satuju!
tulisan ieu ngagambarkeun sikap urang sunda nu bijak jeung egaliter. Politik
urang sunda lain politik ekstreem tapi politik anu siger tengah atawa
moderat meureun!

Pada 29 April 2008 10:46, mj <[EMAIL PROTECTED]> menulis:

>    Dimuat *Kompas* Jawa Barat rubrik *Anjungan,*
>
> Sabtu 26 April 2008
>
>
>
>
>
> *"Siger Tengah", Jalan Politik Sunda?*
>
>
>
> *Dalam Kamus Basa Sunda RA Danadibrata, siger diartikan sebagai sejenis
> mahkota untuk perhiasan kepala pengantin atau wayang wong. Ini merupakan
> simbol bagi seseorang yang tengah melaksanakan upacara sakral, hidup menyatu
> dengan pasangan. Ini juga berarti meletakkan kearifan, kehormatan, dan sikap
> bijak sebagai hal pokok yang harus dijunjung tinggi.*
>
>
>
> Oleh Jamaludin Wiartakusumah
>
>
>
>
>
> Makna umum *siger tengah* dalam kehidupan sehari-hari adalah memosisikan
> sikap diri untuk berada di tengah. Dalam politik, itu berarti berada di
> tengah konstelasi atau katakanlah pertarungan tarik-menarik kepentingan
> beragai pihak. Berada di tengah tentu saja menjaga sikap untuk menjaga
> keseimbangan dan jarak dengan semua pihak.
>
>             Makna lain ungkapan itu adalah sikap moderat dan demokratis.
> Sikap ini bukanlah sikap netral bila netral diartikan tidak ikut campur atau
> tidak berpihak, yang berarti berada di luar atau tidak terlibat pelbagai
> masalah yang ada. Berada di tengah tidak untuk menjadi yang paling enak,
> tetapi yang paling mampu mengakomodasi kepentingan berbagai pihak. Dalam
> konteks lain, berada di tengah juga memungkinkan mengambil sikap dan
> kebijakan terbaik yang dihasilkan dari pertentangan atau gagasan yang
> muncul.
>
>             Sejarah perjuangan politik republik telah menampatkan
> Sunda-geografis dan manusianya- langsung di tengah kancah perjuangan. Dan,
> ketika republik ini merdeka, ia menjadi latar bagi berbagai peristiwa
> politik di Ibu Kota. Barangkali karena memosisisikan diri *siger tengah*,
> kehadiran tokoh Sunda berbeda gaungnya dengan politisi dari wilayah budaya
> lain. Uniknya, ketika muncul, mereka mampu menghasilkan keputusan gemilang
> meskipun kemudian tidak banyak yang *nabeuh.*
>
>             Misalnya, di tengah sidang untuk menentukan siapa yang pantas
> menjadi Presiden RI pertama, Otto Iskandardinata langsung menyebut nama Ir.
> Soekarno dan semua peserta rapat setuju. Ketika Ir. H. Djuanda mulai menjadi
> perdana menteri, Indonesia sedang* muriang* dan *hareudang*. Muncul
> pembangkangan dan pemberontakan daerah akibat kebijakan Jakarta yang
> dianggap merugikan daerah.
>
>             Dengan pendekatan khas *siger tengah*, pemberontakan dapat
> dipadamkan, tetapi tanpa memarginalkan pelakunya. Hal ini justeru kemudian
> dilakukan rezim Orde Baru pada mereka yang mencoba mengoreksinya. *Siger
> tengah* juga dapat berarti terus *keukeuh* berada di tengah perjuangannya.
>
>             Contoh yang akan terus dikenang adalah Ali Sadikin karena*keukeuh
> * dengan sikapnya demi Jakarta, dan lalu Indonesia, yang lebih baik. Ayip
> Rosidi pun *keukeuh* memperjuangan bahasa ibu Nusantara harus hidup layak
> di kampung halaman masing-masing.
>
>
>
> *Trias Politika Sunda*
>
>             Sikap *siger tengah* tecermin dalam pola pembuatan kebijakan
> model Sunda lama. Dalam naskah Sunda kuno terdapat tiga elemen utama suatu
> negara atau pemerintahan, yaitu rama, resi dan prabu. Rama adalah ayah atau
> orangtua yang dalam konteks nasional sangat boleh jadi semacam tokoh yang
> populer disebut "guru bangsa". Resi adalah penasihan spiritual atau tokoh
> yang memikirkan segi moral atau etika dari suatu kebijakan yang akan dibuat,
> sedangkan prabu adalah pelaksana kebijakan atau eksekutif.
>
>             Ketiganya berada dalam posisi sejajar dan setiap kebijakan yang
> dibuat merupakan keputusan bersama. Ketiga elemen ini tampaknya senantiasa
> menghasilkan kebijakan yang mengacu pada sikap tengah, yaitu untuk kemajuan
> sebanyak mungkin penduduk di sebanyak mungkin wilayah. Kebijakan itu lahir
> dari tengah yang menyebar luas ke segala penjuru.
>
>             Dalam alam demokratis sekarang, peran ketiga elemen itu dapat
> diakomodasi oleh pemerintahan tingkat apa pun. Caranya, antara lain,  setiap
> kebijakan penting yang dibuat, selain merupakan hasil kompromi perwakilan
> rakyat dan gubernur, juga adalah hasil masukan dari dua kategori kualitas
> (rama dan resi). Tentu saja dalam pengertian modern mereka adalah para pakar
> di bidang yang terkait dengan arah atau spesifikasi kebijakan yang dibuat.
> Model ini tampaknya sudah mulai berjalan meskipun masih bermuatan
> kepentingan politik tertentu.
>
>             Dari segi pelaksanaan barangkali model ini menyita waktu,
> tetapi manajemen waktu yang ketat dan semangat Sangkuriang akan menghasilkan
> kebijakan yang benar-benar matang. Sebab, kebijakan yang *gurung-gusuh*dan 
> tambal sulam sering tidak cukup menyelesaikan masalah. Lihatlah program
> bantuan langsung tunai (BLT). Kita melihat di televisi, orang-orang kurang
> mampu-sebagian besar orang tua- berdesakan antre di depan loket. Sebagian
> sampai pingsan. Pendekatan *siger tengah* adalah mengirimkan BLT melalui
> petugas yang mengantarkan kepada setiap penduduk di setiap wilayah, bukan
> penduduk yang harus berimpitan antre. Dengan begitu, martabat manusia
> Indonesia yang kurang beruntung secara ekonomi pun tetap dijaga.
>
>
>
> *Wibawa Pemerintah*
>
> Bila dengan ganti gubernur masalah yang dihadapi masih tetap itu-itu juga,
> apalagi dengan kuantitas dan kualitas yang sama atau malah lebih buruk,
> miliran rupiah uang rakyat yang dihabiskan untuk penyelenggaraan "pesta
> demokrasi" tersebut menjadi cenderung mubazir. Dalam hal ini perlu juga
> hitungan dagang. Dana miliaran rupiah yang dipakai untuk memilih pemimpin,
> siapapun yang terpilih, tidak hanya membuat "balik modal", tetapi harus
> dapat menghasilkan kondisi rakyat yang lebih baik.
>
>             Saya kira visi Jawa Barat ke depan tidak harus muluk seperti
> menjadi provinsi termaju. Kemajuan seharusnya sudah sesuai standar
> pencapaian karena tugas manajemen adalah membuat kemajuan, bukan hanya tugas
> rutin birokrasi. Yang lebih penting adalah bagaimana menciptakan mesin
> kemajuan yang lebih canggih dan dapat mengolah elemen yang ada untuk
> meningkatkan kesejahteraan warga. Mesin kemajuan itu adalah penguatan budaya
> atau pembangunan mental manusia. Bagian penting atau tengah dari pembangunan
> adalah membangun manusianya dengan dukungan teladan pejabat.
>
>             Kewibawaan pemerintah *model siger* tengah tidak didukung
> fasilitas mahal model feodal, sementara rakyat di pelosok harus menjalani
> hidup dengan susah payah. Kewibawaan pemerintah *siger tengah* yang
> demokratis berada pada kebijakan yang mampu membuat rakyat sejahtera,
> meningkatkan kualitas hidup dan  generasi muda memperoleh pendidikan bermutu
> untuk menjamin masa depan bangsa.
>
>             Sikap *siger tengah* juga harus menjadi dasar sikap politik
> warga Jawa Barat yang sesungguhnya sebangun dengan sistem politik demokrasi
> dengan karakter pemimpin dan aparat yang akomodatif serta membela
> kepentingan orang banyak, dengan konsekuensi mampu melahirkan kesejahteraan
> untuk semua. Bila mantan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton pernah
> melontarkan semboyan *it's economy, stupid! *Barangkali di Jawa Barat
> semboyan itu adalah *hudang, euy!*
>
> * *
>
> Jamaludin Wiartakusumah
>
> Dosen Desain Itenas Bandung
>
>
>
>
>
> 
>

Kirim email ke