Latar Politik Dede Yusuf

Oleh ROSIHAN ANWAR

TERPILIHNYA Dede Yusuf sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat dalam Pilgub
13 April 2008 disambut dengan sukacita oleh kalangan masyarakat yang
menginginkan perubahan di negeri kita.

Dede Yusuf, usia 41 tahun, anggota DPR mewakili PAN, sebelumnya aktor
laga dan sutradara film, diharapkan bersama Gubernur Ahmad Heryawan
dari PKS memenuhi harapan orang banyak. Yaitu membuat kehidupan rakyat
sehari-hari cukup nyaman, membuat harga sembako dan BBM terjangkau,
membuat biaya pendidikan anak dan perawatan kesehatan tidak mahal,
membuat keamanan dan ketertiban terpelihara baik, membuat suasana
batin yang mendorong untuk rukun berdamai dengan sesama manusia, untuk
bersikap ikhlas dan sabar, untuk tahu bersyukur kepada Tuhan Yang Maha
Pencipta atas nikmat yang dianugerahkan-Nya.

Wah, semua itu permintaan yang berat sekali. Apakah Dede bisa
memenuhinya? Can he deliver? Adakah kemampuan dan kecerdasan pada
dirinya mengingat pendidikan formalnya serbaterbatas? Dede bukan
sarjana. Dia aktor film yang di negeri ini belum dianggap tergolong
jajaran with the best and excellent minds, yang kebanyakan bersifat
medioker. Artinya, sedang-sedang, cukup saja. Maka bisakah Dede
berkinerja dengan baik? Can he perform?

Saya belum bisa menjawab pertanyaan tadi. Hanya Sang Waktu yang bisa
mengatakan. Akan tetapi saya bisa informasikan bahwa Dede Yusuf secara
genetik berlatar belakang yang mungkin membantunya dan merupakan aset
baginya dalam bertugas sebagai pejabat publik, yaitu latar belakang
keluarga politisi.

Tahun 1930

Pada suatu malam sekitar tahun 1930, di Padang, saya dibawa oleh kakak
atau Pa Gaek saya bernama Raden Mohamad Yusuf, mantan sep stasiun
kereta api S.S. (Staats Spoorwegen) bertandang ke salah satu rumah di
Tepi Bandar Olo. Pa Gaek mau mengunjungi Roestam Effendi, seorang guru
sekolah dasar swasta HIS (Holland Inlandsche School) Adabiah yang
sakit kakinya karena jatuh dari tangga. Ibunda Roestam Effendi
berkeluarga dengan Pa Gaek. Sebagaimana Marah Roesli, pengarang novel
Siti Nurbaya, adalah kemenakan Raden Mohamad Yusuf, begitu juga
Roestam Effendi diperlakukannya sebagai kemenakan.

Selain guru, Roestam Effendi aktif di lapangan sastra kreatif. Bila
Muhammad Yamin pada akhir 1920-an bermadah dalam sajak Pulau Andalas
(Sumatra) yang indah, Roestam menulis tonil "Bebasari". Keduanya
mendukung Sumpah Pemuda.

Roestam berangkat ke Negeri Belanda untuk melanjutkan pelajaran. Dia
bergabung dengan Perhimpunan Indonesia yang ketuanya ialah mahasiswa
ekonomi Mohammad Hatta dan sekretarisnya mahasiswa Sutan Sjahrir. Dia
terlibat dalam kehidupan politik warga Belanda dan bergerak dalam
lingkungan Partai Komunis Belanda CPN (Communistische Partij
Nederland). Bersama mahasiswa kiri lain seperti Setiajit, Abdulmadjid
dia melancarkan aksi menentang pimpinan Hatta. Akibatnya, Perhimpunan
Indonesia terancam oleh bahaya pecah belah.

Pada masa itu Hatta diisukan akan dicalonkan sebagai anggota Tweede
Kamer atau parlemen Belanda oleh sebuah parpol Belanda. Akan tetapi,
Hatta yang berjuang untuk Indonesia Merdeka menolak pencalonan.
Tersiarnya berita itu membuat Ir. Soekarno di Bandung menulis dengan
tajam dan mengritik Hatta. Timbul polemik. Setelah beberapa waktu
heboh itu jadi reda.

Dalam pada itu yang beritanya kurang tersebar di Hindia Belanda ialah
Roestam Effendi dicalonkan oleh CPN, memang dalam pemilu, dan menjadi
anggota Tweede Kamer. Roestam Effendi adalah inlander pertama yang
menjadi anggota parlemen Belanda. Posisi ini tidak pernah diduduki
oleh putra Indonesia lain mana pun. Dan siapa yang pernah mengalami
secara fisik dan mental betapa jahatnya penjajahan di Hindia Belanda
dapat memahami bahwa prestasi Roestam Effendi itu luar biasa. Sebagai
anggota Tweede Kamer Roestam Effendi dengan lantang menyatakan
mendukung Indonesia Merdeka.

Tanggal 10 Mei 1940 Nederland diserang dan diduduki oleh Nazi Jerman.
Roestam yang telah menikah dengan perempuan Belanda beruntung tidak
dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi oleh Jerman. Setelah proklamasi
kemerdekaan RI, pada akhir 1945 mulailah kembali pulang ke tanah air
para mahasiswa Indonesia yang sementara itu telah meraih gelar meester
in de rechten atau sarjana hukum. Tahun 1946 tibalah rombongan yang
membawa Dr. E.F.E. Douwes Dekker dan Roestam Effendi.

Douwes Dekker disambut mesra oleh Presiden Soekarno di Gedung Negara
di Yogyakarta. Pada tahun 1947 dia diangkat sebagai menteri negara.
Namanya diubah menjadi Dr. Danudirja Setiabudi.

Roestam Effendi tidak diberi sesuatu kedudukan dalam pemerintah RI.
Dia pergi bermukim di Solo. Walaupun dulu anggota Tweede Kamer
mewakili Partai Komunis Belanda, sekembalinya di tanah air dia tidak
bergabung dengan sayap kiri/FDR (Front Demokrasi Rakyat) yang setelah
kembalinya Musso ditransformasikan menjadi PKI atau Partai Komunis
Indonesia.

Dia memilih aktif dalam GRR (Gerakan Rakyat Revolusioner) yang juga
merupakan "rumah politik" Ibrahim Datuk Tan Malaka. Pemberontakan PKI
18 September 1948 di Madiun ditentang Roestam Effendi, Tan Malaka, dan
GRR.

Roestam Effendi tidak sampai mengalami nasib tragis seperti Tan
Malaka. Setelah penyerahan kedaulatan dia pindah ke Jakarta dan
tinggal di Jalan Sumenep dekat rumah ayahnya Soeleiman Effendi. Dia
tidak lagi aktif di bidang politik, lebih banyak tampil sebagai
budayawan, berceramah di TIM. Dia meninggal dunia sebagai the
forgotten politician, politikus yang telah dilupakan. Itulah sekelumit
cerita tentang Roestam Effendi. Dan Roestam Effendi adalah kakak atau
opa Dede Yusuf.

Keluarga Effendi

Ayah Roestam Effendi juga adalah politikus. Soeleiman Effendi di masa
muda bekerja sebagai fotograaf (tukang potret) di Sumatra Barat. Dia
pindah ke Batavia, jadi pebisnis, pendiri Effendi Bank, dan anggota
partai non-koperator yaitu Gerindo. Tatkala pecah perang dengan
Jepang, pemerintah Hindia menginternir politisi Indonesia yang
dianggapnya berbahaya. Soeleiman Effendi bersama Adam Malik diinternir
di Cilacap.

Selain Roestam putra Soeleiman Effendi adalah Bachtiar Effendi, Boes
Effendi, dan Deibel Effendi. Bachtiar pernah jadi aktor tonil Bolero
di tahun 1930-an dan berperan dalam lakon "Singa Minangkabau". Di
zaman RI dia menjabat sebagai atase pers di KBRI Italia. Boes adalah
Soekarnois, anggota PNI dan pernah menjabat atase pers di KBRI Mexico,
Manila dan Khartoum. Deibel yang memimpin pasukan pemuda Arek Suroboyo
tewas dalam pertempuran dengan militer Belanda di Jawa Timur.

Dari data tadi kelihatan betapa latar belakang Dede Yusuf ialah
keluarga politisi. Siapa tahu karena itu dia punya perbekalan tertentu
yang membuatnya bisa bertugas dengan baik sebagai wagub Jabar.
Mudah-mudahan Dede Yusuf "can deliver can perform" untuk kesejahteraan
rakyat Jawa Barat. Kita doakan.***

Penulis, wartawan senior.
citation: http://pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&id=20629

Kirim email ke