Ieu aya sertan Muhamad maruf...anu teu asal nyos..alias borohol..tapi aya
elmu finansial moneterna............

18 April 2008
 Defisit Ganda Mengintai
Kita<http://muhruf.blogspot.com/2008/04/defisit-ganda-mengintai-kita.html>

Penggunaan pembiayaan defisit anggaran yang tidak produktif atau langsung
mendorong kemampuan ekonomi berpotensi menimbulkan *defisit ganda* atau twin
deficits. Yaitu, *defisit APBN dan neraca pembayaran (balance of
payment)*yang terjadi dalam waktu bersamaan.

Situasi itu mencerminkan posisi suatu negara *yang amat tergantung dari
bantuan luar negeri*. Sebab, status ini membuat siapapaun status negaranya
membuatnya menjadi *negara gali lobang tutup lobang dengan utang*. Keluar
dari kemelut defisit ganda mudah, *tapi sangat pahit.
*
Menko Perekonomian Boediono pernah mengatakan, obat jangka pendek keluar
dari situasi itu hanya satu, *yakni memotong anggaran subsidi, dan itu pasti
tidak disukai oleh rezim yang berkuasa*. Dalam konteks ini, menurutnya
ada *tiga
potensi pemicu* defisit ganda bisa terjadi di Indonesia.

Ketiganya *kesalahan arah kebijakan defisit APBN*, *nilai tukar rupiah dan
neraca modal dalam neraca pembayaran*. "Kalau tidak pas, ya ahirnya bisa ke
sana. Tapi, khususnya kebijakan kurs dan capital account kita sekarang oke,"
katanya, baru-baru ini di Jakarta.

Direktur Perencanaan Makro Bappenas Bambang Prijambodo menuturkan, arah
defisit yang salah seperti *dipakai untuk belanja barang pemerintah*, dan
bukan *untuk infrastruktur pendorong ekonomi, khususnya ekspor*. Kemudian,
arah kurs yang salah *bila justru melemahkan nilai ekspor*, dan pengelolaan
neraca modal salah bila rentan terjadi pembalikan cepat dana asing atau *
redemption.*

*Defisit ganda* yang *dipicu defisit anggaran* karena *belanja
mubazir*dicontohkan Meksiko dan Argentina pada tahun 1990-an. Mereka
menggelembungkan defisit *dengan utang*, untuk kegiatan tidak produktif
ekonomi. Negara-negara ini, terjerembab karena salah besar arah kebijakan
ekonomi politiknya.

Sementara *Amerika Serikat yang mengalaminya sejak 2000 hingga
sekarang*menjadikannya contoh negara yang
*terkena defisit ganda akibat beban subsidi atau pembiayaan social security*.
Terlepas dari *anggaran militer yang melonjak akibat invasi ke Irak*,
masalah mereka juga dipicu defisit neraca perdagangan serius, khususnya
dengan China.

*Membawa masalah ini ke dalam negeri, pada situasi pembengkakan defisit
RAPBN Perubahan 2008--yang tanpa langkah pengamanan mencapai 4,2%-- akibat
harga minyak dan pangan meroket, tampak risiko defisit ganda tengah
mengintai Indonesia. Ini ditambah anomali, minyak mahal ditengah
perekonomian dunia yang memang sedang melambat.

*Singkatnya, ancaman itu bisa dimulai dari tujuan defisit RAPBN P 2008
sendiri. Menyimak alasan pemotongan 15% anggaran kementerian/lembaga, dengan
mengorbankan ongkos pejabat, dan kegiatan tidak produktif birokrasi tampak
kita seperti AS. Apalagi, pemerintah sudah menegaskan bila harga minyak
sekitar USD110 per barel, *subsidi bisa melonjak hingga Rp300 triliun*.

Posisi subdidi seperti dikemukakan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati
adalah beban dalam APBN. "Subsidi tidak produktif," katanya dalam rapat
kerja dengan DPD, di Jakarta baru-baru ini. Menggelembungnya anggaran
subsidi energi akibat harga minyak dunia, benar-benar telah menggerus ruang
fiskal untuk *mendorong perekonomian nasional.

*Dengan pendapat ini, sangat beralasan kebijakan *anggaran telah menjurus ke
arah tidak produktif, karena tidak ada kaitan langsung dengan peningkatan
membayar utang.* Ini adalah, pemicu defisit ganda sebab *menggerus
peluang*memperbesar dana anggaran produktif infrastruktur investasi
dan belanja
modal pemerintah lainnya.

*Subsidi BBM juga beban* karena sulit *mengukur korelasi perbaikan daya beli
masyarakat dengan besar anggaran yang digelontorkan*. Ia memiliki hubungan
dengan neraca modal, karena *posisi Indonesia adalah net importir*, *bukan
pengekspor BBM*. *Artinya, semakin besar volume subsidi, jumlah devisa
tergerus, sehingga neraca pembayaran semakin tertekan.

*Diambang Defisit
Selanjutnya, situasi perlambatan ekonomi dunia menghantui neraca pembayaran
Indonesia dengan defisit. Seperti dipaparkan pemerintah dalam dokumen amanat
presiden RAPBN

Perubahan 2008, *situasi dunia semakin tidak bersahabat*.

"Pergerakan harga minyak... melambatnya pertumbuhan ekonomi dan volume
perdagangan dunia, membawa pengaruh yang signifikan terhadap kinerja
perdagangan luar negeri Indonesia".

Melesunya permintaan dunia berdampak serius terhadap *neraca ekspor nonmigas
*, sehingga mengurangi perolehan cadangan devisa. Sebenarnya, nilai
transaksi berjalan oleh ekspor bisa surplus devisa hingga USD31,4 miliar,
tetapi defisit besar pada neraca jasa membuatnya *hanya surplus USD8,7
miliar.
*
Ketergantungan terhadap forwarder asing mengangkut barang ekspor dan impor,
serta *maskapai domestik yang tidak laku dalam mengangkut para
turis*merupakan ancaman besar bagi defisit neraca pembayaran. Nilai
defisit yang
terus membengkak, tahun ini diperkirakan minus USD22,7 miliar *perlu
disikapi secara serius*.

Memang, dalam estimasinya, neraca pembayaran tahun ini masih bisa surplus
USD13,3 miliar. Selain sumbangan transaksi berjalan, diperkirakan karena
neraca modal dan finansial yang surplus USD4,6 miliar. Kalkulasi pemerintah,
itu dari penarikan utang luar negeri menjadi USD9,9 miliar dan *melonjaknya
arus uang panas di pasar uang* sebesar USD3,5 miliar dari estimasi semula
USD1 miliar.

Tetapi membanggakan diri dari surplus neraca pembayaran dengan kalkulasi itu
jelas kurang bijak. Alasannya, sebab surplus neraca perdagangan *hanya
bertumpu pada ekspor nonmigas berbasis sumber daya alam, sehingga hanya
kenikmatan sesaat.

*Demikian pula, surplus neraca finansial yang mengandalkan aliran modal
jangka pendek *lewat lantai bursa berisiko tinggi*. Seperti akhir-akhir ini
diberitakan, pengumuman suku bunga acuan oleh The Fed , *pada hari libur
saja* telah mengoreksi aliran modal asing di bursa. Apalagi, ada berita yang
lebih mengejutkan di luar sana.

Selebihnya, penarikan utang luar negeri sebesar itu tidak bisa
menyembunyikan membengkaknya cicilan utang luar negeri, yang menggerus
devisa USD6,7 miliar tahun ini. *Alhasil, ini adalah tutup lobang gali
lobang*, terlebih surplus utang jadinya sekitar USD2,3 miliar, *itupun bukan
untuk pembiayaan produktif, atau guna membayar subsidi.

*Pada akhirnya, tidak relevan lagi mempertanyakan apakah defisit APBN 2008
yang terus meroket *membuat neraca pembayaran juga defisit*. Sebab, tanpa
itupun neraca kita sudah mengarah ke defisit, akibat komposisi yang tidak
sehat.

Yaitu belum bisa menjadikan arus modal jangka panjang, ekspor produk
industri sebagai penopang utama surplus neraca pembayaran. Yang terjadi,
justru lonjakan dari tahun ke tahun defisit neraca jasa, dan
menggelembungnya arus modal jangka pendek yang berpotensi menimbulkan bubble
economy.

Apalagi, telah jelas bahwa *kebijakan defisit saat ini bukan untuk ekspansi
ekonomi*, melainkan *membiayai kegiatan tidak produktif*.

*Defisit atau subsidi adalah ongkos politik menuju kursi RI-1 tahun 2009
yang berharga sangat mahal, dan semakin mempercapat defisit neraca
pembayaran Indonesia...Selamat datang twin deficits!. (muhammad ma'ruf)*

Kirim email ke