daerah 
ini hingga pusat Kerajaan Budha Sriwijaya di selatan Sumatera (sekitar 
Palembang), lalu mereka ada pula yang melanjutkan ekspedisi ke Cina atau Jawa.

Disebabkan letaknya yang sangat strategis, selain Barus, Banda Aceh ini telah 
dikenal sejak zaman dahulu. Rute pelayaran perniagaan dari Makkah dan India 
menuju Malaka, pertama-tama diyakini bersinggungan dahulu dengan Banda Aceh, 
baru menyusuri pesisir barat Sumatera menuju Barus. Dengan demikian, bukan hal 
yang aneh jika Banda Aceh inilah yang pertama kali disinari cahaya Islam yang 
dibawa oleh para pedagang Arab. Sebab itu, Banda Aceh sampai sekarang dikenal 
dengan sebutan Serambi Makkah.(Rz, Tamat/eramuslim) 
  
  
  
  
  
===================================
Utamakan... Doa, Usaha, Ijtihad & Tawakal
===================================                                             
                        
------------------------------------

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke