Dari milis tetangga.
   
   
  Profil Calon Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heriawan
(Pemenang Pilkada Jabar 2008 menurut Quick Count LSI dan LSN)

------

http://forum. detikbandung. com/showthread. php?t=18227

Sang Pemimpin Belanja Sayur

Thursday, 01 January 2004
Pagi-pagi ba’da shubuh dan bebenah, seperti biasa acara rutin sebagian ibu-ibu 
adalah belanja. Demikian pula aku. Udara masih dingin kala itu. Kuturuni tangga 
kontrakanku. Kujumpai sebagian ibu-ibu berjalan menuju titik yang sama, tempat 
belanja! Tanah kapling di bawah kontrakanku masih banyak yang belum dibangun. 
Aku berjalan tepat di samping rumah ustadz Hidayat Nurwahid, Presiden Partai 
Keadilan. Di Belakang rumah beliau, rumput masih banyak tumbuh dan tanah 
sedikit berair menyisakan tanda-tanda rawa yang masih belum sepenuhnya teruruk. 
Aku terus berjalan. Naik beberapa tangga, melalui pintu gerbang SDIT Iqro’ 
Pondok Gede yang sudah terkuak. Rumah ustadz Rahmad Abdullah yang asri dan 
sederhana kulewati. Rumah yang tiap dua hari sepekan kusambangi sebab disitulah 
aku belajar tahsin pada istri beliau. Aku terus berjalan melalui beberapa rumah 
para aktivis da’wah hingga akhirnya sampailah ke tempat belanjaan.

Belum selesai aku memilih-milih, tiba-tiba muncul laki-laki yang di lingkungan 
kami sangat dikenal dan tidak asing. Beliau bersama putranya. Kemunculannya 
tentu sangat tidak diduga. Kami para ibupun mempersilakan beliau untuk mendapat 
pelayanan terlebih dahulu. Beliaulah satu-satunya laki-laki saat itu. Aku 
memperhatikannya. Subhanallah, tak ada kecanggungan.

Sesampai di rumah kuceritakan apa yang kulihat pada suamiku, dengan penuh 
kekaguman.

“Ya, begitulah yang terjadi dalam keluarga beliau. Saling taawun antara suami 
istri tanpa harus dibatasi oleh pemisahan pekerjaan yang kaku, “komentar 
suamiku yang berinteraksi cukup intensif.

Esoknya aku menjalani rutinitas yang sama, belanja. Di jalan aku berpapasan 
dengan laki-laki itu kembali, bersama putranya.

“Belanja ustadz?” Aku sengaja menyapa.

“Iya, istri lagi sakit perut dan khodimah (Pembantu) pulang, Jawab beliau 
sambil tersenyum.

Aku mengangguk-angguk. Subhanallah, aku jadi teringat Ammar bin Yasir ketika 
menjabat sebagai gubernur. Beliau kadang belanja di pasar dan mengikat serta 
memanggul sayuran sendirian. Inilah profil yang perlu di jadikan teladan.

Laki-laki yang saya jumpai itu yang belanja di tukang sayur itu adalah ustadz 
Ahmad Heriawan, Lc. Beliau adalah ketua Partai Keadilan DKI Jakarta dan anggota 
DPRD DKI Jakarta. Saya tidak akan terheran-heran jika beliau belanja bersama 
istri dan anak-anaknya di Supermarket, yang bagi keluarga muda atau keluarga 
jaman sekarang hal yang biasa dan sangat tidak tabu. Tetapi ini harus 
berbelanja dan ikut antri dengan para ibu rumah tangga, walau pada akhirnya 
beliau dipersilahkan untuk dilayani lebih dahulu.

Lagi-lagi dengan takjub saya menceritakan apa yang saya lihat kepada suami 
saya. Sebagai orang yang intensif bertemu dengan beliau bahkan banyak menimba 
ilmu kepada beliau, suami saya berkata,

“Ustadz Heriawan memang subhanalloh Dik. Sebagai muridnya, saya merasakan 
kedekatan. Ketika sholat jama’ah di masjid misalnya, beliau kadang-kadang 
secara tiba-tiba merangkul saya dari belakang. Saya juga beruntung mempunyai 
jadwal ronda dengan beliau.”

Ya, suami saya memang beruntung, beliau mendapat jadwal ronda bersama ustadz 
Ahmad Heriawan dan Ustadz Satori Ismail, sehingga pembicaraan kala ronda adalah 
pembicaraan- pembicaraan yang bermutu.

Ah… saya jadi menghayal, seandainya negeri ini dipimpin oleh orang-orang yang 
berakhlaq mulia, yang mempunyai keharmonisan keluarga, yang dekat dengan anak 
istrinya, yang mempunyai hubungan baik dengan para tetangga, yang memuliakan 
wanita dan kaum papa, betapa indahnya dunia. Saya jadi teringat cerita 
sederhana dari istri beliau.

“Ayahnya Khobab (ustadz Ahmad Heriawan) sangat suka sayur lodeh nangka. Suatu 
saat beliau meminta saya untuk memasaknya. Begitu tahu bahwa ternyata membuat 
sayur lodeh nangka itu membutuhkan proses yang begitu lama, beliau pun berkata, 
“Sudah Bu, Sekali ini saja. Kalau tahu bahwa prosesnya begini lama, ayah tak 
akan meminta dibikinkan. Dari pada waktu demikian panjang hanya habis untuk 
bikin sayur, mending buat baca atau untuk mengerjakan yang lain.”

Nampaknya sangat sederhana, namun saya melihat ada satu hal yang luar biasa, 
tersirat dalam ungkapan itu, pemberian peluang yang luas bagi berkembangnya 
istri.

Saya memang harus banyak belajar dari keluarga pimpinan saya yang sempat 
menjadi tetangga saya itu. Yang jika orang-orang terkenal memberikan tariff 
dalam ceramah-ceramahnya, beliau malah pernah menolak ceramah dengan bayaran 
cukup lumayan karena harus terikat dengan pola yang diterapkan penyelenggara. 
Maka jangan heran, jika kita mengundang beliau dan memberikan “amplop” dengan 
mengatakan uang transport, maka seluruh uang yang ada di dalam amplop itu akan 
beliau gunakan untuk membayar jasa transportasi, dan tak menyisakan untuk 
kantong beliau sendiri.

Ah, itukah sibghoh Allah? Sebuah generasi yang dijanjikan oleh Allah dalam 
surat Al-Maidah : 54 itu semoga kian dekat di sekitar kita, dan semoga memang 
sidah ada di sekitar kita.

M. Muttaqwiati
Dari buku “Bukan di Negeri Dongeng”


 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke