Bu, paingan nya ahmadiyah tambah kuat, tambah loba pengikutna, lain 
ikhlas-ikhlas teuing geuning......ku duit mah, heuheuhhhhh........ya 
dana-dana,....ya dana-dana...hehehe kalah ka nyanyi....
  Paingan ulama-ulama kapungkur, aranjeuna leuwih hati-hati ka jalma nu 
nyimpang daripada ka jalma nu bener-bener kafir, ternyata leuwih 
bahaya.....musuh dalam selimut...!!!
  

Abu Kasya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
            Ahmadiyah Harus Dibubarkan
  Apakah SKB tersebut akan menyelesaikan masalah? Semoga saja begitu. Namun, 
pihak Ahmadiyah dan AKKBB merasa tidak puas dengan SKB dan akan meneruskan 
jalur hukum. Bahkan ketika Juru Bicara Ahmadiyah Syamsir Ali ditanya, apakah 
akan menjalankan apa yang tercantum dalam SKB, dia menjawab, "Kita lihat 
nanti." (TV One, 10/6/2008). Ahmadiyah Jawa Tengah menyatakan akan mematuhi 
sebagian isi SKB (RCTI, 10/6/2008). Tidak jelas bagian mana yang akan dipatuhi 
dan mana yang tidak. 
  Umat Islam sesungguhnya tetap pada tuntutannya semula, yakni menuntut 
pembubaran Ahmadiyah. Sekretaris Jenderal DPP PPP, Irgan Chairul Mahfiz, 
menyatakan, "SKB perintah penghentian (kegiatan) saja tidak memenuhi tuntutan 
umat Islam yang menganggap ajaran tersebut telah berada di luar akidah Islam, " 
ujarnya (Republika, 10/6/2008). 
  Eggi Sudjana dari Aliansi Damai Anti Penistaan Islam (ADA API) mengatakan, 
"SKB merupakan bom waktu yang dibuat oleh Pemerintah." (9/6/2008). 
  Amir Majelis Mujahidin Indonesia Abu Bakar Ba'asyir menyatakan, "SKB 3 
Menteri mengambang. Mestinya Ahmadiyah dibubarkan." (RCTI, 10/6/2008). 
  Adapun Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia menegaskan, "Sebagai sebuah 
proses, SKB penting diapresiasi. Namun, SKB tidak menyentuh masalah subtansial, 
yakni pelarangan atas penistaan dan penodaan Islam." (TV One, 9/6/2008). 
  Terkait masalah ini, penting direnungkan pernyataan Ketua MUI KH Ma'ruf Amin, 
"MUI dan ormas Islam akan mengevaluasi efektivitas SKB tersebut. Kalau SKB itu 
tidak efektif menghentikan kegiatan keagamaan yang menyimpang, Ahmadiyah harus 
dilarang dan dibubarkan." (Republika, 10/6/2008). 
  Pertarungan Islam vs Sekularisme Sekuler 
  Insiden Monas sesungguhnya adalah percikan dari benturan antara arus sekuler 
dan Islam. Isu Ahmadiyah hanyalah case (kasus) yang mendorong kelompok sekular 
liberal untuk bergerak memberikan reaksi. Sebelumnya sudah ada beberapa 
kejadian terkait hal ini. 
 
  Pertama: pertentangan dalam isu Rancangan Undang-Undang Pornografi Pornoaksi 
(RUU APP). Ketika umat Islam mendukung disahkannya RUU APP menjadi 
undang-undang, kaum liberal justru menentangnya. Hingga kini tidak jelas 
bagaimana nasib RUU APP tersebut. 
  Kedua: terkait liberalisasi dalam ekonomi. Pada tahun 2005 beberapa tokoh 
utama AKKBB masuk dalam daftar nama-nama yang mendukung kenaikan bahan bakar 
minyak (BBM) lebih dari 100 persen itu. Di tengah rakyat bersama 
organisasi-organisasi Islam menentang kenaikan BBM dan liberalisasi Minyak dan 
gas, mereka justru mendukungnya. 
  Ketiga: ketika MUI dalam Musyawarah Nasional-nya mengharamkan sekularisme, 
pluralisme dan liberalisme, ormas-ormas Islam mendukung fatwa tersebut. 
Sebaliknya, kaum sekular menentangnya. 
  Keempat: Pada saat mayoritas umat Islam menuntut pembubaran Ahmadiyah karena 
menyimpang dari Islam, kaum sekular, dengan menggerakkan AKKBB, justru 
mendukung keberadaannya. Sekalipun telah jelas bahwa masalah Ahmadiyah adalah 
masalah penodaan dan penistaan agama Islam, tetap saja isu yang diusung adalah 
kebebasan beragama. 
  Setelah terjadinya Insiden Monas, dengan memanfaatkan media massa cetak dan 
elektronik, mereka melakukan penyesatan opini bahwa telah terjadi penyerangan 
terhadap massa AKKBB oleh massa FPI dan telah timbul korban di antaranya 
anak-anak, perempuan, orang cacat dan kyai. Padahal faktanya tidak terjadi sama 
sekali penyerangan terhadap anak-anak, perempuan dan orang cacat itu. 

  Bahkan isu beralih seakan menjadi pertentangan antara FPI dengan kaum 
Nahdliyin (NU). Untungnya, Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi segera menyatakan 
bahwa NU tidak terlibat dalam Insiden Monas itu sehingga pertentangan tidak 
berlanjut. 
  Anehnya, Insiden Monas telah mengundang reaksi internasional. PBB sampai 
harus mengirim surat khusus untuk mempertanyakan insiden tersebut. Kedutaan AS 
juga memberikan reaksi khusus dengan mengunjungi korban dan membuat konferensi 
pers khusus. Hal semacam ini tampaknya memang dikehendaki oleh kelompok 
liberal. Bahkan boleh jadi, sebagaimana disinyalir beberapa kalangan, Insiden 
Monas memang direkayasa pihak asing dengan memanfaat kelompok tersebut. 
  Jadi, apa yang tengah terjadi adalah pertarungan antara Islam dengan 
sekularisme. Waspadai Arus Sekularisasi dan Liberalisasi! Terbitnya SKB sendiri 
terkesan merupakan 'kompromi' akibat pertarungan kaum sekular-liberal dengan 
umat Islam. 

  Di satu sisi, umat Islam dengan serangkaian demontrasinya begitu lantang 
menyerukan pembubaran Ahmadiyah. Di sisi lain, kaum sekular-liberal¡½dengan 
dukungan media sekular dan asing¡½terus-menerus memprovokasi umat Islam dan 
menekan Pemerintah untuk tidak membubarkan Ahmadiyah. 
  Kerasnya kelompok sekular-liberal dan semakin beraninya mereka menyuarakan 
liberalisasinya di Indonesia seharusnya semakin menyadarkan umat Islam betapa 
semakin lama mereka bisa semakin kuat jika dibiarkan. Pasalnya, mereka didukung 
penuh Barat. Bahkan mereka sesungguhnya hanyalah alat Barat. Sebabnya, setelah 
Perang Dingin berakhir, Barat memiliki pandangan dan kebijakan khusus terhadap 
Islam. Islam dipandang musuh Barat berikutnya setelah runtuhnya Komunisme. 
  Karena itulah, berbagai upaya dilakukan Barat untuk 'menjinakkan' dan 
melemahkan Islam. Salah satu adalah dengan melakukan liberalisasi Islam 
besar-besaran di Indonesia dan Dunia Islam lainnya. David E. Kaplan menulis, AS 
telah menggelontorkan dana puluhan juta dolar dalam rangka kampanye untuk 
mengubah masyarakat Muslim sekaligus mengubah Islam itu sendiri. 

  Menurut Kaplan, Gedung Putih telah menyetujui strategi rahasia, yang untuk 
pertama kalinya AS memiliki kepentingan nasional untuk mempengaruhi apa yang 
terjadi di dalam Islam. Sekurangnya di 24 negara Muslim, AS secara diam-diam 
telah mendanai radio Islam, acara-acara TV, kursus-kursus di sekolah Islam, 
pusat-pusat kajian, workshop politik, dan program-program lain yang 
mempromosikan Islam moderat (versi AS). (Terjemahan dari David E. Kaplan, 
Hearts, Minds, and Dollars, www.usnews.com, 4-25-2005). 
  Sejumlah LSM juga dijadikan alat Barat untuk menikam Islam dan kaum Muslim. 
Salah satu lembaga asing yang sangat aktif dalam menyebarkan paham liberalisme 
dan pluralisme agama di Indonesia adalah The Asia Foundation (TAF). The Asia 
Foundation saat ini mendukung sekaligus mendanani lebih dari 30 LSM yang 
mempromosikan nilai-nilai Islam 'liberal', di antaranya: 
  1. Yayasan Desantara, 
  2. Fahmina Institute, 
  3. International Center for Islam Pluralism (ICIP), 
  4. Indonesia Conference on Religion and Peace (ICRP), 
  5. Institut Arus Informasi (ISAI), 
  6. Jaringan Islam Liberal (JIL), 
  7. Paramadina, 
  8. Pusat Studi Wanita-UIN, 
  9. Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS), dan 
  10. Wahid Institute. (Husaini, 2007) 
  Lebih dari itu, kebijakan untuk mengubah kurikulum dan pemikiran Islam juga 
pernah diungkapkan oleh Menhan AS, Donald Rumsfeld. "AS perlu menciptakan 
lembaga donor untuk mengubah kurikulum pendidikan Islam yang radikal menjadi 
moderat (Republika, 3/12/2005). 
  Umat Harus Bersatu
  Menghadapi menguatnya arus liberalisasi di Indonesia akhir-akhir ini, yang 
puncaknya adalah pembelaan mati-matian kelompok sekular-liberal terhadap 
Ahmadiyah hingga kemudian memicu Insiden Monas, dalam sebuah wawancaranya, Juru 
Bicara Hizbut Tahrir. 

  Indonesia Ustadz Ismail Yusanto mengingatkan adanya pihak-pihak tertentu yang 
berusaha memecah-belah umat Islam dengan memanfaatkan Insiden Monas ini. "Nah, 
umat Islam, ormas Islam dan tokoh-tokohnya harus bersatu-padu, dan tidak boleh 
bercerai-berai, " ujar Ustadz Ismail. (Hizbut-tahrir.or.id, 9/6/2008). 
  Persatuan umat Islam, selain jelas diperlukan, juga diwajibkan oleh syariah. 
Allah SWT berfirman: "Berpegang teguhlah kalian pada tali (agama) Allah dan 
janganlah bercerai-berai" (QS Ali Imran: 103). 
  Umat Islam tidak hanya dituntut bersatu memegang teguh agama Allah, tetapi 
juga bersatu dalam menghadapi musuh-musuh Islam dan kaum Muslim. Mereka adalah 
orang-orang kafir yang saat ini gencar melakukan liberalisasi di tengah-tengah 
kaum Muslim di segala bidang: agama, ekonomi, politik, pendidikan, sosial, 
kebudayaan dll. Karena itu, umat Islam harus selalu waspada, karena Allah SWT 
telah memperingatkan: "Kaum Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rela kepadamu 
(Muhammad) hingga kamu mengikuti agama/jalan hidup mereka" (QS al-Baqarah: 120).
  

                           

       

Kirim email ke