Bisa Lebih Parah Katimbang Afrika

07-08-2008

Konperensi Aids sedunia di Mexico melaporkan epidemi Aids di Indonssia
dan negara-negara Asia lainnya akan lebih parah katimbang Afrika.
Bagaimana tanggapan pengamat masalah aids Dr. Dédé Oetomo ihwal
perkembangan yang memprihatinkan ini?

act-040218_aids.jpgDédé Oetomo [DO]: Saya nggak tahu apakah akan
menjadi lebih parah dari Afrika, itu perkiraannya kalau kita tidak
berbuat apa-apa gitu. Jadi mudah-mudahan kita berbuat sesuatu ya.
Dalam lima tahun terakhir, di Indonesia epideminya masih
terkonsentrasi pada pengguna narkotik suntik, pada pekerja seks
perempuan dan waria dan juga pada laki-laki yang berhubungan seks
dengan laki-laki kan. Nah, pada populasi-populasi ini angkanya memang
dalam lima tahun terakhir ini melonjak 100% rata-rata.

Melonjak
Radio Nederland Wereldomroep [RNW]: Tapi apakah ini juga diakui oleh pemerintah?

DO: Diakui, jadi ini angka-angka pemerintah sendiri. Dari segi
keterbukaan, sudah terbuka sekali estimasi pemerintah sekarang ini
sudah sekitar 200ribu. Cuma memang kalau dibiarkan tanpa kita berbuat
sesuatu itu memang bisa melonjak cukup tinggi gitu.

Saya kira perlu disebutkan khusus juga bahwa di tanah Papua epideminya
sudah masuk ke penduduk biasa, masyarakat biasa. Per jumlah penduduk
lima belas kali dari Indonesia selebihnya.

RNW: Dan yang menjadi masalah juga, Anda sudah mengatakan pemerintah
pusat sudah terbuka, tapi pemerintah daerahnya sekarang kan ada
otonomi daerah gitu?

DO: Betul, memang ini menjadi persoalan, tapi ya ini yang perlu
dikerjakan. Yang agak mengkhawatirkan sebetulnya, di beberapa daerah
itu hampir nggak ada kegiatan HIV samasekali. Nah, ini yang membuat
kita agak khawatir.

Tapi kalau mau optimis sebetulnya kita bisa katakan bahwa di Medan
sekarang ada program dan mulai menyebar ke kota-kota sekitarnya. Di
Banda Aceh dalam setahun ada program berbagai populasi. Cuma memang
ada kosong-kosong gitu, seperti Sumatera Barat masih ada kosong-kosong
gitu ya.

Lokalisasi
RNW: Tapi maksud saya tidak hanya masalah program, tapi juga masalah
kebijakan polisi ya, dalam mengejar-ngejar PKS misalnya?

DO: Ya, memang itu memang belum selesai, tapi kalau kita lihat sisi
optimisnya sudah ada keputusan menteri dalam negeri sebagai anggota
KPA, Komisi Penanggulan Aids, memerintahkan gubernur, bupati mau pun
walikota untuk mengalokasikan anggaran untuk HIV. Jadi dulu anggaran
menunggu pusat, sekarang harus ada anggaran daerah, dan juga yang
paling tidak bagus yaitu melibatkan masyarakat.

RNW: Tapi kalau pemerintah daerah menerapkan lokalisasi harus ditutup
karena syariat islam dan sebagainya, bagaimana itu?

DO: Itu yang sebetulnya memang harus diadvokasi ya, jadi bagaimana
mengingatkan pemerintah daerah menutup lokalisasi itu tidak cerdas dan
bahkan merugikan misalnya. Bahwa mengejar-ngejar waria dan gay yang
feminin di jalan itu atau merazzia mereka juga nggak menyelesaikan
masalah. Organisasi masyarakat yang sudah cukup kuat untuk
tawar-menawar dengan pemerintah sih bisa sebetulnya. Jadi harus
diusahakan sebetulnya, memang ada kekhawatiran itu.

RNW: Tapi ini ada berita dari Koran Tempo, sepuluh kecamatan di
Tangerang katanya sudah endemi HIV/Aids. Dan dari kesepuluh itu
ternyata sangat mengkhawatirkan karena lokalisasinya di tutup dan
sebagainya dan yang menyebarkan virus itu, menurut berita ini pekerja
seks komersial.

DO: Sebetulnya bukan dengan maksud untuk ceroboh ya, angka di pekerja
seks perempuan termasuk rendah. Yang tinggi itu pada pengguna narkotik
suntik. Sekarang untuk Jakarta misalnya 59% itu HIV positif. Ya dengan
segala hormat kepada teman-teman dari media, kadang-kadang mereka juga
kurang mengikuti analisa terakhir, atau kita juga bisa salahkah bahwa
kami-kami di organisasi HIV kurang bisa menjelaskannya gitu.

Terlambat
RNW: Tapi yang mencolok bagi saya, Tangerang itu kan pemerintah
daerahnya sangat ketat. Bahkan saya juga membaca menerapkan syariat
islam juga di sana?

DO: Sebetulnya menerapkan perda yang berdasarkan syariat islam. Kita
juga tahu bahwa hukum bukan jawaban segala-galanya ya, itu yang sering
dilupakan orang juga. Entah bagaimana, ini memang ada satu kesimpulan
dari orang-orang yang mengkaji tentang perda-perda syariah ini, itu
rata-rata mereka meniru.

Jadi katakanlah misalnya Tangerang mengeluarkan atau siapa dulu
mungkin Padang misalnya lalu praktis diambil dari file computer lalu
diganti nama daerahnya dan itu tampaknya merupakan kapital politik ya,
untuk pemilihan umum, untuk pemilihan bupati, walikota seperti itu.
Tapi barangkali niat sesungguhnya untuk betul-betul menerepkan itu
juga tidak terlalu kuat. Dan juga kalau untuk angka-angka HIV kan bisa
kita lihat bahwa itu terjadinya mungkin beberapa tahun yang lalu
penularannya.

Kita sedang advokasi juga supaya tokoh-tokoh agama, satu, tidak hanya
misalnya mengkaitkannya dengan tindakan moral ya. Yang kedua
sebetulnya supaya mau mendampingi orang bukan hanya ketika mau
meninggal. Kritik saya terhadap para tokoh agama mereka siap
mendampingi kalau orang mau meninggal.

Ini sudah terlambat. Ketika diajak untuk pencegahan mereka takut atau
jijik, atau apa begitu. Dan saya kira itu akan menjadi berubah ketika
tokoh agama sendiri ada yang sero positif, karena mereka pada nggak
tes sih! Lho, di Afrika Selatan kan ada itu ikatan imam yang sero
positif, di Irlandia ada ikatan pastor yang sero positif, apa yang
membedakan mereka dari manusia biasa?

Citation: http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/hiv_aids_parah

Kirim email ke