Oleh : Dr Rochajat Harun Med. 
30-Jun-2008, 18:49:27 WIB - [www.kabarindonesia.com]

KabarIndonesia - Sejak kecil saya senang nonton wayang golek. 
Seringkali orang tua maupun teman-teman sebaya memanggil saya Ujang 
Gung Clo. Artinya, dimana dan kapan saja ada goong gamelan wayang 
berbunyi, pasti saya ada di sana di samping dalang. Kebetulan 
dalangnya itu adalah pun Uwa Koncar Kayat Dipaguna, putra dalang 
bintang Kayat Dipaguna. Katanya Beliau itu merupakan dalang 
munggaran di daerah Priangan, sesekeler eyang Pangeran Manggar.
 
Hobi nonton wayang golek ini, kadangkala lupa bahwa besok saya harus 
sekolah. Akibatnya di sekolah (Sekolah Rakyat tahun 50-an), saya 
ketiduran, sampai ngorok di bangku sekolah. Pak guru tak berani 
membangunkan. Mungkin segan terhadap orang tua saya, atau entah apa. 
Pas bubaran sekolah jam 12 siang, baru saya dibangunkan.
 
Pertunjukan wayang golek tempo dulu berbeda dengan jaman sekarang. 
Dulu mah waktunya pertunjukan cukup lama, mulai ba'da Isa kira-kira 
jam 9 malam sampai dengan jam 4 subuh, menjelang sembahyang subuh. 
Hampir semalam suntuk. Jadi pasti besoknya ngantuk di siang hari. 
Tempo dulu pertunjukan mengandung makna-makna filosofis, dan  
pendidikan moral, serta  contoh-contoh berbagai perilaku. Hingga ada 
peribasa: Turutan laku nu alus, jauhan laku nu goreng. Pasti salamet 
dunya aherat. Kebaikan dan kejahatan seseorang itu dilukiskan dalam 
berbagai bentuk penampilan wayang. Ada yang berkarakter baik, 
sinatria, jujur, jahat , penipu dan sebagainya.
 
Sebaliknya, tontonan wayang golek jaman sekarang, waktunya sangat 
pendek. Paling-paling 1 atau 2 jam saja. Langsung pada dagelan alias 
bobodoran, tanpa kakawen bubuka maupun cerita percontohan yang 
bersifat filosofis dan pendidikan moral. Pokoknya asal banyak 
penonton ketawa saja. Itu sudah cukup.   Ada satu hal yang sampai 
sekarang sangat berbekas pada benak saja. Yaitu hal yang menyangkut 
kepemimpinan menurut pakem pawayangan. Dalam suatu episode ceritera, 
dituturkan bahwa Begawan Abiyasa pernah menyampaikan fatwanya kepada 
lima orang cucuya para satria Pandawa Lilima sebagai berikut. 

Pertama, syarat seorang pemimpin harus memiliki sifat cekel deleg nu 
sampurna. Lima syarat mutlak bagi seorang pemimpin adalah: 
1.      Pok ngomong, ulah rek bohong; 
2.      Dipercaya, ulah rek ngaruksak; 
3.      Pasini, kudu ngajadi; 
4.      Talatah, kudu ditepikeun; 
5.      Welas asih, ka papada jalma.
Kedua,  lima model atau tipe kepemimpinan yang perlu dipahami, serta 
diresapi karakteristiknya, adalah: 

1. Merak Kacangcang, adalah tipe pemimpin yang digambarkan sebagai 
burung merak. Suka pamer akan apa yang dimilkinya, baik harta 
kekayaan, ilmu pengetahuan, kecakapan, ketampanan, pangkat dan 
sebagainya. Contoh dalam dunia Pewayangan adalah Subali atau prabu 
Rahwana. Mereka suka pamer. Takabur, seolah-olah  dialah yang paling 
pinter dan gagah. Pinter aing henteu batur. Mereka punya watak 
demikian karena reueus punya aji Pancasona, ilmu kekebalan diri moal 
paeh-paeh.2. Kidang Kancana, adalah tipe pemimpin yang vested 
interest terhadap posisi maupun kedudukan yang lebih menguntungkan 
bagi dirinya sendiri. Dia pindah-pindah tempat kerja yang kiranya 
lebih enak menurut pandangan dia, walaupun dengan cara-cara yang tak 
wajar ataupun licik. Contoh dalam Pewayangan adalah Kombayana, yang 
mengembara keluar dari negeri Keling untuk mencari-cari posisi dan 
kedudukan yang lebih sohor. Menunggangi dewi Lotama, seorang 
widadari yang menyamar sebagai kuda, yang dapat menyeberangi 
samudra. Dari perilaku Kombayana menunggangi kuda tersebut, maka 
lahirlah Aswatama, putra satu-satunya Kombayana.  3. Gentong Ngumes, 
adalah tipe pemimpin yang pamrih. Dia mempunyai ilmu yang tinggi 
tapi tidak mau mengajarkan dan mengamalkan apabila tak ada imbalan 
jasa. Contoh dalam pewayangan adalah Togog, atau Karna dipati 
Awangga. Dia tak mau meladengi permintaan seseorang bila tak ada 
imbalannya, yang cocok menurut selera dia.  4. Purwa Sajati, adalah 
tipe pemimpin yang punya sifat amanah dan fatonah. Tidak pamrih. 
Melaksanakan tugas secara ikhlas, sepi hing pamrih rame hing gawe. 
Contoh dalam pewayangan adalah prabu Dharma Kusumah, yang berarti 
ngalakoni atau menjalankan tugas kenegaraan. 

Kita tentunya mengenal pula beberapa teori kepemimpinan dari dunia 
Barat, mulai teori klasik hingga teori moderen seperti banyak 
dikemukakan oleh Abraham Zalzenik (1977); John P. Kotter (1990); 
James M. Kauzes and Barry Z. Posner (1992); Burt Nanus (1992); 
Elwood N. Chapman (1991); Peter A. Topping (2002); dan sebagainya. 
Kita juga tentu mengenal tipe-tipe kepemimpinan yang terkenal dari 
Ki Hajar Dewantara: Hing Ngarso Sung Tulodo, Hing Madio Mangun 
Karso, Tut Wuri Handayani.
 
Namun apa yang dikemukakan diatas, tentunya hanyalah secercah 
singkat tentang kepemimpinan dari versi Pewayangan. Aplikasi 
berbagai teori tentunya sangat bergantung kepada kelihaian seseorang 
untuk mencermati dan melaksanakannya secara tepat. Apalagi praktik 
kepemimpinan sangatlah situasional, kondisional, dan kontekstual.   

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): [EMAIL PROTECTED]
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com



Kirim email ke