kuring mah sok bingung ngajakartaanana aeh(ngabandunganana) nya mun aya nu 
ngaku ngaku paling bener nu antukna ngagunakeun kakasaran cenah alesana 
memerangan musuh bari ngaruksak teh nyebut ALLAHU AKBAR.
Padahal mun di emut deui tos jelas pisan yen Musuh  kaum muslimin mah nyata 
nyata SETAN.
naha anu ngagem aliran aliran tina islam sadar henteunya ?yen musuh maranehna 
teh SETAN.
padahal nu mawa karuksakan sareng kagorengan mah sanes ajaran Rasul, tapi 
pangajak SETAN.
*&&^%%%$$$$

  ----- Original Message ----- 
  From: H Surtiwa 
  To: [EMAIL PROTECTED] ; [email protected] 
  Sent: Thursday, September 18, 2008 12:03 PM
  Subject: [Urang Sunda] Aliran pamahaman Islam Kiwari


  Mulungan ti berita heubeul.....2005 on...........ulah heran lamun seueur 
kaheurasan...hayng meunang sorangan...asa pangbenerna.....

  Kebangkitan Neo-Wahabi

  Oleh Rizqon Khamami

  Duta Masyarakat, 2005.
  Sejak bergulir Reformasi dapat kita tandai dengan adanya kebangkitan berbagai 
aliran gerakan. Tidak terkecuali Islam. Pada umumnya, gerakan-gerakan baru 
Islam ini mengusung faham Salafi. Tercatat sejumlah gerakan dalam aliran ini: 
Fron Pembela Islam (FPI), Lasykar Jihad (LJ), Majelis Mujahidin Indonesia 
(MMI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Lasykar Ahlussunah wal Jamaah, dan 
lain-lain. Beberapa di antaranya sudah membubarkan diri. Bahkan, Partai 
Keadilan Sejahtera (PKS) masuk kategori gerakan ini.

  Bagaimana pengelompokan ini didasarkan? Dalam tradisi Islam, aliran Salafi 
mengacu pada pandangan madzhab salaf. Karakteristik menonjol aliran ini, di 
antaranya, seruan kembali ke Al Qur'an dan Sunnah Nabi dengan kecenderungan 
penafsiran secara tekstual dengan mengabaikan konteks, dan semangat meniru 
generasi salaf al-shalih yang dielu-elukan sebagai masa paling ideal.

  Ibnu Taymiah dikenal sebagai penggagas awal teologi Salafi. Istilah Salafi, 
bisa dikatakan, muncul sejak Ibnu Taymiah ini. Kata "salafi" merujuk ke 
generasi salaf al-shalih. Sepeninggal Ibnu Taymiah, teologi Salafi makin 
berkembang. Beberapa kurun selanjutnya, di tanah Najd, Semenanjung Arabia, 
Muhammad bin Abdul Wahab mengembangkan teologi Salafi dengan lebih spesifik dan 
makin tajam. Pengembangan teologi oleh Muhammad bin Abdul Wahab dikenal dengan 
aliran Wahabi. Bagi pengikut Wahabi, istilah ini terdengar kurang baik. Mereka 
lebih suka disebut pengikut Salafisme.

  Pada awal abad 20, pemikiran Ibnu Taymiah dan Muhammad bin Abdul Wahab, 
sedikit banyak, menjadi pemantik pemikiran Muhammad Abduh. Berangkat dari 
perpaduan ajaran Ibnu Taymiah dan pencarian Muhammad Abduh, gerakan salafi 
lantas dikembangkan dengan lebih tertata melalui gerakan Ikhwanul Muslimin. 
Tokoh paling penting pemberi warna ideologi gerakan ini adalah Sayyid Qutub. Di 
kalangan islamisis (pakar kajian keislaman), pemikiran Sayyid Qutub disebut 
dengan istilah Salafi Modern.

  Di Indonesia, pemikiran-pemikiran Salafi dibawa oleh KH Ahmad Dahlan. 
Muhammadiyah berdiri. Organisasi ini menyebut dirinya sebagai persyarikatan 
kaum Puritan Islam. Untuk pertama kali, dalam disertasi doktornya, Deliar Noer 
menyematkan Muhammadiyah sebagai gerakan Modernis. Sebuah istilah, yang saya 
duga, untuk menstigma organisasi sejawatnya, Nahdlatul Ulama (NU) agar identik 
dengan gerakan kampungan.

  Hal menarik dari perjalanan Muhammadiyah, selama beberapa dasawarsa awal, 
organisasi ini lebih cenderung mengadopsi Salafisme Wahabi. Perubahan penting 
terjadi menjelang tahun 80-an beberapa saat setelah terjadi Revolusi oleh para 
mullah Syiah di Iran. Keberhasilan Revolusi Iran tahun 1979 menciptakan 
kegairahan baru dunia Islam. Dimana-mana orang menganggap bahwa Revousi ini 
adalah awal dari kebangkitan dunia Islam yang selama beberapa abad mengalami 
kemunduran. Muslim Indonesia tidak terkecuali. Meski Revolusi itu terjadi di 
Iran, tetapi Ikhwanul Muslimin, yang bersumber di Mesir, mendapat berkah. 
Ikhwanul Muslimin mendadak populer. Di Indonesia, terjemahan buku-buku Sayyid 
Qutub laris. Apa sebab? Bagi kalangan Muslim Indonesia, pemikiran Sayyid Qutub 
lebih bisa diterima, karena sama-sama Sunni. Selain itu, Sayyid Qutub mampu 
meramu pemikirannya dengan amat tertata. Bersamaan dengan tren ini, 
Muhammadiyah mengadopsi pemikiran Salafi Modern. Sebuah pemikiran yang lebih 
moderat dibanding Salafi Wahabi. Apa alasannya? Wahabi gampang menyalahkan dan 
membid'ahkan kaum Muslim yang tidak sepaham. Saya kurang sepakat dengan 
pendapat Karen Armstrong yang menyatakan bahwa Qutubisme (merujuk ke pemikiran 
Sayyid Qutub) lebih radikal dibanding Wahabi, seperti tulisannya di The 
Guardian, 11 Juli 2005. Yang lebih tepat, sebaliknya.

  Pilihan Muhammadiyah ini tidak terlepas dari peran anak-anak muda kala itu. 
Kemunculan tokoh seperti Amien Rais, Kuntowijoyo, Syafi'I Maarif, Affan Ghafar, 
Syafiq Mughni, M Amin Abdulla, Abdul Munir Mulkhan, Moeslim Abdurrahman -–untuk 
menyebut beberapa nama saja-- adalah penanda kebangkitan Muhammadiyan baru. Di 
tangan mereka, Muhammadiyah menjadi organsisasi Islam moderat dan makin 
disegani. Diperkuat lagi dengan akomodasi politik Suharto dalam perlakuannya 
terhadap organisasi-organisasi Islam, dengan memanjakan organisasi Islam 
Puritan ini. Wajah keras Wahabisme di tangan mereka perlahan luntur. Apa 
buktinya? Perang TBC (Taqlid, Bid'ah & Churafat) yang selama bertahun-tahun 
menjadi agenda utama, perlahan-lahan mereda. Bahkan beberapa tahun lalu, 
sebagian warga Muhammadiyah mulai mempertanyakan keefektivan cara dakwah 
"keras" ini. Mereka mengusulkan dakwah kultural, yang tidak lagi dengan gampang 
menyebut orang lain bid'ah hanya karena berdakwah dengan pendekatan budaya 
setempat. Di tangan tokoh-tokoh moderat ini pemikiran Ikhwanul Muslimin tidak 
serta merta dijiplak utuh. Mereka membuang jauh-jauh ide pan-Islamisme, 
mengambil hanya sisi pemikiran gerakan sosialnya. Suatu saat, Amien Rais 
mengatakan: Tidak ada negara Islam.

  Apakah usaha mereka berhasil? Selama beberapa dekade, iya. Namun, di tataran 
massa Muhammadiyah, kegandrungan pada pemikiran Sayyid Qutub tidak hanya 
terbatas pada pemikiran sosialnya, tetapi juga pada politisnya. Pada saat 
suara-suara warga ini tidak ditampung oleh elit-elit Muhammadiyah, mereka lebih 
memilih bermain di luar area. Gerakan usroh, tarbiyah, halaqah, dan sejenisnya, 
yang menjamur di lingkungan kampus dan masjid, merupakan bentuk luapan 
kegelisahan anak-anak muda dan suara protes tidak langsung. PKS berkembang dari 
gerakan protes ini.

  Di samping itu, kepulangan para veteran perang Afghanistan pasca kejatuhan 
Uni Soviet memberi warna baru. Persentuhan langsung dengan para pejuang dari 
negara lain selama perang pembebasan Afghanistan makin memperteguh Wahabisme 
mereka. Pengalaman tempur di medan perang menambah keyakinan bahwa otot dan 
senjata menjadi identitas baru. Sebuah identitas kekerasan.

  Akan tetapi, sekembali mereka di Tanah Air, ide Wahabisme yang mereka bawa 
tidak diberi tempat oleh elit Muhammadiyah kala itu. Mereka lantas mendirikan 
atau berkumpul dalam organisasi-organisasi baru, seperti Lasykar Jihad, Fron 
Pembela Islam, Majelis Mujahidin Indonesia dan Hizbut Tahrir. Organisasi ini 
adalah diantara organsisasi yang menjadi pilihan warga Muhammadiyah yang 
menganggap organisasi ini terlalu lembek dalam menyuarakan kepentingan baru 
mereka. Bahkan, dalam kaitan dengan Syariat Islam, Muhammadiyah pernah dituduh 
sebagai banci oleh warganya yang radikal. Dulu, warga Muhammadiyah garis kanan, 
seperti Ali Imran, Amrozi, Ja'far Umar Thalib dan Abu Bakar Baasyir, tidak 
mendapat tempat di Muhammadiyah. (Ahmad Najib Burhani, Menebak Masa Depan 
Liberalisme di Muhammadiyah, Islam Progresif, message no. 1519). Mereka inilah 
Neo-Wahabi itu, gerakan Wahabi baru yang dipadu dengan kemampuan tempur yang 
dibawanya ke tengah-tengah masyarakat.

  Kini, sejak Muktamar Muhammadiyah ke-45 di Malang, 3-8 Juli 2005, para 
veteran itu sudah kembali menguasai Muhammadiyah. Tokoh-tokoh moderat 
tersingkir. MUI pun sepertinya sudah mulai direngkuhnya. Apa indikasinya? 
Fatwa-fatwa keluaran MUI baru-baru ini terlihat memiliki kesan terwarnai oleh 
tangan-tangan Neo-Wahabi tersebut. Mereka mengagungkan teks secara berlebihan 
dengan mengabaikan konteks Mereka mudah membid'ahkan dan mensesatkan segala 
bentuk perbedaan. Gampang menyerbu bukan kelompok sepaham, tanpa toleransi. 
Gampang mencibir kalangan Islam yang bukan pengikut mati generasi salaf 
al-shalih. Kata-kata "bid'ah", "kafir", "musuh Islam", "penghancur Islam dari 
dalam", dan seterusnya, mudah menjadi ungkapan harian.

  Dengan kebangkitan Neo-Wahabi ini, kita bisa menebak arah perjalanan Islam 
Indonesia ke depan. Wajah Islam Indonesia mulai memunculkan ketidak-ramahan. 
Akankah semua ini dibiarkan?

  Sumber: Duta Masyarakat 




   *****************************************
Flexi-Gratis bicara sepanjang waktu se-Jawa Barat,
Banten dan DKI Jakarta.

Speedy-Gratis Internetan unlimited dari Pkl. 20.00
s/d 8.00 se-Jabodetabek, Banten, Karawang dan
Purwakarta.
***************************************** 

*****************************************
Flexi-Gratis bicara sepanjang waktu se-Jawa Barat,
Banten dan DKI Jakarta.

Speedy-Gratis Internetan unlimited dari Pkl. 20.00
s/d 8.00 se- Jabodetabek, Banten, Karawang dan
Purwakarta
*****************************************

Kirim email ke