Gunung Malabar, Melebar ke Semua Arah

GUNUNG Malabar yang membentengi bagian selatan Kota Bandung. Jauh
sebelum bangsa Eropa datang di Tatar Sunda, nama Malabar sudah dikenal
dan diabadikan sebagai nama kerajaan.* HARRY SURJANA/"PR"

Bila pandangan diarahkan ke selatan Kota Bandung, akan terlihat gunung
yang membentengi cekungan ini dari sisi selatan. Karena wujudnya yang
mengagumkan, Gunung Malabar mempunyai arti yang sangat strategis dalam
kehidupan masyarakat, baik estetika, religi, sosial, maupun ekonomi.

Hawa yang dingin dengan limpahan hujan yang cukup, lereng gunung ini
memberikan keberkahan yang luar biasa. Setiap bagian dari lerengnya
menyajikan kesempatan pada berbagai tanaman untuk tumbuh subur.

Keberlimpahan alam ini dimanfaatkan dengan baik oleh penjajah Belanda
untuk membuka perkebunan teh di lereng-lerengnya. Karena
pengelolaannya dilakukan dengan kesungguhan hati dan pengetahuan,
hasilnya pun sangat menggembirakan.

Selimut halimun membungkus permadani hijau pucuk-pucuk teh yang
terhampar berbukit-bukit. Perkebunan teh tumbuh subur di lereng Gunung
Malabar, berkembang pesat di tangan Karel Albert Bosscha (15 Méi 1865
- 26 November 1928), pengusaha dermawan yang kematiannya ditangisi
banyak orang. Hatinya sebening embun pagi yang bergelantungan di
halusnya pucuk-pucuk teh. Kenangan akan Bosscha abadi, kebaikannya
terasa hadir bersama dinginnya halimun putih yang melayang-layang di
perkebunan.

Kualitas teh dari perkebunan ini sangat istimewa sehingga nama Malabar
yang menempel pada nama perkebunan itu semakin termasyhur ke seantero
jagat.

Nama Malabar yang menempel pada nama Perkebunan Teh Malabar semakin
dikenal di dunia dengan dibuatnya film dokumenter oleh Andre de la
Varre yang berjudul "The Story of Tea" tahun 1937, berselang 9 tahun
setelah K.A. Bosscha wafat. Film bisu hitam putih yang asli dibuat
pada film 35 mm. Ini menceritakan tentang proses pabrikasi teh, mulai
dari kebun, para pemetik teh di kebun, pekerja di pabrik, prosesnya,
hingga pengiriman ke pelabuhan dan pengapalannya dari pelabuhan
Cirebon untuk menuju kota-kota dunia.

Film ini diakhiri dengan gambaran laut yang luas, di atas dek kapal
terdapat kursi-kusi santai yang di mejanya terdapat cangkir-cangkir
berisi air teh.

**

Nama Malabar bertambah terkenal ketika radio komunikasi Malabar
memancar dari lembah kompleks Gunung Malabar, memperlancar komunikasi
antara penjajah dan negara jajahannya di Hindia Belanda.

Namun, sesungguhnya jauh sebelum bangsa Eropa datang di Tatar Sunda,
nama Malabar sudah dikenal dan diabadikan dalam nama kerajaan.
Kerajaan Malabar (abad IV-V M) adalah satu di antara 46 kerajaan
wilayah di bawah Kerajaan Tarumanagara, seperti yang tercantum dalam
pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara, yang merupakan prosiding
seminar yang dipimpin oleh Pangeran Wangsakerta dari Keraton Cirebon
tahun 1677 M.

Di mana lokasi bekas kerajaan Malabar itu? Ini pekerjaan rumah yang
belum pernah dijawab. Tampaknya untuk berhipotesis di mana lokasi
bekas Kerajaan Malabar pun kita tak mampu.

Nama Malabar sudah sangat terkenal pada saat itu, boleh jadi di
puncak-puncaknya ada tempat-tempat yang disucikan sehingga seorang
Bujangga Manik, rahib Kerajaan Sunda pada abad ke-15 sudah sangat
mengenali gunung ini. Bujangga Manik menulis gunung ini dengan sebutan
Bukit Malabar, seperti yang ditulisnya dalam perjalanan sucinya
mengelilingi Pulau Jawa dan Pulau Bali.

"….Sadari aing ti inya,
cunduk ka Mandala Beutung,
ngalalar ka Mulah Beunghar,
landeuheun ka Tigal Luar,
ka tukang Bukit Malabar,
ka gédéng Bukit Bajogé…."

Lalu, apa arti kata malabar yang sangat termasyhur melewati rentangan
zaman? Kata malabar sesungguhnya tidak biasa terdengar dalam ucapan
bahasa Sunda sehingga orang selalu menghubungkan kata ini dengan nama
tempat yang ada di India.

Namun, Jonathan Rigg. (1862) berpendapat lain. Bisa jadi malabar
berasal dari kata labar-lébér atau lébér-labar, yang berarti meluber,
melebar ke semua arah. Penambahan awalan ma, yang sekarang menjadi
tidak produktif dipergunakan dalam bahasa Sunda, namun dalam bahasa
Sunda lama hal itu sudah biasa sehingga menjadi kata yang
menggambarkan keadaan atau peristiwa yang terjadi, dan menjadi enak
diucapkan. Seperti kata lébér menjadi malébér, labar menjadi malabar,
rieus - marieus, seuseup - manyeusep, dan lain-lain.

Tampaknya, penamaan itu erat kaitannya dengan geomorfologi, bentuk
muka bumi gunung ini yang besar, yang lereng-lerengnya meluber,
melebar ke semua arah. Letusannya pada masa prasejarah, laharnya
meluber mengisi lembah-lembah hingga jauh ke utara mengisi bagian
tengah dari Cekungan Bandung. Pastilah saat letusan dahsyat terakhir
itu pun, manusia Bandung belum menghuni tempat ini.

Gunung yang berada pada garis lintang 7.13°S-7°8`0"S dan garis bujur
107.65°E-107°39`0"E ini menjulang setinggi 2.321 m dpl, tidak
digolongkan ke dalam gunung api aktif karena gunung ini tidak
diketahui letusannya dan sudah lama padam, atau sedang beristirahat
menghimpun kembali energinya untuk kembali meledak?

Bila dilihat dari Kota Bandung, lereng-lerengnya sudah teriris-iris
oleh kekuatan air. Dalam jangka waktu yang panjang, kekuatan air itu
telah mengerosi lereng membentuk lembah-lembah yang dalam dan lebar.
Kenyataan ini menunjukkan bahwa umur Gunung Malabar sudah tergolong
tua.

Kapan Gunung Malabar aktif dan kemudian ambruk, masih menyimpan
teka-teki. Banyak pendapat mengenai hal ini, tetapi belum ada yang
menyintesiskan dengan baik, masih berupa kepingan-kepingan yang
terpisah. R. Soeria-Atmadja, et al. (1991) dalam tulisannya, The
Tertiary Magmatic Belts in Java, menulis bahwa gunung ini aktif antara
4,4 - 2,6 juta tahun yang lalu. Kemudian, Edy Sunardi (1996) dalam
disertasinya, "Magnetic Polarity Stratigraphy of the Plio-Pleistocene
Volcanic Rocks around the Bandung Basin, West Java, Indonesia",
diketahui umur aliran lava di kaki Gunung Malabar, yaitu di tiga
tempat di Gunung Koromong, Baleendah, hasilnya menunjukkan bahwa lava
di sana berumur 3,40, 3,07, dan 2,87 juta tahun yang lalu.

Dalam peta geologi lembar Garut dan Pameungpeuk yang dibuat M. Alzwar,
N. Akbar, dan S. Bachri (1992), dapat kita amati penampang yang
memotong Gunung Malabar, di sana terlihat bahwa gunung ini terbangun
di antaranya oleh aliran lava yang mengalir hingga ke utara, seperti
yang diukur oleh Edy Sunardi, kemudian diikuti letusan yang
menghasilkan material yang berupa perselingan lava, breksi, dan tuf
yang ketebalannya antara 500 - 1.000 meter lebih dengan radius 15 km,
yang terjadi pada awal Plistosen.

Selang beberapa ratus ribu tahun kemudian, terjadi patahan yang
memanjang lebih dari 25 km arah barat - timur, dengan bagian
selatannya yang turun. Pada Plistosen tengah, gunung ini aktif kembali
dengan dahsyatnya, material letusannya mengisi lembah patahan, terdiri
dari tuf dan breksi yang mengandung sedikit batu apung dan lava dengan
ketebalan antara 100 - 1.000 meter lebih dengan radius 10 km.

Untuk mengetahui kronologi dan besaran letusan Gunung Malabar secara
terperinci dan akurat memang perlu penelitian khusus. Tampaknya harus
ada penelitian untuk disertasi yang mengambil judul ini sehingga akan
diketahui sejarah gunung ini dengan baik, seperti yang pernah
dilakukan Mochamad Nugraha Kartadinata (2005) untuk kronologi letusan
Gunung Sunda.

Minggu terakhir Maret dan awal April 2008, jalanan di Majalaya
dipenuhi lumpur selutut tebalnya. Ini semua terbawa dari lereng-lereng
di selatan kota itu. Tidak mungkin lumpur itu turun dengan sendirinya.
Pada lima tahun terakhir, hujan juga mengguyur kawasan itu, tetapi
tidak membawa lumpur sebanyak ini. Lalu apa yang salah dengan banjir
lumpur yang menimbun persawahan, perkampungan, mendangkalkan sungai,
dan menguruk jalan-jalan serta menyengsarakan masyarakatnya?
Jawabannya pasti, pengelolaan lahan di lereng-lereng Gunung Malabar
sudah tak akrab lingkungan lagi. Inilah fakta yang tak terbantahkan!

Padahal, kawasan seluas 8 ha yang berada di Kabupaten Bandung pada
ketinggian rata-rata 1.600 m dpl itu sudah menjadi Cagar Alam Gunung
Malabar berdasarkan SK Mentan 523/Kpts/Um/10/73 tanggal 20-10-1973.
Cagar Alam ini memiliki keindahan alam yang luar biasa dengan kekayaan
botani yang menarik. Sayangnya, cagar alam yang didominasi oleh hutan
pegunungan ini kondisinya menyedihkan, di sana terjadi penebangan
hutan dan perburuan. Perlu perencanaan untuk memperluas daerah
perlindungan sehingga mencakup wilayah Gunung Malabar yang lebih
luas.***

T. Bachtiar,
Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung.

Citation: http://www2.pikiran-rakyat.co.id/prprint.php?mib=beritadetail&id=16038

------------------------------------

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke