Solusina Bung penulis..ulah ngagerendeng wae. Solusi anu operasional ! mangga.
On 5/19/08, kabarindonesia <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Tanggal 20 Mei 2008 ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, tetapi > rasanya lebih cocok kalau disebut sebagai "Hari Keterpurukan > Nasional" (HARKITNAS = Hari Sakit Nasional), masalahnya prestasi apa > yang bisa kita banggakan sebagai kebangkitan nasional, terkecuali > harga BBM maupun harga bahan pangan yang benar-benar bangkit; > melejit bangkit terus menerus tiada hentinya. > > Prestasi yang kita miliki di hari Kebangkitan Nasional ini adalah: > 60% pengangguran dan menurut Education Watch Indonesia (EWI) 36,73 % > anak putus sekolah dan puluhan juta anak tak tertampung entah di > bangku SD maupun perguruan tinggi. Lebih dari 5,1 juta balita > bergizi buruk, bahkan 50% atau 2,6 juta terancam mati kelaparan. > > Dalam bidang olahragapun tidak beda jauh, ternyata impian yang sudah > lebih dari 12 tahun lamanya untuk dapat merebut kembali Piala Uber > telah pupus, karena keok sama China. Tapi beruntung bangsa kita ini > termasuk manusia sabaran, sehingga masih bisa menunggu untuk 12 > tahun mendatang. > > Bahkan tanpa perlu diragukan lagi, kita sekarang sudah bisa > menyanyikan lagu; "Dari Sabang sampai Merauke; Indonesia Mati > Kelaparan", karena mahalnya harga bahan pangan. Lihat di Aceh saja > sudah 23 anak mati, karena busung lapar dan ini terjadi bukan > sekedar di Aceh saja melainkan hampir di seluruh tanah air hingga > Papua. > > Apa salah apabila kita memberikan laporan kepada yang berkuasa di > negeri ini: "Lapor Pak, kami Lapar !" Hanya dengan entengnya dijawab > oleh JK: "Itu kan hanya di Koran. Kita memiliki beras cukup, apanya > yang kurang, bahkan pemerintah sudah memberikan Raskin (Beras untuk > orang miskin) !" (Sumber SCTV – 6 April 2008). Memang beras di toko > sih banyak, hanya rupanya walaupun ia seorang saudagar, tapi tidak > menyadari bahwa beras itu harus dibeli bukannya pakai batu, tapi > pakai uang yang tidak dimiliki oleh rakyat. > > Pernahkah Anda makan raskin, selainnya tidak sehat juga bikin orang > sakit ditenggorokan. Raskin ini sebenarnya hanya layak untuk > dijadikan umpan ayam. Maka dari itu mang Ucup usulkan bagaimana, > apabila pada bulan puasa mendatang ini, para pejabat tinggi mulai > dari President s/d Bupati tidak perlu puasa lagi, melainkan sebagai > gantinya makan raskin sebulan penuh. > > Boro-boro harga beras biasa, harga raskin yang dihargai pemerintah > Rp. 2.000 sudah tidak terjangkau, maka tidaklah heran apabila ada > orang yang mengatakan: "Lebih baik aku makan Racun > yang "Mengenyangkan" daripada aku harus Mati Kelaparan !" Lihat saja > Nyonya Base dan anaknya yang mati kelaparan. > > Berdasarkan berita hari ini di Jerman ada sekitar 13% penduduknya > miskin, hanya bedanya disana orang sudah dinilai miskin apabila > penghasilannya dibawah Rp 11.700.000,-- per bln/per orang. Sedangkan > pemerintah Indonesia orang baru bisa/boleh dinilai miskin, apabila > pendapatan per harinya dibawah Rp. 5.500. > > Dengan dengan uang Rp 5.500 boro-boro bisa makan sehari tiga kali > untuk untuk makan/minum sehari DUA kali (2 x Rp 3.000) saja tidak > cukup. Nasib manusia di sini lebih buruk daripada hewan yang tidak > perlu rumah, pendidikan, maupun sabun. > Harga BBM dari Rp 4.500 akan naik menjadi Rp 6.000 per liter, banyak > pejabat menilai bahwa ini hanya berpengaruh bagi wong gede-an yang > punya mobil saja, tetapi rupanya mereka itu buta, bahwa wong cilik > juga harus naik angkot/bis; begitu juga nelayan yang butuh BBM untuk > melaut. Imbasnya bagi rakyat kecil; ini berlipat kali ganda jauh > lebih buruk, sudah harga sembako naik, otomasis harga pangan pun > akan dinaikan lagi, karena adanya kenaikan harga BBM. > > Harga BBM naik dengan alasan harga minyak di pasaran dunia juga > naik, tapi mereka rupanya lupa, bahwa Indonesia adalah penghasil > export minyak, seharusnya kenaikan harga BBM ini menjadi berkah bagi > rakyat, bukannya kebalikan menjadi kutukan. Sebagai perbandingan > harga BBM di Venezuela hanya Ro 460/liter, Nigeria Rp 920/liter, > Iran Rp. 828/liter, sedangkan di Indonesia akan menjadi enam kali > lipat jauh lebih mahal daripada di negara-negara tsb diatas. > > Cobalah renungkan oleh Anda, misalnya Exxon Mobil saja; berdasarkan > laporan resmi di tahun 2007, mereka telah bisa meraup keuntungan > sebesar 40,6 milyar Dollar As = Rp. 3.723.20 Triliun Rupiah atau > hampir Rp 12 juta per detik. Keuntungan dari Exxon Mobil ini, bahkan > melebihi daripada Produk Domestik Bruto (PDB) 120 negara di kolong > langit ini. > > Disinilah letak keanehannya, kok rakyat Indonesia, sebagai pemilik > ladang minyak, bukannya kecepretan keuntungan, bahkan dibebankan > dengan lebih banyak lagi hutang maupun kenaikan harga BBM yang sudah > tinggi menjadi lebih tinggi lagi. Maka benarlah ucapan dari Kwik > Kian Gie, dimana ia mengucapkan dengan adanya kenaikan harga BBM di > pasaran dunia, seharusnya penduduk Indonesia, bukan saja harga BBM > harus bisa diturunkan, tetapi juga memiliki dana lebih yang bisa > disalurkan untuk kesejahteraan rakyatnya. > > Tetapi "Don't wori en bi hepi-lah", sebab dimata dunia Indonesia itu > hebat, wong bisa nyumbang satu juta AS$ untuk para korban topan di > Birma, bukankah ini sama seperti juga "Monyet di hutan disusui; > sedangkan anak dirumah mampus kelaparan" > > Maka dari itu sudah tiba saatnya dimana kita harus merubah > perkataan "Who Care" – EGP (Emangnya Gw Pikirin), menjadi "I Care" > atau "YA, Saya Pikirkan dan Saya Perduli!" > > Usul mang Ucup; apabila Anda merasa tidak puas dengan keadaan di > negeri ini, ungkapkanlah ketidak puasan Anda ini dengan "Daftar Jadi > Penulis" di www.kabarindonesia.com, koran tempat berdemo-ria secara > intelektual; jadi bukannya melalui demo dijalanan. > > Mang Ucup > Email: [EMAIL PROTECTED] <mang.ucup%40gmail.com> > Homepage: www.mangucup.net > > >

