wargi sadaya 
ieu, aya cerita perjalanan , 
ka daerah garut selatan, 
mulai ti garut - bayongbong-cikajang- sampai ka pantai pameungpeuk 
ti lereng gunung cikuray sampai ka pantai cilautereun.
mugi aya mangpaat na
salam 
Wardi

----- Forwarded Message ----

deburan ombak , bagaikan tak lelah berlarian menyapu tepian pantai, 
ombak tak pernah beristirahat sejenak pun, 
sejak dari pagi, siang, malam, bahkan sejak dahulu kala.
hempasan gelombang ombak yang begitu perkasa berlarian ke tepi pantai , 
kemudian hanya akan menjadi buih air yang lemah kemudian sirna di bibir pantai
untuk kemudian surut lagi ke laut.

ada gemuruh deburan ombak tanpa henti di tepi pantai, 
namun ada pula diam nya alam, dalam keheningan di atas gunung

demikianlah alam ini, ada sepi, tenang namun ada juga suara keras, gerakan 
tanpa henti, 
bagi alam diam dan bergerak, adalah bagaikan dua bagian mata uang yg tak 
terpisahkan.
alam adalah juga gambaran betapa alam ini telah diatur dengan begitu sempurna 
nya.

seandainya pun kita sedang diam, tidur sekalipun, 
tapi organ2 tubuh kita tetap bergerak tanpa henti,
jantung berdegup, darah mengalir, paru2 bernafas, 
semuanya bergerak tanpa henti sejak kita dilahirkan ke dunia ini..

begitu lah pula alam ini, tak berhenti bergerak,
namun bukan bergerak sembarangan, alam bergerak dengan penuh keteraturan.
pastilah ada Maha Penggerak dan Maha Pengatur, 
yg mengatur ini semua, Tuhan yg Maha Kuasa.

Allah, pengatur dan pencipta kita semua, 
tak ada hentinya mengatur alam ini, 
tak ada hari ahad untuk sekedar istirahat bagi Sang Maha Pengatur.
Kita sebagai manusia, makhluk ciptaan nya, 
ada kelelahan sehingga perlu istirahat sejenak

bilamana organ2 tubuh kita pun berhenti bergerak,
itulah saat kematian menjemput kita, 
namun walau jasad ini tak bergerak lagi, 
tapi ruh, jiwa ini tetaplah bergerak, 
beterbangan menuju ke alam akhirat.

demikian renungan saat berada di tepi pantai pasir putih yg indah 
selepas perjalanan jauh dari pegunungan
saya dan teman2 melakukan perjalanan bersepeda, 

mulai dari pegunungan daerah priangan, sekitar Garut
berjalan ke arah selatan, sampai ke pantai selatan jawa barat di daerah 
Pameungpeuk , Garut selatan
Dari kota Garut ke arah selatan, tampak menjulang tinggi gunung cikuray yang 
puncaknya tertutup awan, 
di samping kanan berdiri tegar gunung guntur yg ke sampingnya berjajar 
pegunungan sampai gunung papandayan

ke dataran tinggi diantara celah 2 gunung tinggi itulah kita melakukan 
perjalanan mendaki yg melelahkan
saat sampai ke dataran tinggi daerah cikajang, dimana terhampar luas kebun teh 
dan hutan pinus

hamparan kebun teh yang bertambah indah dengan pepohonan penuh warna di 
sekitarnya.
kesenyapan menyergap kita saat berada di tengah keheningan alam yg indah 
tersebut
sunyi, sepi, alam serasa diam, hanya awan di langit lah yg bergerak, 
jarum jam pun serasa tak berdetak walau sedetik pun

pada perjalanan selanjutnya gunung gelap yg rimbun di daerah cisompet menaungi 
siang terik mentari, 
dan lambaian pohon kelapa di tepi pantai pameungpeuk menyapa mesra di akhir 
perjalanan.

dalam perjalanan jauh ini mendaki bukit, menuruni lembah, kita pun tak lepas 
dari kelelahan, 
sehingga di tengah perjalanan kita sering istirahat, sekedar minum , melepas 
lelah
"wong urip mung mampir ngombe", kata orang Jawa,
hidup ini bagaikan perjalanan, hanya mampir sejenak.
namun bila telah tiba di ujung daratan, bertepi lautan
perjalanan pun berakhir sudah, disanalah peristirahatan terakhir
kalau dibandingkan dengan perjalanan hidup, 

saat akhir jalan di tepi pantai,  
itulah batas antara kehidupan dunia dan akhirat, 
laut luas yg terhampar di tepi pantai, 
adalah bagaikan alam akhirat, yg tak kita ketahui betapa dalam dan luas nya.

saya coba masukkan jari ke pasir pantai dan mengamati tetesan air yg jatuh, 
sangat sedikit dibanding air di samudra yg terbentang luas di hadapan.
demikian lah kata hadis nabi, perbandingan ilmu manusia dengan ilmu Allah, 

sangat sedikit yg kita ketahui, dari misteri alam kehidupan ini...
namun kesombongan sebagian manusia tak mau menyadarinya

matahari pun mulai tenggelam ke ujung samudra, 
lampu2 perahu nelayan yg hendak melaut mulai mengisi cakrawala yg menjelang 
gelap..
dari kejauhan terdengar suara adzan magrib mengalun merdu,
menimpali suara deburan ombak
"hayya alal falah" , marilah menuju kebahagiaan, demikian seruan dari mesjid, 
namun tak semua manusia mau memahami panggilan tersebut, 

matahari pun telah tenggelam di ufuk samudra, 
menjelang malam gelap, manusia pun mulai beristirahat, 
namun ombak tetap berlarian tak pernah beristirahat walau sejenak pun

baca selengkapnya ; 
http://hdmessa.wordpress.com/2008/06/02/ombak-yang-tak-pernah-lelah/

salam deburan ombak, dari tepi pantai santolo, 
cilautereun, pamengpeuk,garut selatan , jawa barat
dekat stasiun percobaan roket LAPAN, 
tak jauh dari situs purbakala ditemukan nya kuno prasasti cilauteureun


      

Kirim email ke