Pami HB X ngareposisi perspektif ngeunaan GM jeung Sumpah Palapa bisa jadi 
lengkah gede sabab nu dianggep puseur budaya Jawa ayeuna mah Ngayogyakarta 
Hadiningrat, ari Surakarta saparantos pupusna PB XII tos turun kharismana jadi 
puseur budaya Jawa. Ieu tiasa gerakan nu ngalini sabab ti Karaton moal tebih 
lumpatna ka UGM ti UGM jalurna ka birokrasi.
Pidato HB X sae pikeun ngagosok pamikiran tapi tangtos kedah dibedel deui 
kumaha kana prakprakanana.
Wilujeng enjing,
JP
 
Makarya Mawa Raharja



----- Original Message ----
From: MRachmat Rawyani <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, May 13, 2008 4:21:48 PM
Subject: [Urang Sunda] Pidato Budaya Sultan Yogya


Mangga nyanggakeun, pidato budaya Sultan Hamengku
Buwono X kamari di UI.

baktos,

mrachmat uidipura

Membangun Etos Publik Dari Keragaman Budaya

Orasi Budaya
Merajut Etos Keindonesiaan
Dari Kemajemukan Budaya
Kampus UI Depok, 13 Mei 2008

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Salamsejahtera bagi kita semua

Yth. Bapak Rektor beserta seluruh Sivitas Akademika
UI,
Yth. Para Tamu Undangan dan segenap Hadirin yang
berbahagia,

Adalah suatu kehormatan karena saya memperoleh
kesempatan untuk menyampaikan Orasi Budaya di Kampus
Universitas Indonesia, sebuah unibersitas yang
menyandang predikat the University with World Class
Perspective. Selain itu, saya juga merasa beruntung,
karena dapat menjadi wahana pembelajaran bersama
dengan bertukar gagasan dan pengalaman. Atas
kehormatan mana, saya menyampaikan ungkapan rasa
terimakasih yang dalam disertai penghargaan yang
tinggikepada Bapak Rektor Prof. Dr. der. Soz. Gumilar
Rusilawa Somantri beserta seluruh Sivitas Akademika
Universitas Indonesia.

Berbicara tentang keragaman budaya,
kita harus selalu mengingat seloka Bhinneka Tunggal
Ika, yang lengkapnya ditulis oleh Mpu Tantular di
zaman Majapahit dalam Kakawin Sutasoma: “Bhinneka
Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa” *-biar pun kita
berbeda-beda, sesungguhnya kita itu satu, tiada
kewajiban mendua.

------------ --------- --------- --------- ---
• Kutipan Kakawin Sutasoma pupuh 139, bait5: Rwaneka
dhatu winuwus Buddha Wiswa,Bhinneki rakwa ring apan
kena parwanosen, Mangkang Jinatwa kalawan Siwatwa
tunggal, Bhinneka tunggal ika tan hana dharma
mangrwa.(Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang
berbeda. Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah
bisa dikenali? Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa
adalah tunggal. Terpecah belahlah itu, tetapi satu
jualah itu. Tidak ada kerancuan dalam Kebenaran).
Sasanti “Bhinneka Tunggal Ika” seringkali
diterjemahkan:” Berbeda-beda tetapi tetap satu”.

Konsep pluralisme seorang pujangga, di tangan Gadjah
Mada, seorang bhayangkara negara, dengan Sumpah
Palapa-nya kemudian diterjemahkan menjadi penaklukan
wilayah, yang mengekspresikan semangat ekspansionistik
dan hegemonic yang sentralistik.

Karena itu, jika kita mau mengakui secara jujur,
sesungguhnya konflik yang mengarah pada disintegrasi
bangsa sebagai dampak euphoria reformasi belakangan
ini, karena kita terlalu memitoskan Sumpah Palapa
Gadjah Mada yang dipersepsikan sebagai perekat
persatuan dan kesatuan bangsa. Padahal waktu itu
kesatuan Nusantara dilakukan dengan cara penaklukan
untuk memperluas jajahan dan meningkatkan hegemoni
kerajaan Majapahit.

Sebagai contoh, ketika membaca lembar karya Rakawi
Prapanca* dalam negara Negarakertagama, bila ada yang
melawan perintah Majapahit, maka “…mereka didatangi
pasukan ekspedisi jaladi mantry yang tak terbilang
jumlah dan mashur namanya untuk ditiadakan sama
sekali…..”. Tindakan yang diambil, dalam bahasa Jawa
kuna dengan kata-kata “wicirna-sahana” –dikirim ke
lembah ke-tiada-an, sirna, agar musnah tak berbekas
dari muka, dan bahkan dari perut bumi. Sebelum era
reformasi, “nasihat” dan “warisan” Majapahit itu
dijalankan dengan teliti ketika memadamkan
pemberontakan di daerah.

Sebaliknya, kata “merajut” adalah upaya bersama
membangun kembali “persatuan-kesatuan bangsa” dan
“keIndonesiaan kita” lewat pendekatan budaya, dengan
tekun dan juga teliti, agar keBhinneka Tunggal Ikaan
budaya etnik-etnik teranyam bagai serat-serat budaya
Indonesia yang saling menguatkan.

Dari visi kita sekarang, Sumpah Palapa itu
bertolak-belakang dengan aspirasi bangsa pluralistik,
yang pada abad 20 ditegakkan melalui Sumpah Pemuda.
Pengalaman mengajarkan, bahwa bukan semangat
kemanunggalan (tunggal ika) yang berpotensi melahirkan
kesatuan dan persatuan yang kuat, melainkan pengakuan
akan adanya pluralistis (bhinneka), dan kesediaan
untuk menghormati kemajemukan budaya bangsa Indonesia.
Inilah yang lebih menjamin persatuan dan kesatuan
serta integrasi nasional yang sustainable.

Untuk menyelematkan negeri ini kita harus berani
melakukan rethinking dan reshaping terhadap paradigma
pembangunan dengan mengedepankan nilai-nilai dan
budaya, yang harus mewujud dalam perilaku ekonomi dan
politik.

*Daniel Dakidae,”Memahami Rasa Kebangsaan dan Menyimak
Bangsa sebagai Komunitas-komunitas Terbayang”,
Pengantar Buku: “Komunitas-Komunitas Terbayang”,
Insist.Yogyakarta,
Cet.II, Oktober 2002.

Bapak Rektor dan Sivitas Akademika UI yang saya
hormati,

Dilihat dari sisi momentum, bangsa Indonesia melintasi
simpul-simpul sejarah penting tahun ini. Peristiwa
itu adalah 100 tahun Kebangkitan Nasional, 80 tahun
Sumpah Pemuda, dan 10 tahun reformasi, serta 63 tahun
Proklamasi Kemerdekaan. Ironisnya, dalam lintasan
sejarah penuh makna itu, bangsa Indonesia masih
dibelenggu oleh kemiskinan dan pengangguran serta
dibelit oleh tingkat pendidikan dan kualitas kesehatan
yang rendah. Jika harga BBM dinaikkan, meski ditopang
dengan BLT, bisa jadi jumlah orang miskin menurut BPS
pada Juli 2007 yang besarnya 37,17 juta akan meningkat
tajam, sehingga perbedaan angka kemiskinan dengan
versi bank Dunia yang besarnya 100 juta orang, tak
lagi menarik untuk diperdebatkan.

Bersamaan dengan krisis energi itu, banyak negara maju
berusaha mengekstrak stok bahan pangan menjadi bahan
bakar terbarukan dari sumber nabatai (bio-fuel).
Awalnya memang dimaksudkan buat menjaga lingkungan.
Namun kini berdampak negatif, yang menyebabkan harga
pangan dunia ikut melambung tinggi, menandai
berakhirnya era pangan murah. Sehingga kini kita
dihadapkan pada krisis ganda, energi dan pangan, 
Tidak mengherankan jika sebagai negara demokrasi
terbesar ketiga di dunia, kualitas penduduk Indonesia
yang sekarang hanya ada di peringkat 107 dari 177
negara (UNDP, 2007), bisa jadi akan merosot ke
peringkat bawah.

Menggeser Paradigma Pembangunan
Situasi Indonesia yang dalam batas-batas
tertentu bisa disebut sudah patologis tersebut
sebenarnya merupakan sebuah realitas keganjilan.
Padahal negeri ini kaya-raya bukan hanya dalam ukuran
sumberdaya alam tetapi juga melimpahnya SDM. Sejauh
ini etiologi keganjilan tersebut cenderung disebabkan
ada sekelompok elite yang bermain kekuasaan untuk
memperkaya diri sendiri, dan adanya keselahan dalam
tata ekonomi-politik, yang dinilai telah gagal
menyejahterakan rakyat

Tanpa mengabaikan signifikansi kedua
variabel tersebut dalam “menghambat” terwujudnya
masyarakat yang adil dan makmur, saya lebih suka
melakukan pembalikan cara berpikir. Akar kemiskinan
kita selama ini sebenarnya bukan disebabkan
semata-mata oleh pejabat yang kurang amanah dan kurang
baiknya tata kelola politik-ekonomi saja, tetapi
bersumber pada akar dari paradigma pembangunan itu
sendiri.

Selama ini, sepertinya kita selalu meletakkan
“pertumbuhan”, dan tidak pernah meletakkan “keadilan”
sebagai jiwa dari paradigma pembangunan. Bahkan kita
pun malas untuk melakukan sintesa sebagai upaya
mensintesakan keduanya secara sinergis. Akibatnya,
pertumbuhan ekonomi yang terjadi, faktanya, tidak
berkorelasi lurus dengan tingkat kesejahteraan dan
keadilan rakyat.

Meletakkan “keadilan” dalam jantung paradigma
pembangunan berarti mendasarkan pembangunan bukan
hanya dalam artian ekonomi semata yang cenderung
mengabaikan ruang (geografi fisik dan sosial), tetapi
berbasis pada ruang dan gerak komunitas. Pendeknya, ia
berbasis pada kearifan budaya lokal. Sebab budaya
lokal tidak akan bisa bertahan sampai kini, jika
nafasnya bukan keadilan dan pemerataan bagi semua
penghayat budaya bersangkutan. Inilah sejatinya
koordinat dari paradigma pembangunan nasional.

Tetapi kearifan budaya lokal tersebut tidak boleh
disandera dalam terali yang memusat (sentralistis) .
Sekali disandera, dia tidak akan responsif terhadap
perubahan, terutama jika perubahan tersebut terjadi
secara mendadak. Sebaliknya, jika tidak memusat
(neosentralistis) , dia akan lentur menghadapi
tantangan jaman. Dalam konteks ini, seiring dengan
kebijakan otonomi daerah, setiap wilayah secara otonom
bisa menjadi pusat-pusat kebudayaan. Karena entitas
budaya bersifat otonom dan menentukan hitam-putihnya
kualitas peradaban.

Dengan memahami kearifan budaya lokal sebagai
konstruksi imajiner kebudayaan, maka koordinat
paradigma pembangunan tersebut secara otomatis berada
dalam medan magnet pluralisme keindonesiaan. Di sini
bukan lagi waham pertumbuhan ekonomi yang dikejar,
tetapi keadaan yang lebih adil, merata, dan manusiawi
bagi seluruh pewaris kearifan budaya lokal tersebut.

Aksi, Bukan Posisi
Agar paradigma pembangunan yang berbasis budaya
tersebut bisa bekerja dengan baik, maka setiap warga
bangsa perlu berproses menjadi negarawan. Tiap budaya
lokal dengan
nilai kearifan masing-masing akan melahirkan kualitas
kenegarawanannya sendiri-sendiri. Dari satu wilayah di
sudut pulau Sumatra, misalnya, akan lahir negarawan
saudagar. Juga muncul negarawan petani, negarawan
petani, nelayan, buruh seniman, guru dan lain-lain
dari sudut-sudut belahan Indonesia yang lain. Jika
gerak komunitas ini terjadi, maka bukan hanya
kedaulatan pangan yang mampu kita rengkuh, tetapi juga
human dignity dan social justice.

Adalah menjadi tugas pemimpin yang juga sedang
berproses menjadi negarawan- termasuk para dosen dan
sivitas akademika Universitas Indonesia – untuk
melakukan aksi, dan bukan sekedar mengejar dan
mempertahankan posisi. Aksi itu adalah tindakan yang
dilandasi prinsip “kehilangan harta berarti tak
kehilangan apa-apa, kehilangan nyawa berarti
kehilangan sebagian, kehilangan kepercayaan berarti
kehilangan segalanya.”(Kelangan saakehe raja-brana
ateges ora kelangan apa-apa, kelangan nyawa iku tegese
mung kelangan separo, kelangan kepercayaan tegese
kelangan sekabehe, Jw).

Saya percaya, bahwa kebangkitan Bangsa Indonesia,
harus dimulai dari kesepakatan kita untuk menghargai
pluralisme dan menjadikan kebudayaan sebagai
koordinat paradigma pembangunan nasional. Paradigma
ini mungkin tidak akan membuat kita kaya, tetapi akan
menyebabkan kita bebas.

Bapak Rektor dan Sivitas Akademika UI yang saya
hormati,

Bertolak dari pandangan ini, maka kebhinnekaan yang
potensial menjadi pemicu terjadinya “nation bleeding”,
sebaliknya harus didayagunakan sebagai faktor perekat
“nation building”. Namun, semakin tinggi tingkat
keanekaragaman dan kemajemukan masyarakat, ekuivalen
dengan tingkat kualitas kesulitan yang bakal dihadapi.
Terutama ketika terjadi proses modernisasi yang
diikuti oleh mobilitas social dan geografis, lalu
diiringi oleh meningkatnya kualitas masalah-masalah
etnik, seperti prasangka, ketegangan dan konflik.

Dalam upaya menjadikan Bhinneka Tunggal Ika sebuah
strategi integrasi bangsa, dapat dilakukan melalui
pendekatan budaya, dimana setiap kelompok budaya
saling menyapa dan mengenal, untuk selanjutnya saling
memberi dan menerima. Sekaranglah saatnya kita
mengukuhkan persatuan dan kesatuan bangsa yang tidak
sebatas tawar menawar politik, tetapi dengan tawaran
kehidupan budaya yang lebih hangat.

Keragaman geografis negara kepulauan Indonesia,
menghadirkan variasi ekosistem dan keragaman sistem
nilai dan realitas yang hidup di tengah masyarakat.
Latar belakang suku-suku telah berkembang dengan
sejarah lokal yang panjang, merupakan khasanah
keragaman yang kemudian menemukan momentum penting
untuk bersatu membentuk negara Indonesia.

Bhinneka Tunggal Ika adalah sumber semangat, kearifan
dan kekuatan bangsa, yang dapat menyadarkan bangsa ini
setiap menghadapi cobaan, kemelut dan krisis,
sekaligus guna merajut kembali persatuan dan kesatuan
yang telah retak, menuju the dream land: Indonesia
Baru yang lebih baik, Sehingga dengan keBhinneka
Tunggal Ikaan budaya-budaya etnik Nusantara justru
dapat digunakan sebagai modal berharga guna merajut
KeIndonesiaan kita.

Akhir kata, semoga Tuhan Yang Maha Kuasa berkenan
melimpahkan kepada kita semua:
Kepedulian, kebersamaan, saling percaya, kesabaran,
kekuatan, dan determinasi dalam upaya bersama
Membangun Etos Publik dari Keragaman Budaya.

Sekian, terima kasih.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jakarta, 13 Mei 2008

Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat

Hamengku Buwono X

 


      

Kirim email ke