Hebat ..pisan eta SA..leres jenderal ahli Startegi perang..seranga ampfibi terpadu baris ngagunakeun kaayaan medan anu nguntungkeun...Strategi ieu masih dianggo zaman kiwari oge..
On 7/22/08, mj <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Sedikit cerita sejarah bernuansa klimatologi dan topografi Jawa, sayang > rasanya kalau diketahui sendiri saja. Saya tuliskan untuk rekan-rekan semua, > semoga bermanfaat menambah pengetahuan. > > > > Menarik mencermati publikasi lama Fruin-Mees (1919) : "Geschiedenis van > Java" dan "Geografi Kesejarahan" Daldjoeni (1984, 1992). Kedua penulis ini > menganalisis dengan tajam bagaimana Sultan Agung dari Mataram > menghitung-hitung rintangan dan dukungan alam untuk menyerang Belanda di > Batavia (1628-1629). Berikut ringkasannya. > > > > Batavia tak mungkin diserbu pada bulan Desember dan Januari karena saat itu > musim penghujan. Banjir akan menggenangi Batavia, angin Barat yang sedang > berhembus ke timur akan menyusahkan kapal-kapal Mataram berlayar ke barat > dari pesisir utara Jawa Tengah menuju Batavia. > > > > Selain itu, Batavia harus digempur dari laut dan dari darat secara bersatu > dan kompak. Ini tak mungkin dalam bulan-bulan musim hujan, tetapi harus > dilakukan dalam musim kemarau yaitu Juli-September. Sebab, pada musim > kemarau bertiup angin Timur ke barat yang akan mendorong kapal-kapal Mataram > berlayar ke Batavia. Pada musim kemarau, angkatan darat Mataram akan > memperoleh banyak bantuan dari para petani di sepanjang perjalanan sebab > para petaninya baru selesai memanen padinya pada April-Mei (ingat sistem > pranata mangsa para petani di Jawa, pernah saya ulas juga di milis ini > berdasarkan Daldjoeni, 1984; 1992), mereka sedang menganggur sebab baru akan > mulai menanam lagi pada bulan November saat hujan pertama datang. > > > > Lalu, bila serangan dilakukan pada bulan Juli-September, persediaan makanan > sepanjang perjalanan akan cukup sebab di sepanjang perjalanan para petani > baru selesai panen (April-Mei). Sultan Agung memerintahkan untuk mendirikan > lumbung-lumbung beras sepanjang perjalanan dari Mataram ke Batavia. > > > > Perjalanan kaki tentara Mataram dari pusat kerajaan di sekitar Yogyakarta > ke Batavia butuh waktu tempuh 90 hari, ini tentu akan lebih lama bila > dilakukan pada musim hujan. > > > > Kemudian, Batavia akan diserang dengan cara membelokkan Sungai Ciliwung, > sehingga Batavia akan menderita kekeringan dan wabah penyakit sebab tak ada > air mengaliri kota. Membelokkan sungai bukan pekerjaan mudah dan tentu ini > akan lebih mudah dilakukan pada saat musim kemarau saat debit sungai > minimal. > > > > Sementara itu, perlu juga diperhitungkan kondisi geomorfologi dan geografi > kota Batavia dan sekitarnya. Menurut de Haan (1912) : "Priangan", Batavia > pada abad ke-17 terletak di muara Sungai Ciliwung, berawa-rawa, dengan > vegetasi dominan pohon kelapa. Sampai tahun 1625, bila di Batavia hujan maka > terjadi genangan setinggi lutut. Orang bahkan bisa naik sampan untuk masuk > ke hutan-hutan di belakang Batavia. Sampai tahun 1655 ada pendapat bahwa > Batavia pada musim hujan tak mungkin diserang kalau pada musim hujan sebab > genangan air akan merupakan penghalang. Rawa-rawa di sekitar Jakarta itu > telah ada sejak abad-abad awal Masehi maka para pedagang dari Hindustan > (India) tak memilih menempati Jakarta sebab kondisinya tidak sehat. > > > > Pada tahun 1628, daerah Jatinegara sekarang masih merupakan hutan rimba > yang dijadikan tentara Mataram untuk bersembunyi sebelum menyerang Batavia. > Tahu begitu, maka Belanda menebangi banyak pohon di sekeliling benteng > Batavia termasuk pohon-pohon kelapanya. Maka, Batavia pun kekurangan kelapa > dan Belanda mendatangkan kelapa dari Pulau Cocos dekat Pulau Christmas di > Samudera Hindia. Itu terjadi tahun 1632. > > > > Fruin Mees (1919) menulis bahwa Sultan Agung menyerang Belanda di Batavia > dua kali, yaitu dari September 1628 dan September 1629. Keduanya sengaja > dipilih pada musim kemarau. Serangan pertama gagal karena ketika pengepungan > sedang dilakukan tiba-tiba turun hujan pertama, maka para tentara yang > sebagian petani menjadi gelisah sebab mereka ingin segera bertani. Maka > para tentara di bawah pimpinan Sura Agul-Agul itu kembali ke Mataram. Pada > serangan kedua, Sungai Ciliwung berhasil dibelokkan sehingga kota dilanda > penyakit. J.P. Coen, gubernur jenderal saat itu, meninggal pada 20 September > 1629 karena serangan penyakit tersebut (sumber lain mengatakan bahwa ia > dibunuh seorang tentara Mataram yang menyelinap masuk ke benteng). Tetapi, > perang bubar pada 7 Oktober 1629 seiring turunnya hujan pertama pada masa > labuh. Tentara petani memaksa pulang ingin mengerjakan sawahnya. > > > > Begitulah, perang masa lalu tak bisa dilepaskan dari irama permusiman di > darat dan pergantian arus laut di Laut Jawa. Strategi Sultan Agung dari > Mataram untuk menyerang Belanda di Batavia sebenarnya cukup pelik dan berat > sebab harus selalu memperhitungkan kerumitan faktor alam. Fungsi iklim dan > geomorfologi akan mempengaruhi kesuksesan perang. Dua faktor ini juga > mempengaruhi aktivitas manusia (khususnya) petani yang dijadikan tentara. > > > > Pada masa rendheng (Desember-Maret) tak diadakan perang sebab pertanian > padi basah sedang berlangsung, tak ada tenaga petani yang mau jadi tentara. > Pada mangsa mareng (April-Juni) sedang terjadi pengumpulan bahan makanan > (panen). Pada mangsa katiga (Juli-September) baru diadakan penyerangan yang > diakhiri pada awal mangsa labuh (Oktober-November). > > > > Salam, > > awang > > >

