ieu mah nyanyahoanan we heuheu... keur urang sastra, kecap teu saklek kudu
kitu hartina.
genetik dina puisi rosihan anwar paningali kuring mah lain gen manusa nu
diturunkeun ti kolot ka budakna. tapi genetik generasi. nu diturunkeun ti
generasi saluhureunna ka generasi sanggeusna.

kitu pamaca kuring mah. duka

2008/7/10 Waluya <[EMAIL PROTECTED]>:

>   Aya sajak ti millis sabeulah, cenah mah meunang Rosihan Anwar (Wartawan
> senior), "Aku Tidak Malu Jadi Orang Indonesia". Nu kuring jadi seuri
> koneng,
> Cenah Indonesia jadi kieu teh, kulantaran kiriman genetik karuhunana
> ....hehehehe
>
> Nyanggakeun sajakna:
>
> Aku Tidak Malu Jadi Orang Indonesia
>
> H Rosihan Anwar
>
> Aku tidak malu jadi orang Indonesia ...
> Biar orang bilang apa saja, biar, biar ...
> Indonesia negara paling korup di dunia
> Indonesia negara gagal
> Indonesia negara lemah
> Indonesia melanggar HAM
> Elite Indonesia serakah harta dan kekuasaan
> Presiden-presiden Indonesia dilecehkan humoris
> Dengarlah, Bung Karno dimanfaatkan komunis
> Pak Harto dimanfaatkan putra-putrinya
> Habibie dimanfaatkan konco-konconya
> Gus Dur dimanfaatkan tukang pijitnya
> Megawati dimanfaatkan suaminya
> Catatlah, Bung Karno menciptakan keamanan dan
> persatuan bangsa
> Pak Harto menciptakan kemakmuran bangsa dan
> keluarganya
> Habibie menciptakan demonstrasi
> Gus Dur menciptakan partai kebangkitan bangsa
> Megawati menciptakan kenaikan-kenaikan harga
> Alah mak, Bung Karno turun dari presiden karena Supersemar
> Pak Harto turun dari presiden karena superdemo
> Habibie turun dari presiden karena supertransisi
> Gus Dur turun dari presiden karena superskandal
> Megawati turun-temurun jadi presiden
> Maka Anda tahu sekarang kenapa
> Aku tidak malu jadi orang Indonesia
> Indonesia punya istilah-istilah khas di dunia korupsi
> Ada ahli gizi yang Nurcholis Madjid tidak mampu penuhi
> Ada istilah angpao untuk uang atensi
> Ada amplop untuk bikin kocek tebal berisi
> Ada saweran duit untuk membayar pengacara hitam dan
> menyuap aparat hukum
> Ada prosedur untuk menilep uang rakyat dan institusi
> dilakukan beramai-ramai oleh gubernur, bupati,
> walikota, anggota DPRD dan DPR
> Ada tren yang kuat menguasai kaum koruptor
> Simaklah sejarah bangsa dan Tanah Air
> Semenjak dulu zaman kompeni
> Pegawai VOC kirim laporan Kepada Heren Zeventien di
> Tanah Wolanda
> Elke Regent Heeft zijn Chinees
> Tiap Bupati punya orang Cinanya
> Maknanya jelas pejabat feodal dihidupi pedagang Cina
> Syahdan, Susuhunan Amangkurat II dari Mataram
> Mengutus misi sembilan duta ke Batavia
> Minta kepada Bapak Kompeni
> Agar dikirimi cinderamata
> Mulai dari ayam Belanda, kuda Persia hingga gadis
> Makassar
> Jangan lupa putri Cina untuk jadi selir Raja
> Kraton Kartasura menebar bau korupsi, seks dan duit
> Ditambah intrik-intrik kalangan pangeran
> Bagaimana kerajaan tidak akan binasa?
> Itulah warisan sejarah dari generasi ke generasi
> Sehingga yang tampak kini di bumi persada Pertiwi
> ADALAH KIRIMAN GENETIK KEPADA KITA SEMUA
> Anda dan aku tidak terlepas dari hukumnya
> Maka Anda tahu sekarang kenapa
> Aku tidak malu jadi orang Indonesia
> Sebab memang begitulah nasibku
> Kismet, kata orang bijak-bestari
> Korupsi adalah sejenis vampir
> Makhluk halus bangkit kembali dari kubur
> Kemudian keluar pada malam hari
> Dan mengisap darah manusia yang sedang tidur
> Di layar film Hollywood wujudnya adalah Count Dracula
> yang bertaring
> Diperankan aktor Bela Lugosi
> Vampir yang hilang kesaktiannya bila terkena sinar
> matahari
> Akan tetapi drakula-drakula Indonesia tetap perkasa
> Beroperasi 24 jam, ya malam ya siang mencari korban
> Sehingga sia-sialah aksi melawan korupsi membasmi
> drakula
> Yang telah merasuki rongga dan jiwa aparat negara
> Yang membuat media memberitakan
> Akibat bisnis keluarga pejabat, Tutut-Tutut baru
> bermunculan.
> Aku orang terpasung dalam terungku kaum penjarah harta
> negara
> Akan aneh bila berkata aku malu jadi orang Indonesia
> Sorry ya, Aku tidak malu jadi orang Indonesia
> Kuhibur diri dengan sajakku magnus opus karya sang
> Empu
> Sajak pendek yang berbunyi:
> Katakan beta
> Manatah batas
> Antar gila Dengan waras
> Sorry ya, inilah puisiku melawan korupsi
> Siapa takut?
> Penulis adalah seorang wartawan senior
>
> (Dibacakan pada acara Deklamasi Puisi di Gedung Da'wah
> Muhammadiyah di Jakarta, 31 Desember 2004. Juga
> dibacakan dalam acara pertemuan keluarga wartawan
> senior di rumah penulis pada tanggal 9 Januari 2005,
> di Jakarta)
>
>  __._
> ,___
>



-- 
d-: dudi herlianto :-b
~karék cénah~

Kirim email ke