Tipisnya Nasionalisme Bahasa Indonesia

Radio Nederland Wereldomroep
20-08-2008

Kalau soal wilayah negerinya, orang Indonesia selalu tampil
nasionalis, fanatik nasionalis bahkan. Timor Timur dulu
dihalangi-halangi keluar dari NKRI. Sementara kepada Aceh dan Papua
yang juga ingin cabut dari NKRI dihentakkan yel-yel "NKRI Harga Mati."
Tapi dalam soal bahasa, orang Indonesia ternyata dengan rakus
mencampurkan bahasa asing ke dalam bahasanya sendiri, sampai-sampai
muncul istilah indoglish, bahasa Indonesia yang dicampuraduk dengan
bahasa Inggris. Bagaimana nasionalisme bahasa bisa begitu rendah di
kalangan orang Indonesia? Berikut penjelasan R. Kunjana Rahardi,
konsultan bahasa Indonesia di Yogyakarta.


R. Kunjana Rahardi [RKR]: Budaya kita ini kan budaya yang suka
gumunan, suka terpesona korupsi_buku_250.jpgkepada barangnya orang
lain, pada bahasanya orang lain. Semangat untuk menggunakan bahasa
sendiri, menggunakan bahasa-bahasa yang lokal, itu hampir tidak
muncul.

Radio Nederland Wereldomroep [RNW]: Tapi kenapa soal wilayah tidak
pak, teritorial?

RKR: Saya kira hal yang terpisah itu. Masalah wilayah dengan masalah
bahasa atau budaya, itu saya kira hal yang sangat berbeda.

RNW: Berbedanya bagaimana Pak? Semuanya kan keIndonesiaan itu?

RKR: Betul. Tetapi kan ini kan masalah komunikasi. Masalah peranti
komunikasi saja sebenarnya. Jadi kita ini untuk peranti-peranti
komunikasi ini betul-betul tidak mempunyai standpoint yang sangat
kuat. Juga dalam hal ekonomilah. Bagaimana kita sangat tergiur oleh
barang-barang yang datang dari asing.

Tergiur kata asing
Sama dengan bahasa ini sebenarnya. Bagaimana kita suka tergiur dengan
kata-kata yang berasal dari asing, sedangkan ada kata dalam bahasa
Indonesia yang sudah dibakukan. Itu saya kira terpisah dengan masalah
teritorial. Kalau masalah itu memang saya kira itu masalah wilayah,
masalah hidup-mati. Kalau bahasa ini bukan masalah hidup-mati. Ini
masalah komunikasi saja sebenarnya.

RNW: Kalau boleh saya mengangkat pendapat profesor Benedict Anderson,
yang mengamati Indonesia juga dari segi bahasa, selain dari segi
politik, dalam salah satu esei terakhir tentang Soeharto, eseinya
dalam bahasa Inggris, dia menyebut apa yang dikatakannya sebagai
historical lobotomy. Artinya kehampaan sejarah, yang dialami oleh
Indonesia selama Orde Baru, dan kemudian sesudah Orde Baru sekarang.
Karena orang Indonesia ini dibuat oleh Orde Baru tidak kenal lagi
sejarahnya, pangling kepada sejarahnya sendiri, maka mereka lebih
tertarik pada hal-hal yang asing-asing itu Pak?

RKR: Betul. Dan juga pendekatan yang dimunculkan ketika Orde Baru itu
kan top-down kan. Demikian pula dalam bidang bahasa. Kenapa kata-kata
yang dikodifikasi oleh Pusat Bahasa, tidak dengan mudah diterima oleh
masyarakat? Karena itu top-down. Para ahli di Pusat Bahasa itu
berkumpul lalu mendaftar kata-kata, kemudian berikan kepada
masyarakat. Bagaimana mereka mau memakai itu?

Harusnya kan mereka meneliti dari masyarakat apa yang digunakan di
masyarakat, dikodifikasi, kemudian dibawa ke Jakarta sana, Pusat
Bahasa Jakarta sana, kemudian disosialisasikan lagi ke daerah. Kan
begitu. Itu salah satu kelemahan kenapa kata-kata Indonesia yang
muncul sekarang ini banyak yang nggak diterima oleh masyarakat pemakai
bahasa Indonesia. Karena top-down yang mereka terapkan. Itu saya kira
poin penting yang harus dikatakan saya kira.

Dikodifikasi
RNW: Kalau boleh saya juga mungkin sedikit berpendapat nakal. Karena
kan pendekatan atas-bawah itu pas dengan corak kekuasaan Orde Baru
yang menyeragamkan semua, termasuk menyeragamkan bahasa, dengan
demikian bisa menyeragamkan pikiran orang kan. Itu ciri khas kekuasaan
mutlak di mana-mana. Di Itali jaman kekuasaan fasis Mussolini, itu
juga begitu Pak. Jadi banyak kata-kata bahasa Italia yang bagus, yang
indah-indah dibuang semua.

RKR: Betul. Persis. Dan itu membuat bahasa kita sebenarnya mandul
sampai sekarang ini. Jadi banyak sekali kata-kata yang dikodifikasi
dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kita, yang tidak diterima oleh
masyarakat Indonesia. Kata Indonesia, kata sanggal dan mangkus.
Diterima nggak itu?

RNW: Nggak tahu saya artinya itu.

RKR: Tidak diterima itu. Sanggal dan mangkus itu terjemahan dari
efektif dan efisien dalam bahasa Inggris. Tetapi kata itu hampir tidak
pernah dikatakan oleh orang Indonesia sendiri, karena
pengkodifikasinya tidak pernah meneliti di masyarakat. Seharusnya kata
yang digunakan di masyarakat itu, dikodifikasi. Kemudian dibawa ke
Jakarta, dibuat buku dan sebagainya, disosialisikan lagi kepada
masyarakat.

Pusat bahasa
Kata selebriti. Menurut Pusat Bahasa, yang benar adalah selebritas.
Tapi sebenarnya yang ada di masyarakat, adalah selebriti. Yang ada di
Kamus Besar Bahasa Indonesia, itu selebriti juga. Tapi kenapa kita
harus menggunakan selebritas. Kata mereka, karena kita harus
beranalogi dengan identity menjadi identitas.

RNW: University menjadi universitas.

RKR: Bukankah bahasa tidak selalu beranalogi dengan hal yang semacam
begitu. Jadi apa yang ada pada masyarakat ini, silakan dikodifikasi,
kemudian serahkan kembali pada masyarakat. Dan itu akan digunakan.

RNW: Menurut Pak Kunjana kalau gitu bagaimana kita bisa membebaskan
Pusat Bahasa ini dari corak kekuasaan Orde Baru?

RKR: Pusat Bahasa harus segera bekerja sama dengan researcher bahasa,
para linguis, termasuk saya sebenarnya. Supaya apa yang mereka teliti
di masyarakat, itu kemudian diterima oleh Pusat Bahasa, kemudian
disampaikan kepada masyarakat.

Citation: http://www.ranesi.nl/tema/budaya/bahasa_Indonesia20080820

Kirim email ke