meunang mulung ti kompas... enya ...Purwakarta, Puncak, Cianjur, Rajamandala siga kota paeheun ku ayana tol cipularang... sigana mun Jalan Tol nu ngalangkungan SUMEDANG jadi... pasti cadas pangeran teu pati rame siga ayeuna... jeung deui sumedang bakal sepi di poe minggu teu siga ayeuna,.. rame jeung macet hareupeun Griya...
Matinya Jalan Harapan Rabu, 20 Agustus 2008 | 10:29 WIB Suara kendaraan menderu di luar, tetapi Jajang Ahmad Hidayat (42) terlihat nyenyak. Beralas selembar karpet hijau di pojok ruang bekas Rumah Makan Ma Tasik 2 di Jalan Raya Rajamandala, Cipatat, Bandung Barat, ia tertidur menunggu pembeli. Seorang pria membangunkannya. "Dia bisa bercerita tentang bagaimana rumah makan ini dibangun hingga akhirnya ditutup," ujar pria itu. Jajang terbangun dan bergegas menyiapkan tiga kursi plastik di sisi meja dagangan. Di atas meja tersedia berbagai minuman ringan, kerupuk, mi instan, gorengan, dan nasi bungkus. Seperti hari-hari lain sejak setahun lalu, Sabtu (16/8) siang itu terasa sepi bagi Jajang. Kendaraan hilir mudik melintas di ruas utama Bandung-Cianjur. Namun, hal itu tak cukup membuatnya gembira. "Sulit berharap ada pembeli datang," ujarnya. Dua belas tahun lalu, Jajang datang ke Rajamandala. Pertama kali ia diterima bekerja sebagai juru parkir di Rumah Makan Ma Tasik 2. Meskipun bekerja sebagai "pegawai rendahan", Jajang bisa membawa pulang uang rata-rata Rp 50.000 per hari. Uang parkir yang terkumpul dari seratusan bus yang singgah bisa mencapai Rp 120.000 per hari. Dari jumlah itu, Rp 5.000 disetor kepada pengelola rumah makan dan sebagian sisanya dibagi kepada juru parkir lain. Dari pendapatannya, Jajang sanggup membeli sepeda motor, bahkan berganti jenis hingga empat kali. Ia juga membeli sawah seluas 500 meter persegi di kampungnya di daerah Leles, Garut, menafkahi keluarga, serta membayar ongkos sekolah anaknya. "Hampir sembilan tahun sejak 1996, omzet rumah makan bisa mencapai Rp 50 juta per hari. Dari toilet saja bisa terkumpul hingga Rp 2,5 juta per hari," katanya. Tahun 2004, omzet dagangan Jajang Jatnika, pemilik rumah makan, terus menurun. Kondisinya semakin parah sejak 26 April 2005, sejak dibukanya Jalan Tol Purwakarta-Bandung-Cileunyi (Purbaleunyi) atau Cikampek-Purwakarta-Padalarang (Cipularang). Majikan Jajang itu terpaksa merumahkan 80 karyawan dan menyewakan asetnya kepada investor. Investor baru asal Taiwan berminat menyewa. Namun, akibat sepinya pembeli, sang investor pun melepas kembali rumah makan tersebut setelah sempat mengelolanya hampir dua tahun. Dijual Kondisi yang tak jauh berbeda terlihat di ruas Cianjur hingga Bandung Barat. Belasan pertokoan, kios, dan warung yang menjual oleh-oleh, makanan, dan lainnya ditawarkan untuk dijual atau disewakan. Apih (70) adalah salah satu pemilik toko manisan yang sedang menjelang bangkrut. Sebelum ruas tol dibuka, pendapatan toko kecilnya bisa mencapai Rp 1 juta per hari pada hari-hari biasa. Pada hari libur atau akhir pekan, pendapatan bisa melonjak hingga Rp 2 juta lebih. "Di ruas Bypass Cianjur saja, ada 13 toko besar manisan yang sudah tutup. Padahal, toko- toko itu termasuk top dengan pembeli yang terus membeludak setiap hari," kata Apih. Sekarang, pada hari libur dan akhir pekan pun belum tentu ada pembeli datang. Bagi Apih, perbedaan untung dan buntung memang setipis kulit ari. Kemudahan mencari uang saat jalur Puncak-Cianjur masih padat dilalui pengendara dari Jakarta ke Bandung dan sebaliknya tiba-tiba berubah 180 derajat ketika ruas tol yang menghubungkan Cikampek dan Padalarang dioperasikan. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Dewan Pimpinan Daerah Cianjur Satyawan Hambari mengatakan, semenjak ruas tol itu dibuka, penurunan omzet restoran yang masih buka mencapai 70 persen dibandingkan sebelum ruas tol itu dibuka. Penurunan untuk hotel bisa mencapai 50 persen. Satyawan menyebutkan, ada banyak restoran di sepanjang ruas Puncak-Cipanas hingga Cianjur yang tutup karena tidak ada lagi pembeli. Beberapa restoran terkenal yang sudah tutup dan segera dijual adalah Sari Kuring, Kampung Kembang, Koki Gendut, Sambal Colek, dan Simpang Raya Padang. "Pembukaan ruas Tol Cipularang yang mengakibatkan matinya berbagai sektor usaha di Puncak-Cipanas-Cianjur itu berdampak ganda ekonomi pada banyak hal. Tenaga kerja, pertanian, perikanan, dan perdagangan mengalami zero growth, bahkan minus growth," ujar Satyawan. Sebagian sektor usaha yang masih bisa bertahan umumnya berada di kawasan Puncak-Cianjur. Tempat wisata, seperti Kebun Raya Cibodas dan Taman Bunga Nusantara di kawasan Puncak-Cipanas, membuat tempat itu masih dikunjungi wisatawan pada akhir pekan atau hari libur. Kondisi ruas Cipanas hingga Cianjur sepi karena tidak ada tempat wisata yang bisa dimanfaatkan oleh pelancong. Sudaryono, pengamat tata kota dari Universitas Gadjah Mada, mengatakan, pembangunan Jalan Raya Pos (De Grote Postweg) memicu perubahan konsep bermukim atau berkota dari permukiman yang berbasis agraris menjadi permukiman yang berbasis pada transportasi. Harapan perubahan ekonomi akibat kehadiran Jalan Raya Pos di ruas Puncak-Cianjur-Bandung 200-an tahun lalu sempat terbukti. Namun, harapan itu justru dimatikan oleh pemangku kebijakan negeri ini tanpa memberi solusi yang bijak bagi masyarakatnya. -- Aldo Desatura (R) & (c) ======== " Lebih mudah memaafkan orang yang salah daripada yang benar .... " " Kekuasaan akan berjalan baik bila diberikan kepada orang yang tidak mencarinya " Prof. Albus Dumbledore

