<http://newspaper.pikiran-rakyat.co.id/prprint.php?mib=beritadetail&id=19603 > http://newspaper.pikiran-rakyat.co.id/prprint.php?mib=beritadetail&id=19603
KINI MEREKA JADI PEMULUNG Nenek moyangku orang pelaut/Gemar mengarung luas samudra/Menerjang ombak tiada takut/Menempuh badai sudah biasa. SEPENGGAL bait lagu di atas, bagi nelayan, adalah jiwa kehidupan. Maka, kendati gelombang tinggi, seiring perkembangan pola cuaca yang sulit diprediksi akibat pemanasan global (global warming), kondisi itu bukan sesuatu yang menjadikannya surut langkah untuk terus kembali melaut. Nelayan hanya takut bila pulang melaut tidak ada yang bisa dibawa untuk anak dan istrinya. Ia tak sanggup mendengar rintihan dan rengekan anak-anaknya serta tatap mata duka sang istri tercinta. Namun, ketika alam tidak bisa ditaklukkan dan modal melaut benar-benar sudah tidak ada, mereka terpaksa berpaling dari laut. Perahu pun disandarkan. Adalah Sanuri (46), Aris (30), dan Rahmat (25) yang merupakan warga Kompleks Perumahan Nelayan Kel. Karangsong, Kec./Kab. Indramayu ini, adalah bagian kecil dari potret nelayan yang kini patah arang. Sanuri memilih menjadi pemulung, mengumpulkan barang dan sampah-sampah plastik serta logam untuk dijual kembali. Sedangkan Aris, dengan becak sewaannya mangkal di sejumlah tempat di Kota Indramayu, menunggu penumpang. Sedangkan Rahmat memilih menjadi operator odong-odong (sarana bermain anak-anak). Masuk kampung ke luar kampung mengais rezeki. Alasan mereka senada. Bagi nelayan kecil seperti mereka, pekerjaannya kini tidak lagi menjanjikan bahkan membuat utang makin bertumpuk. "Sekarang ini untuk melaut harus keluar modal Rp 225.000,00-Rp 250.000,00 untuk beli 30 liter solar dan perbekalan lain. Namun, hasil tangkapan hanya laku dijual tidak lebih dari Rp 200.000,00," kata Sanuri dan Aris.Menjadi pemulung, meski berlawanan dengan keinginan, saat ini ternyata lebih bisa diandalkan. Meski penghasilannya tetap tak menentu, selalu ada yang bisa dibawa pulang untuk dimakan bersama keluarga. "Dalam sehari paling sedikit bisa bawa pulang Rp 10.000,00," kata Sanuri, yang baru dua minggu "banting setir" jadi pemulung. Sedangkan Aris dan Rahmat mengatakan, sewa becak dan odong-odong paling tinggi hanya Rp 15.000,00/ hari. Setelah dikurangi pengeluaran untuk makan di jalan dan sewa becak maupun odong-odong, kadang ada sisa Rp 20.000,00- Rp 25.000,00. **<?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:office" /> Makin sulitnya kehidupan akibat tidak sebandingnya modal melaut dengan pendapatan hasil tangkapan para nelayan di Kompleks Perumahan Nelayan Karangsong terutama terjadi pascakenaikan harga BBM, Mei lalu. Dari sekitar 300 kepala keluarga (KK) nelayan di Perumahan Nelayan Karangsong, yang mayoritas korban gusuran dari pemukiman nelayan Kaliadem-Muara Angke-Jakarta, memang tidak seluruhnya meninggalkan profesi nelayan. Namun, yang bertahan sebagai nelayan kebanyakan yang telah berubah posisi menjadi nelayan mandiri dengan perahu milik sendiri. Mereka bertahan menjadi nelayan karena menjadi "bidak" (anak buah kapal) pada kapal nelayan berukuran antara 25 hingga 30 grosston (GT). Ketua Serikat Nelayan Tradisional (SNT) Kab. Indramayu Kajidin mengatakan, "Saya sudah tidak bisa ngomong soal sulitnya kehidupan nelayan pascakenaikan harga BBM ini. Akan tetapi, yang pasti, mereka terpaksa alih profesi menjadi pemulung." Sejauh ini SNT Kab. Indramayu belum mendata jumlah nelayan yang alih profesi, termasuk yang menjadi pemulung, setelah tak mampu melaut. Namun, Kajidin memastikan jumlahnya cukup besar, dan lebih dari 50% . Sejumlah pengurus SNT Indramayu telah beberapa kali datang ke Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) di Jakarta untuk mempertanyakan kebijakan pemerintah terkait kondisi buruk yang kini dialami nelayan. Namun, sejuah ini, tak ada jawaban yang bisa menjamin kehidupan nelayan ke depan. (Marsis Santoso/"PR")**** IMPORTANT NOTICE: The information in this email (and any attachments) is confidential. If you are not the intended recipient, you must not use or disseminate the information. If you have received this email in error, please immediately notify me by "Reply" command and permanently delete the original and any copies or printouts thereof. Although this email and any attachments are believed to be free of any virus or other defect that might affect any computer system into which it is received and opened, it is the responsibility of the recipient to ensure that it is virus free and no responsibility is accepted by American International Group, Inc. or its subsidiaries or affiliates either jointly or severally, for any loss or damage arising in any way from its use.

