04/04/2008 Identitas Masyarakat Sunda Sulit Diangkat Kembali SETIABUDHI, (GM).- Banyak identitas masyarakat Sunda yang hilang dan sulit diangkat kembali kerena terlalu lama terpengaruh budaya Mataram dan bangsa Barat. Demikian diungkapkan pakar sejarah Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof. Dr. Nina Lubis, usai menjadi pembicara seminar "Mencari Estetika Sunda" di Universitas Pasundan (Unpas) Bandung, Jln. Dr. Setiabudhi Bandung, Kamis (3/4).
Selain pengaruh budaya Mataram dan Barat, tambah Nina, pengaruh budaya Islam pun sangat berperan dalam hilangnya identitas masyarakat Sunda. "Walaupun tidak besar, pengaruh budaya Islam terlihat dari nama-nama orang Sunda," ujarnya. Nina pun mengungkapkan, pengaruh budaya Mataram dan budaya Barat lebih besar dalam kehidupan masyarakat Sunda sehari-hari. Dicontohkan, dalam tata cara berpakaian dan dan bentuk bangunan rumah. "Masyarakat Sunda lebih senang mengenakan pakaian ala Barat daripada pakaian adat dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya. Sedangkan dalam bentuk rumah, ungkap Nina, saat ini sangat sulit menemukan bentuk rumah khas adat Sunda di Jabar, yang lebih mengutamakan tiga unsur, yakni kolong, tengah, dan atap. Kebanyakan bentuk rumah masyarakat Sunda sekarang ini, tambahnya, lebih meniru bangunan masyarakat Barat. Padahal dalam kehidupan masyarakat Sunda, tiga unsur dimaksud, mengandung makna tertentu. "Kolong rumah lebih sering digunakan sebagai sirkulasi udara, bagian tengah sebagai tempat berkumpul keluarga, dan atap untuk melindungi bagian kolong dan tengah," paparnya. Sedangkan budaya Mataram sangat besar pengaruhnya dalam penerapan dan penggunanaan bahasa Sunda sebagai bahasa komunikasi sehari-hari. Sebelumnya, bahasa Sunda sangat demokratis dan tidak mengenal undak-usuk basa. "Namun setelah masuknya budaya Mataram pada abad ke-15, bahasa Sunda mengenal undak-usuk basa sampai sekarang," tambahnya. Karena itu, Nina mengusulkan agar tujuh unsur yang diharapkan bisa menggali kembali identitas dan etika masyarakat Sunda, kembali digalakkan. Ketujuh unsur tersebut, yakni nama dan gelar, tempat tinggal (rumah), etika dan bahasa, kehidupan keagamaan dan kepercayaan, pusaka dan upacara sepanjang daur hidup manusia (kelahiran, perkawinan, dan kematian), kesenian dan rekreasi, serta kebiasaan makan. "Selain ketujuh unsur tersebut, masih ada unsur lain yang bisa menggali identitas Sunda, yaitu pendidikan, ilmu pengetahuan, solidaritas, dan komunikasi," paparnya. Sementara budayawan Prof. Jakob Sumardjo mengatakan, kita jangan menilai sesuatu dari luarnya saja. Pasalnya banyak orang Sunda yang luarnya bukan orang Sunda, tetapi mempunyai pola pikir masyarakat Sunda. "Kehidupan masyarakat di daerah Darmaraja, Kab. Sumedang tetap menggunakan pola pikir masyarakat Sunda, sekalipun bentuk rumah dan cara berpakaiannya mengikuti pola masyarakat Jawa," ujarnya. (B.81)** Citation: http://www.klik-galamedia.com/20080404/kolomlengkap.php?kolomkode=20080404004814

