Ari kuring mah mending beungkar, pamajikan geulis

Urang Sunda Hudang Euyyy <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                             
cing kang aya pertanyaan ti abdi

mending mana atawa bahaya mana

suku borok/eksim/ jrr deui, pilih mana di amputasi jeung di antep

mun diamputasi bakeul nyeri boborot geutih, dipoyok batur teu boga suku jeung 
sajabana
 atawa
mun di anteup bakal nular kana suku hiji deui, kana awak, kana lengen nepi kana 
uteuk

cing milih mana kang..




On Thu, Jun 5, 2008 at 8:06 AM, YADI supriadi wendy <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 Urang Sunda Hudang Euyyy wrote:
 >
 >
 >
 >
 >
 >
 >   *Membongkar Jaringan AKKBB (Bag.1)*
 >
 >
 >   *Eramuslim*
 >
 > /Selasa, 3 Jun 08 19:03 WIB/
 >
 > Kirim teman
 > <http://www.eramuslim.com/berita/send/8603185827-membongkar-jaringan-akkbb-bag.1.htm>
 >
 > Nama Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan
 > (AKKBB) menjadi buah bibir setelah peristiwa rusuh di silang Monas
 > pada hari ahad siang, 1 Juni 2008. Sebelumnya, aliansi ini sering kali
 > diidentikan dengan gerakan pembelaan terhadap kelompok sesat
 > Ahmadiyah, sebuah kelompok yang mengaku bagian dari Islam namun
 > memiliki kitab suci Tadzkirah—bukan al-Qur'an—dan Rasul Mirza Ghulam
 > Ahmad, bukan Rasulullah Muhammad SAW.
 >
 >
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
ki dulurs,
 mun kuring siga si kabayan, terus kudu milih hiji di antara akkbb jeung
 fpi, asana bakal milih akkbb da. kunaon?
 emut posting si kabayan naek gunung
 <http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/message/127993>? di dinya
 dicaritakeun loba nu nanawarkeun peta jalan ka gunung, bari hiji oge
 taya nu pernah atawa ngabuktikeun yen petana bener! kuring tangtu rek
 milih nu nawarkeun katengtreman, teu nujukkeun cara-cara kasar komo bari
 jeung sisiku ka batur mah. dilieuk oge moal sigana mah.
 sami ayeuna oge islam teh seueur versina, tapi punten - ke heulaanan -
 pami kedah milih islam nu nanawarkeun kakasaran, ngaruksak, teu
 nengtremkeun batur- kalah nimbulkeun anti pati, nimbulkeun riributan,
 nimpahkeun kasalahan ka batur nu can tangtu bari maranehna nunjukkeun
 sifat nu teu satria [baca: nyumput waktu dipenta tnggung jawabna]. tapi
 sabalikna, lawanna malah dina catetan nu aya tacan kanyaohan atawa
 katohyan jadi biang riributan - ari lain diributkeun mah. estu ieu mah
 ngalawan oge teu hayang, sanajan mungkin bisa. eta bae dina komentarna
 teh geuning waktu masjidna di ruksak teh, keun bae da aya nu bogana
 ieuh, kitu cenah!
 ih da kitu kedahna, islam mah kedah mere katengtreman ka batur, sok
 sanajan ka nu lain kapercayaan atawa kayakinan oge. ieu nu tos
 dicontokeun ku jungjunan urang rasulullah muhammad shalallahu alaihi wa
 salam.
 eta cenah nu hiji ieu mah beda jeung batur. tapi pan di luhur oge tos
 dicontokeun ku si kabayan: tacan terang! da ari masalah kapercayaan mah
 beda jeung demokrasi: sora mayoritas. lamun agama atawa kapercayaan
 didemokratisasi, beu..... cilaka atuh urang, sabab nu agama mayoritas
 <http://www.adherents.com/Religions_By_Adherents.html> di dunya mah lain
 islam. pan urang yakin - tos kabujeng yakin yen islam teh agama
 pamustungan nu pangsampurnana nu dulungsurkeun ku allah ta ala ka kn
 muhammad saw.
 masalahna, islam nu mana atuh nu hiji tina 73 golongan  teh numutkeun
 rasulullah?
 sementara aya deui tina milis surau:
 /From: "Ahmad Badrudduja" <[EMAIL PROTECTED]
 <mailto:ahmadbadrudduja%40yahoo.com>>
 View contact details
 To: [EMAIL PROTECTED] <mailto:surau%40yahoogroups.com>
 Assalamu 'alaikum,
 Bagaimana kita tahu bahwa seseorang adalah nabi sungguhan atau gadungan?
 Saya akan mencoba membahas masalah yang rumit ini secara ringkas dalam
 tulisan pendek ini.
 
 Di kalangan sarjana Sunni, dikenal tiga syarat utama untuk mengetes
 kebenaran kleim kenabian:
 
 1. Seseorang yang mengaku sebagai nabi haruslah mempunyuai kualitas etis
 dan intelektual yang istimewa, misalnya ia memiliki kemampuan artikulasi
 berbahasa yang sangat baik, kesempurnaan akhlak, keluhuan budi, dsb.
 
 2. Dia harus menunjukkan suatu mukjizat.
 
 3. Mukjizat itu harus dibarengi dengan pendakuan sebagai seorang nabi.
 Maksudnya, jika seseorang memperlihatkan tindakan mukjizat tetapi tidak
 mengakui sebagai nabi, maka ia bukan nabi.
 
 Tiga kriteria ini bisa dibaca dalam banyak karya sarjana Sunni. Sebagai
 contoh, anda bisa merujuk karya Abu al-Hasan Ali ibn Muhammad
 al-Mawardi, A'lam al-Nubuwwah (Tanda-Tanda Kenabian). Sebagaimana kita
 tahu, al-Mawardi adalah salah satu ulama besar di linkungan mazhab
 Syafii yang dikenal antara lain karena bukunya tentang manual
 penyelenggaraan kekuasaan, yaitu al-Ahkam al-Sulthaniyyah.
 
 Dengan demikian, kriteria nabi palsu dan gadungan itu sebetulnya sangat
 sederhana dan tidak bertele-tele.
 
 Para filosof Muslim menambahkan ciri-ciri yang lain. Ibn Sina, misalnya,
 mengatakan bahwa ada tiga jenis manusia.
 
 1. Manusia yang sempurna dalam dirinya sendiri dan mampu menyempurnakan
 orang-orang lain yang kurang sempurna (maksud "sempurna" di sini adalah
 dari segi spiritual, intelektual dan etis atau akhlak).
 
 2. Manusia yang sempurna pada dirinya sendiri tapi tak mampu
 menyempurnakan orang lain. Jadi kesempurnannya bersifat terbatas, tidak
 meluber ke orang lain.
 
 3. Orang yang pada dirinya sendiri menderita kekuangan, sehingga butuh
 dibantu oleh orang lain agak mencapai kesempurnaan spritiual dan akhlak.
 
 Nabi adalah manusia dari jenis yang pertama. Jadi, nabi adalah orang
 yang memiliki kesepurnaan dan kemampuan untuk menularkan kesempurnaan
 itu kepada orang lain. Inilah pendapat Ibn Sina yang banyak dikutip oleh
 para teolog Sunni seperti Fakhruddin al-Razi, misalnya.
 
 Saya sendiri berpandangan bahwa nabi yang benar, bukan yang gadungan,
 bisa kita ketahui dari manusia-manusia yang ia didik, manusia-manusia
 yang menjadi umat dan pengikutnya. Kalau seorang yang mengaku nabi
 berhasil mendidik dan mencetak manusia yang bermoral dan bermartabat,
 maka dia adalah nabi. Kita juga bisa mengetahui kebenaran seorang nabi
 melalui ajaran-ajarannya: apakah ia mengajarkan norma yang baik atau
 malah kejahatan.
 
 Hampir semua orang yang mengaku nabi sudah pasti akan diledek dan
 dilecehkan oleh orang-orang di sekitarnya. Kita lihat saja sejarah Nabi
 Muhammad yang dilecehkan oleh masyarakatnya sendiri. Ini terjadi pada
 hampir semua nabi dan guru-guru kebijaksanaan di seantero dunia, bukan
 hanya pada Nabi Muhammad.
 
 Saya sendiri bukan orang Ahmadi dan bukan pengikut ajaran Ahmadiyah.
 Tetapi berdasarkan kriteria-kriteria di atas, saya bisa membenarkan
 kleim Mirza Ghulam Ahmad sebagai seorang nabi. Apalagi seluruh ajaran
 Ghulam Ahmad sebetulnya hanya menegaskan kembali ajaran-ajaran yang ada
 dalam Islam. Kita juga bisa melihat masyarakat dan jamaah yang berhasil
 dicetak oleh kelompok ini di mana-mana. Mereka para jamaah Ahmadiyah
 adalah orang-orang yang cinta perdamaian di mana-mana, menekankan
 pentingnya rasio dan pendekatan rasional pada agama, dan inilah yang
 menjadi rahasia daya tarik Ahmadiyah di kalangan para anak muda di zaman
 perjuangan dulu di beberapa kota di Indonesia. Mereka buka manusia yang
 berbuat kerusakan di muka bumi.
 
 Jadi, alat palin baik untuk mengetes seorang adalah nabi sungguhan dan
 tidak adalah dari hasil akhirnya: apakah dia mencetak manusia yang
 bermoral dan berbudi luhur atau tidak.
 
 Ini bukan berarti bahwa setiap orang yang berhasil mencetak suatu
 masyarakat yang berbudi luhur adalah nabi. Kiai Haji Ahmad Dahlan jelas
 berhasil mencetak jamaah yang berbudi luhur, tetapi dia bukan nabi.
 Begitu juga Kiai Hasyim Asyari bukan nabi walau dia berhasil mencetak
 generasi yang bermoral dan berbudi luhur. Alasannya satu: karena mereka
 tidak mengaku sebagai nabi. Sebgaimana dikatakan oleh al-Mawardi di
 atas, seseorang hanya boleh disebut nabi kalau dia mengaku nabi, dan
 tidak cukup hanya mempertunjukkan mukjizat sahaja.
 
 Lalu apa mukjizat Mirza Ghulam Ahmad? Yang bisa menceritakan ini
 hanyalah jamaah Ahmadiyah sendiri. Jamaah Ahmadiyah tentu percaya bahwa
 Ghulam Ahmad memiliki sejumlah 'khawariq al'adah" atau mukjizat. Soal
 orang-orang di luar Ahmadiyah tidak percaya, itu bukan urusan. Sebab,
 percaya atau tidak, itu masalah masing-masing orang. Orang di luar Islam
 bisa saja tidak percaya pada mukjizat Nabi Muhammad, tetapi itu tidak
 berpengaruh apa-apa.
 
 Menurut saya, kalau ada mukjizat terbesar yang dipelihatkan oleh Ghulam
 Ahmad adalah kemampuannya membangun gerakan yang berhasil bertahan jauh
 setelah ia wafat dan menyebar ke seluruh dunia. Mukjizat Ghulam Ahmad
 yang paling penting adalah ia mampu mencetak manusia-manusia bermoral
 dari berbagai suku bangsa. Ini prestasi luar biasa yang tak bisa dicapai
 oleh sembarang orang. Ini sesuai dengan ciri-ciri nabi menurut Ibn Sina
 di atas, yakni orang yang sempurna pada dirinya sendiri dan mampu
 menyempurnakan orang lain.
 
 Demikian keterangan saya, semoga bermanfaat.
 
 AB
 
 Ahmad Badrudduja
 
 Inna ikhtilaf al-mukhtalifin fi al-haqq la yujibu ikhtilaf al-haqq fi
 nafsihi
 Kebenaran tak menjadi banyak hanya karena orang-orang berbeda pendapat
 -- Ibn al-Sid al-Batalyawsi (w. Valencia 1127 M)/
 
 tah, naha teu langkung puyeng yeuh....?
 
 cik tulungan ah......
 yadi
 
 
 ------------------------------------
 
 Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links
 
 
 
 



-- 
-----------------------------------------------------------
AGUS PAKUSARAKAN
 08128377662
www.smarthubtech.co.id 
-----------------------------------------------------------
 www.independen.wordpress.com
www.inkas.wordpress.com
www.garut0262.wordpress.com
 www.azzoman.indonetwork.net 
     
                                       

       
---------------------------------
   Dapatkan situs lowongan kerja  - Yahoo! Indonesia Search.

Kirim email ke