Hilangnya Sumber Air Kuno Qanat Thijs Westerbeek
05-08-2008 Selama ribuan tahun, 'Qanat', telah dipakai di Timur Tengah dan berbagai wilayah kering dunia lainnya. Ini adalah terowongan buatan bawah tanah tempat air mengalir untuk minum dan irigasi. Prinsip gravitasi bumi dipakai untuk mengalirkan air dari sumber air ke wilayah pemukiman yang lebih rendah. Karena berbagai proyek pertanian besar-besaran dan minimnya perawatan, terowongan air ini terancam hilang. Reporter Radio Nederland, Thijs Westerbeek, mewawancarai Joshka Wessel, antropolog dan ahli geografi sosial. Ia melakukan penelitian mengenai cara kerja Qanat, bagaimana terowongan ini bisa menampung air dengan baik. Ia menjelaskan cara kerja Qanat: "Tiga ribu tahun lalu, orang di Iran menemukan cara mengalirkan air dari sumber air ke wilayah yang lebih rendah dengan menggali terowongan. Misalnya, penduduk desa yang terletak di sebuah lembah ingin memakai sumber air yang berasal dari gunung. Mereka lalu membuat terowongan dari sumber air ke bawah mengikuti lingkaran gunung. Air itu mengalir dengan sendirinya ke tempat penampungan air di desa". Dengan prinsip ini, Qanat sebenarnya sumber air buatan yang ramah lingkungan. Air dialirkan secara alami tanpa memakai energi tambahan, misalnya listrik. Selain itu, terowongan air buatan ini tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. Qanat1.gif Proyek Besar Panjang Qanat bisa mencapai dua puluh kilometer dengan kedalaman 100 meter di bawah tanah. Terowongan ini digali dengan menggunakan linggis berukuran satu setengah sampai dua meter. Pada masa itu, pembuatan Qanat adalah proyek besar-besaran karena orang mengerjakan semuanya dengan tangan. Qanat2.jpg Sebelum terowongan dibuat, terlebih dahulu digali sumur. Lalu, diukur berapa dalam terowongan harus digali untuk mengalirkan air. Mereka kemudian mulai menggali terowongan. Setiap 10 sampai 15 beter harus dibuat celah udara agar para penggali tidak kehabisan nafas. Tidak habis Pembangunan Qanat memakan waktu dan biaya yang sangat besar. Namun demikian, setelah jadi terowongan ini bisa dipakai seumur hidup. Sayangnya, saat ini Qanat terancam hilang. Joshka Wessels menjelaskan kenapa: "Pada masa modern, air dalam jumlah besar diperlukan misalnya untuk pertanian. Yang terjadi di Iran, misalnya, orang lalu menyedot air dari bawah tanah dengan menggunakan mesin pompa. Akibatnya persediaan air tanah jadi menipis. Permukaan air bawah tanah lalu menurun. Qanat jadi korban petamanya". Dengan semakin turunnya permukaan air bawah tanah, berbagai Qanat di Iran, Afganistan, Irak dan Suriah menjadi kering. Selain itu, karena tidak dipakai, terowongan bisa mati karena tersumbat pasir atau bebatuan lainnya. Penduduk lalu meninggalkan Qanat dan mulai memakai pompa air. Kerja sama Joshka Wessels menyayangkan punahnya Qanat. Oleh karen itu, ia melakukan penelitian ke dua wilayah pemukiman di gurun yang masih memakai Qanat. Ia meneliti bagaimana terowongan air itu bisa dilestarikan. Qanat sebenarnya harus dibersihkan setiap 15 tahun sekali. Wessels menemukan bahwa pelestarian terowongan hanya bisa dilakukan apabila penduduk desa bekerja sama. Melihat besarnya Qanat tidak mungkin ini dibersihkan hanya oleh satu orang. Dalam buku yang disusun berdasarkan penelitiannya, Wessels merekomendasikan dua hal untuk melestarikan Qanat. Yang pertama adalah pemeliharaan sumber air bawah tanah. Wilayah sekitar sumber air harus bebas pompa air. Selain itu masih ada yang harus dilakukan. Joshka Wessels: "Syarat utamanya adalah kerjasama yang baik antara penduduk lokal. Ini untuk memastikan agar Qanat tetap dipakai apabila sudah direnovasi. Kita bisa saja mendatangkan ahli dari luar untuk merenovasi Qanat. Tapi, tanpa adanya kerjasama antara para penduduk yang memakai terowongan air ini, pada suatu ketika Qanat akan rusak dan tidak bisa dipakai lagi." Citation: http://www.ranesi.nl/tema/detakbumi/Qanat_05082008

