Kosambi, Pohon Multiguna Bernilai Ekonomis

Masyarakat menjadikan pucuk daun pohon kosambi sebagai lalap mentah
atau matang dan buahnya dirujak. Biji yang kering ditumbuk atau
ditusuk langsung beberapa biji untuk penerangan

Di Kota Bandung, nama pohon kosambi (Schleichera oleosa, MERR) ini
hanya tinggal nama. Namanya abadi menjadi nama geografi dan menjadi
sangat terkenal karena di kawasan itu berdiri pasar yang telah banyak
memberikan kehidupan dan penghidupan. Kawasan ini berada di luar batas
kota lama yang hanya sampai kacakaca wetan di sekitar Simpang Lima
(Jln. Asia Afrika, Jln. Sunda, Jln. Jend. Gatot Subroto, dan Jln.
Jend. Ahmad Yani).

Dalam ilmu geologi, nama geografi kosambi menjadi naik ke permukaan
setelah Prof. Dr. R.P. Koesoemadina/Geologi ITB mengusulkan menjadi
nama Formasi Kosambi untuk pemerian batuan pasir tufan.

Tentang pohon kosambi, tinggi pohon ini bisa mencapai 15 hingga 40
meter dengan diameter batang antara 60-175 cm. Tumbuhan ini tersebar
di seluruh Asia Tenggara dan di Indonesia dapat ditemukan pada
ketinggian 0-1.200 meter dpl. Kosambi termasuk salah satu tumbuhan
hutan yang beradaptasi lokal, bermanfaat serbaguna, bernilai ekonomi
tinggi, dan sangat potensial. Buah pohon kosambi digemari oleh
manusia, binatang, burung, dan merupakan sumber energi. Oleh karena
itu, pohon kosambi dapat menjadi alternatif tanaman unggulan di dalam
dan di luar kawasan hutan.

Ada di mana?

Bukan hanya di Bandung ada nama geografi kosambi, namun ada juga di
Cirebon dan Subang. Bedanya, di Cirebon masih terdapat pohonnya,
bahkan dalam ukuran raksasa yang tumbuh di Pemakaman Ki Nataguna,
Trusmi. Sementara di Subang, pohon ini tumbuh di pemakaman Desa
Pamanukan.

Di luar Jawa Barat, pohon kosambi merupakan pohon yang sengaja
ditanam, seperti halnya menanam jati. Dalam sekar sinom "Serat
Rerengan" dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat disebutkan bahwa saat
Sri Sultan Hamengku Buwono II membangun Rejawinangun dan Reja Kusuma,
juga menanami kota dengan pohon gaharu, cendana, kosambi, dan jati.

Pohon kosambi terdapat di Suaka Margasatwa Pulau Rambut di Taman
Nasional Baluran di Cagar Alam Pulau Sangiang di Kabupaten Bima
Provinsi NTB, juga di Taman Nasional Bali Barat.

Di daerah lain, pohon kosambi menjadi pohon penghijauan, seperti di
perbukitan Prataan, Tuban. Juga penghijauan di Desa Karanganyar,
Purwodadi, Grobogan yang ditanam di sepanjang bahu jalan. Balai
Pengelolaan DAS Pemali Jatrum menanam pohon kosambi di 13 desa di Kab.
Pemalang. Bahkan, Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Timur menghijaukan
daerah tujuan wisata Sendangbiru dengan menanam pohon kosambi. Juga di
tempat wisata Benteng Portugis di tepi pantai Desa Ujungwatu,
Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara. Dan, di selatan Yogyakarta
terdapat pohon kosambi yang banyak ungkrung, kepompong ulat yang biasa
digoreng dan disantap dengan nasi thiwul.

Di Sulawesi Selatan, manfaat pohon kosambi mempunyai kaitan dengan
sejarah pada masa kerajaan Sultan Hasanuddin sehingga
mengembangkannya, selain serbaguna, juga mempunyai nilai sejarah.

Pohon kosambi banyak terdapat di Kabupaten Alor dan Rote-ndao yang
sudah lebih dahulu mengekspor seedlak ke Jepang. Seedlak dihasilkan
dari kutu lak yang memiliki habitat di pohon kosambi.

Di Pulau Timor, kosambi juga tumbuh merata, namun kurang menghasilkan
kutu lak (Leccifer lacca, KERR) dalam jumlah banyak. Di Desa
Lenggalero, Kecamatan Loura, Kabupaten Sumba Barat, Provinsi NTT,
dikembangkan usaha produktif dengan menanam pohon kosambi untuk
mengembangkan kutu lak. Di Kabupaten Flores Timur pohon kosambi sangat
bernilai ekonomis bagi masyarakatnya. Di Banten, konon pohon ini akan
dikembangkan sebagai hutan produksi untuk menghasilkan seedlak.

Manfaat kosambi

Dalam naskah lontar Bali dituliskan bahwa pohon kosambi dapat
dijadikan bedak tubuh yang dicampur dengan daun dan kulit pohon
lainnya.

Para nelayan menggunakan kayu yang sangat berat ini sebagai jangkar
kapal. Oleh para pembuat gula tebu zaman dulu, kayunya dijadikan
penggilingan yang handal. Dahannya baik dijadikan alu karena hulu
tumbuknya tidak menyerpih.

Masyarakat menjadikan pucuk daunnya sebagai lalap mentah atau matang
dan buahnya dirujak. Biji yang kering ditumbuk atau ditusuk langsung
beberapa biji untuk penerangan. Namun, yang paling penting sejak lama
adalah minyak dari biji kosambi yang berkhasiat dalam pengobatan,
salep, dan bahan lilin. Pascakemerdekaan, pohon kosambi yang serbaguna
ini kurang mendapatkan perhatian.

Pada saat sumber energi fosil semakin terbatas, energi baru dan
terbarukan, seperti bahan bakar nabati mendapat perhatian kembali.
Saat ini penyebaran tenaga listrik baru mencapai 54% kawasan Indonesia
dan terpusat di Pulau Jawa dan Bali. Listrik tenaga nabati, bahan
bakarnya dapat dipenuhi oleh masyarakat melalui penanaman pohon
kosambi, kaliki, jarak atau yang lainnya. Desa-desa di Indonesia bisa
menjadi desa mandiri energi. Masyarakat menanam pohon kosambi dan
jarak untuk dijadikan minyak untuk keperluannya sendiri dan dijual
bila berlebih.

Sesungguhnya, bila mau, pohon ini dapat menjadi salah satu unggulan
bahan bakar nabati, seperti negara lain yang telah mengembangkan bahan
baku biofuel dari kedelai, seperti AS dan Brasil, biji bunga matahari
(Italia dan Prancis), zaitun (Spanyol), atau jarak pagar (Nikaragua).

Sebagian besar warga Desa Nemberala di pesisir Pulau Rote, Kabupaten
Rote Ndao, NTT, sudah lama memanfaatkan biji kosambi. Bijinya
ditumbuk, dipakai untuk menyalakan cempor dan kompor, atau menusuk
bijinya lalu dibakar untuk penerangan.

Perlu gerakan masyarakat untuk menghutankan lahan kritis, di antaranya
dengan menanam pohon kosambi, mengingat manfaat ekonominya bagi warga
sangat tinggi. Sebagai contoh, bagi warga Dusun Laindeha, Desa
Waimbidi, Kupang, dan warga di Kabupaten Sumba Timur, pohon kosambi
mempunyai arti penting karena bernilai ekonomis. Pohon ini digunakan
sebagai media dalam budi daya kutu lak. Pohon yang paling cocok
sebagai tempat hidupnya hanya pohon kosambi.

Bila dikelola dengan baik, kutu lak dapat menjadi sumber pendapatan
negara. Kebutuhan lak dunia mencapai 9.000 ton lebih dan India memasok
50%. Di Indonesia komoditas lak belum diproduksi secara maksimal
padahal sangat potensial sekaligus menjaga lingkungan dan
memberdayakan masyarakat.

Hasil budi daya kutu lak dapat diperoleh seedlak yang berguna untuk
pembuatan vernis, industri listrik, perekat, plitur, dan kabel.
Seedlak juga dipergunakan untuk bahan pewarna (edible dye), pewarna
minuman ringan dan makanan. Dapat juga dipergunakan sebagai bahan
campuran untuk lapisan luar pada cokelat. Air limbah dari pengolahan
lak yang banyak mengandung asam lakaik, berguna untuk proses
penyamakan wol, sutra, dan kulit, serta dapat digunakan untuk
menetralisir air kolam pada budi daya ikan lele.

Kulit kosambi dapat digunakan sebagai pengawet nira. Bila dimasukkan
5-7,5 gram kulit kosambi pada saat penyadapan, nira tetap segar serta
hasilnya menunjukkan kecenderungan kadar sukrosa dan gulanya meningkat
dengan makin tingginya konsentrasi pemberian kulit kosambi.

Di Jawa Barat, juga di Cekungan Bandung, tak akan kekurangan lahan
kritis. Di sepanjang pantai, di perbukitan, di bahu jalan, banyak
lahan dibiarkan gersang dipanggang matahari. Bila ditanami kosambi,
buahnya dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat untuk keperluan
memasak dan penerangan, juga minyaknya untuk energi kendaraan, serta
pohonnya dapat menjadi tempat yang sangat cocok untuk
mengembangbiakkan kutu lak!

Saatnya mengembalikan kekuatan masyarakat agar tidak banyak bergantung
pada pihak lain.***

T. Bachtiar, Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset
Cekungan Bandung.

citation: 
http://newspaper.pikiran-rakyat.co.id/prprint.php?mib=beritadetail&id=16973

Kirim email ke