Asa geus lila teu narima kabar Kandaga Organic, Runa, kang Oman, dll.
Rengrengan geng motor eh, pengelola Kandaga Organik. Apa kabarnyah?

kuring arek nanya, ari Kandaga Organic melak Rosella teu?
sugan rosella organic mah leuwih alus kualitasna.
(meh kuring bisa jadi pengedar, he..he..he.. tapi lain pengedar Canabis, ieu
mah pengedar Rosella )




http://www.kompas.com/read/xml/2008/04/11/21035155/petani.lahan.pasir.mulai.lirik.rosella

Jumat, 11 April 2008 | 21:03 WIB

*WATES, JUMAT* – Budidaya tanaman bunga Rosella *(Hibiscus Sahdariffa L) *kini
mulai diminati petani lahan pasir di pesisir pantai selatan Kulon Progo.
Selain perawatannya yang relatif mudah, harga jual kelopak bunga berwarna
merah ini pun terus menanjak seiring tingginya permintaan pasar.

Rintisan budidaya Rosella sudah bisa dilihat di beberapa lahan pasir di
sepanjang Pantai Trisik, Bugel, dan Glagah. Meskipun demikian, tanaman ini
belum diusahakan secara monokultur, melainkan hanya sebagai selingan bagi
tanaman pertanian yang lain, seperti cabai, jagung, dan buah naga.

Menurut Aris Muko (45) warga Dusun I Bugel, Panjatan, usaha penanaman
Rosella saat ini sifatnya masih coba-coba. Belum ada petani yang
sungguh-sungguh memelihara Rosella karena pada awalnya mereka khawatir soal
pemasaran.

"Ternyata setelah tanaman berbunga dan siap panen, justru banyak pembeli
yang datang sendiri ke petani. Harga jual yang ditawarkan pun cukup tinggi,
sehingga tahun depan kami akan lebih serius menanam Rosella," ujar Aris yang
hanya memiliki 100-an batang tanaman Rosella, Jumat (11/4).

Tiap kilogram kelopak bunga Rosella kering dibeli dari petani seharga Rp
100.000-Rp 140.000, tergantung mutu dan kualitasnya. Adapun penilaian
kualitas ini masih sepenuhnya berada di tangan pembeli. Petani umumnya tidak
tahu tentang standar kualitas Rosella kering yang diinginkan pasar.

Memelihara tanaman Rosella, diakui Bejo (56), petani di Pantai Bugel, cukup
mudah. Tanaman Rosella mudah tumbuh di lahan pasir tanpa harus disiram atau
diberi pupuk secara intensif. Menurut Bejo, tanaman ini hanya akan
menghasilkan kelopak bunga di musim kemarau.

Dari sekitar 200-an batang Rosella, Bejo bisa memanen sekitar satu kilogram
kelopak bunga basah per hari. Untuk dapat menghasilkan satu kilogram kelopak
bunga kering, maka dibutuhkan setidaknya 8-9 kilogram kelopak bunga basah.

"Dua minggu sekali ada pembeli yang datang langsung ke tempat saya. Hasil
penjualan Rosella cukup lumayan sebagai tambahan penghasilan dan membiayai
perawatan tanaman lain," kata Bejo yang juga bertananam cabai ini.

Diakui Paulus Tribrata, pemilik kebun agrowisata "Kusumo Wanadri" di Pantai
Glagah, Temon, tingginya harga jual memang memicu animo petani lahan pasir
untuk mulai menanam Rosella. Kebun agrowisata Rosella dan buah naga seluas
3,5 hektare milik Paulus kerap dijadikan lokasi belajar petani.

Paulus pun berharap agar pemerintah daerah, dapat memberi perhatian lebih
terhadap budidaya Rosella. "Ini merupakan komoditas pertanian alternatif
yang amat baik untuk diusahakan secara serius dibanding tanaman cabai atau
semangka karena permintaan pasar cukup tinggi," ujarnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Kelautan Kulon Progo, Agus Langgeng Basuki
mengatakan pihaknya sudah mengimbau petani untuk menanam Rosella sejak tahun
2005. Hanya saja, saat itu petani belum tertarik karena harga komoditas
cabai masih cukup baik. Meskipun demikian, ia mengatakan siap membantu
petani untuk menggiatkan budi daya Rosella.

Dalam dunia kesehatan dan pengobatan dengan bahan baku tanaman herbal,
Rosella dikenal memiliki khasiat yang cukup baik untuk mengurangi kekentalan
darah sehingga mampu mengobati penyakit degeneratif seperti hipertensi,
stroke, kolesterol, dan sakit jantung. Menurut Paulus, khasiat ini terutama
disebabkan oleh kandungan kimia asam organik, polisakarida, flavonoid, dan
aneka jenis vitamin dengan konsentrasi tinggi pada kelopak bunga Rosella.

Kirim email ke