Senin, 2008 Juni 16

IBROH 



Suatu sore, ditahun 1525. Penjara tempat tahanan orang-orang di situ terasa 
hening mencengkam. Jendral Adolf Roberto, pemimpin penjara yang terkenal 
bengis,tengah memeriksa setiap kamar tahanan.


Setiap sipir penjara membungkukkan badannya rendah-rendah ketika 'algojo 
penjara' itu berlalu dihadapan mereka. Karena kalau tidak, sepatu 'jenggel' 
milik tuan Roberto yang fanatik Kristen itu akan mendarat di wajah mereka.


Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang 
mengumandangkan suara-suara yang amat ia benci. 


"Hai...hentikan suara jelekmu! Hentikan...!" Teriak Roberto sekeras-kerasnya 
sembari membelalakan mata. 


Namun apa yang terjadi ? Laki-laki di kamar tahanan tadi tetap saja 
bersenandung dengan khusyu'nya. Roberto bertambah berang. Algojo penjara itu 
menghampiri kamar tahanan yang lasnya tak lebih sekadar cukup untuk satu orang.


Dengan congak ia menyemburkan ludahnya ke wajah renta sang tahanan yang keriput 
hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyulut wajah dan 
seluruh badan orang tua renta itu dengan rokoknya yang menyala.


Sungguh ajaib... Tak terdengar secuil pun keluh kesakitan. Bibir yang pucat 
kering milik sang tahanan amat gengsi untuk meneriakkan kata Rabbi, 
waana'abduka... 

Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir sambil berkata, 


"Bersabarlah wahai ustadz...Insya Allah tempatmu di Syurga."


Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustadz olehsesama tahanan, 'algojo 
penjara' itu bertambah memuncak amarahnya. Ia diperintahkan pegawai penjara 
untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu keras-keras hingga 
terjerembab di lantai. 


"Hai orangtua busuk! Bukankah engkau tahu,aku tidak suka bahasa jelekmu itu?! 
Aku tidak suka apa-apa yang berhubung dengan agamamu! Ketahuilah orang tua 
dungu, bumi Spanyol ini kini telah berada dalam kekuasaan bapak kami, Tuhan 
Yesus. Anda telah membuat aku benci dan geram dengan 'suara-suara' yang 
seharusnya tak pernah terdengar lagi di sini."


Sebagai balasannya engkau akan kubunuh. Kecuali, kalau engkau mau minta maaf 
dan masuk agama kami." 


Mendengar"khutbah" itu orang tua itu mendongakkan kepala,menatap Roberto dengan 
tatapan tajam dan dingin.
Ia lalu berucap, 


"Sungguh...aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai 
kekasihku yang amat kucintai, ALlah. Bila kini aku berada dipuncak kebahagiaan 
karena akan segera menemuiNya,patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia 
busuk? Jika aku turuti kemauanmu, tentu aku termasuk manusia yang amat bodoh."


Baru saja kata-kata itu terhenti, sepatu lars Roberto sudah mendarat 
diwajahnya. Laki-laki itu terhuyung.Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara 
dengan wajah bersimbah darah. Ketika itulah dari saku baju penjaranya yang 
telah lusuh, meluncur sebuah 'buku kecil'. 

Adolf Roberto bermaksud memungutnya


Namun tangan sang Ustadz telah terlebih dahulu mengambil dan menggenggamnya 
erat-erat. 


"Berikan buku itu, hai laki-laki dungu!" bentak Roberto. 


"Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci 
ini!"ucap sang ustadz dengan tatapan menghina pada Roberto. Tak ada jalan 
lain,akhirnya Roberto mengambil jalan paksa untuk mendapatkan buku itu.


Sepatu lars berbobot dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari-jari 
tangan sang ustadz yang telah lemah. Suara gemeretak tulang yang patah 
terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi Roberto.Laki-laki bengis 
itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang yang terputus.


Bahkan 'algojo penjara' itu merasa lebih puas lagi ketika melihat tetesan darah 
mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah hancur.


Setelah tangan renta itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang 
membuatnya penasaran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah lusuh. 
Mendadak algojo itu termenung. 


"Ah...sepertinya aku pernah mengenalbuku ini. Tapi kapan? Ya, aku pernah 
mengenal buku ini." suara hati Roberto bertanya-tanya.


Perlahan Roberto membuka lembaran pertama itu. Pemuda berumur tiga puluh tahun 
itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan "aneh" dalam buku itu. 
Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu. Namun, sekarang tak 
pernah dilihatnya di bumi Sepanyol.


Akhirnya Roberto duduk disamping sang ustadz yang telah melepas nafas-nafas 
terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yang dalam.Mata 
Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yang dialaminya 
sewaktu masih kanak-kanak.Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali 
dalam ingatan Roberto. Pemuda itu teringat ketika suatu sore di masa 
kanak-kanaknya terjadi kericuhan besar dinegeri tempat kelahirannya ini.


Sore itu ia melihat peristiwa yang mengerikan dilapangan Inkuisisi (lapangan 
tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia). Di tempat itu tengah 
berlangsung pesta darah dan nyawa. Beribu-ribu jiwa tak berdosa berjatuhan di 
bumi Andalusia. Di hujung kiri lapangan,beberapa puluh wanita berhijab(jilbab) 
digantung pada tiang-tiang besi yang terpancang tinggi. Tubuh mereka 
bergelantungan tertiup angin sore yang kencang, membuat pakaian muslimah yang 
dikenakan berkibar-kibar di udara.


Sementara, di tengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup-hidup pada 
tiang-tiang salib, hanya karena tidak mau memasuki agama yang dibawa oleh para 
rahib. 


Seorang bocah laki-laki mungil tampan, berumur tujuh tahunan, malam itu masih 
berdiri tegak dilapangan Inkuisisi yang telah senyap. korban-korban kebiadaban 
itu telah syahid semua. Bocah mungil itu mencucurkan airmatanya menatap sang 
ibu yang terkulai lemah di tiang gantungan.


Perlahan-lahan bocah itu mendekati tubuh sang ummi yang tak sudah bernyawa, 
sembari menggayutinya.Sang bocah berkata dengan suara parau, 


"Ummi, ummi,mari kita pulang. Hari telah malam. Bukankah ummi telah berjanji 
malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa....? Ummi, cepat 
pulang kerumah ummi..."


Bocah kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua menjawab 
ucapannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu harus berbuat apa. Untuk 
pulang ke rumah pun ia tak tahu arah. Akhirnya bocah ituberteriak memanggil 
bapaknya 


"Abi...Abi...Abi..."


Namun ia segera terhenti berteriak memanggil sang bapak ketika teringat kemarin 
sore bapaknya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam.


"Hai...siapa kamu?!" teriak segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati sang 
bocah. 


"Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi..." jawab sang bocah memohon belas 
kasih. 


"Hah...siapa namamu bocah, coba ulangi!"bentak salah seorang dari mereka.


"Saya Ahmad Izzah..." sang bocah kembali menjawab dengan agak grogi. 


Tiba-tiba "plak! sebuah tamparan mendarat di pipi sang bocah. 
"Hai bocah...! Wajahmu bagus tapi namamu jelek. Aku benci namamu.

Sekarang kuganti namamu dengan nama yang bagus. Namamu sekarang 'Adolf Roberto' 
..Awas! Jangan kau sebut lagi namamu yang jelek itu. Kalau kau sebut lagi nama 
lamamu itu, nanti akan kubunuh!" ancam laki-laki itu.


Sang bocah meringis ketakutan, sembari tetap meneteskan air mata. Anak 
laki-laki mungil itu hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar 
lapangan Inkuisisi. Akhirnya bocah tampan itu hidup bersama mereka.


Roberto sedar dari renungannya yang panjang. Sang Jendral itu melompat ke arah 
sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat pada tubuh 
sang ustadz. Ia mencari-cari sesuatu di pusar laki-laki itu. Ketika ia 
menemukan sebuah 'tanda hitam' ia berteriak histeris, 


"Abi...Abi...Abi..."


Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu. Fikirannya terus 
bergelut dengan masa lalunya.Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yang ada 
didalam genggamannya adalah Kitab Suci Al Qur'an milik bapaknya,yang dulu 
sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya.


Ia jua ingat betul ayahnya mempunyai 'tanda hitam' pada bahagian pusar. Pemuda 
beringas itu terus meraung dan memeluk erat tubuh renta nan lemah. Tampak 
sekali ada penyesalan yang amat dalam atas ulahnya selama ini.Lidahnya yang 
sudah berpuluh-puluh tahun alpa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut, 


"Abi... aku masih ingat alif, ba, ta, tha..."


Hanya sebatas kata itu yang masih terekam dalam benaknya.


Sang ustadz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang 
membasahi wajahnya. Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat seseorang yang 
tadi menyiksanya habis-habisan kini tengah memeluknya.


"Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuhi Abi,tunjukkan aku pada jalan 
itu..." 


Terdengar suara Jendral Roberto memelas. Sang ustadz tengah mengatur nafas 
untuk berkata-kata, ia lalu memejamkan matanya. Airmatanya pun turut berlinang. 
Betapa tidak, jika sekian puluh tahun kemudian, ternyata ia masih sempat 
berjumpa dengan buah hatinya, ditempat ini. Sungguh tak masuk akal. Ini 
semata-mata bukti kebesaran ALlah.


Sang Abi dengan susah payah masih bisa berucap :


"Anakku, pergilah engkau ke Mesir. Di sana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa 
engkau kenal dengan Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy. Belajarlah 
engkau di negeri itu,"


Setelah selesai berpesan sang ustadz menghembuskan nafas terakhir dengan 
berbekal kalimah indah 


"Asyahaduanla Illaaha ilAllah, wa asyahadu anna MuhammadRasullullah...'. 


Beliau pergi dengan menemui Rabbnya dengan tersenyum, setelah sekian lama 
berjuang dibumi yang fana ini.


Kini Ahmad Izzah telah menjadi seorang alim di Mesir.Seluruh hidupnya 
dibaktikan untuk agamanya, 'Islam,sebagai ganti kekafiran yang di masa muda 
sempat disandangnya. Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru berguru 
dengannya... " Al-Ustadz Ahmad IzzahAl-Andalusy.


Benarlah firman Allah...


"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah 
Allah yang telah menciptakan manusia menurut arahnya itu. Tidak ada perubahan 
atas fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak 
mengetahui." (QS>30:30)



Paguyuban Wargi Sunda - Medan
http://www.pwsmedan.blogspot.com/
 



Posted by PWS - Medan


      

Kirim email ke