"Siapa Sih Gatotkaca?"
RATUSAN siswa SD didampingi guru menyaksikan pertunjukan wayang
golek di Padepokan Seni Jln. Peta Kota Bandung, Selasa (26/8).
Kegiatan itu bertujuan untuk memperkenalkan budaya Sunda kepada siswa
sejak dini.* USEP USMAN NASRULLOH
MANA yang lebih dikenal oleh anak-anak, tokoh Superman atau Gatotkaca?
Ternyata anak-anak lebih mengenal tokoh Superman daripada Gatotkaca.
Alasannya, Superman bisa dikenal lewat pertunjukan film layar lebar
atau komik superhero. Sementara tokoh Gatotkaca hanya dikenal namanya.
Apa sebab? Film tentang Gatotkaca tidak ada, demikian juga komik
tentang wayang hingga kini sudah langka terbit.
Karena alasan itu pula, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar)
Kota Bandung menggelar pertunjukan wayang golek bagi murid-murid
sekolah dasar (SD) se-Kota Bandung. Pertunjukan yang mengetengahkan
lakon "Panca Braja Nitis" garapan Ki Dalang Asep K. Dede Amung Sutarya
tersebut, digelar di Gedung Padepokan Seni, Jln. Lingkar Selatan
Bandung, Selasa (26/8).
"Insya Allah pertunjukan wayang golek untuk anak-anak SD ini akan kami
gelar tiga bulan sekali. Kali ini, kami mulai dengan anak-anak SD dari
SD Leuwipanjang 1-2, dan SD Gentra Masekdas 1-3, wilayah Bandung
Barat," ujar Kadisbudpar Kota Bandung, Drs. M. Askary W. M.Si., dalam
percakapannya dengan "PR" di Padepokan Seni, Jln. Lingkar Selatan
Bandung.
Apa yang dikatakan Askary bahwa anak-anak lebih mengenal tokoh
Superman daripada Gatotkaca memang tidak salah. Hal ini setidaknya
diakui oleh anak-anak ketika berlangsung tanya jawab sebelum
pertunjukan wayang golek dimulai. Hampir sebagian besar, anak-anak
tidak tahu tokoh Gatotkaca itu seperti apa rupanya.
"Siapa sih Gatotkaca?" Itu barangkali yang ada di dalam benak
anak-anak yang hadir.
Satu-satunya tokoh yang cukup populer di mata anak-anak adalah tokoh
si Cepot, sementara pengenalan terhadap tokoh Gareng sering tertukar
dengan tokoh Petruk.
Lantas, bagaimana dengan pengenalan tokoh-tokoh lainnya, tentu saja
asing sama sekali. Malah di antara mereka ada yang menyebut tokoh Bima
adalah Rahwana. Alasannya karena sosok kedua tokoh tersebut berbadan
besar.
Digelarnya pertunjukan wayang golek yang berdurasi satu jam itu, boleh
dikatakan merupakan pengalaman baru bagi sebagian besar anak-anak,
yang berhadapan langsung dengan jajaran wayang golek keluarga Pandawa
(kanan) dan keluarga Kurawa (kiri). Selain itu, anak-anak pun bisa
langsung melihat bagaimana seperangkat gamelan Sunda dioperasikan oleh
para nayaga, dan sinden yang ngahaleuang.
"Wah, ternyata nonton wayang golek itu asyik. Kita banyak tertawa,"
kata Asep, siswa SD Leuwipanjang 1, seusai pertunjukan.
Adegan demi adegan yang membuat anak-anak tertawa antara lain pada
adegan latihan silat antara si Cepot dan Gareng. Dalam adegan tersebut
Si Gareng berkali-kali kena pukul , demikian juga saat berlatih dengan
Petruk. Saat kena pukul si Petruk, si Cepot tersungkur. Begitu bangkit
langsung menyerang, dan yang diserang kini bukan si Petruk akan tetapi
Semar. Begitu berhadapan dengan Semar, si Cepot langsung kabur.
**
DALAM upaya menumbuhkan daya apresiasi anak-anak terhadap pertunjukan
wayang golek yang sepenuhnya menggunakan bahasa Sunda, Ki Dalang Asep
K. Dede Amung Sutarya bersama LS Pusaka Munggul Pawenang membuat
pertunjukan yang digarapnya itu interaktif dengan anak-anak, terutama
dengan tokoh si Cepot, yang setiap tampil selalu mendapat tepuk
tangan.
"Digelarnya pertunjukan wayang golek oleh Disbudpar Kota Bandung untuk
anak-anak pada satu sisi tidak hanya memperkenalkan anak-anak pada
kekayaan budaya yang dikreasi oleh nenek moyang mereka, tetapi juga
memperlihatkan kepada anak-anak bagaimana bahasa Sunda bisa
dioperasikan dalam pertunjukan seni seperti wayang golek," ujar Tuti
Susana, Guru SD Gentra Masekdas 2, Kecamatan Bojongloa Kaler,
Tegallega, Kota Bandung.
Untuk itu, Tuti meminta kepada Pemerintah Kota Bandung agar pergelaran
seni tradisional Sunda untuk anak-anak sekolah dasar di Kota Bandung,
bisa digelar sebulan sekali dengan pertunjukan yang beragam. Misalnya,
bulan ini pertunjukan wayang golek, bulan berikutnya pertunjukan
teater rakyat, dan bulan berikutnya lagi pertunjukan tari rakyat, dan
sebagainya.
"Apa yang diharapkan oleh Ibu Tuti sudah kami rancang. Hanya saja,
persoalannya mentok di dana. Namun demikian, akan kami upayakan
sehingga program menumbuhkembangkan seni dan budaya Sunda bisa lancar
sebagaimana yang kita harapkan selama ini," ungkap Askary, menjawab
pertanyaan Tuti Susana dan sejumlah guru lainnya. (Soni Farid
Maulana/"PR")***
Citation:
http://newspaper.pikiran-rakyat.co.id/prprint.php?mib=beritadetail&id=30017