punten panjang teuing upami disundakeun mah :)

Sepenggal Cerita Babakan Siliwangi
*Ema Nur Arifah* - detikBandung
http://bandung.detik.com/read/2008/08/23/121141/993175/490/sepenggal-cerita-babakan-siliwangi



**
*Bandung* - Papan nama usang berwarna biru muda yang pudar disertai warna
karatan di beberapa bagian terpancang dengan tulisan Rumah Makan Babakan
Siliwangi sedikit bersembunyi di balik dedaunan. Namun papan inilah yang
menunjukan kawasan ini sebagai Babakan Siliwangi, paru-paru kota yang selalu
menuai kontroversi.

Rumah makan ini berdiri di lahan yang disebut Lebak Siliwangi. Akibat
kebakaran tahun 2003 lalu, yang tertinggal hanya reruntuhan.

Berada di persimpangan Jalan Cihampelas, Jalan Ciumbuleuit, dan Jalan
Tamansari. Dari luar tak tampak seperti tempat wisata. Tukang tambal ban
menyambut kedatangan kala memasuki kawasan ini. Kemudian kios kecil dengan
baju-baju bergelantungan di tali jemuran.

Menuruni beberapa anak tangga atau tanah yang melandai sampai pulalah di
Jalan besar yang menghubungkan Jalan Cihampelas dan Jalan Ganesha. Jalan
yang diapit oleh rimbunnya pepohonan.

Dua galeri seni berdiri berdampingan. Di kedua galeri yaitu Mitra Art Center
dan Sanggar Olah Seni (SOS) ini tampak beberapa orang tengah memulaskan
warna di atas kanvas. Mungkin hanya dua galeri inilah yang masih memberikan
identitas bahwa tempat ini sebuah kawasan wisata.

Menurut Ketua SOS, Syarif Hidayat asal mula nama Lebak Siliwangi adalah
Lebak Gede. Walikota Bandung saat itu, Otje Djunjunan melihat kawasan Lebak
Siliwangi potensial untuk dijadikan tempat wisata.

Maka pada tahun 1970-an dibuatlah rumah makan dengan nama Rumah Makan
Babakan Siliwangi. Dari sana pula pemerintah Jawa Barat melihat wisata
lainnya. Maka atas gagasan seniman Popo Iskandar, Barli, Tony Yusuf dan
seniman lainnya Sanggar Seni SOS didirikan pada 1982. Peresmiannya dilakukan
oleh Menteri Pariwisata saat itu Jove Ave.

Kedua galeri ini menawarkan pembelajaran dan pembinaan akan seni, tak hanya
seni rupa tapi juga teater, musik dan seni lainnya. Diciptakan sebagai ruang
budaya antara seniman dan masyarakat.

Syarif menuturkan, setiap bulannya pada minggu pertama di tempat ini biasa
diadakan seni adu domba. "Kalau dulu adu domba ini lebih sering dilakukan
lagi," jelasnya.

Menyusuri jalanan hingga menembus Jalan Cihampelas, kawasan ini terlihat
tidak begitu terawat. Kawasan yang secara geologi sebagai tempat resapan air
ini tercatat sebagai salah satu kawasan terbuka hijau di Kota Bandung.

Pohon-pohon rimbun hijau hampir memenuhi keseluruhan wilayah. Dingin dan
sejuk jika dibandingkan kawasan olahraga Sabuga yang berbatasan langsung
dengan kawasan ini yang tampak panas, gersang dan berdebu. Namun di beberapa
titik tampak tumpukan-tumpukan sampah di antara pepohonan yang juga tidak
tertata. Reruntuhan bangunan yang tak lagi terjamah serta beberapa gubug
kecil berdiri menjadi 'penghias' lain.

Untuk tempat seluas itu, hanya seorang perempuan bernama Eli yang dipercaya
pemerintah untuk menjaga tempat ini. Dia mengaku menggantikan suaminya yang
dulu menjaga tempat ini. "Saya menjaga agar tempat ini tidak digunakan oleh
orang yang macam-macam," jelasnya.

Eli juga mengaku tidak ada yang menjaga datang untuk melakukan pemeliharaan
lingkungan di tempat ini.

Menurut Pengelola Mitra Art, Herman R Suwarna yang memelihara lingkungan
masih hanya orang-orang yang tinggal di kawasan ini termasuk para seniman.
Herman mengusulkan penerpaan konsep eco wista di Babakan Siliwangi, misalnya
dengan menata pohon dan memberikannya nama latin untuk menambah wawasan
pengunjung.

Tahun 2001 lalu, penataan dan pengelolaan kawasan ini menjadi kawasan wisata
terpadu dicetuskan Walikota Bandung saat itu, Aa Tarmana. Di dalamnya akan
dibangun apartemen, wahana kawula muda, pusat seni, serta rumah makan.

Perencanaan yang sudah menggandeng developer PT EGI ini menjadi kontroversi
baru meski PT EGI menjanjikan akan melakukan penataan terhadap pohon-pohon
di tempat ini.

Kontroversi itu kini kembali mencuat. Berbagai kepentingan saling bersuara
untuk mendudukan kawasan ini pada posisi semestinya. Posisi dari sudut
pandang yang berbeda di mata pemerintah, pengembang, seniman dan masyarakat.

Semua memiliki dalih dan kepentingan termasuk kekhawatiran para masyarakat
dan seniman akan terancamnya kembali satu paru-paru kota. Sekaligus
hilangnya satu wilayah kreatifitas yang menjadi media pembelajaran bagi
tangan-tangan pecinta seni.

Memang, oase hijau ini seperti kue lezat yang memikat. Dalam perjalanannya
menuai kontroversi panjang dengan mempertanyakan, siapa yang akan menikmati
kue lezat ini nanti?
*(ema/ema)*

Kirim email ke