heuheuheu..
merekedeweng tea nya.....!
geus salah nyanggereng....dijungkirkeun we sakalian....sina kaluar tina mobil
bari nyemprung....kumaha tah gogorentelan meureun nya,,,,,!
heuheu,,,
PEJUANG GOLPUT <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
asa na eta oge teu ditampiling
pan atos dialog tea
geus dibejaan salah
keukeuh ka surabaya.
nya di tajong we atuh..
dibejaan nu bener keukueh kanu salah
2008/4/23 imro ir <[EMAIL PROTECTED]>:
Ari sasab ka Surabaya mah tong ditampilingan tapi tuduhkeun we jalanna mun
moal ngagugu mah antepkeun we, mun eta jelema nu sasab teh make
mobil/tutumpangan jelema2 sejenna anu jalan ka Semarang maenya ku ente
diantepkeun, lamun erek oge nu sasab teh pake mobil sorangan we.
Sugan kaharti tong siga gampangna pikiran pun Bisri.
Salam
Kang Im
----- Original Message ----
From: Waluya <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [email protected]
Sent: Wednesday, April 23, 2008 9:06:43 AM
Subject: [Urang Sunda] Nu "Sasab" jeung Nu Ngamuk
Lamun aya jelema ti Jakarta rek ka Semarang, ari pek sasab ka Surabaya
terus
kunu terang yen manehna teh sasab malah ditampilingan. Aneh pan? Tapi
kaanehan ieu kajadian di Indonesia saperti ditulis dina Artikel KH Mustofa
Bisri dina Jawa Pos Online dinten ieu :
Rabu, 23 Apr 2008,
Yang Sesat dan Yang Ngamuk
http://www.jawapos. com/index. php?act=detail_ c&id=337871
Oleh A. Mustofa Bisri
Karena melihat sepotong, tidak sejak awal, saya mengira massa yang
ditayangkan TV itu adalah orang-orang yang sedang kesurupan masal. Soalnya,
mereka seperti kalap. Ternyata, menurut istri saya yang menonton tayangan
berita sejak awal, mereka itu adalah orang-orang yang ngamuk terhadap
kelompok Ahmadiyah yang dinyatakan sesat oleh MUI.
Saya sendiri tidak mengerti kenapa orang -yang dinyatakan- sesat harus
diamuk seperti itu? Ibaratnya, ada orang Semarang bertujuan ke Jakarta, tapi
ternyata tersesat ke Surabaya, masak kita -yang tahu bahwa orang itu sesat-
menempelenginya. Aneh dan lucu.
Konon orang-orang yang ngamuk itu adalah orang-orang Indonesia yang beragama
Islam. Artinya, orang-orang yang berketuhanan Allah Yang Mahaesa dan
berkemanusiaan adil dan beradab. Kita lihat imam-imam mereka yang beragitasi
dengan garang di layar kaca itu kebanyakan mengenakan busana Kanjeng Nabi
Muhammad SAW.
Kalau benar mereka orang-orang Islam pengikut Nabi Muhammad SAW, mengapa
mereka tampil begitu sangar, mirip preman? Seolah-olah mereka tidak mengenal
pemimpin agung mereka, Rasulullah SAW.
Kalau massa yang hanya makmum, itu masih bisa dimengerti. Mereka hanyalah
mengikuti telunjuk imam-imam mereka. Tapi, masak imam-imam -yang mengaku
pembela Islam itu- tidak mengerti misi dan ciri Islam yang rahmatan lil
'aalamiin,
tidak hanya rahmatan lithaaifah makhshuushah (golongan sendiri). Masak
mereka tidak tahu bahwa pemimpin agung Islam, Rasulullah SAW, adalah
pemimpin yang akhlaknya paling mulia dan diutus Allah untuk menyempurnakan
akhlak manusia.
Masak mereka tidak pernah membaca, misalnya ayat "Ya ayyuhalladziina aamanuu
kuunuu qawwamiina lillah syuhadaa-a bilqisthi.al- aayah" (Q. 5: 8). Artinya,
wahai orang-orang yang beriman jadilah kamu penegak-penegak kebenaran karena
Allah dan saksi-saksi yang adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu
kepada suatu kaum menyeret kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah;
adil itu lebih dekat kepada takwa. Takwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha
Mengetahui apa yang kau kerjakan.
Apakah mereka tidak pernah membaca kelembutan dan kelapangdadaan Nabi
Muhammad SAW atau membaca firman Allah kepada beliau, "Fabimaa rahmatin
minaLlahi linta lahum walau kunta fazhzhan ghaliizhal qalbi lanfaddhuu min
haulika. al-aayah" (Q. 3: 159). Artinya, maka disebabkan rahmat dari
Allah-lah engkau berperangai lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau
kasar dan berhati kejam, niscaya mereka akan lari menjauhimu."
Tak Mengerti
Sungguh saya tidak mengerti jalan pikiran atau apa yang merasuki pikiran
mereka sehingga mereka tidak mampu bersikap tawaduk penuh pengayoman seperti
dicontoh-ajarkan Rasulullah SAW di saat menang. Atau, sekadar membayangkan
bagaimana seandainya mereka yang merupakan pihak minoritas (kalah) dan
kelompok yang mereka hujat berlebihan itu mayoritas (menang).
Sebagai kelompok mayoritas, mereka tampak sekali -seperti kata orang Jawa-
tidak tepa salira. Apakah mereka mengira bahwa Allah senang dengan
orang-orang yang tidak tepo saliro, tidak menenggang rasa? Yang jelas Allah,
menurut Rasul-Nya, tidak akan merahmati mereka yang tidak berbelas kasihan
kepada orang.
Saya heran mengapa ada -atau malah tidak sedikit- orang yang sudah dianggap
atau menganggap diri pemimpin bahkan pembela Islam, tapi berperilaku kasar
dan pemarah. Tidak mencontoh kearifan dan kelembutan Sang Rasul, pembawa
Islam itu sendiri. Mereka malah mencontoh dan menyugesti kebencian terhadap
mereka yang dianggap sesat.
Apakah mereka ingin meniadakan ayat dakwah? Ataukah, mereka memahami dakwah
sebagai hanya ajakan kepada mereka yang tidak sesat saja?
Atau? Kelihatannya kok tidak mungkin kalau mereka sengaja berniat membantu
menciptakan citra Islam sebagai agama yang kejam dan ganas seperti yang
diinginkan orang-orang bodoh di luar sana. Tapi.
KH A. Mustofa Bisri, pengasuh Pesantren Roudlatut Thalibin, Rembang
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it
now.
--
-----------------------------------------------------------
AGUS PAKUSARAKAN
08128377662
www.smarthubtech.co.id
-----------------------------------------------------------
www.independen.wordpress.com
www.inkas.wordpress.com
www.garut0262.wordpress.com
www.azzoman.indonetwork.net
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.